Buya Hamka, Ketika Air Tuba Dibalas Air Susu (via JIB)

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Di sepetak ruang. Di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya. Ruangan itu tak kalah gelap. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas yang menumpuk. Lembaran yang begitu rapi. Lembaran yang ia tulis, selama dua tahun 4 bulan. Di balik jeruji, di pinggiran Sukabumi. Atas tuduhan makar, kezaliman rezim tiran tak berdasar.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, karib disapa Buya Hamka. Kalam suci Ilahi, dengan tekun, ia ulang hafalannya. Mengeja ayat demi ayat. Merenungkan satu per satu maknanya, hingga khatam, seluruhnya tergenapi. Ada haru membiru. Ada tangis berlapis senyum bahagia, di sana. Allah terasa begitu dekat.

Seperti Ibnu Taimiyyah dulu kala. Berteman secarik kertas, berikut tinta dan pena. Tempat menorehkan tulisan hasil perenunangan. Berjilid-jilid karya keluar dari balik jeruji. Orang-orang berdatangan, meminta fatwa. Dari balik jeruji besi itu, dalam gelap ia menjawab. Jadilah berjilid-jilid Majmu Fatawa di sana. Tak ada rasa takut sama sekali. Bahwa penjara baginya, adalah surga.

Malam harinya diisi dengan berdiri, rukuk, sujud. Sungguh, tak ada yang terpenjara di sana. Jiwanya merdeka. Tak ada yang terkekang di sana. Tangannya lincah menulis pesan penuh makna. Alam pikirnya mengembara, merenungi KemahaanNya.
Atau seperti laiknya sahabat seperjuangan di belahan bumi lain, Mesir, Sayyid Quthb. Rezim tiran tak mampu membungkam alam pikirnya, meski jasad terpenjara. Bertemankan lembaran kertas, juga pena. Lahirlah karya monumental Tafsir Fii Dzilal Al Quran.

Buya Hamka, nyaris serupa. Tafsir Al Quran 30 Juz yang kelak dinamakan Tafsir Al Azhar ia rampungkan, ditemani dinginnya jeruji besi, di masa kepemimpinan Soekarno. Rezim berganti, orde lama berganti rezim yang dinamai orde baru. Tak disangka, Buya Hamka bisa menghirup udara bebas.

Hamka dan Soekarno

Setelah bebas dari penjara, Hamka tak tahu kabar Soekarno, penguasa yang memenjarakannya kala itu. Ingatannya melompat ke masa ke belakang. Saat ia tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…Front Nasional adalah partai Negara…” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika memajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara. Tak lama, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai temapat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

Perbedaan pandangan politik Hamka yang dikenal Islamis, dengan Soekarno yang seorang sekularis, kian menajam dengan penangkapan dan pemenjaraan rival-rival politiknya. Meski begitu, tak ada sumpah serapah yang keluar dari seorang Buya Hamka kepada sang pemimpin kala itu. Saat dijemput paksa untuk langsung dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan, Hamka hanya pasrah, bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.

Pun setelah bebas, tak ada dendam di sana. Tak ada rasa ingin membalas, menuntut, atau melakukan tindakan membela diri. Padahal, ketika itu, buku-buku karangan Buya dilarang beredar oleh pemerintah. Tak ada rasa kesal di sana. Tak ada mengeluh, atau umpatan. Semua ia serahkan kepada Allah, sebaik-baik penolong.

Justru, demikian besar keinginan Hamka untuk bersua Soekarno. Mengucap syukur, karenanya, ia bisa menyelesaikan Tafsir Al Azhar dari balik penjara. Karenanya, ia bisa begitu dekat dengan Allah. Karenanya, jalan hidupnya begitu indah, walau penuh ragam ujian.

Soekarno, dimanakah sekarang ia berada? Tak tahu..Begitu rindu, Hamka ingin bertemu dengannya. Tak ada marah dari seorang Buya. Telah lama..telah lama sekali, kalaupun Soekarno mengucap maaf, telah lama hatinya membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Bahkan, ada syukur di sana.

Tapi dimana? Di mana Soekarno sekarang? Ingin sekali Buya bertemu dengannya. Pertanyaannya terjawab, namun bukan jawaban biasa. 16 Juni 1970, Ajudan Soeharto, Mayjen Soeryo datang menemui Hamka di Kebayoran, membawa secarik kertas. Sebuah pesan — bisa dibilang pesan terakhir — dari Soekarno. Dipandangnya lamat-lamat kertas itu, lalu dibaca pelan-pelan.
“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Mata begitu bening, seperti halnya kaca membaca tulisan ini. Sebuah pesan, dari seorang mantan pucuk pimpinan negeri. Dimana? Dimana Soekarno sekarang? Begitu rindu ingin bertemu dengannya. Mayjen Soeryo berkata, “Ia..Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD. Sekarang jenazahnya telah di bawa ke Wisma Yoso.”

Mata ini semkin berkaca-kaca. Tak sempat..rindu ini berbalas. Hamka hanya dapat bertemu dengan sosok yang jasadnya sudah terbujur kaku. Ingin rasanya, air mata itu mengalir, namun dirinya harus tegar. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa, ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa, dosa orang yang memasukkannya ke penjara.

Kini, di hadapannya, terbujur jasad Soekarno. Sungguh, kematian itu begitu dekat. Dengan takbir, ia mulai memimpin shalat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno. Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.

Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya pada sang Buya,”Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”

Dengan lembut, sang Buya menjawab,” Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik.
Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Sungguh, air mata menetes mendengar penjelasan Buya. Begitu luas jiwanya, hingga permasalahan, baginya ialah setitik tinta, yang diteteskan ke luasnya samudera. Tak ada bekas di sana. Tak pernah ada rasa dendam sama sekali. Dengan senyum dan tenang, ia jalani semua lika-liku kehidupan.


Oleh : Rizki Lesus (Pegiat JIB)
[kisah ini ada dalam buku ‘Ayah’ karya Irfan Hamka. Tulisan ini Dimuat di Tabloid Alhikmah edisi 86]

Link: http://jejakislam.net/buya-hamka-ketika-air-tuba-dibalas-air-susu/

Advertisements

Islam dan Kerukunan Umat Beragama (via JIB)

Satu waktu, wartawan majalah Panji Masyarakat mewawancarai mantan Menteri Agama, KH. Saifuddin Zuhri, ihwal kerukunan antar umat beragama. Dalam wawancara itu, Tokoh NU ini menerangkan, kerukunan bisa terwujud apabila adanya toleransi. Toleransi, menurutnya, menenggang orang lain tanpa mengorbankan prinsip. “Saya orang Islam, ber-Tuhan kepada Allah SWT, dan Muhammad adalah Utusan Tuhan. Bila saya korbankan prinsip ini, karena kebutuhan penghormatan kepada orang lain, maka itu bukan lagi namanya toleransi, tapi kapitulasi, menyerah bulat-bulat,” tutur ayah dari Menteri Agama Lukman H. Saifuddin ini.

Lebih lanjut beliau memandang, kerukunan jangan hanya seremonial. Misal, katanya, orang Kristen datang saat hari raya Idul Fitri. Atau saat hari raya Natal, umat Islam ramai-ramai berkunjung ke rumah-rumah orang Kristen. Begitu juga, tambahnya, ada panitia orang Kristen dalam pembangunan masjid, atau sebaliknya.

“Ini bukan bentuk manifestasi dari kerukunan yang sebenarnya, sebab yang menonjol aspek show-nya. Ini kan show saja. Saya berpendapat bahwa yang penting dalam kerukunan itu adalah sikap mental karena melakukan toleransi. Bagi Indonesia sendiri, jauh hari sebelum digembor-gemborkan mengenai kerukunan ini, sudah lama kita rukun kok. Di Indonesia tidak pernah terjadi perang saudara yang bermotif keagamaan,” ungkapnya .

Karenanya, beliau memandang perlu diadakan forum diskusi terbuka, agar kerukunan berjalan intens dan saling mengenal. “Karena forumnya harus ilmiyah, maka pesertanya hendaklah dari kalangan mahasiswa perguruan tinggi. Misalnya dari Fak. Ushuluddin IAIN mengundang mahasiswa Theologi Kristen Protestan (STTh) dan sebaliknya,” ujarnya.

Ditanya soal tudingan umat Islam melawan Pancasila, beliau menepisnya. Menurutnya, tuduhan itu tidak beralasan. “Sebab coba koreksi dari segala prilaku umat Islam apakah ada yang bertentangan dengan Pancasila? Saya mau tanya. Kita coba melihat sisi kehidupan keseharian dari para Kiai di pesantren misalnya. Pancasila, sebagai istilah mungkin baru bagi mereka. Tapi esensi, isi tingkah laku mereka adalah cukup “Pancasilais”. Ke-Tuhanan? Jelas mereka beragama. Tingkat penghayatan mereka terhadap agama jauh lebih dalam daripada kita. Di mana-mana ingat pada Tuhan. Dalam keadaan duduk, berdiri, hendak istirahat, berbicara, makan, jalan, Tuhan selalu diingat. Tidak menyakiti orang. Jadi semuanya mencerminkan rasa dan kadar keberagamaannya. Nasionalisme? Apakah ada mereka yang mau menjadi warga negara Arab Saudi atau Mesir? Tidak! Ketika perang dahulu, mereka keluar dari sarangnya (pesantren) untuk berperang, membuat bambu runcing sebagai senjatanya. Seusai perang, mereka kembali lagi mengerjakan apa yang menjadi pekerjaannya sebelumnya. Tukang gunting rambut, kembali menjadi tukang gunting rambut, yang membuka warung kembali setia membuka warung, yang menjadi pendidik kembali ke pesantren memberikan ilmu seperti sedia kala.”

“Mereka bertempur itu, tanpa disuruh. Sesudah itu, mereka tidak lantas menuntut uang jasa atau pensiun atau bintang kehormatan. Dengan bukti-bukti itu apakah nasionalisme mereka perlu diragukan? Perikemanusiaan? Pak Kiai tempat mengeluh dari masarakat setempat. Pak Kiai anak saya lagi sakit. Perlu do’a dari pak. Adakah Kiai yang tutup pintu bila ada tamu yang datang ke rumahnya? Si santri yang tidak memiliki uang pun diberi. Keadilan sosial? Apakah ada Kiai yang meluncur dengan mobil mewah? Kalau Kiai bersarung, maka pengikutnya pun demikian. Jadi melihat kehidupan mereka, sama sekali tidak memberikan gambaran adanya gap (jarak –red) dengan masyarakat atau rakyat sekelilingnya.”

“Melihat kenyataan-kenyataan (realitas) seperti di atas, apa perlu menyangsikan Pancasila-nya umat Islam? Atau anti Pancasila? Dengan demikian menjadi alasan bahwa ternyata umat Islam sudah mempraktekkan Pancasila. Maka tepat sekali apa yang diucapkan oleh Pak Alamsyah (Menteri Agama saat itu –red) , bahwa ‘umat Islam telah berpancasila’. Yang Pancasilais itu kan bukan yang senang ngomong Pancasila melulu. Kalau ini menjadi kriteria, maka ingin saya bertanya lagi, bagaimana dengan penampilan tokoh-tokoh seperti Diponegoro, Tengku Umar, R.A. Kartini, atau yang lebih dekat lagi H.O.S. Tjokroaminoto, mana mereka bicara tentang Pancasila? Bung Karno malah mengatakan, bahwa Pancasila suda ribuan tahun di bumi nusantara ini. Saya hanya sekedar menggali dan merumuskannya.”

“Jadi menurut pendapat saya, bahwa yang perlu diratakan adalah pengertian. Bahwa esensi Pancasila tidak ada ngomongnya, tapi perbuatan.” (Panji Masyarakat, Kerukunan adalah Prinsip Semua Ummat Beragama, 15 Oktober 1978).

***

Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) datang memperkenalkan diri kepada DPR pada tahun 1975, seorang anggota parlemen, saudara Manuaba, menanyakan kepada Hamka yang kala itu jadi Ketua Umum MUI, mengapa di Indonesia ini tercipta kerukunan antar umat beragama? Tidak terjadi kekacauan karena agamanya beda-beda seperti Protestan dan Katolik di Ireland, atau Kristen dan Islam di Filipina?

Dengan tegas, Hamka menjawab, “Sebabnya maka terjadi kerukunan umat beragama di sini, ialah karena mayoritas dalam negara ini ialah pemeluk agama Islam.”

Hamka menguraikan, kerukunan hidup umat beragama itu adalah perintah agama Islam sendiri. Beliau mengutip surat Al-Mumtahanah yang menjelaskan Allah tidak menghalangi umat Islam bergaul dengan pemeluk agama lain.

“Allah tidak melarang kamu bergaul secara baik dan adil dengan orang-orang yang tidak memerangi agama kamu dan tidak mengusir kamu dari kampung halaman. Sesungguhnya Allah amat suka kepada orang-orang yang berlaku adil.”

Kita sebagai muslim, kata Hamka, tidak hendak mengganggu orang lain memeluk agamanya dan keyakinannya, meskipun agama dan keyakinannya itu sangat berlawanan dan bertentangan dengan paham dan keyakinan kita. Karena kita telah diberi pedoman oleh Allah: “Bagi kamu agama kamu, bagi kami agama kami.” (Panji Masyarakat, Perjuangan Islam di Mana-mana, 1 Januari 1978).

Jadi kalau belakangan ini tampak antar umat beragama tidak rukun, itu berarti ada yang intoleran. Lantas siapa gerangan yang intoleran? Apakah kita umat Islam yang demo membela agamanya? Atau orang yang masuk ke ranah agama orang lain, dengan menyampaikan ayat suci dari kitab yang tak diimaninya, dengan memberikan pemahaman yang menghina?!

Kita umat Islam tetap dan teruslah memegang erat–erat pedoman kita, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”Demi lestarinya kerukunan antar umat beragama di negeri yang kita cintai ini.


Oleh: Andi Ryansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa
Link: http://jejakislam.net/islam-dan-kerukunan-umat-beragama/

Samahah Islam & Kristen Radikal (via Islampos)

 

Toleransi sedang di ujung tanduk. Kaum Muslimin yang mayoritas kembali terdzalimi di wilayah minoritas. Sebagaimana telah diberitakan baru-baru ini, saat sedang melaksanakan Shalat Ied umat Muslim di Tolikara Papua dibubarkan oleh sekelompok massa Kristen dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Satu Masjid dan puluhan kios dibakar. Hingga saat ini, warga Muslim Tolikara masih belum merasa nyaman dan aman, trauma dengan aksi radikal sekte GIDI.

‘Riak-riak’ radikalisme kelompok GIDI sebetulnya telah ada sebelumnya. Namun terbiarkan tidak pernah diberitakan secara luas. Jilbab dilarang di Tolikara. Umat Islam sebenarnya masih bersabar. Larangan menggunakan pengeras suara pun ditaati. Namun semua kerelaan warga Muslim ini tidak cukup bagi kaum Kristen radikal.

Lalu ke mana Muslim Tolikara membela? Ketika tekanan demi tekanan dilakukan Kristen radikal itu berlangsung, pemerintah tidak mampu berbuat. Tidak ada perlindungan untuk kebebasan kaum Muslim menjalankan ritual dan ibadah. Jilbab dilarang, padahal di mana-mana biarawati bebas memakai penutup kepalanya. Pengeras suara dilarang, padahal di Jawa bel Gereja bebas dibunyikan di hari Minggu. Apa salahnya Muslim Tolikara?

Jelas saja ini noda besar bagi toleransi beragama di Indonesia. Di Jawa atau daerah lainnya, minoritas Kristen bebas membunyikan bel Gereja, menyanyi dengan alat musik di Gereja, pengobatan massal, bahkan kaum Kristiani banyak melanggar aturan pendirian Gereja. Kristen di sini sebenarnya sangat aman dan nyaman.

Selama ini, dalam kasus-kasus Gereja di Jawa dan Sumatera, terkesan Kristen yang terdholimi. Padahal sebenarnya tidak. Kasusnya adalah Kristen melanggar aturan UU pendirian tempat ibadah. Protes umat Islam pun masih sangat wajar terhadap hal ini. Tidak ada yang dibunuh, dibakar dan diusir. Umat Islam yang hanya protes, tidak membakar, bagi kita sangat bisa dimaklumi.

Karena itu kita harusnya patut bertanya, apakah toleransi itu khusus untuk Muslim, tidak untuk Kristen? Jika ini kenyataannya, inilah ancaman luar biasa terhadap toleransi. Mohon hal ini dihentikan. Sejak awal berdiri negara ini, toleransi itu untuk semua penganut agama. Tidak ada pilih-pilih.

Semula kita berharap cukup besar dengan adanya FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Namun kita lihat FKUB lebih banyak aktif di Jawa, Sumatra, Kalimantan atau daerah-daerah mayoritas Muslim. Ironinya, di sebuah daerah di Jawa Tengah FKUB menjadi sarana menjalankan misi Kristen. Harusnya FKUB lebih banyak mengadakan kegiatan di daerah rawan kerusuhan agama, seperti Ambon, Papua dan NTT, bukan di daerah Muslim yang sudah aman dan tentram dengan toleransinya.

Barangkali tidak semua sekte Kristen adalah radikal. Tapi dengan kejadian ini, sulit untuk tidak mengatakan ada sayap radikal dalam Kristen.

Kabarnya, bibit radikalisme GIDI ‘diimpor’ oleh pendeta-pendeta luar negeri. Selama ini ada gelombang impor besar-besaran paham radikalisme yang dibawa dari luar. GIDI pertama kali dirintis oleh Hans Veldhuis, Fred Dawson, dan Russel Bond. Ketiganya anggota badan misi Kristenisasi, UFM dan APCM. Ketiganya datang pada tahun 1955. Sejak itu banyak warga yang masuk Kristen aliran GIDI dan cenderung radikal.

Rupanya memang dalam kitab Injil belum ada aturan tentang konsep toleransi. Bandingkan dengan Islam, hubungan mayoritas dan minoritas diatur dengan rapi. Ada konsep samahah (yang diterjemahkan toleransi), ada ahlu dzimmah, fikih minoritas dan lain-lain. Kitab injil tidak kenal hal-hal begini.

Dalam kaitannya dengan interaksi antara kaum Muslim dan non-Muslim atau kepercayaan yang berbeda, Islam memiliki dua konsep penting; “toleransi” dan ”dakwah”. Toleransi (samahah/tasamuh) merupakan ciri khas dari ajaran Islam. Di mana saja daerah yang diberlakukan tradisi Islami, di situ ada samahah. Islam mempunyai kaidah dari sebuah ayat Al-Qur’an yaitu laa ikraaha fi al-dien (tidak ada paksakan dalam agama).

Dalam bahasa Arab, kata “tasamuh” adalah derivasi dari “samh” yang berarti memberi kemudahan dan keluasan.

Dalam Islam, toleransi berlaku bagi semua orang tidak ada tebang pilih, baik itu sesama umat muslim maupun non-muslim. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami menyebutkan ada empat faktor utama yang meyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat Islam terhadap non-muslim, yaitu ; Keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apapun agamanya, kebangsaannya dan kerukunannya, Perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas yang dikehendaki Allah Swt yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman dan kufur, Seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran seseorang atau menghakimi sesatnya orang lain. Allah sajalah yang akan menghakiminya nanti. Keyakinan bahwa Allah Swt memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik. Allah juga mencela perbuatan dzalim meskipun terhadap kafir (Yusuf al-Qardhawi, Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami, hal 53-55).

Namun kaidah ini tidak menafikan unsur kewajiban dalam Islam. Dakwah dalam Islam bersifat mengajak, bukan memaksa. Aturan ini pun bagian dari konsep samahah. Dari kaidah inilah maka ketika non-muslim (khususnya kaum dzimmi) berada di tengah-tengah umat Islam atau di negara Islam, maka mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam bahkan dijamin keamanannya karena membayar jizyah sebagai jaminannya. Pemaksaan justru dilarang. Bandingkan dengan fatwa Gereja berbunyi: “Open the Christ”.

Toleransi antar umat beragama berada dalam wilayah muamalah duniawi, Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap toleran, tolong-menolong, hidup yang harmonis, dan dinamis di antara umat manusia tanpa memandang agama, bahasa, dan ras mereka. Dalam hal ini Allah berfirman (yang artinya), Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS. Al-Mumtahanah: 8-9).

Imam al-Syaukani dalam Fath al-Qadir menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Allah tidak melarang berbuat baik kepada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari peperangan dan tidak membantu orang kafir lainnya dalam memerangi umat Islam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Kafir dzimmi itu dilindungi karena taat pada kepemimpinan Islam dan tidak menyebarkan kesesatan kepada umat Islam. Bahkan umat Islam dilarang mendzalimi ahl al-dzimmi ini.

Berbuat baik dan bersikap bijak dengan ahl al-dzimmi tidak menghalangi Islam untuk berdakwah. Mereka tetap disebut dakwah Islam, tapi bukan bersifat memaksa. Namun tidak ada kompromi terhadap penyimpangan agama, penistaan atau pencampur adukkan agama atas nama toleransi. Jika ada penyimpangan dan penistaan – yang bisa memancing konflik sosial – Islam segera mencegahnya, tidak boleh dibiarkan, seperti yang telah dilakukan oleh Nabi dan Abu Bakar dalam keterangan di atas.

Allah berfirman (yang artinya), Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui (Q.S Al-Baqarah: 42). Imam al-Thabari menukil penjelasan Imam Mujahid (murid Ibnu Abbas) mengenai maksud ayat “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil” adalah mencampuradukkan ajaran Yahudi dan Kristen dengan Islam.

Baik umat Islam atau umat non-muslim, Islam menjamin kebebasan beragama dan mengakui kemajemukan. Tempat ibadah non-muslim dan kepercayaan aliran lain tidak boleh diganggu. Islam juga terbuka membuka dialog-dialog cerdas. Namun, jika ada aktifitas dan gerakan publik menista kesakralan, aparat harus bertindak tegas. Sebab, masing-masing agama memiliki nilai kesakralan yang jika diusik memantik emosi pengikutnya. Segala bentuk penodaan dan pelecehan nilai-nilai sakral mestinya dilarang, apalagi digelar secara publik. Pengikutnya jelas memiliki hak untuk melakukan pembelaan.

Jadi, aturan Islam begitu rapi. Minoritas tahu diri, mayoritas melindungi dan menghargai. Karena sudah ada sekian kali kasus radikal Kristen, kita boleh mengusulkan apa perlu program deradikalisasi untuk sekte-sekte Kristen? Jika perlu, program ini layak belajar pada konsep samahah dalam Islam.

—–

Written by: Ahmad Kholili Hasib

Original link: https://www.islampos.com/samahah-islam-dan-kristen-radikal-198420/

10 Logika Dasar Penangkal Syi’ah (via Islampos, Hidayatullah)

Berikut ini adalah 10 LOGIKA DASAR akidah Syiah bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syiah dari level awam sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syiah yang ingin menyesatkan Ummat Islam dari jalan yang lurus.

Kalau Anda berbicara dengan orang Syiah, atau ingin mengajak orang Syiah bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syiah, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai Syiah; coba kemukakan 10 LOGIKA DASAR di bawah ini. Sehingga kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.

LOGIKA 1: “Nabi dan Ahlul Bait”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

Lalu katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang Syiah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syiah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”

Faktanya, ajaran Syiah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syiah memuliakan Ahlul Bait karena mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”

LOGIKA 2: “Ahlul Bait dan Isteri Nabi”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.

Kemudian tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali) sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara isteri-isteri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara isteri-isteri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia, jika tidak melalui isteri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha? Bagaimana bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui isteri Ali, yaitu Fathimah? Tanpa keberadaan para isteri shalihah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.”

Faktanya, dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira.” (bahwasanya Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini isteri-isteri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu ‘Anhunna.

LOGIKA 3: “Islam dan Sahabat”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syiah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para Shahabat?”

Faktanya, kaum Syiah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah adagium yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”

LOGIKA 4: “Seputar Imam Syiah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).

Lalu tanyakan kepada orang Syiah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syiah? Apakah orang Syiah meragukan keilmuan empat imam madzhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam madzhab tidak sepadan dengan 12 imam Syiah?”

Faktanya, kaum Syiah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam mereka. Kaum Syiah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12″ atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syiah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba’ah, maka yang dimaksud adalah empat imam madzhab rahimahumullah.

LOGIKA 5: “Allah dan Imam Syiah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam Syiah?” Tentu dia akan akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”

Kemudian tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syiah, dalam kitab-kitab Syiah, dalam pengajian-pengajian Syiah; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang Syiah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syiah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”

Faktanya, sikap ideologis kaum Syiah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syiah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.

LOGIKA 6: “Ali dan Jabatan Khalifah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.

Kemudian katakan kepada orang Syiah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu.”

Faktanya, sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali Radhiyallahu ‘Anhu lebih berani melakukan hal itu.

LOGIKA 7: “Ali dan Husein”

Tanyakan ke orang Syiah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syiah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syiah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu lebih dahsyat lagi.

Logika 8: “Syiah dan Wanita”

Tanyakan ke orang Syiah: “Apakah dalam keyakinan Syiah diajarkan untuk memuliakan wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzhalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syiah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.

Kemudian katakan ke orang Syiah itu: “Jika Syiah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzhalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syiah, lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syiah yang hamil setelah nikah mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”

Faktanya, kaum Syiah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak, Libanon, dll. praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

LOGIKA 9: “Syiah dan Politik”

Tanyakan ke orang Syiah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”

Lalu katakan ke orang Syiah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran Syiah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syiah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syiah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”

Faktanya, ajaran Syiah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syiah. Dalam hal ini akidah Syiah mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).

LOGIKA 10. “Syiah dan Sunni”

Tanyakan ke orang Syiah: “Mengapa kaum Syiah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syiah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwwah Islamiyyah. Kita semua bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”

Kemudian katakan ke dia: “Kalau Syiah benar-benar mau ukhuwwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, isteri-isteri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwwah atau perdamaian antara Sunni dan Syiah, sebelum Syiah berhenti menista para Shahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”

Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezhaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syiah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syiah.

Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah pikiran tentang Syiah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah sangat sulit disatukan. Dalam lintasan sejarah kita mendapati bukti lain, bahwa kaum Syiah tidak pernah terlibat perang melawan negara-negara kufar. Justru mereka sering bekerjasama dengan negara kufar dalam rangka menghadapi kaum Muslimin.

Hancurnya Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, sikap permusuhan Dinasti Shafawid, era Perang Salib di masa Shalahuddin Al Ayyubi, serta Khilafah Turki Utsmani, di atas semua itu terekam fakta-fakta pengkhianatan Syiah terhadap kaum Muslimin. Begitu juga, jatuhnya Afghanistan dan Iraq ke tangan tentara Sekutu di era modern, tidak lepas dari jasa-jasa para anasir Syiah dari Iran.

—–

Demikianlah 10 LOGIKA DASAR yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syiah. Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis melindungi diri, keluarga, dan Ummat Islam dari propaganda-propaganda Syiah. Amin Allahumma amin.

Jika ada benarnya, hal itu semata merupakan karunia Allah Azza Wa Jalla. Kalau ada kesalahan, khilaf, dan kekurangan, itu dari diri saya sendiri. Wal ‘afwu minkum katsira, wastaghfirullaha li wa lakum, wa li sa’iril Muslimin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

—–

Written by: A.M Waskito (penulis “Bersikap Adil Pada Wahabi”)

Misi Paus Fransiskus (via Republika)

Joseph F. O’Callaghan dalam bukunya, A History of Medieval Spain, (London: Cornell University Press, 1975), menulis bahwa setelah kejatuhan Granada pada 30 Maret 1492, kaum Muslim Spanyol dibaptis secara paksa. Cisneros, seorang Uskup di Granada pada 1499 memerintahkan pembakaran al-Quran dan memaksa sekitar 50.000 Muslim untuk masuk Kristen. Pada 11 Februari 1502, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella mengeluarkan sebuah keputusan (edict) yang menginstruksikan seluruh Muslim untuk masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol. Sebagian besar Muslim terpaksa menjadi Kristen (Moriscos). Puncak pengusiran Muslim terjadi pada abad ke-17.

Kejatuhan Granada menjadi titik balik perburuan Muslim di berbagai bagian dunia. Mereka disebut “Moors” dan dianggap sebagai penghalang bagi misi Kristen. Alfonso D’Albuquerque menaklukkan Malaka tahun 1511 dengan semboyan ‘Military Crusading Order of Christ . (IJ Maureen K.C. Chew, dalam buku The Journey of the Catholic Church in Malaysia (1511-1996), (Kuala Lumpur: Catholic Research Center, 2000).

Sesaat setelah mendarat di Ambon, Maluku, 1546, St. Francis Xavier (Fransiskus Xaverius) menulis surat kepada seorang temannya di Goa, menggambarkan kondisi Muslim di sana.

Menurut Fransiskus Xaverius, kaum Muslim tidak tahu tentang agama mereka. Ia menyebut ‘Islam’ sebagai sekte jahat Muhammad. Fransiskus optimis, jika dikirimkan misi ke Maluku, maka kaum Muslim akan bisa dihancurkan dalam waktu singkat.

The best thing about these Moors is that they know nothing about their erroneous sect. For want of one to preach the truth to them, these Moors have not become Christians If a dozen of them came each year, this evil sect of Mohammed would be destroyed in a short time. All would become Christians, and God our Lord would thus not be so much offended as he is now, since there is no one to reproach them from their vices and sins of infidelity.” (Adolf Heuken SJ, Be my Witness to the Ends of the Earth!: The Catholic Church in Indonesia before the 19th Century, (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2002).

Stephen Neill, dalam bukunya A History of Christian Missions, (New York: Penguin Books, 1964), menyebutkan, bahwa Fransiskus Xaverius adalah pengikut pertama Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesuit. Ia dipandang sebagai misionaris Katolik paling terkenal dan terbesar dalam sejarah. Ia pergi ke India tahun 1542, bukan sebagai misionaris biasa tetapi sebagai perwakilan Raja Portugal yang dipersenjatai secukupnya. Pada saat yang sama, sebagai sebagai utusan resmi Gereja (Apostolic Nuncio), ia mendapat otoritas yang sangat besar dari Paus.

—–

Apakah semangat Fransiskus Xaverius ini yang mengilhami pemilihan nama Paus Fransiskus oleh Kardinal Bergoglio? Usai terpilih sebagai Paus baru pada14 Maret 2013, Jorge Mario Bergoglio mengakui bahwa pemilihan nama Fransiskus adalah sebagai penghargaan terhadap dua orang kudus Katolik, yaitu Santo Fransiskus dari Asisi serta Santo Fransiskus Xaverius.

Banyak media mengaitkan pemilihan nama itu terkait dengan kesederhanaan gaya hidup Paus Fransiskus dan kedekatannya dengan kaum miskin. Santo Fransiskus dari Asisi (lahir 5 Juli 1182) dikenal dengan sikap hidup kepapaan mirip pertapa dan juga keberaniannya dalam menjalankan misi terhadap kaum Muslim. Bagi kaum Katolik, sosok Santo Fransiskus dari Asisi ini memang legendaris.

Di Indonesia ada sebuah seminari bernama Seminari Santo Fransiskus berlokasi di Sibiru-biru no. 01, Delitua Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara. Pada 25 Januari lalu, blog seminari ini menyiarkan sebuah artikel bertajuk Misi ke Tengah Kaum Muslimin Menurut St. Fransiskus Asissi. (http://seminarisantofraniskus.blogspot.com/…/misi-ke-tengah…).

Menurut artikel ini, Fransiskus Asisi adalah orang pertama yang meletakkan dasar hidup religius dalam hubungannya dengan misi ke tengah kaum Muslimin. Pandangannya tertuang dalam Anggaran Dasar Tanpa Bula pasal 16, yang diberi judul Mereka yang Pergi ke Tengah Kaum Muslimin dan Orang tak Beriman. Pasal ini menyatakan: “Tuhan berfirman: ‘Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan bersahaja seperti merpati. supaya orang percaya akan Allah yang mahakuasa, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, pencipta segala sesuatu, dan akan Putera, penebus dan penyelamat, dan supaya dibaptis dan menjadi kristen; sebab siapa yang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus, tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.’”

Diserukan juga kepada kaum Katolik: “Di mana pun semua saudara berada, hendaklah ingat bahwa mereka telah menyerahkan diri dan memasrahkan tubuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus. Maka Demi cinta kasih kepada-Nya mereka harus siap menyerahkan diri kepada musuh, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan; sebab Tuhan berfirman: Siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya untuk hidup yang kekal.

Para saudara yang diutus, entah ke mana pun itu, harus menyadari bahwa mereka menyerahkan diri dan memasrahkan hidup kepada Yesus Kristus. Dan karena kasih kepada Kristus itu, mereka harus siap menyerahkan diri kepada musuh baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan. Bermisi berarti menghadapi bahaya, berani mati, mengalami penderitaan seperti Yesus.

Demikian pedoman misi untuk kaum Muslim dari Santo Fransiskus Asisi yang mungkin sangat menginspirasi Paus Fransiskus. Sebuah situs (http://indonesia.ucanews.com/2013/03/18), menyebutkan bahwa Paus Fransiskus akan memfokuskan perhatian pada Gereja di daerah-daerah misi, ketimbang di Eropa dan Barat yang jumlah anggota Gereja terus menyusut.

Fernando Kardinal Filoni, Prefek Kongregasi Evangelisasi, mengatakan dalam pertemuan staf bahwa Paus Fransiskus telah menentukan visinya bagi Gereja di daerah-daerah misi, demikian sebuah laporan oleh kantor berita Vatikan Fides. Menurut Kardinal Filoni, pesan pertama Paus itu adalah pergi keluar merangkul mereka yang membutuhkan, dan mewartakan Injil.

—–

Gereja Katolik telah belajar dari sejarah. Dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), Gereja mengubah cara pandang terhadap Muslim dan pemeluk agama lain. Dalam dokumen Konsili II, Nostra Atetate, disebutkan: “Dengan penghargaan, Gereja memandang juga kepada umat Islam, yang menyembah Allah yang Mahaesa, Yang hidup dan ada, Yang Mahapengasih dan Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi Mengingat bahwa dalam peredaran jaman, telah timbul pertikaian dan permusuhan yang tidak sedikit antara orang Kristen dan Islam, maka Konsili Suci mengajak semua pihak untuk melupakan yang sudah-sudah, dan mengusahakan dengan jujur saling pengertian dan melindungi lagi memajukan bersama-sama keadilan sosial, nilai-nilai moral serta perdamaian dan kebebasan untuk semua orang.” (Lihat, Tonggak Sejarah Pedoman Arah: Dokumen Konsili Vatikan II (Oleh Dr. J. Riberu), Jakarta, Dokpen MAWI, 1983).

Pada pekan kedua, Maret 2000, Paus Yohannes Paulus II secara terbuka menyatakan permintaan maaf kepada pemeluk berbagai agama atas kesalahan yang pernah dilakukan kaum Katolik di masa lalu. “We ask pardon”, kata Paus, “for the division among Christians; for the violence which some of them used in the service of the truth; and for attitudes of diffidence and hostility adopted towards followers of other religions.” (John Cornwell, The Pope in Winter: The Dark Face of John Paul IIs Papacy, (London: Penguin Books Ltd., 2005).

Meskipun sudah menyatakan permintaan maaf dan menghormati kaum Muslim, tetapi itu tidak berarti misi untuk membaptis kaum Muslim dihentikan. Sejarah misi kepada kaum Muslim dipelopori oleh tokoh-tokoh misionaris seperti Peter the Venerable (1094-1156), Raymond Lull (c.1233-1315), Fransiskus Asisi, Henry Martin, Samuel Zwemmer, Paus Gregorius XV, Paus Urbanus VIII (1623-1644), Thomas the Jesus (Thomas a Jesu), dan seterusnya.

Dalam dokumen The Decree on the Missionary Activity of the Church (ad gentes), Konsili Vatikan II (1962-1965) disebutkan: “Landasan karya misioner ini diambil dari kehendak Allah, Yang menginginkan bahwa semua manusia diselamatkan dan mengakui kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Perantara antara Allah dengan menusia yaitu Manusia Kristus Yesus, Yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang (1 Tim 2:4-6), dan tidak ada keselamatan selain Dia (Kisah 4:12). Maka haruslah semua orang berbalik kepada Dia, Yang dikenal lewat pewartaan Injil, lalu menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja, yang adalah Tubuhnya, melalui pemandian Oleh sebab itu, karya misioner dewasa ini seperti juga selalu, tetap mempunyai keampuhannya dan tetap diperlukan seutuhnya). (Tonggak Sejarah Pedoman Arah: Dokumen Konsili Vatikan II).

Tentang Islam, Paus Yohannes Paulus II dengan tegas menyatakan: Islam is not a religion of redemption. Islam bukan agama penyelamatan, kata Paus. Sebab, menurutnya, dalam Islam, tidak ada ruang untuk salib dan kebangkitan (there is no room for the Cross and the Resurrection). Tentang konsep Tuhan dalam Islam, Paus menyatakan: “a God outside of the world, a God who is only Majesty, never Emmanuel (God-with-us).” (The Pope in Winter: The Dark Face of John Paul IIs Papacy, 195-198).

Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang bertajuk Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), yang diterbitan KWI tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Kegiatan misioner yang secara khusus ditujukan kepada para bangsa (ad gentes) tampak sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk Konsili dan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium sesudahnya. Kesulitan-kesulitan baik yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar, telah memperlemah daya dorong karya misioner Gereja kepada orang-orang non-Kristen, suatu kenyataan yang mestinya membangkitkan kepedulian di antara semua orang yang percaya kepada Kristus. Sebab dalam sejarah Gereja, gerakan misioner selalu sudah merupakan tanda kehidupan, persis sebagaimana juga kemerosotannya merupakan tanda krisis iman.”

Kini, kaum Muslim menunggu, bagaimana cara Paus Fransiskus akan menjalankan misi Gereja kepada kaum Muslim?

—–

Written by: Dr Adian Husaini

Original link: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/03/27/mkb2td-misi-paus-fransiskus