10 Logika Dasar Penangkal Syi’ah (via Islampos, Hidayatullah)

Berikut ini adalah 10 LOGIKA DASAR akidah Syiah bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syiah dari level awam sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syiah yang ingin menyesatkan Ummat Islam dari jalan yang lurus.

Kalau Anda berbicara dengan orang Syiah, atau ingin mengajak orang Syiah bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syiah, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai Syiah; coba kemukakan 10 LOGIKA DASAR di bawah ini. Sehingga kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.

LOGIKA 1: “Nabi dan Ahlul Bait”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

Lalu katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang Syiah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syiah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”

Faktanya, ajaran Syiah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syiah memuliakan Ahlul Bait karena mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”

LOGIKA 2: “Ahlul Bait dan Isteri Nabi”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.

Kemudian tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali) sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara isteri-isteri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara isteri-isteri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia, jika tidak melalui isteri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha? Bagaimana bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui isteri Ali, yaitu Fathimah? Tanpa keberadaan para isteri shalihah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.”

Faktanya, dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira.” (bahwasanya Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini isteri-isteri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu ‘Anhunna.

LOGIKA 3: “Islam dan Sahabat”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syiah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para Shahabat?”

Faktanya, kaum Syiah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah adagium yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”

LOGIKA 4: “Seputar Imam Syiah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).

Lalu tanyakan kepada orang Syiah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syiah? Apakah orang Syiah meragukan keilmuan empat imam madzhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam madzhab tidak sepadan dengan 12 imam Syiah?”

Faktanya, kaum Syiah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam mereka. Kaum Syiah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12″ atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syiah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba’ah, maka yang dimaksud adalah empat imam madzhab rahimahumullah.

LOGIKA 5: “Allah dan Imam Syiah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam Syiah?” Tentu dia akan akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”

Kemudian tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syiah, dalam kitab-kitab Syiah, dalam pengajian-pengajian Syiah; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang Syiah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syiah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”

Faktanya, sikap ideologis kaum Syiah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syiah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.

LOGIKA 6: “Ali dan Jabatan Khalifah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.

Kemudian katakan kepada orang Syiah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu.”

Faktanya, sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali Radhiyallahu ‘Anhu lebih berani melakukan hal itu.

LOGIKA 7: “Ali dan Husein”

Tanyakan ke orang Syiah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syiah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syiah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu lebih dahsyat lagi.

Logika 8: “Syiah dan Wanita”

Tanyakan ke orang Syiah: “Apakah dalam keyakinan Syiah diajarkan untuk memuliakan wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzhalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syiah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.

Kemudian katakan ke orang Syiah itu: “Jika Syiah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzhalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syiah, lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syiah yang hamil setelah nikah mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”

Faktanya, kaum Syiah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak, Libanon, dll. praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

LOGIKA 9: “Syiah dan Politik”

Tanyakan ke orang Syiah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”

Lalu katakan ke orang Syiah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran Syiah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syiah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syiah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”

Faktanya, ajaran Syiah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syiah. Dalam hal ini akidah Syiah mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).

LOGIKA 10. “Syiah dan Sunni”

Tanyakan ke orang Syiah: “Mengapa kaum Syiah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syiah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwwah Islamiyyah. Kita semua bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”

Kemudian katakan ke dia: “Kalau Syiah benar-benar mau ukhuwwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, isteri-isteri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwwah atau perdamaian antara Sunni dan Syiah, sebelum Syiah berhenti menista para Shahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”

Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezhaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syiah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syiah.

Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah pikiran tentang Syiah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah sangat sulit disatukan. Dalam lintasan sejarah kita mendapati bukti lain, bahwa kaum Syiah tidak pernah terlibat perang melawan negara-negara kufar. Justru mereka sering bekerjasama dengan negara kufar dalam rangka menghadapi kaum Muslimin.

Hancurnya Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, sikap permusuhan Dinasti Shafawid, era Perang Salib di masa Shalahuddin Al Ayyubi, serta Khilafah Turki Utsmani, di atas semua itu terekam fakta-fakta pengkhianatan Syiah terhadap kaum Muslimin. Begitu juga, jatuhnya Afghanistan dan Iraq ke tangan tentara Sekutu di era modern, tidak lepas dari jasa-jasa para anasir Syiah dari Iran.

—–

Demikianlah 10 LOGIKA DASAR yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syiah. Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis melindungi diri, keluarga, dan Ummat Islam dari propaganda-propaganda Syiah. Amin Allahumma amin.

Jika ada benarnya, hal itu semata merupakan karunia Allah Azza Wa Jalla. Kalau ada kesalahan, khilaf, dan kekurangan, itu dari diri saya sendiri. Wal ‘afwu minkum katsira, wastaghfirullaha li wa lakum, wa li sa’iril Muslimin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

—–

Written by: A.M Waskito (penulis “Bersikap Adil Pada Wahabi”)

Benarkah Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam Mewasiatkan Kekhalifahan kepada Ali? (via Fimadani)

Sebagian dari kita mungkin pernah membaca atau mendengar perkataan bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali, dan bahwa para shahabat telah membuat konspirasi terhadap Ali.

Sungguh ini perkataan keji yang berasal dari syi’ah Rafidhah dan ini merupakan perkataan yang batil. Tidak ada sumbernya dalam hadits Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Bahkan banyak dalil yang menunjukkan, bahwa khalifah setelah Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam adalah Abu Bakar Bakar Ash-Shiddiq, begitu pula kesepakatan semua shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyatakan secara jelas dan tidak mewasiatkan secara pasti. Namun, ada beberapa indikasi yang munjukkan hal itu, yang mana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Abu Bakar Bakar untuk menjadi imam shalat bagi para shahabat ketika beliau sakit, dan tidak menyebutkan kekhalifahan bagi dirinya. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

يَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلاَّ أَبَا بَكْرٍ

Allah Ta’ala dan kaum mukminin menolak selain Abu Bakar.(HR. Muslim)

Dengan ini Abu Bakar dibaiat oleh para shahabat setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, dan salah satu dari mereka adalah Ali bin Abi Thalib. Mereka sepakat bahwa Abu Bakar adalah orang terbaik dari mereka.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dinyatakan bahwa para shahabat pernah berkata ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup, “Sesungghunya orang terbaik bagi umat ini setelah nabinya Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman.”(Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Ibnu Asakir)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan hal tersebut. Berkaitan dengan hal itu, Ali pernah mengatakan, “Sesungguhnya orang terbaik bagi umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar lalu Umar.” (Diriwayatkan oleh Ahmad).

Ali juga mengatakan, “Tidaklah seseorang yang memuliakan diriku melebihi Abu Bakar dan Umar, melainkan keduanya aku cambuk seperti aku mencambuk orang yang menuduh orang lain berbuat zina.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Asyim).

Ali tidak mengklaim dirinya adalah orang yang paling mulia, begitu juga tidak pernah mengatakan bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepadanya.

Demikian juga, Ali tidak pernah mengatakan bahwa para shahabat telah menzhaliminya dan mengambil haknya.

Ketika Fatimah meninggal dunia, Ali berbaiat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk kedua kalinya dalam rangka menguatkan baiat yang pertama, dan memperlihatkan kepada para shahabat bahwa beliau bersama jamaah kaum muslimin. Tidak ada sedikit pun perasaan yang mengganjal dalam dirinya ketika berbaiat kepada Abu Bakar.

Tatkala Umar terbunuh, dia menyerahkan segala urusan dimusyawarahkan oleh enam orang di antara sepuluh shahabat yang dijanjikan masuk surga, dan salah satu dari mereka adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika itu Ali bin Abi Thalib tidak mengingkari pendapat Umar, baik ketika hidup maupun setelah kematiannya.

Ali tidak mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya orang yang paling berhak daripada mereka semua dalam memegang tampuk kekhalifahan.

Bagaimana mungkin seseorang diperbolehkan berdusta atas nama Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, dengan mengatakan bahwa beliau Sallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali, padalah Ali sendiri tidak mengakui kekhalifahannya sepeninggal beliau dan tidak seorang pun dari shahabat menyatakan kekhalifahannya.

Semua shahabat sepakat akan absahnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Ali juga mengakui kekhalifahan mereka dan bekerja sama dengan mereka dalam berjihad, memecahkan permasalahan dan lain sebagainya.

Generasi kaum muslimin setelah para shahabat pun sepakat terhadap apa yang dilakukan pendahulu mereka.

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun dan golongan manapun untuk menyatakan bahwa Ali adalah seorang yang diberikan wasiat kekhalifahan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan menyatakan kekhalifahan sebelum Ali adalah batil.

Demikian juga, tidak boleh bagi seorang pun untuk mengatakan, bahwa para shahabat telah menzhalimi Ali dan mengambil haknya. Ini adalah pemikiran yang batil dan termasuk prasangka buruk terhadap para shahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam yang mana Ali termasuk di dalamnya.

Sungguh, Allah Ta’ala telah membersihkan umat Muhammad ini dan menjaganya agar tidak sepakat dalam kesesatan. Sungguh benar apa yang dinyatakan Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits beliau yang berbunyi,

وَلاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى الْحَقِّ مَنْصُوْرَةٌ

“Segolongan dari umatku yang berada dalam kebenaran, akan selalu mendapat pertolongan.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

Dengan demikian, sangat mustahil umat Islam yang berada pada masa kemuliaan sepakat dalam hal kebatilan, yaitu masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir tidak akan mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali setelah beliau meninggal.[1]

—–

Link: http://www.fimadani.com/benarkah-rasulullah-sallallahu-alaihi-wa-sallam-mewasiatkan-kekhalifahan-kepada-ali/

Metamorfosis Taqiyyah Syiah (via Islampos)

Jika diamati, konsep ‘taqiyyah dalam syi`ah bersifat tetap, namun mengalami metamorfosis dalam aplikasinya. Taqiyyah adalah menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati. Menyimpan, menyembunyikan, dan merahasiakan kebenaran pada orang yang berbeda aqidah. Hukumnya wajib, setara dengan shalat.

Dalam tataran aqidah, termasuk bagian dari rukun agama. ‘Tidak beragama orang yang tidak bertaqiyyah’, tulis Kulayni. Konsekwensinya, yang tidak bertaqiyyah adalah pendosa besar bahkan yang tidak diampuni. Konsep ini mendominasi, Sembilan dari sepersepuluh agama. Jadi, taqiyyah bukan karena keadaan terjepit yang menyebabkan nyawa melayang, melainkan menjadi ajaran pokok keseharian.

Dalam tataran praktiknya, taqiyyah mengalami lika-liku yang cukup panjang. Pada masa Daulah Abbasiyyah dan Utsmaniyyah, walaupun menjadi kelompok sempalan dan minoritas, mereka memiliki kebebasan untuk beraktifitas normal sebagaimana orang-orang Sunni. Mereka juga merekrut anggota, mencetak buku-buku syi`ah. Namun, pandangan umum mereka sulit diterima masyarakat. Maka jalan terbaik adalah taqiyyah. Dengan metode ini lambat laun mereka berhasil mendirikan dinasti Fathimiyyah di mesir dan menjadikan Syi`ah sebagai madzhab resmi.

Periode selanjutnya, Syi`ah juga pernah mengalami masa sulit. Tepat Jumadil Akhir 574 H, Sulthan Salahuddin al-Ayyubi meresmikan madzhab Ahl Sunnah sebagai madzhab resmi. Madzhab Syafi`i dan Maliki mendapat tempat. Pada masa Sulthan Malik ad-Dzahir menambahkan Madzhab Hanafi dan Hambali. Sedangkan dalam beraqidah mengikuti metode kalam Imam Asy`ari. Para hakim syi`ah diungsikan, sehingga sekte ini dan berbagai varianya pengikutnya seperti hilang ditelan bumi. (al-Maqrizi, al-Mawâi`dz Wa al-I`tibâr, 161). Syi`ah menjadi gerakan bawah tanah dan taqiyyah memainkan peranannya.

Namun, beberapa dekade ini, terutama pasca revolusi Syi`ah di Iran. Taqiyyah menjadi sebuah dakwah metodologis modern yang cukup sistematis. Disebut dakwah, terkadang mereka memakai baju Ahli Sunnah namun pendapatnya seperti orang syiah, atau mereka tidak lagi segan-segan menampakkan kesyi`ahannya, mengajak setiap orang untuk memaklumi dan menerimanya sebagai salah satu bagian madzhab dalam Islam, bukan lagi sekadar sekte tersendiri. Dikatakan metodologis, mereka menggunakan bumbu argumen yang sepertinya rasional, memakai rujukan-rujukan yang sekilas tampak ilmiah, menganalisa dalil untuk mendukung pendapatnya. Semuanya dibungkus rapi atas nama persatuan, kerukunan, perdamaian.

Dalam taqiyyah metodis ini, syi`ah ditampilkan lebih ramah lingkungan dan seolah-olah tidak jauh berbeda dengan Ahli sunnah. Di sini akan disebutkan sebagian yang pokok saja; misalnya syi`ah juga menghormati para sahabat, istri-istri Nabi, tidak ada perubahan dalam al-Qur`an, tidak mengkafirkan kelompok selain mereka, menghormati Imam Madzhab empat dalam Ahl Sunnah. Jikalau ada, pendapat yang bertentangan itu menurut mereka hanya dari sayap pinggiran saja. Hal ini bisa dilihat dalam buku-buku syi`ah kontemporer seperti dalam dialog fiktif ‘Dialog Sunnah-Syi`ah’, ‘Buku Putih Madzhab Syi`ah’, ‘Mengenal Syi`ah, Ashl as-Syî`ah wa Ushulihâ’.

Apabila dianalisa lebih lanjut, ini hanya sekedar metode pengelabuhan dakwah saja. Fakta justru sebaliknya, bukan keramahan yang didapat tetapi cacian, kebrutalan dan kefanatikan, walaupun dalam stadium yang berbeda. Bahkan mungkin, orang yang hatinya lembutpun akan mengelus dada dengan tulisan-tulisan tokoh panutan mereka. Penulis menekankan ini bukanlah tuduhan, tetapi fakta dan kenyataan pada rujukan primer di kalangan mereka yang sangat mudah diakses. Bisa juga diperoleh dalam buku-buku tokoh-tokoh kontemporer.

Di sini akan disebutkan sebagian kecil saja. Sudah jamak diketahui bahwa menurut mereka semua sahabat telah murtad. “Pasca wafatnya Nabi, semua orang telah murtad kecuali tiga orang. Aku bertanya, siapa yang tiga itu? Beliau menjawab: Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi”, tulis al-Kulayni dalam al-Kafi. Siti Aisyah dan para Istri dituduh “pelacur” dengan sangat keji. Menurut at-Thusi dalam Ikhtiyar Ma`rifat ar-Rijal dengan mengutip Ibn Abbas, “Kamu tak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah”.

Metode ini semakin jelas diketahui karena adanya kontradiksi di sana-sini. Misalnya, Ali Kasyf al-Ghita` dalam bukunya Ashl as-Syî`ah wa Ushulihâ menyebutkan bahwa syi`ah meyakini keaslian al-Qur`an. Tetapi dalam pendahuluan Kasyf al-Astar dia memuji setinggi langit pendahulunya seperti at-Thabarsi yang mencetuskan ketidak otentikan al-Qur`an dalam buku fenomenalnya Fashl al-Khitab `an Itsbat Tahrif Kitab Rabb al-Arbab. Al-Musawi pun demikian, dalam Murâja`ât ia menolak segala tudingan adanya kepercayaan syi`ah yang menyimpang. Namun, ia sendiri mempersilahkan peneliti untuk membaca kitab empat buku induk Syi`ah yang membuktikan tudingan itu sendiri.

—–

Written by: Moh. Isom Mudin, M. Ud, Penulis Bina Qalam Indonesia

Link: https://www.islampos.com/metamorfosis-taqiyyah-syiah-179879/

Kesesatan Syiah Menurut Ibnu Khaldun (via MIUMI)

Akhir-akhir ini, para penganut, pendukung, dan pejuang Syiah di Indonesia merasa di atas angin. Selain terbitnya buku “Syiah Menurut Syiah, 2014″ oleh organisasi resmi Syiah, Ahlul Bait Indonesia (ABI) yang diberi kata pengantar oleh Menteri Agama, Drs. H. Lukman Hakim Saefuddin.

Tahun 2014 juga menyaksikan perhelatan Konferensi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam “World Congress on Extremist and Takfiri Movements in the Islamic Scholar’s View” (23-24/11/2014) di Kota Qum Iran yang dihadiri 80 negara. Kesemua yang hadir disaring dari 2000 tokoh di seluruh dunia, lalu dipilah dan diundang sekitar 420 tokoh. Akhirnya yang hadir adalah sebanyak 315 orang, dengan prosentase 40% Syiah dan 60% Ahlussunnah. Tokoh-tokoh tersebut diambil dari mereka yang punya pengaruh dari kalangan ulama, intelektual, dan akademisi, yang memiliki semangat persatuan dan kesatuan serta melawan segala bentuk ekstrimisme takfiri, (www.abna.com. 23/11/2014).

Dari Sulawesi, ada beberapa tokoh akademis dan ulama yang turut diundang ke acara konferensi internasional tersebut. Melihat tema konferensinya, secara substansial pasti kita setuju semuanya, karena menekankan persatuan (al-ittihad), persaudaraan antarsesama muslim (ukhuwwah islamiyah), mereduksi segala bentuk kekerasan tanpa alasan syar’i, bahkan mengkafirkan sesama muslim tanpa merujuk pada ketetapan dalil baik Al-Qur’an, sunnah, dan fatwa para ulama muktabar.

Namun persoalannya tidak sampai di situ. Kedatangan para ulama dan akademisi dari kalangan Ahlussunnah ke Qom, Iran untuk menghadiri konferensi internasional tersebut menjadi bahan jualan para penganut dan pejuang Syiah Indonesia, lebih khusus yang kuliah di Iran dan mendapat beasiswa.

Ismail Amin misalnya, selain menulis artikel di koran-koran lokal Makassar, Ulama Sulsel dan Islam Rahmatan Lil-Alamin (Tribun Timur. 28/11/2014); Pesan Perdamaian dari Rakyat Persia (Harian Fajar, 29/11/2014) dengan menyebut sederet tokoh lintas organisasi dan lembaga pendidikan di Sulsel yang turut hadir dalam perhelatan ilmiah tersebut. Umpamanya adalah nama-nama seperti Prof. Dr. Qadir Gassing sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Arifuddin Ahmad sebagai Dekan Fak. Ushuluddin dan Filsafat, Dr.KH. Mustamin Arsyad atas nama MUI Makassar, dan seabrak nama tokoh lainnya, lokal maupun nasional.

Persoalannya semakin rumit, karena ia memaksakan kehendak, setidaknya dalam berbagai pernyataannya di media sosial seperti di Facebook yaitu dengan menyatakan bahwa bahwa kedatangan para ulama dan tokoh tersebut sebagai bentuk kekagumannya atas para ulama di Iran. Bahkan menurut pria yang mengaku kuliah di Mostafa University of Iran ini, banyak dari ulama kita yang antre untuk hanya sekadar cipika-cipiki dengan para Ayatollah.

Kekaguman para ulama dan tokoh akademis, baik lokal (Makassar) maupun nasional, kepada ulama Syiah Iran dimanfaatkan sebagai legitimasi keshahihan ajaran Syiah, sekaligus sebagai propaganda penyebaran Syiah di Indonesia. Dan ini memang sudah menjadi taktik Syiah dalam melanggengkan penyebaran faham mereka di tengah masyarakat Ahlussunnah. Bahkan, nama saya pun dibawa-bawa dan disebutkan konon sangat tertarik untuk berkunjung ke Iran, namun karena permasalahan visa sehingga tidak dapat mengunjungi negeri para mullah itu. Tentu saja, ini adalah tuduhan tak berdasar rekaan Ismail Amin.

Padahal sejatinya, para ulama, terutama dari Makassar yang berangkat ke Iran untuk menghadiri konferensi Internasional tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan legitimasi ajaran Syiah dan dukungan penyebarannya di kalangan masyarakat berpaham Ahlussunnah. Kedatangan mereka jelas dengan tujuan mulia, ukhuwah islamiyah dan mereduksi kekerasan atas nama agama.

Karena itu, perbuatan konyol, bahkan sebuah fitnah yang keji jika harus menjual nama para tokoh dan ulama kita untuk melegitimasi ajaran sesat Syiah, yang sudah difatwakan kesesatannya, mulai dari Imam Syafi’i pada abad ke-3 Hijriah hingga penganut mazhabnya di abad ke-15 Hijriah ini.

***

Karena para pengusung dan pengasong aliran sesat Syiah di Indonesia banyak menjual nama-nama tokoh dan ulama untuk melegitimasi dan menjustifikasi kebenaran ajaran mereka, supaya dapat disebarkan dengan mudah dan diterima masyarakat umum, maka ada baiknya jika kita kembali menoleh ke masa lalu. Khususnya kita harus mengangkat pemikiran dan pemahaman ulama muktabar kita, yang telah diakui kepakarannya oleh para ilmuwan Timur maupun Barat.

Salah satunya adalah Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dengan magnum opus-nya yang diberi judul “Al-Muqaddimah” sebagai pengantar kitab induknya “Al-Ibar, wa Diwan Al-Mubtada’ wa Al-Khabar, fi Ayyam Al-’Arab wa Al-’Ajam wa Al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi As-Sulthani Al-Akbar”.

Tentang kehebatan dan derajat keilmuan Ibnu Khaldun, saya kutip perkataan seorang orientalis sekaligus pakar sejarah, Arnold Toynbee. “In the Prolegomena [Al-Muqadimmah] to his Universal History he has conceived and formulated a philosophy of history which is undoubtedly the greatest work of its kind that has ever yet been created by any time or place.” (Lihat, A Study of History: The Growths of Civilization [New York: Oxford University Press, 1962]).

Syamsuddin Arif menyebutnya, Kitab “Al-Mukaddimah” karya Ibnu Khaldun tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman manusia dari masa ke masa, (Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008).

Kepakaran Ibnu Khaldun dari berbagai disiplin ilmu, terutama sosiologis sudah diakui oleh jumhur ulama dan ilmuan, karena itulah dia mendapat gelar “Bapak Sosiologi”. Kali ini saya tidak mengangkat masalah sosiologis dalam kitab Al-Muqaddimah, melainkan pemaparan dan pandangannya terhadap aliran sesat Syiah.

Pada Pasal ke-27, Kitab “Kerajaan-Kerajaan Secara Umum, Kerajaan, Kekhalifahan, Jabatan Kepemimpinan, dan Semua yang Berhubungan dengannya”, dengan tema “Aliran-aliran Syiah dan Hukum Menegakkan Imamah”, Ibnu Khaldun memulai pembahasannya dengan memaparkan arti Syiah dari segi etimologi dan terminologi.

Katanya, Asy-Syi’ah secara etimologi berarti sahabat dan pengikut. Sedangkan dalam terminologi, para pakar hukum Islam dan pakar ilmu kalam, baik klasik maupun kontemporer diartikan sebagai pengikut Imam Ali bin Abi Thalib. Seluruh aliran Syiah bersepakat bahwa imamah bukanlah kepentingan umum, yang persoalannya diserahkan pada pilihan masyarakat dan pengangkatannya tergantung mereka. Imamah merupakan salah satu rukun Islam dan perinsip dalam Islam menurut Syiah.

Tidak seorang Nabi pun–lanjut Ibnu Khaldun–bagi Syiah boleh melalaikannya dan tidak pula melimpahkannya kepada masyarakat. Mereka harus mengangkat pemimpin dari golongan mereka sendiri, dan imam yang diangkat sebagai pemimpin itu harus bersifat ma’shum atau terbebas dari dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Syiah meyakini, terang Ibnu Khaldun, bahwa Ali bin Abi Thalib telah diangkat Rasulullah menjadi imam berdasarkan teks-teks yang mereka kutip dan mereka takwilkan sesuai kehendak, yang sama sekali tidak dikenal oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, dan tidak pula terdapat dalam kitab hadis. Teks-teks yang mereka kutip sebagian besar adalah maudhu’ alias palsu belaka, terdapat cela dalam sanadnya, atau terjadi penakwilan yang menyimpang terlalu jauh. Bagi orang Syiah, teks-teks tersebut terbagi menjadi dua bagian, jali atau tersurat dan khafi atau tersirat, (Ibnu Khaldun, Al-Muqaddimah, [terj.], Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001). Penjelasan Ibnu Khaldun terkait kesesatan Syiah begitu panjang, gamblang, dan sistematis.

Pernyataan di atas sudah cukup memadai untuk menetapkan bahwa epistemologi akidah syiah sangat rapuh bahkan tidak berdasar karena berpijak di atas dalil yang absurd.

Segenap ajaran agama Syiah tidak terbangun di atas Al-Qur’an dan hadis sebagaimana dipahami Ahlussunnah, melainkan membangun ajaran sendiri dari dalil yang mereka tafsirkan secara serampangan, dan pada tahap tertentu menciptakan ayat dan hadis palsu untuk menjustufikasi ajaran mereka.

Wajar saja, jika pembahasan masalah Syiah, dalam Al-Muqaddimah, ditutup oleh Ibnu Khaldun dengan perkataan, Allah berkuasa menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk menuju jalan yang lurus kepada siapa saja yang dikehendakinya.

Maksudnya, Allah menyesatkan Syiah dan membiarkan mereka terus berkubang dalam kesesatan, dan Allah senantiasa memberi petunjuk dan jalan yang lurus kepada golongan Ahlussunnah wal-Jamaah.

Wallahu A’lam!

—–

Link: http://miumipusat.org/wp/kesesatan-syiah-menurut-ibnu-khaldun/

Written by: Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas-DDII/Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.

Tanyakan pada Orang Syiah soal “Ali dan Husein” (via Islampos)

Tanyakan pada orang-orang Syiah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?”

Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.”

Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syiah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syiah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu lebih dahsyat lagi.

—–

Written by: Arief Hidayat from the book “10 Logika Dasar Penangkal Syiah”

Taken from: http://www.islampos.com/tanyakan-pada-orang-syiah-soal-ali-dan-husein-97619/