Da’wah Summary: 1914 – The Shaping of the Modern Muslim World – PART 2/2

—–

Melanjutkan artikel sebelumnya yang membahas asal muasal Perang Dunia I dan pengaruhnya terhadap dunia Islam hingga saat ini, kini saatnya untuk sedikit memaparkan secara garis besar mengenai bagaimana andil kelompok Zionis di masa Perang Besar dalam menentukan apa yang terjadi di Palestina.

Seperti yang terlah dibahas, pemerintah Inggris yang saat itu tengah berperang dengan Utsmaniyyah, mendapatkan kemajuan luar biasa pada front Timur Tengah-nya dan kini telah mendapatkan wilayah yang sangat luas, termasuk diantaranya adalah Palestina. Dalam perjalanannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Inggris telah melakukan berbagai macam tipu daya dan mengadakan perjanjian ganda diantara mereka dengan bangsa Arab serta diantara mereka dan pihak Sekutu dalam merumuskan pembagian wilayah pasca perang nantinya.

Namun banyak diantara umat Islam saat itu tidak mengetahui adanya satu kepentingan lainnya yang kelak berakibat bertahun-tahun penderitaan saudara-saudara kita di Palestina dan seluruh dunia hingga kini. Adalah usaha kelompok Zionis yang berbasis di Eropa untuk melobi kepentingan mereka dalam rangka mendirikan Negara Israel dengan pemerintah Inggris.

Gerakan Zionisme yang memulai pergerakannya dengan agresif sejak akhir abad 19 telah memulai lobinya dengan membujuk Sultan Abdul Hamid II untuk membeli Palestina dari kekuasaan Utsmaniyyah. Dengan perkataannya yang terkenal, Sultan Abdul Hamid menyerukan kepada duta Zionis saat itu yaitu Theodor Herzl sebagai berikut:

“Meskipun engkau memberikan kepada kami emas dari seluruh dunia, termasuk 150 juta pound yang kautawarkan ini, niscaya aku tidak akan pernah menerimanya! Saya telah mengabdi pada negara Islam dan umat Nabi Muhammad SAW selama lebih dari 30 tahun dan tidak pernah sebelumnya saya mencemarkan tinta sejarah umat Muslim, termasuk para ayah dan leluhur saya – para sultan dan khalifah dari Utsmaniyyah.

Tidak, saya tidak akan pernah menerima penawaran anda.”

Kita harus bersyukur pada integritas yang dimiliki sang sultan, namun rupanya di tangan para penerusnya, Kekhilafahan semakin terjerumus pada kemunduran dan kelemahan sehingga akhirnya Palestina-pun jatuh. Seolah mendapatkan kesempatan yang telah lama dinantikan, para pelobi Zionis berhasil meyakinkan parlemen Inggris untuk memberikan tanah Palestina kepada mereka.

Ini disebabkan karena ketergantungan pasukan Sekutu terhadap bahan industri yang disebut dengan acetone. Bahan ini merupakan unsur utama untuk industri persenjataan Sekutu dalam menghadapi Jerman dan industri penghasil bahan ini dimiliki Chaim Weizmann yang notabene adalah salah satu pemimpin tertinggi Zionis di Inggris.

Weizmann yang merupakan jutawan ternama, menolak untuk diberikan imbalan berupa harta dan alih-alih meminta tanah Palestina pasca Perang Dunia I kelak berakhir. Herannya usaha para Zionis ini sempat mendapatkan perlawanan dari Edwin Montagu, seorang anggota parlemen Inggris yang juga merupakan penganut agama Yahudi. Menurutnya usaha Zionis ini akan merusak hubungan baik antara Yahudi dan Islam yang selama ini terbina dan beliau sangat menentang upaya pendirian negara Israel di sana.

Pada momen ini, Yasir Qadhi menjelaskan kembali bahwa yang semestinya kita tentang bersama-sama adalah faham Zionisme yang jelas-jelas rasis dan berniat mencederakan hubungan baik kita dengan kaum Yahudi. Dikarenakan stigma yang sudah berjalan selama bertahun-tahun akibat kejahatan perang yang dilakukan para Zionis, maka umat Islam sudah seolah menyamaratakan Yahudi sebagai Zionis. Inilah yang semestinya kita hindarkan.

Perlawanan terhadap Zionisme harus tetap dikobarkan namun kita juga tidak boleh lupa dengan upaya kritik yang sangat vokal juga dari para penganut Yahudi akan faham Zionisme ini. Bahkan mereka merupakan para kritik yang lebih efisien dari kita umat Muslim di seluruh dunia.

Kembali ke cerita Perang Dunia I, akhirnya parlemen Inggris memutuskan untuk memberikan hak kepemilikan Palestina kepada para Zionis ini dan bahkan pejabat tinggi pemerintah Inggris, Arthur James Balfour sendiri memberikan persetujuannya kepada Baron Rothschild yang merupakan dalang di belakang ini semua.

Maka tuntaslah semua persyaratan yang dibutuhkan agar para Zionis bisa menduduki tanah Palestina kita. Meskipun pasca perang tuntutan ini sempat dipermasalahkan dan diselidiki oleh Amerika Serikat yang herannya pada saat itu masih bisa objektif, akhirnya dikesampingkan begitu saja. Para warga Yahudi di belahan dunia Barat-pun sebetulnya menentang usaha ini dan sebagian terus berjalan hingga hari ini.

Beralih pada bangsa Arab yang mengkhianati Kekhilafahan, rupa-rupanya kesepakatan mereka dengan Sekutu berhasil dikendalikan sedemikian rupa sehingga anak-anak dari Sharif Mekkah berhasil mendapatkan jatah mereka masing-masing, namun tentunya Khilafah baru tidak pernah hadir kembali di tengah-tengah masyarakat Islam di Timur Tengah.

Hegemoni dinasti Shariff Mekkah inipun berakhir tragis dimana jazirah Arab akhirnya dikuasai keluarga Saud dan anak dari Shariff yang berkuasa di Irak malah dikudeta dan dibantai. Yang tersisa adalah rezim boneka Yordania yang hingga kini masih bertahan. Meskipun klaim semulanya adalah wilayah Trans-Jordan yang meliputi Palestina, namun Inggris akhirnya memberikan itu kepada para Zionis.

Maka lengkap sudah kejatuhan Kekhilafahan serta umat Islam dan hingga kini kita sendiri merasakan akibat dari kegetiran tersebut. Umat kita dikalahkan, dipermalukan, dan di-nasionalisme-kan sebagai hasil akhirnya. Kini kita terpecah menjadi sekian puluh negara dan tidak ada satupun yang memiliki taji untuk membela kepentingan umat seperti layaknya para khalifah kita terdahulu.

Namun yakinlah bahwa kelak Khilafah akan berdiri kembali dan Islam kembali menjadi kekuatan pemersatu dan pemberi kesejahteraan bagi seluruh umat manusia di muka bumi.

—–

Summarized by: Rian Farisa – @pokamamil

Video by: Dr. Yasir Qadhi

Images are taken from various sources

Advertisements

Da’wah Summary: 1914 – The Shaping of the Modern Muslim World – PART 1/2

—–

Dr. Yasir Qadhi, seorang penggiat dakwah dari Memphis – Tennessee, Amerika Serikat kali ini berbagi fakta mengenai langkah demi langkah terjadinya Perang Dunia I atau The Great War sekitar 100 tahun silam yang akhirnya berakibat pada kejatuhan Khilafah Islam Utsmaniyyah dan jatuhnya Jerusalem ke tangan para Zionis.

Pada video ini, beliau memaparkan fakta-fakta mencengangkan mengenai betapa sistematisnya kejatuhan Daulah Utsmaniyyah yang konon pada saat itu sudah digerogoti oleh berbagai kekurangan dan kelemahan. Seperti yang telah kita ketahui, Khilafah Utsmaniyyah telah melemah pasca wafatnya Khalifah Sulaiman Qanuni di abad ke 16. Kejayaan dari kekhalifahan ini telah membuat para pemimpinnya lengah dan cinta dunia sehingga ketika kekuatan Eropa telah melampauinya, maka yang dilakukan para petinggi Utsmaniyyah adalah mencontoh caranya serta meninggalkan ketaatan kepada hukum Islam.

Walhasil berbagai investasi Eropa masuk ke tanah Utsmaniyyah dan melemahkan fondasi ekonominya. Ditambah lagi Reformasi Tanzimat semakin membawa Daulah ini menuju ke arah sekulerisme. Produk-produknya pada masa menjelang Perang Dunia I telah menguasai level tertinggi pemerintahan dan saat itu dipimpin oleh para penggiat The Young Turks yang progresif. Kekuatan khalifah sayangnya pada level ini menjadi bersifat simbolik dan tidak lagi absolut seperti masa-masa terdahulu ketika Utsmaniyyah menjadi kekuatan yang tidak pernah terkalahkan di hadapan berbagai kerajaan Eropa.

Sisa wilayah Utsmaniyyah sebelum PD I

Sisa wilayah Utsmaniyyah sebelum PD I

Dengan kondisi yang sedemikian lemah tersebut dan reputasi yang semakin dihinakan oleh tetangga-tetangganya, dedengkot dari The Young Turks yang dipimpin Enver Pasha ini mencari momen untuk ‘merestorasi’ kembali kehormatan negaranya dan ketika Perang Dunia I terjadi maka itulah momentum yang dirasa paling tepat olehnya. Awalnya Perang Dunia I tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia Islam, namun dikarenakan kedekatan Kekaisaran Prussia dengan Utsmaniyyah, maka hal ini langsung dieksploitasi oleh Enver Pasha dengan mengadakan perjanjian rahasia dengan Kaizer Wilhelm II tanpa sepengetahuan sang Sultan. Maka apa daya, sang Sultan akhirnya mengumumkan perintah Jihad untuk terakhir kalinya dalam sejarah umat masa kini.

Dimulainya perang dan pengkhianatan bangsa Arab

Dengan dideklarasikannya perang terhadap sekutu oleh Utsmaniyyah maka Inggris dan Perancis kini memiliki legitimasi untuk menyerang secara langsung. Meskipun pada awalnya Daulah Utsmaniyyah memperoleh kemenangan monumental di Semenanjung Gallipoli, namun di berbagai front lain khususnya di Timur Tengah, ternyata Inggris dan Perancis dengan mudah memporakporandakan pasukan Utsmaniyyah. Tidak hanya Baghdad dan Damascus berhasil mereka kuasai, namun mata mereka juga tertuju pada tanah Palestina. Untuk ini, Perdana Menteri Inggris saat itu menginstruksikan Jendral Allenby untuk merebut Jerusalem sebelum Natal tiba.

Sharif Hussein & Sir Henry McMahon

Sharif Hussein & Sir Henry McMahon

Jendral Allenby yang dikenal cekatan itu dipaksa memutar otak untuk merebut Jerusalem dengan efisien. Sehingga dikirimlah T.E. Lawrence, yang kita kenal sebagai Lawrence of Arabia, untuk mendekati bangsa Arab yang selama ini mendengki dengan kepemimpinan Turki Utsmaniyyah.

Korespondensi antara McMahon dan Sharif Hussein

Korespondensi antara McMahon dan Sharif Hussein

Meskipun sesama saudara Muslim, Sharif Hussein dari Makkah yang sudah turun-temurun menjaga kota ini adalah satu-satunya tokoh yang memiliki otoritas untuk mengklaim tahta kekhalifahan dan kedengkiannya sudah tertuang sejak lama, terlihat dari korespondensinya dengan Inggris jauh sebelum Perang Dunia I dimulai. T.E. Lawrence dikirim menjadi agen ganda dan ditugaskan berkoordinasi dengan pasukan Arab untuk memukul mundur pasukan Turki dari Hijaz.

Berdasarkan dari korespondensi resmi antara Sharif Hussein dan Sir Henry McMahon yang merupakan Komisioner Tinggi Inggris di Mesir, maka disepakati bahwa pasca perang nanti Sharif Hussein akan dianugerahi tanah seluas wilayah Hijaz, Trans Jordania, dan juga Irak untuk mendirikan kekhilafahan barunya.

Pengkhianatan Inggris dan sekutunya

Namun tanpa diketahui oleh siapapun, ternyata tiga kekuatan sekutu yaitu Inggris, Perancis, dan Russia membicarakan secara eksklusif mengenai pembagian kekuasaan pasca perang dan tentu tiada lain adalah wilayah-wilayah yang dimiliki oleh Utsmaniyyah. Pembicaraan ini diprakarsai oleh Francois Georges-Picot dan Sir Mark Sykes yang kelak perjanjiannya akan dikenal sebagai Sykes-Picot Agreement. Dr Yasir Qadhi menggambarkan dalam videonya bahwa perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat kotor dimana mereka merahasiakan ini dari dunia, mengkhianati korespondensi Sharif dan McMahon, serta tanpa pertimbangan banyak, dengan mudahnya mereka membagi-bagi wilayah Muslim menjadi berbagai kepingan sekehendak mereka.

Dari perjanjian ini disepakati bahwa pasca perang nanti Inggris menginginkan wilayah Palestina, Yordania, serta Irak; Perancis menginginkan Suriah dan Libanon; dan Russia menginginkan wilayah timur Utsmaniyyah yang berbatasan dengan Armenia. Ternyata terkuak juga rahasia ini dikarenakan pemerintahan Komunis Bolshevik yang baru saja menjatuhkan Kekaisaran Russia memutuskan untuk membeberkan segala rahasia negara untuk meyakinkan dunia akan kebobrokan pemerintahan para Tsar ini.

Perjanjian Sykes-Picot yang membagi-bagi kekuasaan antara Inggris (merah dan Palestina), Perancis (biru), dan Russia (hijau)

Perjanjian Sykes-Picot yang membagi-bagi kekuasaan Inggris (merah), Perancis (biru), dan Russia (hijau)

Pada saat itu jelas bangsa Arab merasa tertipu dengan perjanjian rahasia ini namun entah bagaimana pemerintah Inggris berhasil meyakinkan bangsa Arab untuk terus memperjuangkan perangnya dan mungkin dikarenakan buta oleh hasrat kekuasaan, pasukan Arab memutuskan untuk terus membantu Inggris dan mencapai cita-cita ‘khilafah’nya.

Sementara itu akhirnya pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Inggris dan sekutunya sehingga berhasillah usaha Jendral Allenby untuk menghadiahkan Jerusalem pada Perdana Menterinya sekaligus mempermalukan umat Islam yang kala itu bobrok dan tidak bersatu sama sekali. Pada momen itu jatuhlah pula kota suci yang telah dipertahankan selama beratus-ratus tahun dan direbut oleh Salahuddin yang mulia dengan darah dan keringat. Kesemuanya adalah karena takdir dari Allah SWT yang menghukum kaum Muslimin karena telah menjauhi agamanya serta tidak bersatu lagi untuk kepentingan umat.

Tanpa disangka ternyata jatuhnya Jerusalem membawa berkah bagi kelompok ekstremis Zionis yang sudah berniat sejak lama untuk kembali ke Palestina. Sehingga di luar semua perjanjian yang ada, kelompok ini melobi pemerintah Inggris dengan cara dahsyat dan sistematis untuk kelak mendirikan negara Israel. Kesemuanya akan kita bahas kembali di episode berikutnya.

—–

Summarized by: @pokamamil

Video by: Dr. Yasir Qadhi

Images are taken from various sources