Biografi Singkat Salahuddin al-Ayyubi

Kali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin kemampuannya sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.

Asal dan Masa Pertumbuhannya

tikrit Shalahuddin al AyyubiShalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan ‘ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab karena ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.

Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, “Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang.”

Dari Tikrit, keluarga Kurdi ini berpindah menuju Mosul. Sang ayah, Najmuddin Ayyub tinggal bersama seorang pemimpin besar lainnya yakni Imaduddin az-Zanki yang memuliakan keluarga ini, dan Shalahuddin pun tumbuh di lingkungan yang penuh keberkahan dan kerabat yang terhormat. Di lingkungan barunya dia belajar menunggang kuda, menggunakan senjata, dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai jihad. Di tempat ini juga Shalahuddin kecil mulai mempelajari Alquran, menghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mempelajari bahasa dan sastra Arab, dan ilmu-ilmu lainnya.

Diangkat Menjadi Mentri di Mesir

Sebelum kedatangan Shalahuddin al-Ayyubi, Mesir merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Syiah, Daulah Fathimiyah. Kemudian pada masa berikutnya Dinasti Fathimiyah yang berjalan stabil mulai digoncang pergolakan di dalam negerinya. Orang-orang Turki, Sudan, dan Maroko menginginkan adanya revolusi. Saat itu Nuruddin Mahmud, paman Shalahuddin, melihat sebuah peluang untuk menaklukkan kerajaan Syiah ini, ia berpandangan penaklukkan Daulah Fathimiyyah adalah jalan lapang untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan Pasukan Salib.

Nuruddin benar-benar merealisasikan cita-citanya dengan mengirim pasukan dari Damaskus yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh untuk membantu keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi di Mesir. Mengetahui kedatangan pasukan besar ini, sebagian Pasukan Salib yang berada di Mesir pun lari kocar-kacir sehingga yang dihadapi oleh Asaduddin dan Shalahuddin hanyalah orang-orang Fathimiyah saja. Daulah Fathimiyah berhasil dihancurkan dan Shalahuddin diangkat menjadi mentri di wilayah Mesir. Namun tidak lama menjabat sebagai menteri di Mesir, dua bulan kemudian Shalahuddin diangkat sebagai wakil dari Dinasti Ayyubiyah.

Selama dua bulan memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-kebijakan progresif yang visioner. Ia membangun dua sekolah besar berdasarkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini ia tujukan untuk memberantas pemikiran Syiah yang bercokol sekian lama di tanah Mesir. Hasilnya bisa kita rasakan hingga saat ini, Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni. Kebijakan lainnya yang ia lakukan adalah mengganti penyebutan nama-nama khalifah Fathimiyah dengan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam khutbah Jumat.

Menaklukkan Jerusalem

Persiapan Shalahuddin untuk menggempur Pasukan Salib di Jerusalem benar-benar matang. Ia menggabungkan persiapan keimanan (non-materi) dan persiapan materi yang luar biasa. Persiapan keimanan ia bangun dengan membersihkan akidah Syiah bathiniyah dari dada-dada kaum muslimin dengan membangun madrasah dan menyemarakkan dakwah, persatuan dan kesatuan umat ditanamkan dan dibangkitkan kesadaran mereka menghadapi Pasukan Salib. Dengan kampanyenya ini ia berhasil menyatukan penduduk Syam, Irak, Yaman, Hijaz, dan Maroko di bawah satu komando. Dari persiapan non-materi ini terbentuklah sebuah pasukan dengan cita-cita yang sama dan memiliki landasan keimanan yang kokoh.

crusade 300x445 Shalahuddin al AyyubiDari segi fisik Shalahuddin mengadakan pembangunan makas militer, benteng-benteng perbatasan, menambah jumlah pasukan, memperbaiki kapal-kapal perang, membangun rumah sakit, dan lain-lain.

Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.

Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan PJerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib terlebih dahulu. Oerang ini dinamakan Perang Hattin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30,000 Pasukan Salib dan menawan 30,000 lainnya.

Setelah menguras energi di Hattin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds (Jerusalem), dengan jumlah pasukan yang besar dan mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri dan beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insyaAllah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.

Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubbatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.

Pasukan Salib mulai terpojok, mereka tercerai-berai dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, “Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam (ketika menaklukkan Jerusalem)”. Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian dari Ibelin mengancam, “Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4,000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kalian, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubbatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!” Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.

Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.

Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.

al Aqsha Shalahuddin al Ayyubi

Wafatnya Sang Pahlawan

Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 4 Maret 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya.

Semoga Allah meridhai, merahmati, dan  membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem.

—–

Edited by: @pokamamil

Written by: Nurfitri Hadi

Bibliography:

  • Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin by Abdullah Nashir Unwan
  • Shalahuddin al-Ayyubi by Basim al-Usaili
  • Shalahuddin al-Ayyubi by Abu al-Hasan an-Nadawi
  • http://islamstory.com

Source: http://kisahmuslim.com/shalahuddin-al-ayyubi/

Kisah Perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi – PART 2/2 (via Daulah Islam)

salahuddin al-ayyubi poster
—–
Kisah Salahuddin Al-Ayyubi sudah terkenal sejak dahulu kala. Kekaguman kaum muslimin maupun non-muslimin kepada beliau tidak diragukan lagi. Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang Kurdi biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada seorangpun yang menyangka sebelum ia menguasai Mesir dan menentang tentera Salib bahwa anak Kurdi ini suatu hari nanti akan merebut kembali Palestina dan menjadi pembela akidah Islamiah yang hebat. Dan tiada siapapun yang menyangka pencapaiannya demikian hebat sehingga menjadi contoh dalam memerangi kekufuran hingga ke hari ini.
—–
Perang Salib Ketiga
salahuddin-ayubi_b

Seperti yang telah kita ketahui, Perang Salib Pertama mengakibatkan kejatuhan Palestina akibat serbuan orang-orang Kristen pada tahun 1099 (490H), lalu Perang Salib Kedua akhirnya dimenangkan Salahuddin dalam Pertempuran Hattin pada tahun 583H (1187M) dan beberapa hari kemudian beliau merebut Baitul Muqaddis tanpa perlawanan. Kekalahan tentara Kristen ini telah menggegerkan seluruh dunia Kristen sehingga tidak lama, Eropa mempersiapkan kembali untuk perang selanjutnya.

Hampir semua raja dan panglima perang dari dunia Kristen seperti Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lionheart raja Inggris, Philip Augustus raja Perancis, Leopold dari Austria, Duke of Burgundy dan Count of Flanders telah bersekutu menyerang Salahuddin yang hanya dibantu oleh beberapa pembesarnya, saudara serta tentaranya untuk mempertahankan kehormatan Islam. Berkat pertolongan Allah mereka tidak dapat dikalahkan oleh tentara sekutu ini.

Peperangan ini berlanjut selama lima tahun hingga menyebabkan kedua belah pihak menjadi lesu dan jemu. Akhirnya kedua belah pihak setuju untuk memuat perjanjian di Ramallah pada tahun 588 H. Perjanjian ini mengakui Salahuddin adalah penguasa Palestina seluruhnya kecuali Kota Acre yang masih berada di bawah pemerintahan Kristen. Maka berakhirlah peperangan Salib Ketiga.

Lane-Poole telah mencatatkan perjanjian ini sebagai berakhirnya Perang Suci selama 5 tahun. Sebelum kemenangan besar Hattin pada bulan Juli, 1187 M, tiada satu inci pun tanah Palestina di dalam tangan orang-orang Islam. Selepas Perjanjian Ramallah pada bulan September, 1192 M, keseluruhannya menjadi milik mereka kecuali satu jalur kecil dari Tyre ke Jaffa. Salahuddin tidak keberatan sama sekali dengan perjanjian ini walaupun sebagian kecil tanah Palestina masih berada di tangan orang-orang Kristian.

Atas seruan Paus maka seluruh dunia Kristien mengangkat senjata. Raja Inggris, Perancis, Sicily dan Austria serta Duke of Burgundy, Count of Flanders dan beratus-ratus lagi pembesar-pembesar telah bersekutu membantu Raja dan Putra Mahkota Jerusalem untuk mengembalikan kerajaan Jerusalem kepada pemerintahan Kristen. Walau bagaimanapun juga usaha mereka, Tanah Suci itu masih di dalam tangan Salahuddin.

Selanjutnya Lane-Poole mencatat bahwa seluruh kekuatan dunia Kristen yang telah bergabung dalam peperangan Salib ketiga tidak mengoyahkan kekuatan Salahuddin. Tentaranya mungkin lelah dengan peperangan yang sulit ini tetapi mereka tidak pernah mundur apabila diseru untuk menjual jiwa raga mereka di jalan Allah. Tentaranya yang berada jauh di lembah Tigris di Iraq mengeluh dengan tugas yang tidak henti-henti, tetapi ketaatan mereka yang tetap tidak tergoyahkan.

Bahkan dalam peperangan Arsuf, tentaranya dari Mosul telah menunjukkan ketangkasan yang hebat. Dalam peperangan ini, Salahuddin memang memberikan kepercayaan kepada pasukannya dari Mesir, Mesopotamia, Syria, Kurdi, Turki, tanah Arab dan bahkan orang-orang Islam dari berbagai penjuru. Walaupun mereka berlainan bangsa dan kaum tetapi Salahuddin telah dapat menyatukan mereka di atas jalan Allah sejak awal peperangan pada tahun 1187 sampai berakhirnya pada tahun 1192.

Lane-Poole juga menuliskan dalam peperangan ini Salahuddin senantiasa bermusyawarah (syura). Ia mempunyai majelis syura (musyawarah) yang membuat keputusan-keputusan militer penting. Kadang-kadang majelis ini bahkan membatalkan keputusan Salahuddin sendiri. Dalam majelis ini tidak satupun memiliki hak mempengaruhi pikiran Salahuddin karena semuanya berada dalam posisi sejajar. Dalam majelis itu terdapat adiknya, anak-anaknya, anak saudaranya, sahabat-sahabat lamanya, pembesar-pembesar tentara, qadhi, bendahara dan usahawan. Semuanya mempunyai sumbangan yang sama banyak dalam membuat keputusan berdasarkan kemampuan masing-masing. Walau apa pun perbincangan dan perdebatan dalam majelis itu, mereka tetap taat kepada Salahuddin.

Wafatnya Salahuddin

Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, berpulanglah Salahuddin ke rahmatullah selepas mengembalikan tanah suci ke pangkuan Islam di usia 57 tahun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27 Safar, 12 hari selepas ia jatuh sakit, ia telah menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Ja’afar seorang yang wara’ telah diminta menemani Salahuddin di Istana supaya jika ia sakaratul maut, bacaan Qur’an dan syahadah untuk dituntunkan kepadanya.

Memang pada malam itu telah nampak tanda-tanda kematian Salahuddin. Syeikh Abu Jaafar telah duduk di tepi peraduannya semenjak 3 hari membacakan Qur’an. Dalam masa ini Salahuddin selalu pingsan dan sadar sebentar. Ketika Syeikh Au Jaafar membacakan ayat, “Dialah Allah, tiada tuhan melainkan Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata” (Al-Hasyr: 22), Salahuddin lalu membuka matanya sambil senyum, mukanya berseri dan dengan nada yang gembira ia berkata, “Memang benar”. Selepas ia mengucapkan kata-kata itu ruhnya pun kembali ke rahmatullah. Masa ini ialah sebelum subuh, pada tanggal 27 Safar.

Seterusnya Bahauddin menceritakan Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah, kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup untuk upah pemakaman. Keluarganya terpaksa meminjam uang untuk menanggung upah memakamkan ini, bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang menterinya.

Salahuddin, hamba yang wara’ 

Bahauddin bin Shaddad telah mencatatkan mengenai ke-wara’-an seorang Salahuddin. Satu hari ia berkata bahwa ia telah lama tidak pergi shalat berjamaah. Ia memang suka shalat berjamaah, bahkan ketika sakitnya ia akan memaksa dirinya berdiri di belakang imam. Disebabkan shalat berjamaah adalah ibadah utama yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW, ia senantiasa mengerjakan shalat Tahajjud. Jika disebabkan hal tertentu ia tidak dapat Tahajjud, ia akan menunaikannya ketika hampir subuh. Bahauddin melihatnya senantiasa shalat di belakang imam ketika sakitnya, kecuali tiga terakhir di mana ia telah sangat lemah dan selalu pingsan.

Ia tidak pernah membayar zakat harta karena ia tidak mempunyai harta yang cukup nisab. Ia sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin dan kepada yang memerlukan sampai ketika wafatnya ia hanya memiliki 47 dirham uang perak dan satu dinar uang emas ketika wafatnya. Ia tidak meninggalkan harta lain selain itu.

Bahauddin juga mencatatkan bahwa Salahuddin tidak pernah meninggalkan puasa Ramadhan kecuali hanya sekali apabila dinasihatkan oleh qadhi Fadhil. Ketika sakitnya pun ia berpuasa sampai tabib menasihatinya dengan keras supaya berbuka. Lalu ia berbuka dengan hati yang berat sambil berkata, “Aku tak tahu bila ajal akan menemuiku”, maka segera ia membayar fidyah.

Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan Allah. Ia biasa meletakkan segala harapannya kepada Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada satu ketika ia berada di Jerusalem yang pada masa itu seolah-olah tidak dapat bertahan lagi daripada kepungan tentara bersekutu Kristen. Walaupun keadaan sangat terdesak ia enggan untuk meninggalkan kota suci itu. Malam itu adalah malam Jum’at musim dingin. Bahaauddin mencatatkan, “Hanya aku dan Salahuddin saja yang terjaga pada saat itu. Ia menghabiskan masa malam itu dengan shalat dan bermunajat.”

“Pada tengah malam saya memintanya agar ia beristirahat tetapi beliau menjawab, “Aku pikir kau mengantuk. Pergilah tidur sejenak”. Ketika hampir subuh, akupun bangun dan pergi mencarinya. Aku mendapati beliau sedang membasuh tangannya dan berkata, “Aku tidak tidur semalam” . Selepas shalat subuh aku berkata kepadanya, “Apakah kau bermunajat kepada Allah memohon pertolongan-Nya?”. Lalu ia balik bertanya, “Apa lagi yang bisa kulakukan?”

Aku menjawab, “Hari ini adalah hari Jum’at. Pergilah mandi sebelum ke Masjidil Aqsa. Keluarkanlah infaq dengan diam-diam. Apabila kau tiba di masjid, shalatlah dua rakaat selepas azan di tempat Rasulullah SAW pernah lakukan sebelum mi’raj dahulu. Aku pernah membaca hadis bahwa do’a yang dibuat di tempat itu adalah mustajab. Oleh karena itu bermunajadlah kepada Allah dengan ucapan “Ya Tuhanku, aku telah menghabiskan segala cara, kini kumohon pertolongan-Mu. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu dan aku yakin hanya Engkau saja yang boleh menolongku dalam keadaan yang genting ini”

Aku mengatakan kepadanya, “Aku sangat berharap Allah akan mengkabulkan doamu”. Lalu Salahuddin melakukan apa yang kuusulkan. Aku berada di sebelahnya ketika dahinya sujud di bumi sambil menangis hingga air matanya mambasahi janggutnya dan menitik ke tempat shalatnya. Aku tidak tahu apa yang dido’akannya tetapi aku melihat tanda-tanda doanya dikabulkan sebelum hari itu berakhir. Perubahan terjadi di dalam kemah musuh-musuh yang menantikan berita baik bagi kami beberapa hari kemudian. Akhirnya mereka membuka kemah-kemah mereka dan berangkat ke Ramallah pada hari senin pagi”

“Aku meminta kekuatan dan Allah memberikanku kesulitan untuk membuatku semakin kuat, Aku meminta kebijaksanaan dan Allah memberikanku permasalahan untuk kuselesaikan, Aku meminta keberanian dan Allah memberikanku rintangan untuk kuatasi, Aku meminta cinta dan Allah memberikanku seseorang untuk kutolong, Aku meminta sesuatu dan Allah memberikanku kesempatan, Mungkin aku tidak selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi aku selalu mendapatkan apa yang aku butuhkan”  

– Salahuddin Al-Ayyubi

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://daulahislam.com/unique/sejarah-unique/kisah-salahuddin-al-ayyubi.html

Quote #15

  • “We hope in Allah Most High, to whom be Praise. Who leads the hearts
    of Muslims to calm what torments them and ruins their prosperity.
    Where is the sense of honor of the Muslims?The pride of the Believers?

    The zeal of the Faithful?

    We shall never cease to be amazed at how the disbelievers for their
    part have shown trusts, and it is the Muslims who have been lacking in
    zeal.

    Not one of them has responded to the call.

    Not one intervenes to straighten what is distorted; but observe how far the Franks have gone.

    What unity they have achieved.

    What aims they pursue.

    What help they have given.

    What sums of money they have borrowed and spent.

    What wealth they have collected and distributed and divided amongst them.

    There is not a king left in their lands or islands, not a lord or a rich man who has not competed with his neighbors to produce more support and rival his peers in strenuous military efforts.

    In defense of their religion they consider it a small thing to spend life and soul; and they have kept their infidel brothers supplied with arms and champions of war; and all they have done and all their generosity has been done purely out of zeal for him they worship in jealous defense of their faith.

    The Muslims on the other hand are weakened and demoralized; they have become negligent and lazy, the victims of unproductive stupefaction and completely lacking in enthusiasm.

    If, Allah forbid, Islam should draw reign, obscure her splendor, blunt her sword there would be no one, east or west, far or near who would blaze the zeal for Allah’s religion, or choose to come to the aid of Truth against Falsehood.

    This is the moment to cast off laziness, to summon from far and near all those men who have blood in their veins; but we are confident [He speaks about himself and the small party of believers who began with him and then became a large party]; but we are confident thanks to Allah- AlhamduliLlah- in the help that will come from Him and entrust ourselves to Him in sincerity of purpose and deepest devotion.

    InshaAllah, InshaAllah the disbelievers shall perish and the Faithful have a sure deliverance.”

    – Salahuddin Al Ayyubi

 

Kisah Perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi – PART 1/2 (via Daulah Islam)

salahuddin al-ayyubi poster

Kisah Salahuddin Al-Ayyubi sudah terkenal sejak dahulu kala. Kekaguman kaum muslimin maupun non-muslimin kepada beliau tidak diragukan lagi. Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang Kurdi biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada seorangpun yang menyangka sebelum ia menguasai Mesir dan menentang tentera Salib bahwa anak Kurdi ini suatu hari nanti akan merebut kembali Palestina dan menjadi pembela akidah Islamiah yang hebat. Dan tiada siapapun yang menyangka pencapaiannya demikian hebat sehingga menjadi contoh dalam memerangi kekufuran hingga ke hari ini.

Stanley Lane Poole (1914) seorang penulis Barat mengatakan, Salahuddin sebagai anak seorang gubernur yang memilliki kelebihan daripada orang lain tetapi tidak menunjukkan satupun tanda-tanda ia akan menjadi orang hebat pada masa depan. Akan tetapi ia menunjukkan akhlak yang mulia.

Walau bagaimanapun Allah telah mentakdirkannya untuk menjadi pemimpin besar pada zamannya dan Allah telah menyediakan dan memudahkan jalan-jalannya untuk menjadi pemimpin agung itu. Ketika ia menjadi tentara Al-Malik Nuruddin – Sultan Aleppo, ia diperintahkan untuk pergi ke Mesir. Pada masa itu Mesir diperintah oleh sebuah kerajaan Daulah Syi’ah Fatimyah yang tidak bernaung di bawah khalifah. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis bahwa beban Salahuddin sangat berat dan beliau memaksakan diri untuk pergi ke Mesir bagaikan orang yang hendak di bawa ke tempat pembunuhan (Bahauddin, 1234).

Tetapi itulah sebenarnya apa yang dimaksudkan dengan firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” (Al-Baqarah:216)

Perubahan hidup beliau

Ketika Salahuddin menguasai Mesir, ia tiba-tiba berubah. Ia yakin bahwa Allah telah mengembankan kepadanya satu tugas yang amat berat yang tak mungkin dapat dilaksanakan jika ia tidak bersungguh-sungguh. Bahauddin telah menuliskan dalam catatannya bahwa Salahuddin memimpin Mesir dengan sangat baik. Dunia dan kesenangannya telah lenyap dari pandangan matanya. Dengan hati yang rendah dan syukur kepada Allah ia telah menolak godaan-godaan dunia dan segala kesenangannya (Bahauddin,1234).

Bahkan Stanley Lane Poole (1914) telah menuliskan bahwa Salahuddin mengubah cara hidupnya kepada yang lebih keras. Ia bertambah wara’ dan menjalani hidup yang lebih berdisiplin dan sederhana. Ia menepikan pola hidup senang dan memilih pola hidup “Spartan” yang menjadi contoh kepada tentaranya. Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk satu tujuan yaitu untuk membina kekuasaan Islam yang cukup kuat untuk menghalau orang kafir dari tanah air Islam.

Salahuddin pernah berkata, “Ketika Allah menganugerahkan aku bumi Mesir, aku yakin Dia juga bermaksud Palestina untukku. Ini menyebabkan ia memenangkan perjuangan Islam. Sehubungan dengan ia telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk jalan jihad.

Semangat jihad seorang Salahuddin

Pikiran Salahuddin senantiasa tertumpu kepada jihad di jalan Allah. Bahauddin telah mencatatkan bahwa semangat Salahuddin yang berkobar-kobar untuk berjihad menentang tentara Salib telah menyebabkan jihad menjadi tajuk perbincangan yang paling digemarinya. Ia senantiasa meluangkan seluruh tenaganya untuk memperkuat pasukan tentaranya, mencari mujahid-mujahid dan senjata untuk tujuan berjihad.

Bila ada yang berbicara kepadanya berkenaan jihad ia akan mencurahkan segala perhatiannya. Sehubungan dengan ini ia lebih banyak di dalam kemah perang daripada duduk di istana bersama sanak keluarga. Siapa saja yang ingin berjihad, maka akan mendapat kepercayaannya. Siapa saja yang memperhatikannya akan dapat melihat bahwa ia akan menumpahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan perang dan menaikkan semangat tentaranya.

Dalam medan peperangan ia bagaikan seorang ibu yang garang kehilangan anak tunggal akibat dibunuh oleh tangan jahat. Ia akan bergerak dari satu hujung medan peperangan ke hujung yang lain untuk mengingatkan tentaranya supaya benar-benar berjihad di jalan Allah semata-mata. Ia juga akan pergi ke seluruh pelosok tanah air dengan mata yang berlinang mengajak manusia supaya bangkit membela Islam.

Ketika ia mengepung Kota Acre ia hanya minum air putih, itupun selepas dipaksa oleh doktor pribadinya tanpa makan. Doktor itu berkata bahwa Salahuddin hanya makan beberapa suap makanan semenjak hari Jum’at hingga senin karena ia tidak mau perhatiannya kepada peperangan terganggu. (Bahauddin, 1234)

Pertempuran Hattin

Satu kisah peperangan yang sengit antara tentara Salahuddin dengan tentara Salib berada di kawasan Tiberias di kaki bukit Hattin. Akhirnya pada 24 Rabiul-Akhir, 583 H, tentara Salib kalah. Dalam peperangan ini Raja Kristen yang memerintah Palestina berhasil ditawan beserta perwira tingginya Reynald dari Chatillon. Pembesar-pembesar lain yang dapat ditawan ialah Joscelin dari Courtenay, Humphrey dari Toron dan beberapa orang ternama yang lain. Banyak juga tentara-tentara Salib berpangkat tinggi telah tertawan. Stanley Lane-Poole menceritakan bahwa seorang tentara Islam telah membawa 30 orang tentara Kristian yang ditawannya sendiri diikat dengan tali kemah.

Mayat-mayat tentara Kristian bertimbun-timbun seperti batu di atas batu di antara salib-salib yang patah, potongan tangan dan kaki dan kepala-kepala manusia berguling seperti buah majah. Sekitar 30,000 tentara Kristian telah mati dalam peperangan ini. Setahun selepas peperangan, timbunan tulang dapat dilihat memutih dari jauh.

Salahuddin dan pasukannya

Reynald dari Chatillon

Peperangan Hattin telah menyerahkan kecintaan Salahuddin kepada Islam. Stanley Lane-Poole menulis bahwa Salahuddin berkemah di medan peperangan semasa peperanggan Hattin. Pada satu ketika setelah kemahnya didirikan diperintahkannya tawanan perang dibawa ke hadapannya. Maka dibawalah Guy, Raja Jerusalem dan Reynald dari Chatillon masuk ke kemahnya. Dipersilakan sang Raja duduk di dekatnya.

Kemudian ia bangun pergi ke hadapan Reynald lalu berkata, “Dua kali aku telah bersumpah untuk membunuhnya. Pertama ketika ia bersumpah akan melanggar dua kota suci dan kedua ketika ia menyerang jamaah haji. Ketahuilah aku akan menuntut dan membela Muhammad SAW atasnya”. Lalu ia menghunuskan pedangnya dan memenggal kepala Reginald. Mayatnya kemudian dibawa keluar oleh pengawal dari kemah.

Ketika Raja Guy melihat Reynald dipancung, ia gemetaran karena menyangka gilirannya akan tiba. Tetapi Salahuddin menjamin tidak akan membunuhnya, sambil berkata, “Bukanlah kelaziman seorang raja membunuh raja yang lain, tetapi bila orang itu telah melanggar segala batas-batas, maka terjadilah apa yang telah terjadi”.

Tindakan Salahuddin adalah disebabkan kebiadaban Reynald kepada Islam dan Nabi Muhammad SAW. Bahauddin bin Shaddad, penasihat kepercayaan Salahuddin mencatat, bahwa ketika jamaah haji dari Palestina diserang tanpa belas kasihan oleh Reynald, di antara tawanannya memohon supaya mereka dikasihani. Tetapi Reginald dengan angkuhnya mengatakan, “Mintalah kepada Nabi kamu, Muhammad, untuk menyelamatkan kamu”. Ketika ia mendengar berita ini ia telah berjanji akan membunuh Reynald dengan tangannya sendiri apabila ia dapat menangkapnya.

Salahuddin menguasai Baitul Maqdis 

Kemenangan peperangan Hattin telah membuka jalan mudah kepada Salahuddin untuk merebut Baitul Muqaddis. Bahauddin telah mencatatkan bahwa Salahuddin sangat ingin merebut Baitul Muqaddis sampai bukit pun akan mengecut dari beban yang dibawa di dalam hatinya. Pada hari jumaat, 27 Rajab, 583H, yaitu pada hari Isra’ Mi’raj, Salahuddin telah memasuki kota suci tempat Rasulullah SAW naik ke langit (Al-Asha).

Dalam catatan Bahauddin ia menyatakan inilah kemenangan di atas kemenangan. Orang-orang yang terdiri dari ulama, pembesar-pembesar, pedagang dan orang-orang biasa datang merayakan kegembiraan atas kemenangan ini. Kemudiannya orang datang dari pantai dan hampir semua ulama-ulama dari Mesir dan Syria datang untuk mengucapkan tahniah kepada Salahuddin. Boleh dikatakan hampir semua pembesar-pembesar datang. Gema takbir “Allahhu Akbar” dan “Tiada tuhan melainkan Allah” telah memenuhi langit.

Selepas 90 tahun kini shalat Jum’at telah diadakan kembali di Baitul Muqaddid. Salib yang terpampang di ‘Dome of Rock’ telah diturunkan. Betapa hebatnya peristiwa ini tidak dapat digambarkan dan hanya Allah saja yang tahu betapa hebatnya hari itu.

Salahuddin yang penyayang

Sifat penyayang dan belas kasih Salahuddin semasa peperangan ini sangat jauh berbeda daripada kekejaman musuh nasrani. Ahli sejarah Nasrani pun pun mengakui hal ini. Lane-Poole menceritakan bahwa kebaikan hati Salahuddin telah mencegahnya daripada membalas dendam. Ia telah menulis kisah Salahuddin telah menunjukkan ketinggian akhlaknya ketika orang-orang Kristen menyerah kalah. Tentaranya sangat bertanggung jawab, menjaga peraturan di setiap jalan, mencegah segala bentuk kekerasan sampai tidak ada berita orang-orang Kristen sampai diperlakukan tidak baik.

Semua jalan keluar-masuk ke Baitul Muqaddis dibuka dan seorang yang amanah telah dilantik di pintu Nabi Daud untuk menerima uang tebusan daripada orang-orang Kristen yang ditawan. Lane-Poole juga telah menuliskan bahawa Salahuddin telah mengatakan kepada pegawainya, “Adikku telah membuat infaq, saudagar kaya pun telah bersedekah. Sekarang giliranku pula”. Lalu ia memerintahkan pegawainya menyampaikan pengumuman di jalan-jalan Jerusalem bahwa barangsiapa yang tidak mampu membayar tebusan boleh dibebaskan. Maka begitu ramailah orang berbondong-bondong keluar dari pintu St. Lazarus dari pagi hingga ke malam. Ini merupakan sedekah Salahuddin kepada orang miskin tanpa menghitung bilangan mereka.

Selanjutnya Lane-Poole menuliskan bagaimana pula tindak-tanduk tentara Kristen ketika menawan Baitul Muqaddis kali pertama pada tahun 1099. Telah tercatat dalam sejarah bahawa ketika Godfrey dan Tancred menunggang kuda di jalan-jalan Jerusalem jalan-jalan itu ‘tersumbat’ dengan mayat-mayat, orang-orang Islam yang tidak bersenjata disiksa, dibakar dan di panah dari jarak dekat di atas bumbung dan menara rumah-rumah ibadah. Darah yang membasahi bumi yang mengalir dari pembunuhan orang-orang Islam secara beramai-ramai telah mencemarkan kesucian gereja di mana sebelumnya kasih sayang senantiasa diajarkan. Maka sangat bernasib baik orang-orang Kristen ketika di tangan Salahuddin.

Lane-Poole juga menuliskan, jika hanya penaklukan Jerusalem saja yang diketahui mengenai Salahuddin, maka ia sudah cukup membuktikan dialah seorang penakluk yang paling penyantun dan baik hati di zamannya bahkan mungkin di sepanjang zaman.

—–

TO BE CONTINUED

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://daulahislam.com/unique/sejarah-unique/kisah-salahuddin-al-ayyubi.html

Book Review: Shalahuddin Al-Ayyubi Dan Perang Salib III (2014) (via Islampos)

buku alwi Pemimpin yang Dihormati Timur dan Barat
Tidak banyak penulis Tanah Air yang menulis sejarah peradaban di luar Indonesia. Alwi Alatas merupakan salah satu daripada yang sedikit itu. Mulai dari buku Al-Fatih dan Sang Penakluk Andalusia yang tipis dari segi jumlah halaman, kini tulisannya menjadi semakin tebal dan mendalam, yaitu pada buku Nuruddin Zanki dan yang terbaru Shalahuddin al-Ayyubi dan Perang Salib III. Buku ini menjelaskan tentang perjalanan hidup Shalahuddin sejak kelahiran hingga kematiannya.

Yusuf bin Ayyub, yang kelak dikenal sebagai Shalahuddin, dilahirkan di kota Tikrit – tak jauh dari Baghdad. Namun pada hari kelahirannya keluarganya terpaksa meninggalkan kota itu dan bergabung dengan Kesultanan Imaduddin Zanki di Mosul dan Suriah. Shalahuddin yang keturunan Kurdi ini kemudian melewati masa kecilnya di Ba’albek dan setelah itu Damaskus.

Setelah wafatnya Imaduddin, keluarga Shalahuddin bekerja pada pemerintahan putera Zanki yaitu Nuruddin. Shalahuddin sendiri belakangan sempat menjadi asisten pribadi Nuruddin Mahmud bin Zanki.

Karir Shalahuddin melejit naik setelah keberhasilannya bersama pamannya, Syirkuh, dalam menaklukkan Mesir pada tahun 1169. Setelah itu, seolah-olah pintu kepemimpinan terbuka baginya satu demi satu. Dua bulan setelah penaklukkan Mesir, Syirkuh meninggal dunia dan Shalahuddin ditetapkan menjadi penggantinya sebagai wazir Mesir. Dalam masa dua tahun, Shalahuddin berhasil mengisolasi pemerintahan Fatimiyah Mesir dan menghapuskannya pada tahun 1171.

Tiga tahun kemudian, Nuruddin wafat di Damaskus. Persaingan di antara para emir bawahan Nuruddin memaksa Shalahuddin tampil ke depan dan menyatukan wilayah peninggalan Nuruddin. Sebagai konsekuensinya, sebuah dinasti baru – yaitu Dinasti Ayyubiyah, muncul dimana Shalahuddin menjadi pemimpin pertamanya.

Bagaimanapun, Shalahuddin tidak menghimpun kekuasaan untuk kepentingan duniawi. Ia menggunakannya untuk berjihad menghadapi tentara salib. Pada tahun 1187, terjadi sebuah pertempuran besar di antara kedua belah pihak di wilayah Hattin. Shalahuddin dapat mengalahkan musuh dengan gemilang dan menawan banyak pemimpin salib. Beberapa bulan kemudian, kota al-Quds (Jerusalem) dan hampir seluruh wilayah salib di Suriah dan Palestina jatuh ke tangan Shalahuddin.

Hal ini mendorong terjadinya Perang Salib III selama beberapa tahun berikutnya. Dalam perang yang berakhir dengan perdamaian itu, Shalahuddin berhasil mempertahankan al-Quds dan sebagian besar wilayah lainnya. Tentara salib yang dipimpin oleh Richard the Lionheart hanya mampu merebut beberapa kota pantai. Kesuksesan Shalahuddin serta karakternya yang adil, amanah, serta penyayang menjadikan ia seorang yang dihormati serta dicintai oleh orang-orang di Timur dan di Barat. Bahkan musuh-musuhnya pun menaruh hormat kepadanya.

Buku Shalahuddin al-Ayyubi yang tebalnya hampir 500 halaman ini menceritakan keseluruhan biografi Shalahuddin secara detail. Gaya penulisannya naratif dan tidak berat untuk dibaca. Walaupun demikian, seluruh data-data pada buku ini dirujuk dari buku-buku sejarah, terutama sumber-sumber semasa seperti karya Baha’uddin Ibn Shaddad yang merupakan ulama dan sahabat Shalahuddin, serta dari Ibn al-Atsir – penulis al-Kamil fi Tarikh. Adanya ilustrasi berupa gambar dan peta, kronologi peristiwa, serta biografi singkat tokoh membuat buku ini semakin lengkap dan sedap untuk dibaca.

Hanya saja ada satu kekurangan pada buku ini, kertas yang digunakan terlihat seperti kertas koran yang kurang bagus kualitasnya. Bagi para pembaca yang menghargai penampilan sebuah buku, hal ini bisa sangat mengganggu. Namun bagi mereka yang membaca buku karena mencari kualitas isinya, kelemahan ini mungkin tidak terlalu penting.

Terlepas dari itu, buku ini merupakan buku yang sangat bagus dan penting untuk dibaca. Terlebih lagi di saat membacanya, kita mungkin akan merasakan betapa banyak persoalan mendasar yang dihadapi ummat pada hari ini ternyata juga dialami oleh Shalahuddin dan generasinya.

Jika mereka berhasil menyelesaikan masalah-masalah itu dengan baik, mengapa kita tidak?

—–

INFO BUKU

Judul                     : Shalahuddin al-Ayyubi dan Perang Salib III
Penulis                  : Alwi Alatas
Penerbit               : Zikrul Hakim
Tahun Terbit     : Maret 2014
Tebal                     : 496 hlm.
Harga                    : Rp. 89.000,00

Source: http://www.islampos.com/pemimpin-yang-dihormati-timur-dan-barat-112327/