Benarkah Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam Mewasiatkan Kekhalifahan kepada Ali? (via Fimadani)

Sebagian dari kita mungkin pernah membaca atau mendengar perkataan bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali, dan bahwa para shahabat telah membuat konspirasi terhadap Ali.

Sungguh ini perkataan keji yang berasal dari syi’ah Rafidhah dan ini merupakan perkataan yang batil. Tidak ada sumbernya dalam hadits Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Bahkan banyak dalil yang menunjukkan, bahwa khalifah setelah Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam adalah Abu Bakar Bakar Ash-Shiddiq, begitu pula kesepakatan semua shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyatakan secara jelas dan tidak mewasiatkan secara pasti. Namun, ada beberapa indikasi yang munjukkan hal itu, yang mana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Abu Bakar Bakar untuk menjadi imam shalat bagi para shahabat ketika beliau sakit, dan tidak menyebutkan kekhalifahan bagi dirinya. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

يَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلاَّ أَبَا بَكْرٍ

Allah Ta’ala dan kaum mukminin menolak selain Abu Bakar.(HR. Muslim)

Dengan ini Abu Bakar dibaiat oleh para shahabat setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, dan salah satu dari mereka adalah Ali bin Abi Thalib. Mereka sepakat bahwa Abu Bakar adalah orang terbaik dari mereka.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dinyatakan bahwa para shahabat pernah berkata ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup, “Sesungghunya orang terbaik bagi umat ini setelah nabinya Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman.”(Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Ibnu Asakir)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan hal tersebut. Berkaitan dengan hal itu, Ali pernah mengatakan, “Sesungguhnya orang terbaik bagi umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar lalu Umar.” (Diriwayatkan oleh Ahmad).

Ali juga mengatakan, “Tidaklah seseorang yang memuliakan diriku melebihi Abu Bakar dan Umar, melainkan keduanya aku cambuk seperti aku mencambuk orang yang menuduh orang lain berbuat zina.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Asyim).

Ali tidak mengklaim dirinya adalah orang yang paling mulia, begitu juga tidak pernah mengatakan bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepadanya.

Demikian juga, Ali tidak pernah mengatakan bahwa para shahabat telah menzhaliminya dan mengambil haknya.

Ketika Fatimah meninggal dunia, Ali berbaiat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk kedua kalinya dalam rangka menguatkan baiat yang pertama, dan memperlihatkan kepada para shahabat bahwa beliau bersama jamaah kaum muslimin. Tidak ada sedikit pun perasaan yang mengganjal dalam dirinya ketika berbaiat kepada Abu Bakar.

Tatkala Umar terbunuh, dia menyerahkan segala urusan dimusyawarahkan oleh enam orang di antara sepuluh shahabat yang dijanjikan masuk surga, dan salah satu dari mereka adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika itu Ali bin Abi Thalib tidak mengingkari pendapat Umar, baik ketika hidup maupun setelah kematiannya.

Ali tidak mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya orang yang paling berhak daripada mereka semua dalam memegang tampuk kekhalifahan.

Bagaimana mungkin seseorang diperbolehkan berdusta atas nama Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, dengan mengatakan bahwa beliau Sallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali, padalah Ali sendiri tidak mengakui kekhalifahannya sepeninggal beliau dan tidak seorang pun dari shahabat menyatakan kekhalifahannya.

Semua shahabat sepakat akan absahnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Ali juga mengakui kekhalifahan mereka dan bekerja sama dengan mereka dalam berjihad, memecahkan permasalahan dan lain sebagainya.

Generasi kaum muslimin setelah para shahabat pun sepakat terhadap apa yang dilakukan pendahulu mereka.

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun dan golongan manapun untuk menyatakan bahwa Ali adalah seorang yang diberikan wasiat kekhalifahan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan menyatakan kekhalifahan sebelum Ali adalah batil.

Demikian juga, tidak boleh bagi seorang pun untuk mengatakan, bahwa para shahabat telah menzhalimi Ali dan mengambil haknya. Ini adalah pemikiran yang batil dan termasuk prasangka buruk terhadap para shahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam yang mana Ali termasuk di dalamnya.

Sungguh, Allah Ta’ala telah membersihkan umat Muhammad ini dan menjaganya agar tidak sepakat dalam kesesatan. Sungguh benar apa yang dinyatakan Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits beliau yang berbunyi,

وَلاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى الْحَقِّ مَنْصُوْرَةٌ

“Segolongan dari umatku yang berada dalam kebenaran, akan selalu mendapat pertolongan.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

Dengan demikian, sangat mustahil umat Islam yang berada pada masa kemuliaan sepakat dalam hal kebatilan, yaitu masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir tidak akan mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali setelah beliau meninggal.[1]

—–

Link: http://www.fimadani.com/benarkah-rasulullah-sallallahu-alaihi-wa-sallam-mewasiatkan-kekhalifahan-kepada-ali/

Advertisements

Heroes of Islam: Abu Ubaidah bin Jarah

Beliau adalah sahabat Rasulullah yang luar biasa. Memiliki dua tangan yang dimanfaatkan dengan tidak sia-sia. Tangan kanannya digunakan untuk menginfakkan hartanya dan menyenangkan hati orang-orang fakir dan miskin. Tangan kirinya digunakan untuk berperang dan menebar rasa takut bagi musuh Allah SWT.

Beliau adalah panglima perang yang telah membebaskan Syam. Ketika hidupnya, telah diberitakan bahwa dirinya akan masuk surga. Beliau merupakan angkatan pertama yang masuk Islam dan menjadi bagian sejarah di masa Rasulullah SAW.

Beliau berbaiat untuk mati pada perang Uhud. Tetap bersama Nabi SAW dan mencabut mata rantai baju zirah dari wajah Nabi SAW dengan giginya sehingga gigi serinya tunggal. Beliau juga termasuk pemanah terhebat di masanya.

Nabi SAW bersabda,

“Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan kepercayaan umatku adalah Abu Ubaidah.”

Ketika Umar bin Khattab tiba di Syam, orang-orang dan pemuka menyambut beliau.

Lalu Umar berkata, “Mana saudaraku?”

Mereka bertanya, “Siapa?”

Umar menjawab, “Abu Ubaidah”

Mereka menjawab, “Sekarang dia sedang kesini menemui Anda,”

Ketika Abu Ubaidah datang, Umar turun lalu memeluk Abu Ubaidah dan berkata kepadanya, “Bawalah kami ke rumahmu!”

Ketika Umar memasuki rumah Abu Ubaidah dan beliau tidak melihat apa-apa selain pedang, perisai, dan tunggangannya.

Umar berkata, “Mana barang-barangmu? Kau ini seorang Amir, apakah kau punya makanan?”

Lalu Abu Ubaidah berdiri menghampiri keranjang kecil dan mengambil remah-remah darinya. Lalu Umar menangis seraya berkata, “Tidakkah engkau mengambil makanan seperti sahabat-sahabatmu?”

Beliau menjawab, “Ya Amirul Mukminin, makanan ini telah mampu mencukupiku hingga tidur siang.”

Kemudia Umar berkata sambal menyeka air matanya, “Dunia telah mengubah kami selain engkau, ya Abu Ubaidah.”

Abu Ubaidah yang zuhud itu menjadi kebanggan dan selalu berani. Ia meninggal pada usianya ke 58 tahun karena sakit.

—–

Sumber: 100 Tokoh Zuhud

Link: https://www.islampos.com/abu-ubaidah-bin-jarah-giginya-lebih-dahulu-ke-surga-178692/

Heroes of Islam: Mush’ab bin Umair

Kalimat-kalimatnya menyerbu hati orang-orang Anshar. Suaranya bak lentera yang mengusir kegelapan syirik. Dia adalah Mush’ab al-Khair, salah seorang pendekar keimanan.

Ia seorang pemuda Quraisy yang hidup manja dan mulia di tengah keluarganya. Dia menyatukan antara penampilan yang elok dan akal yang cemerlang. Apa yang dimakan dan dipakainya di pagi hari tidak sama dengan apa yang dimakan dan dipakainya di sore hari.

Kalimat-kalimat iman menembus telinganya dan bersemayam di hatinya, sehingga ia menyatakan keIslamannya. Awalnya beliau memasuki rumah Arqam dan menemui Rasulullah SAW secara sembunyi-sembunyi. Kemudian keluarganya mengetahuinya sehingga mereka mengikat dan menahannya. Lalu di kabur bersama Muhajirin ke Habsyah, pulang ke Makkah, kemudian hijrah ke Madinah.

Dia berkulit lembut tidak tinggi dan tidak pendek. Dia adalah delegasi pertama dalam Islam dan orang pertama yang mengumpulkan jamaah di Madinah.

Beliau meninggalkan kehidupan yang nikmat kepada kehidupan sederhana dan kemiskinan. Serta memakai pakaian paling kasar. Kezuhudannya memberikan kesan di hati orang-orang Anshar.

Suatu hari Nabi SAW duduk bersama para sahabat untuk menyirami hati mereka dengan tutur katanya. Dalam kondisi demikian datanglah Mush’ab bin Umair ra. dengan memakai pakaian bertambal sulam dan usang. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau kasihan dan iba.

Kemudian Nabi SAW bersabda,

Lihatlah orang yang hatinya diterangi Allah ini! Dulu aku melihatnya di antara kedua orang tua yang menyuapinya dengan makanan dan minuman yang terbaik. Aku pernah melihatnya memakai pakaian yang dibelinya seharga dua ratus dirham. Lalu kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada rasul-Nya mengajaknya kembali kepada kondisi yang kalian lihat.”

Abdurrahman bin Auf pernah diberi makanan. Saat makanan itu ditaruh di depannya, dia menangis keras. Kemudian dia berkata sambil mengatur napas yang tersengal-sengal, “Mush’ab terbunuh pada perang Uhud, namun kami tidak menemukan kain untuk mengafaninya. Saat itu dia memakai namirah. Bila kami tutupi kepalanya, maka kedua kakinya tampak. Jika kami tutupi kakinya, maka kepalanya tampak. Lalu Nabi SAW menyuruh kami untuk menutupi kepalanya dengan pakaian itu, dan menutupi kedua kakinya dengan daun phon idzkhar”

Mush’ab adalah simbol keberanian dan pengorbanan. Dia memiliki dua tangan: satu tangan untuk membawa bendera dan satu tangan lainnya untuk menyabetkan pedang. Ketika perang Uhud dia membawa bendera dengan tangan kanannya.

Ketika tangan kanannya putus, maka dia membawanya dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya putus, maka ia membawanya di antara dua lengannya pada dadanya. Lalu Ibnu Qami’ah menyerangnya dan menusuknya dengan tombak hingga tembus tubuhnya yang suci. Innalillahi.

—–

Taken from the book: “100 Tokoh Zuhud”

Written by: Muhammad Shidiq al-Misyawi/Penerbit: Senayan Publishing

Link: https://www.islampos.com/mushab-bin-umair-pendekar-di-perang-uhud-172311/

Kepandaian dan Kegigihan Khalifah Umar bin Khattab Dalam Menangani Krisis Pangan

Tokoh besar biasanya menghadapi kasus-kasus besar yang menunjukkan kebesaran dan ketokohan mereka. Khalifah Umar bin Khattab dikenal luas sebagai pemimpin yang cakap mengatur urusan agama, ekonomi, politik, hukum dan militer.

Salah satu kasus besar yang mampu beliau hadapi dan pecahkan dengan baik adalah musibah paceklik selama sembilan bulan yang menimpa Jazirah Arab pada tahun 18 H. Saat itu terjadi kekeringan panjang dan kelaparan hebat yang menewaskan ribuan manusia dan ternak. Sumber-sumber air dan rumput mengering sehingga hewan ternak mati bergelimpangan. Lahan-lahan pertanian tandus, mengering dan tidak bisa digarap karena tidak ada tanaman yang bertahan hidup dalam cuaca yang begitu panas.

Puluhan ribu kaum muslimin yang hidup di desa-desa dari lahan pertanian dan hidup di daerah pedalaman padang pasir dari peternakan tak mungkin bertahan hidup di daerahnya sehingga mereka berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Puluhan ribu pengungsi muslim tersebut memerlukan makanan tiga kali sehari untuk krisis yang terjadi selama sembilan bulan penuh. Tahun tersebut sampai disebut ‘amur ramadah, tahun kematian alias tahun kebinasaan.

Khalifah Umar bin Khattab menunjukkan kerja keras, keuletan dan kesabaran luar biasa dalam menangani krisis pangan tersebut.

Zaid bin Aslam menuturkan, “Ketika terjadi tahun kematian, bangsa Arab dari segala penjuru berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Khalifah Umar bin Khathab mengangkat empat orang pejabat khusus yang bertanggung jawab mengurusi kebutuhan mereka, mendistribusikan makanan dan lauk-pauk kepada mereka. Para pejabat khusus tersebut adalah Yazid putra saudara perempuan Namr, Miswar bin Makhramah, Abdurrahman bin Abdul Qari, dan Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Masing-masing pejabat khusus tersebut ditempatkan di masing-masing sudut kota Madinah.

Di waktu malam, keempat pejabat khusus itu berkumpul dengan Umar bin Khattab. Mereka melaporkan kepadanya pekerjaan yang telah dilakukannya dan kondisi yang dihadapinya. Masing-masing mereka menangani ribuan pengungsi di masing-masing sudut kota Madinah. Puluhan ribu kaum Arab Badui berdatangan dan ditempatkan di daerah Ra’su Tsaniyah, Ratij, Bani Haritsah, Bani Abdul Asyhal, Baqi’ dan Bani Quraizhah. Ribuan pengungsi lainnya berada di sudut Madinah di perkampungan Bani Salimah. Puluhan ribu pengungsi itu memenuhi semua sudut kota Madinah.

Suatu malam setelah semua pengungsi mendapatkan jatah makan malam, aku mendengar Umar bin Khathab berkata kepada para pejabat khusus itu: “Hitunglah orang-orang yang mendapatkan jatah makanan malam dari kita!”

Para pejabat khusus bersama para pembantu umum menghitung jumlah mereka. Ternyata mereka berjumlah 7000 orang. Umar bin Khatab berkata: “Hitunglah keluarga-keluarga kaum muslimin yang belum datang, orang-orang yang sakit dan anak-anak!” Setelah dihitung kembali ternyata mereka berjumlah 40.000 orang!

Keadaan itu berlangsung selama beberapa malam. Ternyata setiap hari jumlah pengungsi semakin banyak. Umar bin Khatab memerintahkan keempat pejabat khusus itu untuk menghitungg jumlah mereka. Ternyata para pengungsi yang datang ke jamuan makanan malam berjumlah 10.000 orang. Adapun keluarga yang belum bisa datang, orang-orang sakit dan anak-anak yang belum datang ke jamuan makan malam berjumlah 50.000 orang.

Keadaan itu terus berlangsung sampai akhirnya Allah menurunkan air hujan. Ketika air hujan telah turun, aku melihat Umar bin Khathab telah membekali setiap keluarga pengungsi yang akan kembali ke desa-desa dan daerah-daerah pedalaman tersebut dengan makanan pokok dan kendaraan sampai ke tempat tinggal mereka semula. Aku melihat sendiri Umar bin Khathab terjun langsung dalam menyiapkan perbekalan dan mengantarkan mereka pulang dari kota Madinah.

Krisis paceklik panjang itu telah menimbulkan kematian yang luas. Aku perkirakan dua pertiga masyarakat meninggal karenanya, yang bertahan hidup hanya sepertiganya. Para pekerja yang ditugaskan oleh Umar telah menyalakan tungku-tungku api sejak malam dan memasak bubur di atas periuk-periuk sejak waktu sahur. Pada waktu pagi, orang-orang yang sakit mendapat jatah makanan pertama kali. Setelah itu para pekerja memasak roti untuk para pengungsi yangsehat.

Umar bin Khathab memerintahkan agar periuk-periuk besar di pasang di atas tungku-tungku, kemudian minyak ditumpahkan ke dalamnya sampai panas dan didihannya hilang, setelah itu dibuat bubur dari roti yang dihaluskan. Bubur roti itu dicampur dengan kuah minyak tersebut. Pengungsi Arab dihangatkan dengan kuah minyak tersebut. Selama terjadinya tahun kematian itu, Umar bin Khathab tidak pernah merasakan makanan apapun di rumah salah satu anaknya, tidak pula di rumah salah seorang istrinya, selain makanan yang juga dirasakan oleh kaum muslimin. Keadaan itu berlangsung sampai Allah mempertahankan kehidupan masyarakat.”

Subhanallah, khalifah Umar bin Khatab siang dan malam bekerja keras demi melayani rakyatnya, penduduk Madinah dan puluhan ribu pengungsi, agar mereka selamat dari bencana kelaparan. Beliau hanya mengonsumsi apa yang juga dikonsumsi oleh rakyatnya. Jika rakyat kelaparan, beliau adalah orang yang pertama kali merasakan lapar. Dan jika rakyat merasakan kenyang, beliau adalah orang yang terakhir kali merasakan kenyang.

Abdullah bin Malik Ad-Dar menuturkan bahwa Amru bin Ash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua puluh kapal dan seribu unta. Sementara itu Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh tiga ribu unta. Adapun Sa’ad bin Abi Waqash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua ribu unta.

Firas Ad-Dailami berkata, “Setiap hari Umar bin Khathab menyembelih dua puluh ekor unta untuk jamuan makan para pengungsi, dari unta-unta yang dikirimkan oleh Amru bin Ash dari Mesir.”

Abdullah bin Umar menuturkan, “Ketika terjadi tahun kematian, khalifah Umar bin Khathab menulis surat kepada Amru bin Ash (gubernur Mesir): “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Umar bin Khathab amirul mukminin kepada ‘Ashi bin ‘Ashi (orang yang bermaksiat putra orang yang bermaksiat). Semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan kepadamu. Amma ba’du. Apakah engkau rela melihatku dan orang-orang di wilayahku mati sementara engkau dan orang-orang di wilayahmu hidup? Kirimlah bantuan! Kirimlah bantuan! Kirimlah bantuan!”

Amru bin Ash menjawab surat itu dengan menulis: “”Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kepada hamba Allah yang tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Dia. Amma ba’du. Bantuan telah datang kepada Anda, maka bertahanlah! Bertahanlah! Aku akan mengirimkan kepada Anda kafilah unta, di mana unta yang pertama akan sampai di depan Anda sementara unta yang terakhir masih berangkat dari hadapanku.”

Ketika makanan pertama yang dikirim oleh Amru bin Ash sampai di kota Madinah, khalifah Umar bin Khathab segera memanggil Zubair bin Awwam. Umar memberikan perintah cepat kepadanya, “Songsonglah kafilah unta yang berikutnya, arahkan ke penduduk Arab pedalaman dan distribusikanlah makanan itu di antara mereka! Demi Allah, setelah keutamaan menjadi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, barangkali engkau tidak akan mendapatkan amalan yang lebih utama daripada tugas ini.”

Zubair Ibnul Awwam menolak tugas itu karena ia sendiri sedang sakit. Tiba-tiba datang seorang sahabat yang lain. Umar mengutarakan tugas tersebut kepadanya dan sahabat itu menerimanya. Kepadanya, Umar berpesan, “Bawalah makanan kepada penduduk Arab pedalaman. Kain-kain dan selimut yang ada dalam kafilah unta itu jadikanlah sebagai pakaian buat mereka. Adapun unta yang mengangkutnya, sembelihlah dan berikanlah dagingnya sebagai makanan bagi mereka. Adapun tepung gandum, buatlah makanan untuk mereka dan perintahkan mereka untuk menyimpan sebagiannya sampai Allah memberikan jalan keluar bagi mereka.”

Umar bin Khathab sendiri ikut memasakkan makanan untuk ribuan pengungsi. Setiap selesai memasak, seorang pegawai akan berkeliling dan mengumumkan, “Barangsiapa ingin mendatangi jamuan makan dan makan di tempat jamuan, silahkan datang! Barangsiapa ingin datang untuk mengambil makanan bagi dirinya dan keluarganya, silahkan mengambil!”

Hisyam bin Urwah berkata, “Aku melihat sendiri para pegawai Umar berkeliling di seluruh wilayah antara Makkah dan Madinah untuk membagi-bagikan makanan kepada penduduk.”

Musa bin Thalhah menuturkan, “Umar bin Khathab mengirimkan permintaan bantuan pangan kepada gubernur Mesir, Amru bin Ash, gubernur Syam Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan gubernur Kufah, Sa’ad bin Abi Waqash. Sesuai perintah Umar, Amru bin Ash mengirimkan makanan melalui jalan laut dan kafilah unta di darat. Para pegawai Umar menyambut kedatangan kafilah unta dari Mesir di perbatasan Mesir-Syam. Mereka lalu berkeliling ke desa-desa dan daerah-daerah pedalaman guna membagikan makanan kepada penduduk. Mereka menyembelih unta-unta, memasakkan tepung gandum, dan membagikan pakaian kepada penduduk. Sementara makanan yang dikirim oleh Amru bin Ash lewat jalur laut disambut oleh pegawai Umar dan dibawa ke wilayah Tihamah untuk memberi makanan dan pakaian bagi penduduk Tihamah.

Di perbatasan Syam, para pegawai Umar juga menyambut kedatangan kafilah unta yang dikirim oleh gubernur Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Mereka lantas menyembelih unta-unta, membagikan dagingnya kepada penduduk, memasakkan roti dari tepung gandum dan membagi-bagikan pakaian kepada mereka.

Di perbatasan Irak, hal serupa dilakukan oleh para pegawai Umar terhadap kafilah unta yang membawa makanan dan pakaian kiriman gubernur Sa’ad bin Abi Waqash. Daging unta, roti tepung gandum dan pakaian didistribusikan kepada masyarakat sampai Allah mengangkat bencana paceklik panjang itu dari kaum muslimin.

Aslam mantan budak Umar bin Khathab bercerita, “Umar biasanya selalu berpuasa sunah. Pada masa tahun kematian, di waktu sore Umar mendapat jatah roti tepung yang telah dilunakkan dengan minyak. Pada suatu hari para pegawai Umar menyembelih unta-unta dan membagi-bagikannya kepada masyarakat. Para pegawai itu menyisihkan bagian yang enak, yaitu daging bagian punuk unta dan bagian lambung. Ketika makanan buka puasa itu disuguhkan kepada Umar, ia segera bertanya, “Dari mana makanan enak ini?” Mereka menjawab, “Wahai amirul mukminin, dari unta yang kita sembelih hari ini.” Umar menukas,

بَخْ بَخْ بِئْسَ الْوَالِي أَنَا إِنْ أَكَلْتُ طَيِّبَهَا وَأَطْعَمْتُ النَّاسَ كَرَادِيسَهَا. ارْفَعْ هَذِهِ الْجَفْنَةَ. هَاتِ لَنَا غَيْرَ هَذَا الطَّعَامِ.

Cih, cih, sungguh seburuk-buruk pemimpin adalah aku, jika aku memakan daging yang baik sementara aku memberikan makanan yang tidak baik kepada masyarakat. Pindahkan nampan makanan ini dan bawakan kepadaku makanan lain!”

Maka dibawakan kepadanya roti tepung gandum berkuahkan minyak. Ia memecah roti itu dengan tangannya dan mencolekkannya ke dalam kuah minyak. Tiba-tiba ia berteriak, “Aduh, kesini wahai Yarfa’! Bawalah nampan ini kepada sebuah keluarga di sudut desa Tsamgh, karena aku belum mendatangi mereka sejak tiga hari ini. Aku khawatir mereka kelaparan. Letakkan makanan ini di hadapan mereka!”

Khalifah Umar bin Khathab rela menanggung lapar sampai badannya kurus kering dan menguning. Selama sembilan bulan penuh, siang dan malam, ia bekerja, membagi perintah, mengawasi pekerjaan para pegawai, dan member contoh langsung dengan ikut memasak dan membagi-bagikan masakan kepada ribuan penduduk.

Selama sembilan bulan penuh, beliau senantiasa menghabiskan waktu malam dalam shalat malam dan berdoa dengan air mata meleleh:

اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ هَلاكَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَى يَدَيَّ.

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kebinasaan umat ini melalui tanganku.”

Saib bin Yazid bercerita, “Suatu kali pada tahun kematian, Umar bin Khathab mengendarai seekor unta. Tiba-tiba unta itu berak dan mengeluarkan kotoran berupa tepung gandum. Melihat hal itu, Umar berkomentar:

الْمُسْلِمُونَ يَمُوتُونَ هُزْلا وَهَذِهِ الدَّابَّةُ تَأْكُلُ الشَّعِيرَ؟ لا وَاللَّهِ لا أَرْكَبُهَا حَتَّى يَحْيَا النَّاسُ.

“Kaum muslimin mati kelaparan, sementara unta ini bisa makan tepung gandum? Demi Allah, aku tidak akan mengendarainya lagi sampai kaum muslimin bisa bertahan hidup.”

Thawus bin Kaisan bercerita, “Umar bin Khathab belum sekalipun makan sampai kenyang dan menikmati minyak samin sampai ia berhasil mempertahankan kehidupan penduduk.”

Anas bin Malik bercerita, “Suatu hari perut Umar bin Khathab mengeluarkan suara karena lapar. Selama tahun kematian, ia hanya makan minyak saja. Ia tidak mau mengonsumsi daging empuk. Ia mencolek perutnya dengan jarinya dan berkata: ‘Silahkan mengeluarkan suara semaumu, tapi engkau tidak akan mendapatkan makanan selain makanan yang juga dikonsumsi oleh penduduk!”

Aslam mantan budak Ibnu Umar berkata, “Seandainya Allah tidak mengangkat bencana paceklik pada tahun kematian, kami sudah mengira Umar akan meninggal karena sedih memikirkan nasib kaum muslimin.”

Shafiyah binti Abi Ubaid berkata, “Sebagian istri Umar menceritakan kepadaku bahwa Umar sama sekali tidak menggauli seorang pun dari istrinya semasa terjadi tahun kematian.”

Saudaraku seislam dan seiman….

Subhanallah, seandainya para pemimpin dan pejabat pada zaman sekarang meneladani sikap khalifah Umar bin Khathab, tentulah nasib puluhan juta rakyat yang miskin akan berubah. Wallahu a’lam bish-shawab.

—–

Bibliography:

  • Muhammad bin Sa’ad Al-Hasyimi Al-Bashri, At-Thabaqat Al-Kubra, 3/235-241, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1410 H.
  • Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Hayatush Shahabah, 2/462-464, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1420 H.

Source: http://www.arrahmah.com/read/2012/08/03/22144-mutiara-hikmah-dari-panggung-sejarah-islam-15-khalifah-umar-menangani-krisis-pangan.html

Keutamaan Seorang Umar bin Khattab – PART 1/2

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Wahai Ibnul Khattab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.”

Ringkasan keutamaan Umar bin Khattab RA

Nama lengkap beliau adalah ’Umar bin Khattab bin Nufail bin ’Abdul ’Uzza bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay.

’Umar ra. lahir 13 tahun setelah Tahun Gajah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi. Beliau ra. termasuk orang paling mulia di kalangan Suku Quraisy. Beliau ra. masuk Islam pada tahun keenam kenabian saat berumur 27 tahun, sebagaimana ditulis oleh Adz-Dzahabi. Saat itu telah masuk Islam 40 orang laki2 dan 11 wanita, atau dalam riwayat lain 39 laki-laki dan 23 wanita. Masuknya beliau ke dalam Islam semakin memperkokoh kedudukan Islam sendiri. Beliau juga termasuk salah seorang dari 10 sahabat ra. yang dijamin masuk surga dan telah diriwayatkan darinya 539 hadits. Menurut Imam Suyuthi. ’Umar ra. adalah khalifah pertama yang mendapat gelar ’amirul mukminin.”

Berkata Ibnu ’Umar: ”Dia adalah seorang laki-laki dengan kulit putih bersih dengan kemerah-merahan. Postur tubuhnya tinggi, kepalanya botak dan beruban.” Berkata Ubaid bin Umar: ’Umar berpostur tinggi jauh melampaui umumnya manusia.” Berkata Abi Raja’ Al-Athari: ”…kedua tulang pipinya menonjol, bagian depan jenggotnya besar dan di ujungnya ada warna hitam kemerah-merahan.”

Dari Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, dia berkata: Saya bertanya kepada ’Aisyah: ”Siapa yang menggelari ’Umar bin Khattab dengan Al-Faruq?” Dia berkata: ”Rasulullah.”

Beliau ra. adalah ayah dari isteri Rasulullah saw., Hafshah ra., sehingga ’Umar ra. adalah juga merupakan mertua Rasulullah saw.

Masuk Islamnya ‘Umar RA

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ’Umar bahwa Rasulullah saw. Berdoa:
”Ya Alllah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai dengan Abu Jahal bin Hisyam atau ’Umar bin Khattab.”

Dalam riwayat yang panjang dari Ibnu Sa’ad dari Abu Ya’la, Al-Hakim serta Al-Baihaqi dari Anas ra. bahwa (ma’nawi) ’Umar keluar menyandang pedang dengan tujuan membunuh Rasulullah saw. Di tengah jalan ia bertemu dengan seseorang yang memberitahukan bahwa adiknya, Fathiman binti Khattab ra. dan suaminya, Said bin Zaid ra. (salah seorang dari 10 sahabat ra. yang dijamin masuk surga), telah masuk Islam. Kemudian ’Umar ra. berbelok ke rumah adiknya, saat adik dan suaminya sedang membaca surat Thaha. Saat itu ’Umar berkata: ”Apakah kalian telah berganti agama?” Iparnya menjawab: ”Wahai ’Umar, jika kebenaran ternyata di luar agamamu!”

(Ma’nawi) Mendengar jawaban ini ’Umar melompat dan mencekik iparnya dan adiknya yang ingin membantu suaminya dipukulnya hingga berdarah. Dengan nada marah adiknya mengatakan: ”Jika kebenaran tidak berada bersama agamamu maka Asyhadu allaa ilaaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadan ’abduhu wa RasuluHu.”

Kemudian ’Umar meminta kitab yang dibaca adik dan iparnya tadi. Setelah berwudhu (karena adiknya memerintahkannya untuk berwudhu sebelum membacanya), maka ia membaca Surat Thaha hingga ayat 14:

”Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

’Umar berkata: ”Antarkan saya kepada Muhammad!” Dan beliau ra. pun masuk Islam.
(Untuk riwayat lengkapnya silakan merujuk ke ‘Tarikh Khulafa’, karya Imam Suyuthi atau ’Rakhiqul Makhtum’, karya Al-Mubarakfury, dll)

Ibnu Sa’ad dan Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. dia berkata: ”Islamnya ’Umar adalah sebuah kemenangan besar, sedangkan hijrahnya adalah keuntungan. Kepemimpinannya adalah rahmat. Saya telah melihat sendiri bagaimana kami tidak mampu melakukan shalat di BaituLlah sebelum ’Umar menyatakan ke-Islam-annya. Tatkala ’Umar masuk Islam, dia menyatakan perang kepada mereka sehingga mereka membiarkan kami melakukan shalat dengan bebas.”

Hijrahnya ‘Umar ra.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari ’Ali ra., dia berkata: ”Saya tidak mengenal seorang pun yang melakukan hijrah kecuali dia akan melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi kecuali ’Umar bin Khattab. Saat ’Umar melakukan hijrah dia menyandangkan busur panahnya, dia mengeluarkan beberapa anak panah yang dia pegang di tangannya. Dia mendatangi Ka’bah, saat orang-orang Quraisy sedang berada di halamannya. Dia melakukan thawaf selama tujuh kali. Dia melakukan shalat dua raka’at di Maqam Ibrahim. Kemudian dia mendatangi kelompok-kelompok orang Quraisy satu demi satu sambil berkata, ”Wahai wajah yang tidak bersinar, barangsiapa yang mau ibunya kehilangan anaknya, dan anaknya menjadi yatim, atau isterinya menjadi janda, temuilah di belakang lembah itu.” Namun tidak ada seorang pun yang mengikutinya.

Beberapa keutamaan ‘Umar ra.

Seluruh Sahabat ra., Salafush Shalih dan seluruh Ahlus Sunnah sepakat bahwa ’Umar adalah orang (kedua) terbaik dalam umat ini setelah Rasulullah saw. Abu Bakar ra.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Wahai Ibnul Khattab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.”

Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
”Di antara umat-umat sebelum kamu ada orang-orang yang muhaddats (mendapat ilham), jika orang tersebut ada pada umatku, pasti dia adalah ’Umar.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu ’Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
”Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di lidah dan hati ’Umar.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi dan Al-Hakim –dia menyatakan bahwa riwayat ini shahih– meriwayatkan dari ’Uqbah bin Amir dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Andaikata setelah aku ada nabi pastilah dia ’Umar.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Dia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
”Tidak ada satu malaikat pun di langit yang tidak menghormati ’Umar, dan tidak ada satu syetan pun yang ada di atas bumi kecuali dia akan takut kepada ’Umar.”

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Said Al-Khudri ra., dia berkata, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:
”Di saat aku sedang tidur, kuihat orang-orang ditampakkan kepadaku. Mereka memakai baju, ada yang sebatas dada dan ada yang di bawah itu . Ditampakkan kepadaku ’Umar, dia memakai baju yang panjang dan menyeretnya.” Para Sahabat bertanya: ”Apa takwilnya, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab:”Agama.”

Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
”Tatkala saya tidur, saya bermimpi minum susu hingga saya melihat dalam mimpiku air mengalir dari kuku-kukuku, lalu saya minumkan air itu kepada ’Umar.” Para sahabat ra. bertanya: ”Apa takwilnya, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab: ”Ilmu.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari ’Umar ra., dia berkata: ”Pendapatku bersesuaian dengan Kehendak Allah dalam tiga hal: Pertama, saya pernah berkata kepada Rasulullah, anadaikata kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Lalu turunlah ayat Allah:

”…dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[1] tempat shalat….” (QS. Al-Baqarah : 125)
[1] Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka’bah.

Kedua, saya katakan kepada Rasulullah, Yaa Rasulullah, orang yang baik dan buruk perangainya masuk ke dalam rumah isteri-isterimu, alangkah baiknya jika kau perintahkan mereka untuk berhijab. Kemudian turunlah ayat hijab. Dan ketiga, para isteri Rasulullah saw. Berkumpul karena dilandasi rasa cemburu. Maka saya katakan semoga Allah menceraikan kalian semua dan Dia menggantinya dengan isteri-isteri yang lain yang lebih baik dari kalian. Lalu turunlah firman Allah tentang hal ini.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam Tafsirnya dari Anas, dia berkata: ’Umar berkata: ”Saya melakukan empat hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Tatkala turun ayat:

”Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu’minuun : 12)

Saya katakan: ”Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik,” maka turunlah ayat:

“…Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minuun : 14)

—–

TO BE CONTINUED
PART  2 – https://islamichroniclers.wordpress.com/2014/10/25/keutamaan-seorang-umar-bin-khattab-part-2

—–

Edited by: @pokamamil

Dikutip dan diringkas oleh PIP PKS ANZ wil. NSW dari:

  • Tarikh Khulafa (Imam Suyuthi)
  • 10 Sahabat yang Dijanjikan Masuk Surga (’Abdul Hamid Kisyik)
  • Keutamaan Para Sahabat Nabi Saw. (Mustafa Al-’Adawi)
  • Zuhud (Imam Ahmad)

Source: http://nulisnulisnulis.wordpress.com/2010/12/05/keutamaan-umar-bin-khattab/