Kala Pengadilan Memvonis Potong Tangan Sultan Mehmed II

Sultan Muhammad Al Fatih “Sang Penakluk”, divonis oleh Mahkamah Syariat agar tangannya dipotong. Vonis itu dikeluarkan oleh seorang qadhi karena Sultan Al Fatih memerintahkan memotong tangan seorang insiyur Romawi. Ternyata Sultan Al Fatih mematuhi perintah pengadilan itu. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya?

Sultan Al Fatih secara nyata membuktikan kebenaran Hadist Rasulullah akan takluknya Konstantinopel di tahun 1453. Penaklukkan itu membuat gempar seantero dunia dan setelah itu Sultan Al Fatih kemudian mengubah Konstantinopel menjadi pusat ibukota Utsmaniyah. Selama kepemimpinan Sultan Al Fatih, Utsmaniyah mencapai puncaknya. Kehidupan berjalan baik dan maju namun hasrat Sultan Al Fatih untuk terus menaklukkan tak terhenti. Bahkan dia sempat merangsek menuju kota Roma. Hal inilah yang membuat penguasa Roma mengungsi dari singgasananya.

Dari segi kepemimpinan Sultan Al Fatih di dalam negeri ternyata bisa dibilang bahwa keadilan ditegakkan. Hukum yang diterapkan benar-benar berwibawa. Malah dia sendiri sempat divonis bersalah hukuman potong tangan oleh Mahkamah al Isti’naf (pengadilan) di era itu.

Kasusnya bermula ketika Sultan Al Fatih berniat mendirikan sebuah masjid di kota Istanbul. Dia kemudian menugaskan seorang Insinyur Romawi, Epsalanti, untuk memimpin dan mengawasi proyek pembangunan Masjid itu. Konon, Epsalanti memang dikenal insinyur yang mumpuni.

Salah satu perintah Sultan kepada insinyur tersebut adalah bahwa tiang-tiang masjid jami itu harus dibuat dari bahan marmer. Tiang-tiang itu juga harus dibuat tinggi agar masjid bisa dilihat dari berbagai penjuru. Sultan Al Fatih pun menentukan batas ketinggian yang harus dicapai itu dan perintah itu langsung ditujukannya kepada Epsalanti tadi.

Akan tetapi dalam pembangunannya, Epsalanti malah memotong tiang-tiang itu sehingga ketinggian tiang Masjid Jami’ itu tak seperti yang dipesan oleh Sultan. Epsalanti bersikap demikian karena suatu sebab namun ketika Sultan mengetahui hal itu, iapun marah besar. Epsalanti dianggap melakukan pencurian karena mengurangi ketinggian tiang-tiang tadi dan Sultan Al Fatih pun memerintahkan agar tangan Epsalanti dipotong.

Ternyata keputusan itu langsung dieksekusi dan tangan Epsalanti dipotong. Pasalnya tiang-tiang yang sudah dibawa dari tempat yang jauh menjadi tak berguna sama sekali. Perintah potong tangan itu dikeluarkan Sultan Al Fatih dalam keadaan emosi dan marah.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Tangan Epsalanti sudah terpotong dan Sultan Al Fatih pun sempat menyesali keputusannya itu karena perintah itu terlalu berlebihan. Namun di mata Epsalanti, tindakan Sultan itu sudah kelewatan dan dianggap sebagai kezaliman. Alhasil dirinya pun mengadukan Sultan Al Fatih kepada Mahkamah Al Isti’naf itu.

Di Mahkamah itu terdapat seorang qadhi yang dikenal adil dengan nama Syaikh Shari Khidr Jalabi. Dialah yang kemudian mengadili kasus ini. Qadhi Syakh Shari Khidr Jalabi kemudian mengutus orang untuk memanggil Sultan Al Fatih untung datang ke pengadilan. Walau sebagai Sultan, Al Fatih mendapat aduan dari seorang rakyatnya yang menuntut keadilan.

Mendapat panggilan dari qadhi, Sultan tak ragu menghadiri pengadilan itu. Ketika hari persidangan, Sultan Al Fatih pun masuk ke ruangan sidang. Sultan Al Fatih kemudian duduk di barisan tempat duduk yang disediakan tapi sikap Sultan itu kemudian dihardik oleh qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi.

“Anda tidak boleh duduk, Tuan!” hardik sang Qadhi, tanpa ragu. Sultan Al Fatih terkejut. Dia terdiam.

“Engkau harus tetap berdiri di samping lawan engkau itu,” tegas Qadhi lagi.

Sultan Al Fatih pun menurut. Sosok yang begitu disegani oleh belantara Eropa, diam seribu bahasa didepan sang Qadhi karena Al Fatih sangat mematuhi hukum Islam.

Kemudian Sultan Al Fatih berdiri berjejer dengan Epsalanti itu. Sang Insiyur itu kemudian membeberkan kedzaliman yang telah diterimanya itu. Ketika giliran Sultan berbicara, Al Fatih mendukung apa yang telah dijelaskan oleh sang Insiyur. Dia tak membantahnya.

Setelah Sultan Al Fatih selesai bicara, ia tetap diminta berdiri. Qadhi Syakh Shari Khidr Jalabi berpikir sejenak dan tidak lama kemudian Qadhi itu mengeluarkan vonisnya untuk Sultan Al Fatih.

“Berdasarkan aturan-aturan Syariat, maka tangan Engkau juga harus dipotong sebagai bentuk qishash, wahai Sultan!”

Yang terkejut justru sang insinyur ketika mendengarkan putusan itu. Dia tak menyangka, seorang Sultan Islam, yang menunjuk Qadhi itu sebagai hakim, malah dikenakan hukuman potong tangan oleh qadhi itu sendiri!

Tubuh Epsalanti sampai bergetar mendengar putusan qadhi atas kasus yang dilaporkannya. Sultan Al Fatih hanya terdiam sembari berdoa. Epsalanti sama sekali tak menyangka vonis seperti itu yang bakal dikeluarkan oleh qadhi. Padahal niat awal Epsalanti adalah dia menuntut ganti rugi karena tangannya telah dipotong.

Epsalanti kemudian bangkit. Dengan suara gemetar, tercekak dan terbata-bata, dia malah memutuskan untuk menarik kasusnya itu.

“Saya tak menyangka hasilnya seperti ini, saya memutuskan untuk menarik pengaduan saya terhadap Sultan,” tutur Epsalanti terbata-bata. Padahal Sultan Al Fatih sudah sangat menerima putusan itu, karena hal itu merupakan konsekuensi yang harus ditegakkan bagi seorang muslim.

Epsalanti pun berujar lagi bahwa sesungguhnya dia berharap adanya ganti rugi belaka atas kasus yang dialaminya karena dia beralasan memotong tangan Sultan Al Fatih sama sekali tak memberi manfaat untuk dirinya.

Karena permintaan Epsalanti yang seperti itu, Qadhi pun memutuskan agar Sultan Al Fatih membayarkan 10 keping Dinar kepada Epsalanti, sebagai ganti rugi atas memotong tangannya. Sepuluh Dinar itu mesti dibayarkan Sultan Al Fatih setiap bulan kepada Epsalanti. Begitulah hukuman itu dijatuhkan.

Namun Sultan Al Fatih memutuskan untuk membayar 20 Dinar setiap hari sepanjang hidupnya kepada sang insinyur itu. Hal itu dilakukan Sultan Al Fatih sebagai hadiah atas ungkapan kegembiraannya karena lolos dari hukuman qishash dan penyelesaiannya atas kasus itu.

Begitulah sistem peradilan Islam. Kisah keadilan seperti ini tentu sangat muskil ditemui dalam sistem hukum yang tak merujuk pada Al Quran dan As Sunnah.

—–

Source: Kitab Rawai’ min at-Tarikh al-‘Usmani.

Taken from: ICMS 2014

Advertisements

Video: Muslims Killed Dracula (via The Merciful Servant)

Dracula was one of the greatest enemies of the Muslim Ottoman Empire, but he was neither a real vampire nor a fairy tale, rather he was a vicious crusader who fought against the army of Muhammad al-Fatih (Mehmed II The Conqueror of Constantinople).

Join Musa Cerantonio as he discusses this amazing episode in Islamic history.

—–

While dracula survives modern days through tales written by Bram Stoker, Muslims also should know the history behind the confrontation between Vlad The Impaler (Dracula) and Muhammad Al Fatih which of course, you can find in this video.

Just a small clarification, while Musa Cerantonio said that Dracul means ‘satan’, it was also meant as ‘dragon’ as this creature was considered satanic during the older days of Christianity back in Eastern Europe. Also, you might find that the original title of this video is somehow in contradiction with what Musa Cerantonio said that it was unclear who killed Vlad, either the Muslim Turks or the betrayal among his ranks. But nevertheless, the Turks finally got ahold of his body in the end.

So for this purpose, TMC will still put the original title and the rest is pretty much the same for us, keep on digging the history!

—–

Postface by: @pokamamil

Video source: The Merciful Servant and Turn2Allah

Mehmed II and the Prophet’s Promise (via Lost Islamic History)

Mehmed II

Prophet Muhammad ﷺ  promised his followers in the Arabian Desert that they would one day conquer the most powerful and legendary city of the day, Constantinople. For centuries, it seemed like an impossible task. The city is incredibly well-defended, being a peninsula with a giant wall on it’s land side that deterred most conquerors. The city was laid siege to by Muslim armies during the Umayyad Caliphate, but those sieges were unable to defeat her mammoth walls.

When the Ottoman Empire sprang up in the early 1300s as a small Turkish beylik in Western Anatolia, it threatened the security of the Byzantines and their capital, Constantinople. By the time Sultan Mehmed II takes the throne in 1451, the Ottomans have expanded to control land in both Europe and Asia, thus surrounding the city of Constantinople. Sultan Mehmed made it his goal from the moment he took the throne to finally capture the legendary city. He ordered the building of a fortress on the Bosporus Strait, north of Constantinople to control ship movement in and out of the city. To honor the Prophet who declared the Muslims would conquer Constantinople, Mehmed had the fortress built in a way that it’s shape spelled out “Muhammad” in Arabic when seen from above.

Constantinople

On April 1st, 1453, Mehmed and his Ottoman army of over 100,000 soldiers arrived at the walls of Constantinople. The sight that greeted them must have been terrifying. The inner walls of Constantinople were 5 meters thick at their base and 12 meters high. 20 meters away from the inner wall was the outer wall, which was 2 meters thick and 8.5 meters tall. These walls had never been conquered in history, and numerous previous sieges by the Ottomans as well as the Umayyads during the caliphate of Mu’awiya in the 600s attested to that.

In addition to the walls, the Byzantines had a giant iron chain installed in the Golden Horn, a small inlet to the north of the city. This would prevent a navy from sailing to the weaker northern coast of the city and attacking from there. The Byzantines had a clear defensive advantage before the battle began. Despite being outnumbered and outgunned, the Byzantines were confident of their impending victory. Especially once additional soldiers and commanders were sent from the Italian city-state of Genoa.

Mehmed offered the defenders the option to surrender and remain in possession of their property, lives, and families in peace, but this offer was refused by the Byzantine emperor, Constantine XI. Thus, Mehmed began the attack on the city on April 6th. Despite the best effort of the Ottoman soldiers, and the bombardment of the world’s biggest cannons, the city held out for weeks. On April 22nd, Mehmed ordered the Ottoman navy to be carried over land to bypass the chain in the Golden Horn. Over one night, 72 ships were carried over land and put into the Golden Horn, threatening the city from the north.

It seemed that the battle of the city would soon be over as the Ottomans clearly had the upper hand. On May 28th, Mehmed halted all attacks and allowed his army to spend the day praying to Allah for victory. The next day, on May 29th, the army began a final assault on the city walls and before the morning was over, the walls were conquered and the city was taken.

Perhaps the most important part of this historical event was Mehmed II’s treatment of the defeated Byzantines. He did not kill the residents of the city and in fact encouraged them to stay in Constantinople by absolving them of taxes. He insisted that the Greek Orthodox Patriarchate stay in the city and rule the Christians of the city on his behalf. While to the rest of Europe, the idea of religious tolerance was a foreign concept, Mehmed followed the Islamic principles on treatment of non-Muslims and gave religious freedom and rights to the Christians of Constantinople. His abilities in battle and his virtuous qualities earned him the nickname “al-Fatih” or “the Conqueror”.

—–

Bibliography:

  • Freely, J. (2009). The Grand Turk. New York: Overlook Press.
  • Ochsenwald, W., & Fisher, S. (2003). The Middle East: A History. (6th ed.). New York: McGraw-Hill.

Source: http://lostislamichistory.com/mehmed-ii-and-the-prophets-promise/

Kisah Guru Muhammad Al Fatih di Balik Penaklukan Konstantinopel (via Bumi Syam)

Syeikh Aaq Syamsuddin adalah guru Muhammad al-Fatih, pahlawan Islam dari dinasti Utsmaniyah yang sukses menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1435 M. Berkat bimbingan Syeikh Syamsuddin, al-Fatih berhasil menaklukkan kerajaan raksasa dunia, Byzantium, di usia al-Fatih yang masih 21 tahun.

Beliau adalah seorang Ahlussunnah yang berasal dari negeri Syam yang berhasil memoles pribadi al-Fatih menjadi sultan yang tangguh, berilmu, cerdas, pemberani dan pemimpin negara yang bertakwa kepada Allah SWT. Hingga di garis depan medan pertempuran, sang Syeikh setia mendampingi al-Fatih untuk memberi tausiyah dan bimbingan spiritual.

Nama asli Syeikh Aaq Syamsuddin adalah Muhammad bin Hamzah al-Dimasyqi al-Rumi. Beliau dilahirkan di kota Damaskus, negeri Syam, pada tahun 792 H/1389 M. Konon nasabnya bersambung dengan Abu Bakar al-Shiddiq RA. Pada usia 7 tahun, beliau berhasil menghafal al-Qur’an lalu meneruskan kegiatan belajarnya di kota Amasiya, kemudian pindah ke Halab, dan merantau ke Ankara di Turki.

Pembimbing spiritual Sultan al-Fatih

Muhammad al-Fatih telah dibimbing Syeikh Syamsuddin sejak kecil dan diajari berbagai disiplin ilmu dasar, yaitu al-Qur’an, al-hadits, fikih dan bahasa Arab.

Syeikh Syamsuddin berhasil meyakinkan sultan Muhammad al-Fatih bahwa dialah pemimpin yang ‘diramalkan’ Rasulullah SAW yang akan berhasil menaklukkan Konstantinopel. Saat menjabat sebagai Sultan Utsmani, usia al-Fatih masih sangat belia, lalu Syeikh Syamsuddin menasihatinya agar dia segera bergerak untuk merealisasikan hadis Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW memberi kabar gembira bahwa kelak, kota Konstantinopel akan jatuh di bawah kekuasaan Islam seperti dalam sabdanya:

“Konstantinopel akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baiknya penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baiknya tentara.”
(HR. Ahmad)

Konstantinopel merupakan kota paling penting di dunia pada zaman itu. Dibangun pada tahun 330 M, Konstantinopel dijadikan ibukota kerajaan Romawi Timur tersebut selama berabad-abad lamanya. Kota ini menjadi pusat perhatian dunia sehingga ada yang mengatakan bahwa “Andaikata dunia ini berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinopel adalah kota yang paling cocok untuk menjadi ibukotanya”.

Maka para khalifah kaum Muslimin berlomba-lomba menaklukkan Konstantinopel dalam rentang waktu yang panjang. Tercatat, sejak masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 44 H hingga usaha yang paling massif dilakukan pada masa Dinasti Umayyah di bawah Sulaiman bin Abdul Malik, namun semuanya gagal. Usaha berlanjut pada masa kekhalifahan Abbasiyah, khususnya pada masa Khalifah Harun al-Rasyid di tahun 190 H. Meski sempat memberikan pukulan keras tapi misi penaklukan masih tak kunjung berhasil.

Mehmed II by Gentile Bellini

Mehmed II by Gentile Bellini

Baru di masa pemerintahan Muhammad al-Fatih, Konstantinopel baru berhasil ditaklukkan. Al-Fatih tidak sendirian. Ia sempat putus asa mengatur serangan ke Konstantinopel, namun sang guru, Syeikh Syamsuddin, mendampingi dan menasihati agar tetap terus berjuang. Pengepungan benteng Konstantinopel memakan waktu 54 hari sehingga banyak korban dari tentara Utsmani yang gugur. Para pejabat militer hampir putus asa dalam menaklukkan Konstantinopel tetapi, Syeikh Syamsuddin sangat yakin bahwa hadis Rasulullah SAW akan terealisasi pada masa Muhammad al-Fatih, tidak pada lainnya.

Dalam suatu persiapan serangan, Syeikh Syamsuddin tengah menyendiri di kemah dan ia melarang seorang pun untuk masuk. Muhammad al-Fatih memaksa masuk kemahnya dan beliau menyaksikan sang Guru khusyu’ bermunajad kepada Allah. Ia bersujud kepada Allah dalam suatu sujud yang panjang sehingga sorbannya terlepas dari kepalanya dan menjadikan rambut kepalanya yang memutih menyentuh bumi. Sang guru bangkit dari sujudnya dengan air mata berlinang dari kedua pipinya. Beliau berdoa kepada Allah swt agar kemenangan dikaruniakan kepada al-Fatih dan meminta penaklukan dapat terlaksana kota dalam jangka waktu yang dekat.

Ketika terjadi penyerbuan ke benteng Konstantinopel, Syeikh Syamsuddin mendatangi Muhammad al-Fatih untuk memberi nasihat penting tentang hukum-hukum syariat dalam peperangan, serta hak-hak kaum yang ditaklukkan yang harus diperhatikan seusai pertempuran.

Mengobarkan semangat jihad

Syeikh Syamsuddin berpidato di hadapan pasukan Utsmani:

“Wahai tentara Islam, ketahuilah dan ingatlah bahwa Nabi saw bersabda, ‘Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara’.

Kita memohon kepada Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Semoga Dia memberikan kita taufik dan mengampuni semua. Ketahuilah, janganlah kalian berlaku berlebih-lebihan dari apa yang kalian dapat dari harta rampasan perang, dan janganlah kalian berlaku boros.

Infakkan harta di jalan yang baik untuk penduduk kota ini. Dengarkan apa yang dikatakan Sultan kalian dan taatilah dia dan cintailah.

Wahai Sultanku, kau telah menjadi tanda mata Bani Utsmani. Maka jadilah engkau sebagai mujahid di jalan Allah selamanya”.

Setelah itu dimulailah serangan ke benteng raksasa Konstantinopel. Tepat pada jam 1 pagi 29 Mei 1453 benteng yang berdiri berabad-abad lamanya berhasil ditundukkan. Selama itu pula, Syeikh Syamsuddin tidak pernah meninggalkan al-Fatih dan pasukannya. Ia ingin menyaksikan langsung realisasi hadis Rasulullah SAW.

Mehmed II enters Constantinople

Mehmed II enters Constantinople

Muhammad al-Fatih telah betul-betul ditempa oleh Syeikh Syamsuddin. Konon satu waktu Sultan al-Fatih pernah mengirimkan uang sebanyak seribu dinar kepadanya namun sang Syeikh menolaknya. Bahkan, Syeikh tidak memberi penghormatan berdiri untuk sang Sultan ketika mau pamit keluar sehingga Sultan al-Fatih-pun kecewa.

Seorang pembantu Sultan mengatakan, “Mungkin dia melihat dalam dirimu ada perasaan sombong karena penaklukan ini, yang sebelumnya tidak biasa dilakukan para Sultan sebelum kamu. Dengan demikian, Syeikh bermaksud menghapuskan rasa sombong itu darimu”. Demikianlah Syeikh Syamsuddin memberi pelajaran kepada Sultan al-Fatih agar sang Sultan selalu berjalan di atas hukum syari’ah dan tidak terbuai oleh kekuasaan.

Pelajaran keras telah diberikan sejak Muhammad al-Fatih masih kecil. Pada suatu hari, ia memanggil Muhammad al-Fatih kemudian memukulnya keras karena melakukan kesalahan ringan. Pukulan keras Syeikh ini ternyata dikenang terus oleh al-Fatih hingga ia dewasa memangku tampuk kesultanan. Suatu saat ia memanggil Syeikh Syamsuddin dan menanyainya: “Mengapa Anda memukulku waktu itu padahal aku tidak melakukan apa-apa yang layak dipukul?”

Makas Syeikh menjawab: “Karena aku ingin mengajarimu rasanya kezaliman dan bagaimana orang yang terzalimi tidur, agar ketika engkau menduduki posisi kepemimpinan, engkau tidak menzalimi seorang pun!”

Mendengar penjalasan Syeikh, al-Fatih langsung meminta maaf kepada Syeikh dan mencium kepala serta tangan gurunya tersebut.

Syeikh Syamsuddin begitu terhormat di mata sang Sultan. Meski menjadi sultan yang kekuasaannya meluas hingga ke negeri Eropa, beliau tidak pernah meremehkan nasihat gurunya. Sang Syeikh pun tidak pernah menjadi penjilat dan tidak pernah memberi penghormatan berlebihan. Ia tidak takut kecuali kepada Allah, karena itu, setiap kali sultan datang menziarahi, Syeikh Syamsuddin tidak pernah berdiri dari tempat duduknya untuk menyambutnya. Justru sebaliknya ketika beliau menziarahi sang Sultan, maka Sultan-lah yang berdiri untuk menyambut gurunya tersebut lalu mencium tangannya.

Jasa Syeikh Syamsuddin sangatlah besar untuk Kesultanan Utsmani dan Sultan al-Fatih. Beliau mendidik sultan dengan dua hal besar:

  1. Melipatgandakan semangat gerakan jihad di dalam Dinasti Utsmani.
  2. Terus-menerus menanamkan dalam diri sultan Muhammad sejak kecil bahwa dialah yang dimaksudkan dalam hadis Nabi SAW, hingga akhirnya Muhammad al-Fatih yakin bahwa memang dialah yang dimaksudkan dalam hadis ini.

Namun ada juga pendapat para ahli sejarah yang mengatakan bahwa Syeikh Syamsuddin sendirilah Sang Penakluk Konstantinopel. Selain pendidikan dua hal tersebut, Sang Syeikh pula yang telah mengajarkan kepada al-Fatih berbagai ilmu, baik ilmu strategi perang maupun ilmu falak, sejarah dan matematika.

Ahli ilmu kedokteran

Syeikh Syamsuddin bukan hanya ahli bidang syariah, tasawuf dan akhlak, namun ia juga dikenal sebagai ahli dalam pengobatan. Syeikh memiliki kepedulian terhadap penyakit jasmani, sebagaimana ia peduli dengan penyakit-penyakit rohani. Dia menulis kitab berjudul Maadat al-Hayat. Dalam buku tersebut, Syeikh mengatakan, “Sangat keliru jika dikatakan bahwa penyakit-penyakit itu berpindah dari satu orang ke orang lain dengan cara menular. Penularan ini sangat kecil dan renik, hingga tidak mampu dilihat oleh mata telanjang. Penularan ini terjadi karena adanya kuman yang hidup”.

Dia dikenal orang pertama yang melakukan penelitian kuman pada abad ke-15 M. Dimana pada saat itu belum ada mikroskop sehingga ia jauh mendahului para ilmuwan Eropa. Eropa sendiri baru melakukan penelitian tentang kuman empat abad setelah Syeikh Syamsudin yang dilakukan oleh Louis Pasteur, ahli biologi dan kimia asal Prancis.

Di antara karya-karyanya yang lain adalah: Kitab al-Thibb, Hallul Musykilat, al-Risalah al-Nuriyah, Maqalatul Auliya’, Risalah fi Dzikrillah, Talkhish al-Mata’in, Daf’u al-Mataa’in, dan Risalah fi Syarh Haaji Bayaram Wali.

Syeih Syamsuddin meninggal dunia di kota tempat tinggalnya yaitu di Konya, pada tahun 863 H/1459 M.

Syaikh Aaq Syamsuddin's grave

Syaikh Aaq Syamsuddin’s grave

—–

Edited by: @pokamamil

By: Kholili Hasib
(Anggota MIUMI Jawa Timur dan Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya)

  • Bibliography: Al-Ustmaniyah fi al-Tarikh wa al-Hadharah
  • Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah
  • Muhammad al-Fatih Penakluk Konstantinopel

Source: http://www.bumisyam.com/2013/05/kisah-ulama-sufi-di-balik-penaklukan-konstantinopel.html/