Quote #12

“Feel not lonely by the strangeness that you sense amongst the people, for the people are considered to be like those who are dead.

Have you not come to know, that ahlus Sunnah are truly the strangers in every era?”

– Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah r.a

Quote #11

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم ولما كان الصدر

“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka.

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zhalim.

Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka.

Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya.

Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat.

Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka.

Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak.

Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Aziz, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.”
(Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah RA: A Short Biography

Awal hidup Ibnul Qayyim RA

Dilahirkan pada tanggal 7 Shafar 691 H, guru besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah RA tumbuh dalam bimbingan sang ayah yang shalih, Syaikh Qayyim al-Jauziyah. Banyak dari anggota keluarga beliau juga yang merupakan para penuntut ilmu serta alim ulama. Kegemaran beliau sejak kecil adalah menuntut ilmu serta dikenal banyak orang atas kegigihannya dalam melakukan penelitian serta pengkajian.

Tempat pembelajaran beliau ternyata tidak hanya di kampung halamannya saja. Tercatat bahwa Ibnu Qayyim pernah menuntut ilmu di kota Kairo, berkunjung ke Al Quds, serta beberapa kali melaksanakan ibadah haji dan menetap di dekat kota Makkah. Di sinilah juga beberapa kisah meriwayatkan sisi religius dan ketekunan beribadah beliau yang konon banyak dikagumi oleh orang.

Sebagai seorang penuntut ilmu, Ibnu Qayyim memiliki banyak koleksi kitab-kitab bahkan memiliki perpustakaan pribadi. Ibnu Rajab dalam kitab Dzail Thabaqaatil Hanaabilah mengungkapkan bahwa, “Beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan, melakukan kajian, serta membuat banyak karya tulis. Banyak kitab yang dikoleksi beliau merupakan koleksi langka yang tidak dimiliki orang lain”. Ibnu Katsir juga mengungkapkan di lain kesempatan, “Beliau mendapatkan kitab-kitab baik karya para ulama salaf maupun ulama khalaf yang sepersepuluhnya tidak didapatkan oleh orang lain”. Ibnu Qayyim sendiri merendah dengan kekayaan ilmu yang dimilikinya ini dan mengaku bahwa kitab-kitabnya ini hanya cukup untuk bekal ilmiah semata.

Berguru pada Ibnu Taimiyyah RA

Beliau berguru dengan para guru terbaik di zamannya, pertama yaitu ayahnya sendiri dan berikutnya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah RA. Khusus pada Ibnu Taimiyyah, beliau memang sangat lekat berilmu padanya bahkan hingga sang guru wafat di dalam penjara. Ternyata warisan dari sang guru serta beliau sendiri juga menginspirasi para murid-muridnya yang sangat berjasa bagi diinul Islam, seperti Ibnu Rajab al-Hanbali, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnu Abdil Hadi, dan Al-Fairuz Abadi.

Mulazamah beliau kepada Ibnu Taimiyyah diawali dengan bertaubatnya beliau dari manhaj shufiyah di hadapan sang guru. Sejak itu hasil gemblengan sang guru memberikan pengaruh yang besar pada diri seorang Ibnu Qayyim. Ia mengikuti sang guru dalam meniti manhaj salaf dan mengibarkan panjinya setelah sang guru wafat, serta berlepas diri dari setiap hal yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul SAW.

Asy-Syaukani berkata mengenai sifat adil yang dimiliki beliau, ‘Secara umum, beliau (Ibnul Qayyim) tidak berjalan mengikuti sesuatu yang tidak memiliki landasan dalil yang kuat. Beliau terkadang cenderung dengan mazhab Hanbali, namun tidak serta merta membelanya dalam sisi-sisi kelayakan dalil yang ada dengan keputusan pemihakan yang cepat, sebagaimana layaknya yang dilakukan para penganut mazhab yang fanatik. Dalam hal ini, beliau menyandarkan sikapnya di atas landasan dalil yang kuat. Pembahasan-pembahasan beliau secara umum adalah inshaf (adil dan berimbang) dan cenderung kepada dalil yang dianggapnya benar, serta menjauhi sikap qiila wa qaala (berhujjah dengan dalil-dalil yang lemah).

Ibnul Qayyim akhirnya dikenal sebagai ulama yang menyebarluaskan Sunnah Rasul SAW dan menjadikannya sebagai benteng yang kokoh terhadap fikrah-fikrah bid’ah. Selain itu, dengan ber-mulazamah-nya beliau bersama Ibnu Taimiyyah bukanlah berarti beliau menjiplak sang guru. Ibnul Qayyim adalah sosok yang amat terpelajar dan sangat menentang taklid dengan segenap usahanya.

Pernyataan para ulama mengenai beliau

Ibnu Katsir RA menuturkan, ‘Ibnul Qayyim RA mendengarkan periwayatan hadits, menyibukkan diri dengan berbagai ilmu pengetahuan, terlebih lagi dalam bidang tafsir, hadits, dan ushuluddin (akidah). Karena keseriusannya, beliau belajar siang dan malam serta banyak berdoa sepenuh hati. Maka beliaupun menjadi seorang yang sangat ahli dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Beliau juga adalah orang yang berakhlak mulia, penuh kasih sayang, tidak pernah menghasad, tidak pernah menyakiti orang lain, tidak mengghibah, dan tidak pula mendengki. Aku tidak mengetahui ada orang di dunia ini pada masa kami yang lebih tekun ibadahnya dibanding beliau. Shalatnya beliau berlangsung khusyu dengan ruku dan sujud yang lebih lama hingga para pengikutnya mencelanya.

Amat sedikit orang yang dapat menandingi beliau secara keseluruhan dalam hal kebaikan dan kemuliaan akhlaknya. Semoga Allah SWT memberikan beliau ampunan dan rahmatNya.’

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ibnu Rajab RA, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi RA, serta As-Suyuthi RA mengenai kemuliaan beliau. Begitu banyak yang bisa kita contoh dari perilaku beliau yang mulia ini.\

“Whoever remembered Allah whilst being alive and in good health, will remember Him at the time of death.”
– Ibnul Qayyim RA

Akhir hayat Ibnul Qayyim RA

Ibnul Qayyim RA sempat dipenjara bersama Ibnu Taimiyyah RA hingga wafatnya sang guru. Pada masa ini, beliau juga sempat dihinakan dan dimusuhi oleh para penguasa seperti apa yang dicatat oleh Ibnu Rajab RA, ‘Sungguh beliau sering mengalami ujian dan penyiksaan’. Keteguhan sang guru bersama muridnya dalam membela yang haq dan memerangi kebathilan inilah yang membuat mereka menjalani berbagai kesulitan, meskipun demikian baik Ibnu Taimiyyah RA maupun Ibnul Qayyim RA tetap bersandar pada kebenaran hingga akhir hayatnya.

Beliau wafat pada malam Kamis, 23 Rajab 751 H dan dikebumikan di Damaskus. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita bersama beliau dan para Nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang yang shalih karena mereka inilah sebaik-baiknya teman pendamping. (RF)

——

Summarized by: @pokamamil

Source: ‘Tuhfatul Mauduud bi Ahkaamil Mauluud by Ibnul Qayyim RA
Ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dengan judul ‘Hanya Untukmu Anakku’ di bab yang ditulis beliau mengenai kehidupan Ibnul Qayyim
RA.