Excerpts: Mukhtashar Minhajul Qashidin – PART 2

Minhajul Qashidin

Continued from:
https://islamichroniclers.wordpress.com/2014/11/17/mukhtashar-minhajul-qashidin-part-1/

—–

Apa yang dituju dari syiar Islam adalah semata-mata untuk menyelamatkan umat manusia. Apabila ada satu orang dari jalan jahiliyah dapat kita dakwahi untuk kembali jalan yang benar itu diumpamakan seperti lebih baik daripada menemukan unta berwarna merah yang nilainya tinggi dan langka. Maka dari itu pulalah para nabi dibekalinya oleh ilmu semata-mata, bukan oleh harta maupun senjata.

An Nisa 113 menjelaskan mengenai mengapa para nabi dibekali oleh ilmu:
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.”

Tidak mungkin seseorang paham Al Quran kecuali merujuk pada apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Apalagi mengenai ayat berikut ini yang sempat membuat para sahabat tertegun mendengarnya, sehingga jangan sampai kita sembarang menafsirkannya. Allah SWT berfirman di surah Lukman yaitu sebagai berikut: “Siapa yang taat kepada Rasul maka dia akan taat kepada Allah SWT”. Apalagi memang penyampaian Rasulullah itu begitu terang benderangnya sehingga orang musyrik pasti tidak akan menyukainya.

Ketiga sumber utama agama Islam – Al Quran, hadist, dan hadist qudsi; menjadi jawaban untuk berbagai aturan dalam kehidupan dan hukum secara luas dan terus berkembang. Untuk lebih jelasnya, hadist qudsi adalah hadist yang lafazhnya dari Rasul namun datangnya dari Allah SWT langsung dan tidak melalui Al Quran.

Maka dari itulah kita cukup berpegang pada surat ini dan menjalankan sepenuhnya ketiga sumber tersebut sebagai kunci dalam kehidupan untuk dunia maupun akhirat. Pada surat Al An’am 82: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Tentu kesemuanya didukung dari cara kita mendalami berbagai ilmunya. Untuk itu, terdapat tiga jenis orang belajar ilmu, dan ini berfungsi merefleksikan dimanakah posisi kita sekarang:

  1. Dari belajar hingga dapat ilmu malah tidak pernah berubah (hanya dicatat tapi tidak direalisasikan).
  2. Ashabul Yamin: Belajar mendapatkan ilmu tapi masih membatasi pengamalannya pada hal-hal yang bersifat pokok/wajib saja.
  3. Totalitas kepada ilmu yang telah didapatnya, termasuk untuk wajib maupun sunnah (Al Muqarabbur).

Berdasarkan surat Asy Syuro 52, maka tentu kita harus berjuang untuk mendapatkan petunjuk yang dimaksudkan Allah SWT dan memantaskan diri untuk mendapatkannya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Lalu sekarang dari sisi para pengajarnya, terdapat tiga jenis juga:

  1. Ulama yang faham mengenai kebenaran ilmu Al Quran dan Sunnah (‘alimun billah) yang berkomitmen untuk dipraktekkan.
  2. Ulama yang berkualitas kegiatan ritualnya namun tidak faham dengan syariat Allah.
  3. Islam muluk – Ahli mengenai keIslaman namun hanya sebatas ilmu saja.

Kesemuanya menghantarkan kita pada pemahaman bahwasanya Allah SWT adalah raja diraja pemilik alam semesta ini dan menurut surat Al Fatir 28, ilmu yang baik itu adalah ilmu yang menghantarkannya menuju rasa takut kepada Allah. Sudahkah kita mencapai tahap ini, saudara-saudaraku?

Selanjutnya yang harus kita resapi adalah delapan poin dalam ilmu Al Quran dan Sunnah yang harus dipegang dan diamalkan sampai akhir hayat kita:

1. Keyakinan bahwa syariat Allah inilah yang paling benar dan diridhai sampai hari kiamat.

Ali Imran ayat 85 mengingatkan kita untuk melawan pergerakan ilmu pluralisme yang meyakini bahwa semua agama itu benar. Maka pertanyaannya adalah mengapa bila kita mayoritas Islam di Jakarta tapi malah mendukung Ahok. Ini adalah karena bagian pertama ini saja sudah runtuh apalagi karena pernyataan lalai oleh Imam Masjid Istiqlal yang bilang bahwa menaati kafir itu boleh asal tidak mengajak maksiat. Padahal kita tidak boleh sama sekali mengikuti orang kafir.

Al Furqan 52: “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.”

2. Kesempurnaan Islam tidak boleh ditambah maupun dikurangi.

Harus dipahami bahwa apa yang sudah disampaikan Islam sudah sempurna, tidak seperti HAM yang diagung-agungkan oleh Barat dan akhirnya diamandemen dalam UU untuk kemudian dirubah-rubah sesuai hawa nafsu manusia.

Seperti tergambar dari Al Maidah 3: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka sudah sewajarnya kita mengikuti diin kita yang sudah sempurna ini dan tidak memberi ruang akan hawa nafsu atau logika manusia semata-mata.

3. Haram mengedepankan pikiran kita terhadap Al Quran dan Sunnah.

Al Hujurat ayat 1: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Salah satu contoh menarik adalah sistem hukum yang mengadopsi dari Barat dengan konsep penjara, padahal hukum Islam yang tegas sudah memberi efek jera pada pelakunya dan tidak akan membuat orang tertarik melakukan kejahatan lagi. Kebijaksanaan yang telah diajarkan agama kita ini harus kita pegang teguh agar bisa memberikan contoh bagi saudara-saudara kita maupun umat agama lain.

4. Tunduk dan patuh secara total.

An Nisa 65: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Tidak boleh kita berkeberatan dengan menjalankan aturan-aturan Islam, karena akan bertentangan langsung dengan ayat ini. Patuhlah, maka lengkap sudah jawaban untuk kehidupan ini.

5. Wajib kembali ke Al Quran dan Sunnah ketika terjadi perbedaan.

An Nisa 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Harus dicatat bahwa pada ulil amri tidak termasuk diantaranya yang wajib dipatuhi bila tidak memenuhi persyaratannya.

6. Menolak segala ketentuan hukum yang bertentangan dengan syariat.

Contohnya definisi zina yang berasal KUHP dari Belanda tetap dilestarikan karena hukum zina tidak akan tercapai bila dilakukan suka sama suka. Ini harus kita tentang karena sangat berlawanan dengan agama kita!

7. Menutup segala pintu penambahan dalam agama.

Bila agama sempurna ini ditambah-tambahi maka akan disebut bid’ah. Misalnya sebagian kalangan sufi melarang lelaki untuk menikah agar bisa tetap dekat dengan Allah namun ini justru malah mendekati pola biarawan/biarawati dalam agama Kristen.

8. Amar ma’ruf dan nahi munkar.

—–

Maka dengan kedelapan poin ini, seorang Muslim akan bertanggung jawab pada agamanya secara penuh dan tidak parsial!

—–

Sebagai penutup, dalam menanggapi agama Islam maka umat manusia akan terbagi menjadi tiga kelompok:

1. Umat Mukmin: apa saja yang dia peroleh dari Al Quran dan Sunnah maka akan dipraktekkan. Ibaratnya seperti tanah yang subur, yang siap menerima berkah hujan dan menumbuhkan berbagai pepohonan yang semakin kuat karena ilmu.

Menurut surah Ibrahim 24-25: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,”

“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

2. Hanya sebatas pengetahuan saja. Seperti orang munafik.

3. Sebanyak apapun ilmu itu turun namun tidak bisa diresapi apalagi diamalkan. Kalbunya tertutup seperti orang kafir.

Bukalah kalbu kita seluas-luasnya agar kita bisa menanam kebenaran tersebut dalam kalbu kita untuk kita tumbuhkan lebih besar. Maka dari itu hadirilah berbagai pengajian/halaqa, karena majlis taqlim digambarkan Rasulullah sebagai taman surga.

Maka sebagai penutup untuk edisi ini, kita kutip hadist yang diriwayatkan Abu Darda:
“Hanya orang beruntunglah yang mendapat ilmu agama dan celakalah yang tidak mendapatkannya.”

—–

TO BE CONTINUED

Untuk kajian-kajian berikutnya mengenai kitab ini akan segera disimpulkan dan ditayangkan di blog ini segera setelah Ustadz Farid Ahmad Okbah melangsungkan kembali halaqa-nya di waktu mendatang.

—–

Based on halaqa by Ustadz Farid Ahmad Okbah, with some additions

Summarized by: Rian Farisa – @pokamamil

Source: “Mukhtashar Minhajul Qashidin” by Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi

Advertisements

Excerpts: Mukhtashar Minhajul Qashidin – PART 1

Minhajul Qashidin

Ilmu adalah penentu dari kualitas seseorang. Mengenai ini Imam Bukhari khusus berujar, “Senantiasa ilmu harus mengawali amalan. Sebab bila berdasarkan ilmu maka amalan akan mantap dan tidak menyimpang”. Inilah esensi bagian awal dari kitab “Mukhtashar Minhajul Qashidin” karya Al-Imam Ibnu Qudamah dan untuk paruh pertama ini dijelaskan secara ringkas oleh Ustadz Farid Ahmad Okbah.

Allah SWT berfirman di Surah Muhammad ayat 19 yang berisi mengenai tauhid. Sebagai sebuah bagian penting dari agama Islam, maka seseorang harus memperkuat kadar tauhidnya terlebih dahulu dan tentu itu tidak bisa dilangsungkan tanpa dasar ilmu yang baik. Ibnul Qayyim dalam buku Miftahus Saadah membandingkan mengenai ilmu dunia dan ilmu akhirat. Menurut beliau, kebanyakan yang dikejar oleh orang adalah ilmu dunia dengan alasan agar sukses di dunia, namun banyak dari mereka yang berfokus pada pencarian ilmu yang membutuhkan investasi yang tidak sedikit ini tetap tidak terjamin untuk kehidupan akhiratnya kelak.

Justru sebaliknya untuk ilmu diin yang malah terbukti bisa mengantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibnul Qayyim mencatat 300 kelebihan ilmu diin daripada ilmu dunia dalam bukunya ini dimana salah satunya adalah bahwa begitu pentingnya ilmu diin agar manusia dapat mantap dalam bersikap, dalam beramal, dan lain sebagainya.

Di dunia modern ini, kebanyakan dari kita dari kecilnya hingga dewasa lebih berfokus untuk belajar mengenai ilmu dunia serta tidak jarang juga banyak yang terjerumus ke ilmu yang salah. Maka inilah pentingnya mengapa kita harus belajar ilmu diin sejak dini yang dimulai dengan ilmu tauhid.

Ada lima macam ilmu dalam Islam seperti yang disebut Ibnul Qayyim dalam bukunya:

  1. Ilmu ruh atau ilmu tauhid
    Ini adalah ilmu paling mulia karena terkait langsung dengan Allah SWT. Kita harus mengetahui siapa Allah SWT sebenarnya dan apa keinginanNya sehingga kita bisa mengerti berbagai kehendaknya. Dari dahulu hingga sekarang manusia selalu tejerumus dalam pencarian mengenai eksistensi Tuhan dan malah mencarinya dengan ilmu filsafat yang terlampau mengagungkan logika, padahal sejatinya logikapun memiliki banyak keterbatasan. Dengan memaksakan ilmu filsafat ini maka malah menjurus ke arah terjadinya penyimpangan, apalagi ketika berusaha menafsirkan ilmu tauhid. Dengan demikian kita harus mengerti perbedaan dua ilmu ini dan baiknya tetap berada dalam jalur ilmu tauhid Islam saja.
  2. Ilmu mengenai kehidupan agama atau memahami kandungan Al Quran dan Sunnah
  3. Ilmu mengenai obatnya agama atau fatwa atas kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan manusia.
    Biasanya ilmu dan kewenangan mengenai ini berada di tangan para Mufti.
  4. Ilmu mengenai penyakit agama atau bid’ah serta aliran sesat.
    Dewasa ini di di Timur Tengah sudah ada program kedoktoran di berbagai universitas, khusus untuk meneliti dan menyikapi fenomena ini.
  5. Ilmu kehancuran agama atau sihir dan perdukunan.
    Hal-hal ini dipelajari dan dilawan dengan ilmu ruqyah.

Mengapa ilmu begitu penting manusia? Tiada lain adalah fakta bahwa suatu ketika harta akan habis, jabatan akan hilang, namun ilmu akan selalu ada. Maka dari itu bekal dari para nabi dan rasul adalah ilmu, bukanlah senjata ataupun harta. Nabi SAW bersabda, “Apa yang para nabi tinggalkan bukanlah harta karena semuanya akan diberikan. Namun ilmulah yang kami wariskan”. Ilmu inilah yang nantinya akan mengangkat derajat manusia. Sehingga bagi anak, kita jangan memanjakannya dengan materi semata namun kita harus memberikan ilmu pada mereka. Peradaban manusia tidak akan mungkin terbangun kecuali karena ilmu.

Maka pertanyaannya adalah darimanakah sumber ilmu tersebut? Ayat pertama yang diturunkan adalah perintah untuk membaca. Dari sini sendiri kita sudah dapat menyimpulkannya.

Selain itu, Ibnu Abbas berkata bahwa orang berilmu atau ulama nilanya 700 kali di atas mukmin biasa yang terbiasa mengamalkan ilmu untuk dirinya sendiri. Maka amalkanlah ilmu dengan berbagi sehingga apabila kebaikan tersebut dilaksanakan orang lain maka kita akan mendapat pahalanya.

Berikut adalah tiga kategori orang yang berilmu:

  1. Orang yang paham tentang Allah SWT dan berilmu tentang hukum-hukumNya.
  2. Orang yang paham tentang Allah SWT tapi tidak paham dengan hukum-hukumNya.
  3. Paham tentang hukum-hukum Allah SWT tapi tidak mengenalNya.

Sementara itu, penuntut ilmu juga terdiri dari tiga macam:

  1. Orang yang belajar tapi tidak ada perubahan dalam dirinya.
  2. Orang yang belajar tapi ia berubah menjadi lebih bertakwa, namun Sunnah masih diabaikan dan makruh masih dijalankan.
  3. Orang yang belajar dan ia menjalankan semuanya lebih baik lagi.

Maka konon ada kutipan bahwa orang yang berilmu lebih ditakuti syaithan daripada 1,000 orang yang beribadah. Terlebih bila kita mencontoh seorang Umar bin Khattab ra. yang mulia ilmu dan keberaniannya sehingga syaithan-pun takut dan tidak ingin bersinggungan dengannya.

Namun konsekuensi dari keinginan manusia untuk memperoleh ilmu mengacu pada Surah Al Ahzab ayat 72 dimana disebutkan bahwa alam semesta tidak ingin mengemban tanggung jawab dari ilmu, namun sebaliknya manusia menyanggupi untuk mewariskan risalah. Bagi alam, ini dikarenakan mereka tidak ingin pertanggungjawaban di akhirat nanti, namun manusia sombong dan merasa mampu.

Maka dari itu sebagai pertanggungjawabannya, menurut Imam Ahmad, kita harus berilmu agar menghilangkan kebodohan dalam dirinya. Selebihnya tentu agar kita dapat berbahagia di dunia dan akhirat.

Allah SWT menyebutkan golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk:

  1. Para nabi.
  2. Orang yang jujur. Jujur secara ucapan, perilaku, hingga isyarat tubuh.
  3. Orang yang syahid.
  4. Orang saleh.

Namun kebalikannya terdapat dua kelompok yang tersesat:

  1. Berilmu tapi tidak diamalkan, yaitu seperti kaum Yahudi.
  2. Beramal tanpa ilmu, yaitu seperti kaum Nasrani.

Sekarang begitu banyak umat Islam yang mengikuti perilaku umat-umat ini dan seperti sudah digambarkan Rasulullah SAW dalam hadis mengenai lubang biawak, sehingga kita banyak terjerumus dalam masalah.

Misalkan untuk kaum Yahudi yang mengetahui ilmu dari Allah tapi mereka memilih untuk tidak mengikutinya dan berbuat sebaliknya. Atau kebiasaan-kebiasaan orang Nasrani seperti perayaan ulang tahun, standing party (sehingga kita makan sambil berdiri), dan hal-hal lain tanpa ilmu yang jelas. Namun banyak orang Muslim yang cenderung tidak peduli dan sedikit demi sedikit mencontohi mereka.

Maka apabila kita mendapat kesulitan-kesulitan yang diakibatkan karena perilaku seperti ini maka kita harus mengeluh dulu kepada Allah dan jangan kepada manusia dahulu dan senantiasa menggali ilmu Islam agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentu tidak lupa, kita juga wajib untuk membagi ilmu itu tersebut dengan sekeliling kita, demi Allah dan demi kebahagiaan hidup dunia serta akhirat.

—–

TO BE CONTINUED

Untuk kajian-kajian berikutnya mengenai kitab ini akan segera disimpulkan dan ditayangkan di blog ini segera setelah Ustadz Farid Ahmad Okbah melangsungkan kembali halaqa-nya di waktu mendatang.

—–

Based on halaqa by Ustadz Farid Ahmad Okbah, with some additions

Summarized by: Rian Farisa – @pokamamil

Source: “Mukhtashar Minhajul Qashidin” by Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi