Heroes of Islam: Ibnu Battuta, World’s Greatest Explorer Who Reached Indonesia

Negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah. Kedatangannya mendapat sambutan hangat dari para ulama dan pejabat Samudera Pasai. Sultan Mahmud Malik Al-Zahir adalah seorang pemimpin yang sangat mengedepankan hukum Islam. Pribadinya sangat rendah hati. Ia berangkat ke masjid untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki. Selesai shalat, sultan dan rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memiliki ghirah (semangat) belajar yang tinggi untuk menuntut ilmu-ilmu Islam kepada ulama.

Samudera Pasai saat itu menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara. Pusat studi Islam yang dibangun di lingkungan kerajaan menjadi tempat diskusi antara ulama dan elit kerajaan.

Pedalaman Sumatra kala itu masih dihuni masyarakat non-Muslim. Ada beberapa perilaku masyarakat yang mengerikan, seperti bunuh diri massal yang dilakukan hamba ketika pemimpinnya mati.


Source: Islampos

Ibnu Battuta Bercerita Tentang Syiah – PART 2/2 (via Islampos)

Rihlah Ibnu Bathuthah 001 Ibnu Bathutah Bercerita Tentang Syiah (1)

Dalam Rihlah-nya, (Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar, Rihlah Ibnu Bathuthah, Pustaka Al-Kautsar, Cet I, Maret 2012, hal  220-223), Ibnu Bathuthah bercerita:

“….Pada suatu ketika, Raja Irak yang bernama Sultan Muhammad Khadabandah berjalan ditemani oleh seorang faqih yang bernama Jamaludin bin Muthahhar. Kala itu, raja masih belum memeluk Islam. Setelah ia masuk Islam, maka seluruh bangsa Tartar yang berada dalam kekuasaannya juga masuk Islam. Setelah itu, mereka semua bertambah rasa hormat kepada Faqih Jamaludin. Raja menganut Madzhab Rafidhah. Faqih mengajarkan madzhab ini kepada raja dan mengistimewakannya di atas madzhab lain. Ia menjelaskan sejarah para sahabat Nabi dan para khalifah. Ia menjelaskan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah menteri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ali adalah putra paman sekaligus menantu beliau. Faqih itu menjelaskan tema-tema semacam itu. Ia tahu, raja di hadapannya adalah pewaris kerajaan sang kakek dan kerabatnya. Dia tahu, raja baru saja memeluk Islam dan belum tahu banyak tentang sendi-sendi agama.

Raja menyeru agar rakyatnya mengikuti madzhab Rafidhah. Untuk itu, ia mengirim utusan kepada rakyat Irak, Persia, Azerbaijan, Isfahan, Kirman, dan Khurasan. Ia juga mengirim utusan ke berbagai negeri. Dan negeri pertama yang disinggahi utusan raja adalah Baghdad, Syiraz, dan Isfahan. Penduduk Baghdad menolak kedatangan penduduk Bab Al-Azj. Penduduk Baghdad menganut madzhab Ahlussunnah, mayoritas adalah pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. “Kami tidak mau melaksanakan perintah raja.”

Pada hari Jum’at, mereka datang ke masjid dengan membawa senjata, sementara di sana telah datang utusan raja. Saat khatib naik ke atas mimbar, 12.000 orang bersenjata mengelilingi khatib. Mereka adalah penjaga kota Baghdad. Mereka bersumpah akan membunuh khatib dan utusan raja, jika khutbah disampaikan dengan cara yang berbeda dari biasanya, dengan menambah atau mengurangi. Setelah itu, mereka akan menyerahkan diri.

Raja memerintahkan agar nama Abu Bakar, Umar, Utsman dan para sahabat lainnya tidak disebutkan dalam khutbah-khutbah. Yang boleh disebutkan hanyalah nama Ali dan para sahabat pendukungnya seperti Ammar bin Yasir. Karena takut dengan ancaman penduduk Baghdad, khatib menyampaikan khutbah dengan cara yang biasa dilakukan di masjid itu. Penduduk Syiraz dan Isfahan meniru apa yang dilakukan penduduk Baghdad.

Para  utusan raja melaporkan kenyataan ini kepada raja. Mendengar laporan itu, raja memerintahkan agar para qadhi di tiga kota itu dibawa menghadap. Syaikh Majdudin adalah qadhi yang pertama menghadap raja. Ketika itu, raja sedang duduk di sebuah tempat bernama Qarabagh, sebuah tempat berlibur raja di musim panas. Saat Syaikh datang, para pengawal raja melepaskan anjing-anjing besar berkalung rantai besi. Anjing-anjing itu disiapkan untuk menerkam manusia yang sengaja dijadikan mangsa. Jika mangsa datang, anjing-anjing itu dilepaskan, dan orang itu melarikan diri ke sana ke mari. Setelah berhasil menangkap mangsanya, anjing-anjing itu mencabik-cabik badannya dan melahapnya dengan rakus.

Anjing-anjing itu dilepas di hadapan Syaikh Majdudin. Mereka mengerlingkan mata dan menampakkan taring-taringnya di hadapan Syaikh. Namun, anjing-anjing itu tidak menyerang Syaikh. Peristiwa ini didengar oleh raja. Ia keluar istana, berjalan tanpa alas kaki. Ia bersimpuh di hadapan Syaikh dan mencium kedua kakinya. Ia mencium tangan Syaikh, lalu melepas pakaian kebesarannya. Menurut tradisi, apa yang dia lakukan itu menjadi bukti akan kemuliaan orang yang berada di hadapannya. Jika raja melepaskan pakaian kebesaran di hadapan seseorang, maka itu berarti bahwa raja memuliakan orang itu, termasuk anak-cucu dan seluruh keturunannya. Penghormatan itu terus dilakukan selama pakaian kebesaran raja, atau bagian tertentu dari pakaian itu, masih ada. Bagian paling istimewa dari pakaian kebesaran raja adalah celana.

Raja menggandeng tangan Syaikh Majdudin, mengantarnya masuk ke dalam istana. Ia memerintah seluruh istrinya untuk memberikan hormat kepada Syaikh dan bertabarruk dengannya. Raja kemudian meninggalkan madzhab Rafidhah. Ia menulis rakyat untuk menganut madzhab Ahlussunnah wal Jamaah.

Raja memberikan hadiah yang banyak kepada Syaikh Majdudin, mengantarnya kembali ke Syiraz dengan penuh penghormatan.”

—–

Written by: Mahardy, LPPI Makassar

Source: http://www.islampos.com/ibnu-bathuthah-bercerita-tentang-syiah-2-habis-45655/

Ibnu Battuta Bercerita Tentang Syiah – PART 1/2 (via Islampos)

Rihlah Ibnu Bathuthah 001 Ibnu Bathutah Bercerita Tentang Syiah (1)

Ibnu Bathuthah adalah seorang pengelana Muslim terkenal tidak hanya di dunia Islam tapi juga dikenal oleh dunia barat. Ia lahir di Maroko, tahun 1304 M atau 703 H. Namanya tidak kalah dengan pengelana dunia seperti Marco Polo, Columbus, Laksamana Cheng Ho, dan lainnya.

Dalam bukunya, Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar (Hadiah Berharga dari Pengalaman Menyaksikan Negeri-Negeri Asing dan Menjalani Perjalanan-Perjalanan Ajaib), atau yang dikenal juga dengan Rihlah Ibnu Bathuthah. Ibnu Bathuthah banyak menceritakan perjalanannya ke berbagai negeri, tidak terkecuali Nusantara (Indonesia).

Serta di antaranya juga, pengelana asal Maghrib yang bernama asli Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawati At-Thanji ini menceritakan tentang kondisi orang-orang syi’ah pada masa itu.

Berikut kisah yang kami kutip dalam rihlah-nya itu.

Ibnu Bathutha bercerita,

“……Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju kota Ma’arrah, sebuah kota yang dinisbatkan padanya seorang penyair yang bernama Abul Ala Al-Ma’arri. Selain itu, masih banyak lagi nama-nama penyair yang dinisbatkan pada kota ini.

Ma’arrah adalah sebuah kota besar nan indah. Pohon tin dan kacang tanah paling banyak tumbuh di sana. Dari sana, hasilnya dipasarkan di Mesir dan Syam. Sejauh satu farsakh (1 farsakh kurang lebih setara dengan 8 km) dari sana, terdapat makam Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Di makam tersebut tidak dijumpai zawiyah (bangunan rumah bagi kaum sufi, khusus didirikan untuk berdzikir, shalat, dan membaca al-Qur’an) dan tidak pula ada pembantu yang merawat makam. Mengapa demikian? Karena di sana terdapat kelompok orang Rafidhah yang membenci sepuluh sahabat Nabi. Mereka membenci setiap orang yang bernama Umar, terutama Umar bin Abdul Aziz, karena ia menghormati Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Aku berjalan menuju kota Sarmin, sebuah kota indah yang penuh dengan kebun penghasil buah zaitun. Dari buah zaitun ini dibuat sabun, dan kemudian dijual di Mesir dan Syam. Selain itu, dari bahan yang sama dibuat sabun tangan yang harum, warnanya merah nyaris kuning. Di kota Sarmin juga dibuat baju katun yang indah.

Penduduk kota ini adalah para pencela yang membenci sepuluh sahabat Nabi (yang dijamin surga). Anehnya, mereka tidak mengucapkan kata “asyarah” (artinya: sepuluh) di pasar saat menawarkan barang dagangannya. Jika hitungan angka mencapai bilangan “asyarah”,maka mereka akan mengatakan tis’ah wa waahid (Sembilan tambah satu).

Pada suatu saat, penguasa Turki datang ke tempat itu dan mendengar para makelar mengucapkan tis’ah wa waahid. Penguasa Turki lantas memukul kepala sang makelar dengan dabus (sejenis penjepit pakaian). Lalu ia berkata, “Ganti kata asyarah dengan dabus!”

Di sana terdapat masjid yang berkubah. Mereka tidak menggenapkan jumlah kubah menjadi sepuluh karena berpegang pada keyakinan yang buruk itu.”
(Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar, Rihlah Ibnu Bathuthah, Pustaka Al-Kautsar, Cet I, Maret 2012, hal 70-71).

Demikian penggalan kisah tentang kebencian orang-orang Syi’ah Rafidhah terhadap para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dikisahkan langsung oleh Ibnu Bathuthah. Karena alerginya terhadap para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar, mereka enggan untuk menyebut nama keduanya. Bahkan untuk menyebut angka “asyarah” (sepuluh) pun mereka tidak mau. Padahal, di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga itu terdapat nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu yang mereka kultuskan dan anggap sebagai imam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubair masuk surga, Abdurrahman bin Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga, Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.”
(HR. Tirmidzi).

Apakah mereka juga berlepas diri dari Ali bin Abi Thalib, “imam” mereka?

—–

Edited by: @pokamamil

Written by: Mahardy, LPPI Makassar

Source: http://www.islampos.com/ibnu-bathutah-bercerita-tentang-syiah-1-45341

Ibnu Battuta, Sang Pengembara Dunia yang Belum Tertandingi

Ibnu Battuta adalah tokoh Muslim asal Maroko yang lahir pada tahun 1304 M dan pengembara ke berbagai penjuru dunia. Hingga kini beliau dianggap sebagai pelopor penjelajah pada abad 14 yang belum tertandingi. Sekalipun ada Marco Polo yang juga melakukan penjelajahan dunia, namun masih tidak sebanding dengan Ibnu Battuta terutama dalam kuantitas perjalanan. Karenanya beliau dijuluki dengan sebutan “Pengembara Muslim”. Ibnu Battuta konon memiliki hobi mengunjungi berbagai negeri untuk saling takruf (mengenal) manusia dengan berbagai latar belakang dan budaya.

Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Battuta mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14. Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Battuta datang dari dirinya sendiri. Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak bisa tahu kebenaran dari cerita tersebut.

Lahir di Tangier, Maroko, Ibnu Battuta pada usia sekitar dua puluh tahun telah berangkat berziarah ke Mekkah untuk naik haji. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer di sepanjang dunia Muslim (dengan luas sekitar 44 negara modern saat ini).

Perjalanannya dimulai ke Mekkah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk yang relatif aman. Jalur yang umum digunakan menuju Mekkah ada tiga dan Ibnu Battuta memilih jalur yang paling jarang ditempuh pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di ‘Aydhad. Namun ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.

Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua yaitu menuju ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan/ anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama bahwasanya ia hanya akan sampai di Mekkah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut seperti Hebron, Jerusalem, dan Betlehem. Penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan jalur para peziarah.

Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Rasulullah SAW. Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekkah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji dan berbagai perenungan, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah negeri Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran).

Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi Najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat yakni Ali bin Abu Thalib. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah lalu ke Isfahan, yang hanya beberapa dekade sebelumnya dihancurkan oleh Timurleng. Kemudian ke Shiraz dan Baghdad (kota yang belum lama diserang besar-besaran oleh Hulagu Khan).

Di sana ia bertemu Abu Sa’id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Battuta untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju negeri Cina Mongol yang merupakan pusat perdagangan penting.

Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekkah untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Hindia. Akan tetapi sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.

Menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombassa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekkah lagi dan setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di Kesultanan Delhi. Lalu ia beranjak ke Anatolia yang tengah di bawah kendali Turki Saljuk dan berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.

Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa yang berlokasi di Semenanjung Crimea dan memasuki negeri Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

Beliau mengakhiri catatan perjalanannya dengan sebuah kalimat, ”Akhirnya aku sampai juga di kota Fez (Maroko).” Di situ beliau menuliskan hasil pengembaraannya dan meninggal dunia di Maroko pada pada tahun 1377 M.

—–

Source: http://www.islampos.com/sang-pengembara-dunia-yang-belum-tertandingi-110760/

Infographic: Ibnu Battuta, The Greatest Muslim Explorer (via @abiprahasto)

Ibnu Battuta's journeys compared with Marco Polo

—–

By: Abi Prahasto

Source: http://abiprahasto.wordpress.com/2013/11/01/ibnu-battuta/