Ta’awudzlah dari Kejahilan Ade (via Islampos)

Bila Diego Armando Maradona begitu menyisakan jengkel bagi pendukung kesebelasan Inggris, Ade Armando lakukan hal serupa bagi sebagian kalangan Muslim di tanah air. Pengajar senior komunikasi dari Universitas Indonesia acap membuat kata-kata yang kurang mencerminkan kualitas pribadi beradab. Mulai dari taruhan memotong leher hingga ide melantunkan Quran dengan pelbagai gaya lokal dan musik kontemporer.

Alih-alih menjernihkan, lelaki ini memilih melanjutkan ‘pertempuran’ kata-kata dengan penentangnya. Kegigihan mendukung penguasa sekarang menambah jam terbang kontroversinya dalam melawan pihak pengkritiknya. Selama ini, hanya gerundelan dan cacian yang ditujukan pada dia. Hingga seorang warga jagat maya bertindak aktif mengadukan dia ke aparat kepolisian atas tudingan pencemaran agama.

Lagi-lagi, lelaki ini bergeming, tidak mau mengakui kesalahan, atau paling tidak memaparkan maksud kata-katanya yang secara komunikasi memang tidak bermutu untuk mencerahkan awam. “Allah kan bukan orang Arab,” jelas bagi seorang yang intelektual dan indahkan moral akan memilih diksi yang santun dan lugas. Kata-kata indah boleh saja, hanya jangan sampai tinggalkan salah sangka. Niat mengedukasi publik seyogianya tidak hadirkan makna bias. Maka, jangan salahkan bila sebagian Muslim—istilah dia—‘berpikiran sempit’ mengartikan harfiah kalimat tersebut.

Dalam bahasa sehari-hari, kalimat seperti itu hadirkan pragmatik kesejajaran. Ade kan bukan orang Arab. Sudah pasti subjek (Ade) merujuk pada orang. Mau bukti? Ganti saja menjadi: Ade kan bukan hewan Arab. Pas kah? Atau bagaimana bila subjeknya diganti menjadi: Macan kan bukan orang Arab? Tepat kah? Jadi, jangan salahkan permainan bahasa yang lebih dimengerti publik bahwa Ade Armando menyejajarkan atau menyamakan subjek dan objek.

Andai saja Ade mau bersikap bersahaja dengan menjelaskan bahwa maksud kicauannya itu: Allah kan bukan hanya untuk orang Arab, pastilah banyak Muslim yang setuju. Sayang, pascasomasi dan pelaporan, lelaki ini jumawa menyalahkan pelapornya dengan tudingan berlebihan. Sikap pelapor yang merujuk pada aturan disebut ‘berlebihan’, tapi Ade sendiri sering tidak berkaca apakah kata-katanya berlebihan atauah tidak; etis ataukah tidak; perlihatkan martabat diri atau sebaliknya.

Entah mengapa, lelaki ini belakangan menapaki popularitas dengan cara—kata pepatah Arab—mengencingi air zam-zam. Niat baik dan beberapa idenya kurang perlihatkan sebagai seorang pejabat di fakultas komunikasi kampus elit di negeri ini. Sebaliknya, radikal dan teror kata-kata yang justru mencuat sebagai nuansa yang hendak dibangun. Dia mungkin tidak merasa bertindak demikian, sehingga dengan besar kepala merasa orang lain yang menyimak artikulasi bahasanya untuk mengerti dan menerima jalan berpikirnya.

Saya tidak paham detail sejak kapan lelaki berdarah Minang ini berubah drastis menjadi penentang nilai-nilai yang galib diperjuangkan para islamis. Menyebut dia masuk dalam barisan pendukung berat sekularisme dan pluralisme, tidak terlampau salah. Meski kadang masih ada jejak sebagai lelaki berdarah Minang yang peduli ada keislaman, rekam jejaknya kontras dibandingkan saat dia masih dikenal publik sebagai pemerhati media dan pejuang antipornografi. Teror yang diterimanya semasa memimpin Media Ramah Keluarga (Marka), sungguhlah layak dicatat sebagai kebaikan bagi negeri ini, tak terkecuali umat Islam.

Seorang kawan dari kampus yang sama dengan Ade menyebutkan, jebolan Florida State University ini dekat dengan kalangan aktivis mahasiswa Islam. Masa-masa dia berada di barisan redaktur Republika, semacam bulan madu kedekatannya dengan islamis. Hari ini, wajah dari orang yang sama berubah drastis. Tidak ada kabar kedekatan dengan para aktivis masjid. Tidak ada simpati pada perjuangan islamis, baik yang dengan jalan demokrasi ataupun penolaknya. Semuanya dipukul sebagai kalangan yang potensial berpikir sempit.

Keramahan dan eloknya bahasa Minang kini pudar berganti dengan wajah Ibu Kota yang penuh sangar dan beringasnya bermain kata-kata umpatan. Sekurangnya dalam sindiran dan kenyinyiran yang berbungkus menjaga kebaikan menurut versinya. Padahal, mudah sebenarnya menemukan kesemerawutan berlogika dan kesesatan berpikirnya. Apatah lagi bila mengukur worldview-nya dalam berislam.

Keyakinannya bahwa “Tentu Allah senang kalau ayat-ayatNya dibaca dg gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop…” atau di lain waktu soal azan dengan bertemankan permainan gitar; semua ini jelas lahir dari insan yang jahil, fakir ilmu, dan dhuafa kerangka berpikir. Dia dengan percaya diri melangkahi peran dan jejak ulama mumpuni yang tidak pernah utarakan ‘fatwa’ serupa. Dia bahkan melewati peran Baginda Nabi yang tebersit pun tidak membukakan ruang ijtihad selaksa itu. Kata-kata itu hadir bukan lagi dari lisan yang lemah, melainkan juga pemilik mulut yang patut dikasihani karena bangga dalam kekeliruan.

Menghadapi manusia lemah tapi luar biasa merasa hebat lagi pongah, tidak ada yang bisa dilakukan oleh kita selain menjelaskan dengan santun tapi sarat ilmu. Percuma menggunjing atau melawannya sekadar dengan kata-kata cacian. Suatu ketika di status FB, dia lontarkan kata-kata soal dipersulitnya izin mendirikan tempat beribadah bagi kalangan minoritas. Lagi-lagi, kata-katanya provokatif, sayang punya kelemahan mendasar: data. Berbekal dari data yang pernah diunggah Dr Adian Husaini soal melonjaknya pertumbuhan gereja dan statisnya penambahan masjid, saya kirimkan ke inbox Ade. Harapannya, dia mau melihat sisi lain dan dari sumber berbeda. Sebagai seorang yang disanjung kalangannya sebagai pemilik “idealisme dalam jurnalistik”, adanya data dari sumber berbeda tentu perlu dihargai.

Saya tidak tahu apakah dia berkenan menelaahnya atau justru membuangna begitu saja. Yang terang, dia masih peraya diri dengan ‘data’ yang berupa asumsi dan mitos kawan-kawannya yang acap memprotes SKB Tiga Menteri.

Saya akhirnya sadar, Ade bukan pencari kebenaran, tapi pendogma keyakinan di kepalanya. Karena itu, belakangan dia sering santai nyeleneh. Seolah menantikan cacian sesama saudara seagama demi naikkan citra diri selaku pengusung dan pembela sejati keyakinan dan ideologinya. Orang semacam ini memang propagandis yang menguntungkan rezim sekarang. Untuk apa? Agar kita fokus pada hal-hal yang dilontarkannya lalu sibuk mendebatinya secara terus-menerus. Saat yang sama, kita abai kalau ada akrobat penguasa idolanya yang tengah berbuat nista melahirkan kebijakan merugikan rakyat.

Karena itu, ketika sosok semacam ini begitu militan membela kesilapannya tanpa malu, selalulah amati apa yang tengah diperbuat atau direncanakan penguasa sekarang. Orang-orang macam ini, sayangnya, sadar menikmati dirinya menjadi alat rezim bahkan kepentingan asing untuk menjajah perekonomian, setidaknya, negeri kita. Maka, jika Ade Armando berujar kata-kata baiknya kita abaikan seraya ucapkan ta’awudz.

—–

Written by: Yusuf Maulana

Link: https://www.islampos.com/taawudzlah-dari-kejahilan-ade-185317/

Khalifah Abdul Hamid II & Teater Drama ‘Muhammad & Kemunafikan’ (via Islampos)

Di antara tanda kecintaan kita kepada Rasulullah adalah sikap marah, benci dan sikap pembelaan ketika beliau direndahkan. Seperti misalnya ketika beliau dianggap kejam, penipu, hidung belang, pedofilia, keranjingan seks, dan menyetujui pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, sebagaimana yang dipropagandakan dalam film Innocence Muslims, yang dibuat oleh seorang pria keturunan Israel-Amerika, Sam Bacile, dan didukung oleh pastor Terry Jones, pastur yang 2 tahun lalu merencanakan pembakaran al Qur’an.

Sungguh sangat aneh sikap yang melarang umat Islam marah, padahal jika orang tuanya saja yang dilecehkan sedemikian rupa tentunya mereka akan marah. Terlebih lagi marah karena Allah juga merupakan tanda kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Nabi saw:

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.”
(HR. Abu Dawud dari Abu Umamah dengan sanad sahih)

Jika kita bisa marah kepada siapa pun yang menghina bapak-ibu kita, sudah sepatutnya kita lebih marah terhadap penghina Rasulullah saw yang lebih kita cintai.

Dalam pandangan Islam, sanksi yang dijatuhkan kepada penghina dan penghujat Rasulullah saw dan juga Nabi yang lain adalah hukuman mati. Jika ia muslim maka statusnya adalah murtad. Imam al-Khattabiy berkata, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat mengenai wajibnya hukuman mati bagi seorang Muslim yang menghina Rasulullah SAW. ” 

Adapun jika ia non muslim ahludz dzimmah maka ada perbedaan pendapat yang menurut Imam as Syafi’iy, mereka wajib dibunuh, dan dzimmahnya dicabut. Abu Hanifah menyatakan tidak wajib dibunuh (hukumannya diserahkan kepada kepala negara/ta’zir), sedangkan Imam Malik berpendapat, mereka wajib dibunuh kecuali jika mau masuk Islam.

Pelecehan dan penghinaan terhadap Rasulullah saw dan hal yang disucikan Islam ini bukan yang pertama kalinya, dulu ada Salman Rushdi dengan buku The Satanic Verses atau Tatyana Suskin (26) dengan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad.

Pertanyaan penting yang patut diajukan, mengapa penistaan, penghinaan, dan pelecehan terus dilakukan kaum kafir Barat sekalipun selalu menuai protes dan kecaman dari dunia Islam? Penyebabnya, karena mereka belum pernah mendapatkan ‘pelajaran’ yang setimpal dengan perbuatannya. Tidak ada lagi khilafah yang memerankan dirinya sebagai penjaga Islam.

Saat Khilafah memudar sekalipun, Khalifah Abdul Hamid II masih bisa menghentikan rencana pementasan teater yang menghina Rasulullah dan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy, bukan di dalam negeri, melainkan diluar negeri, yakni di Perancis dan Inggris.

Ketika itu Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk“Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Begitu mengetahui berita pementasan itu, Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Perancis melalui dutanya di Paris supaya memberhentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika ia meneruskan pementasan itu.

Perancis dengan serta merta membatalkannya. Kumpulan teater itu datang ke Inggris untuk merancang melakukan pementasan yang serupa dan sekali lagi Abdul Hamid memberi perintah kepada Inggris. Inggris menolak perintah itu dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan drama itu adalah bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Perwakilan Uthmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis.

Setelah mendengar jawapan itu, Abdul Hamid sekali lagi memberi perintah:

Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).”

Inggris dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan.

Di sinilah pentingnya sebuah negara yang menerapkan, mendakwahkan dan menjaga Islam. Tidak heran jika hujjatul Islam, Imam Al Ghazali dalam Al Iqtishad fil I’tiqad menuliskan:

Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar. Agama adalah asasnya dan kekuasaan adalah penjaganya, apa saja yang tidak memiliki asas maka akan hilang dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hancur.

—–

Edited by: @pokamamil

Taken from: http://www.islampos.com/khalifah-abdul-hamid-ii-teater-drama-muhammad-kemunafikan-16647/

Quote #16

Sedikit merangkum kajian yang dipimpin oleh Ustadz Ihsan Tandjung mengenai “Badai Fitnah (Dajjal”, berikut adalah beberapa poin penting yang tengah mengeliling kehidupan kaum Muslimin di seluruh dunia. Pada setiap aspeknya, sang Ustadz menjelaskan sub-poin dimana terjadi pelencengan serta kejahatan yang tengah mengintai kaum Muslim agar keIslamannya pudar bahkan kandas.

Berikut adalah daftarnya:

  1. Ideologi
    Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
  2. Politik
    Machiavellism, Demokrasi
  3. Ekonomi
    Kapitalisme, Riba (Al Baqarah 279 – 280)
  4. Sosial
    Individualisme, hubungan atas dasar keuntungan semata
  5. Budaya/Hiburan
    Hedonisme dan menjadikan Nafsu sebagai Ilah
  6. Militer
    Nasionalisme dan prinsip bahwa benar atau salah yang penting adalah untuk “negara”
  7. Hukum
    Diciptakannya man-made laws dan kembalinya manusia ke zaman Jahiliyyah karena mengingkari hukum Allah
  8. Pendidikan
    Materialisme, hubbud-dunya (cinta dunia) dengan terlalu mengedepankan ilmu dunia saja
  9. Olahraga
    Judi (maisir)
  10. Keluarga
    Liberalisasi wanita/feminisme (dengan membunuh konsep ibu sebagai Madrasatul Ula) dan kaitannya dengan hubungan seks bebas serta menyebabkan Tholaq (perceraian)
  11. Informasi
    Prinsip bahwa “bad News is good news”
  12. Ibadah Ritual
    Mengaku Islam tapi menerapkan berbagai bid’ah
  13. Medis-Farmasi
    Obat-obatan kimiawi dan tidak diketahui kadar atau kehalalannya sehingga mengesampingkan konsep thibbun nabawi
  14. Makanan-Pertanian-Peternakan
    Rekayasa genetika

—–

Excerpt from halaqa with Ustadz Ihsan Tandjung

The Dangers of Democracy Series: Demokrasi Sudah Gagal Sejak Zaman Yunani Kuno (via Islampos)

Baru-baru ini seorang aktifis dakwah melahirkan perasaan geram. Facebook miliknya dipenuhi dengan kritik pedas terhadap demokrasi. Ternyata kegusaran aktivis dakwah tersebut tidak kesaorangan. Puluhan komentar susul menyusul menyatakan hal serupa, hingga salah seorang melayangkan pertanyaan dari mana konsep tata negara demokrasi ini muncul.
Sejarah demokrasi awal: Sebuah ide yang menuai kritikan

Demokrasi, rasanya sudah tidak lagi asing terdengar di telinga kita. Hampir di setiap waktu pada abad 20, demokrasi menjadi sistem paling laris di pasaran dunia. Banyak negara mengadopsi demokrasi sebagai teras dalam konstitusi kenegaraan mereka, termasuk negara mayoritas muslim seperti Indonesia dan Malaysia.

Demokrasi awalnya dinilai sebagai sistem terbaik karena menekankan sebuah sistem yang mementingkan kesejahteraan rakyat sekaligus membuka pintu kepada aspirasi rakyat. Kononnya ia mengacu kepada pemerintahan yang dibentuk dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat pada zaman Yunani kuno. Bagi pengusung idea demokrasi, hal ini memungkinkan kerana secara etimologi demokrasi berasal dari dua kata demos, yakni rakyat dan kratia yang berarti pemerintahan.

Namun berkaca dengan kondisi negara-negara dunia yang menerapkan demokrasi, ternyata sistem ini justru mengalami kegagalan waktu demi waktu. Aspirasi rakyat yang tadinya menjadi “tuhan” kini hanya menjadi marhein dan juga mangsa kepada para penghisap darah.

Di Amerika, misalnya, pendapat ini dikeluarkan oleh Gallup dan menunjukkan bahwa sokongan rakyat AS terhadap Kongres menurun dari 23 persen menjadi 18 persen pada Februari lalu. Dukungan publik terhadap Kongres dilaporkan telah menurun lebih rendah daripada 20 persen untuk pertama kalinya sejak Tea Party dan GOP (Grand Old Party, atau sebutan untuk Partai Republik), tahun ini. Bahkan golongan berkecuali (bebas) yang mendukungi Kongres turut turun dari 23 persen pada Februari menjadi 15 persen saja.

Walaupun demikian, para pengusung demokrasi tetap mengeliat (menafikan) bahwasanya menurut mereka keburukan sistem demokrasi selama ini disebabkan perilaku individu dan bukan sistemya. Mungkin karena mereka lupa bahwa demokrasi memiliki basis (asas) kapitalisme dan liberalisme sehingga yang dimaksud dengan “rakyat” telah menjadi kabur artiannya.

0501 dahl in Demokrasi Sudah Gagal Sejak Zaman Yunani Kuno

Robert Dahl

Ahli Tata Negara, Robert Dahl, seperti dikutip oleh Riza Sihbudi dalam bukunya, “Menyandera Timur Tengah” (2005), menyatakan bahwa sebenarnya kata “rakyat” dalam demokrasi Yunani berbeda sekali dengan apa yang kita pahami pada masa ini. Dalam konteks Yunani Kuno pada masa itu, kata “rakyat “ tidak lebih sekumpulan manusia dari sebuah “polis” atau kota kecil. Hal tersebut membawa konsekuensi logis bahwa apa yang disebut sebagai demokrasi dalam pengertian aslinya sudah berbeda dengan demokrasi dalam pemahaman kontemporer.

Dalam pandangan Yunani Kuno (awal abad ke 6 sampai ke 3 SM), demokrasi harus memenuhi enam syarat:

  1. Warga Negara harus cukup serasi dalam kepentingan mereka
  2. Mereka harus padu dan homogen
  3. Jumlah warga Negara harus kecil (bahkan kurang dari 40.000)
  4. Warga Negara harus dapat berkumpul dan secara langsung memutuskan legislasi
  5. Warga Negara juga berpartisipasi aktif dalam pemerintah
  6. Negara kota sepenuhnya otonomi.

Kesemuanya itu jelas tidak dipenuhi oleh demokrasi modern baik secara praktis maupun teori. Lanjut Dahl lagi, kewarganegaran harus ekslusif dan bukan inklusif seperti yang terdapat dalam demokrasi modern. Demokrasi model ini saja sudah pun mendapat kritikan tajam oleh Aristotle (348-322 SM) dengan menyebut demokrasi sebagai Mobocracy atau the rule of the mob.

Ia menggambarkan demokrasi sebagai sebuah sistem yang bodoh, karena sebagai pemerintahan yang dilakukan oleh massa, demokrasi tidak  akan lebih baik dari anarkisme dan sangat sulit dibayangkan adanya suatu kelompok yang besar (mayoritas) memimpin kelompok yang jumlahnya lebih kecil (minoritas).

Menurut Aristotle bila negara dipegang oleh banyak orang (lewat perwakilan legislatif) akan berbuah petaka. Dalam bukunya ‘Politics’, Aristotle menyebut Demokrasi sebagai bentuk negara yang buruk (bad state). Menurutnya negara Demokrasi yang memiliki sistem pemerintahan oleh orang banyak; dimana satu sama lain memiliki perbedaan (atau pertentangan) kepentingan, perbedaan latar belakang sosial ekonomi, dan perbedaan tingkat pendidikan.

Pemerintahan yang dilakukan oleh sekelompok minoritas di dewan perwakilan yang mewakili kelompok mayoritas penduduk itu akan mudah berubah menjadi pemerintahan anarkis, menjadi tapak pertempuran konflik kepentingan berbagai kelompok sosial dan pertarungan elit kekuasaan.

Perbedaan-perbedaan tersebut menjadi penghalang kepada terwujudnya pemerintahan yang baik. Konsensus sulit dicapai dan konflik mudah terjadi. Apa kata Aristotle ternyata mirip dengan kondisi di Indonesia saat ini, dimana kepentingan para penguasa dan telah menjadi tayangan yang kita saksikan akhir-akhir ini.

Kebebasan yang menghancurkan

Selain Aristotle, Plato (472-347 SM) juga melontarkan kritik tajam. Andai ia masih hidup, rasanya pasti ia ingin mematahkan buku The End of History and The Last Man (1999) karangan Francis Fukuyama yang mengatakan Demokrasi Liberal adalah pemenangan dari benturan peradaban manusia modern.

Plato justru menekankan bahwa sesungguhnya liberalisasi itulah yang menjadi akar Demokrasi, sekaligus puncak bencana mengapa negara demokrasi akan gagal selama-lamanya.

Dalam pemerintahan demokratis, kepentingan rakyat diperhatikan sedemikian rupa dan kebebasan pun dijamin oleh pemerintah. Semua warga negara adalah orang-orang yang bebas. Kemerdekaan dan kebebasan merupakan prinsip yang paling utama.
Lebih lanjut Plato mengatakan:
...they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like. (Republic, page: 11)

…mereka adalah orang-orang yang merdeka, negara yang penuh dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, dan orang-orang di dalamnya boleh melakukan apa yang disukainya.

Dan orang-orang semakin mengejar kemerdekaan dan kebebasan yang tidak terbatas. Akibatnya ialah bencana bagi negara dan juga bagi para warganya sendiri. Setiap orang ingin mengatur diri sendiri dan berbuat sesuka hatinya sehingga timbullah berbagai kerusuhan yang disebabkan oleh berbagai tindakan kekerasan (violence), ketidaktertiban atau kekacauan (anarchy), perlakuan tidak bermoral (licentiousness) serta ketidaksopanan (immodesty).

Menurut Plato, pada masa itu citra negara benar-benar telah rusak. Ia pun menyaksikan betapa negara menjadi rusak dan buruk akibat penguasa yang korup karena Demokrasi terlalu mendewa-dewakan (kebebasan) individu yang berlebihan sehingga membawa bencana bagi negara, yakni anarki (kebrutalan), dari sini muncul tirani (kezaliman).

Banyak orang (kala itu) melakuan hal yang tidak senonoh, anak-anak kehilangan rasa hormat terhadap orang tua, murid merendahkan guru, serta hancurnya moralitas.

Oleh karena itu, dalam era perkembangan Yunani, intrik para raja dan rakyat banyak sekali terjadi. Hak-hak rakyat tercampakkan. Korupsi merajalela dan demokrasi tidak mampu memberikan keamanan bagi rakyatnya. Jika di Yunani saja demokrasi telah gagal, kenapa banyak Umat Muslim mengikutinya?

Pembuatan undang-undang dalam negara Islam yang menjadikan kitabullah sebagai sandaran, tidak semata-mata pada tujuan kesejahteraan, tapi juga sebagian dari tauhid dalam menjalankan perintah Allah SWT.

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain membuat kebohongan.”
(Al-An’aam: 116)

“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati majoriti mereka orang-orang yang fasik.”
(Al-A’raaf: 102)

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, tetapi kebanyakan dari kalian membenci kebenaran itu.”
(Az-Zukhruf: 78)

Jadikanlah tulisan ini semacam renungan untuk para pencinta demokrasi dan semoga dapat dijadikan pedoman yang berguna dalam memahami kedudukan sebenarnya “demokrasi” tersebut. Dari sini umat Islam haruslah berikhtiar meninggalkan sistem ini jika benar-benar mengharapkan keadilan kembali semula atas muka bumi.
—–
Edited by @pokamamil