Ulama dan Bangkit-Runtuhnya Peradaban (via Inpas Online)

hb-salim2

Pada tahun 512 H/1118 M, di negeri Maghrib (Maroko) terjadi pemberontakan yang mengakibatkan kekalahan orang Murabithun dua kali berturut-turut di wilayah Qotonda dan Caleia. Kaum Murabithun pada masa itu menjadi penguasa Maroko yang menjadi kerajaan penyangga Andalusia. Dari dari dua kekalahan beruntun ini, mengakibatkan lemahnya Andalusia yang selanjutnya berujung pada keruntuhannya (Raghib al-Sirjani, Qishotu al-Andalusia min al-Fath ila al-Suquth. Edisi Indonesia Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, hal. 610).

Bagaimana bisa negeri Andalusia yang telah menancapkan kejayaan peradaban emasnya selama kurang lebih 800 tahun tiba-tiba jatuh?

Banyak kisah kegemilangan kaum Muslimin yang berhasil diukir di wilayah benua Eropa Barat itu. Ketika Andalusia — sekarang terletak di Spanyol dan Portugal — di bawah kekuasaan Islam, tinta emas peradaban berhasil ditancapkan dan menjadi rujukan ilmu pengetahuan bangsa-bangsa Eropa. Cukup banyak ilmuan Muslim yang lahir di sini dan menjadi acuan ilmuan Barat. Para sarjana Muslim dan sejarawan menganalisa bahwa keruntuhan Andalusia tidak datang secara tiba-tiba. Proses kejatuhannya bahkan berlangsung selama 200 tahun. Artinya, selama masa 200 tahun akhir, Andalusia mengalami krisis hebat.

Raghib al-Sirjani menggambarkan krisis di berbagai wilayah Andalusia. Pada waktu itu di wilayah Maroko khamar diperjual-belikan, dikonsumsi, bahkan diproduksi di dalam negeri secara terang-terangan tanpa ada seorang pun ulama yang melarang. Beberapa pejabat semena-mena berlaku dzalim kepada rakyat, tanpa ada satu pun ulama yang menasihati. Tarian-tarian dengan mempertontonkan aurat wanita secara terbuka dipamerkan. Juga, lagi-lagi tidak ada ulama yang mencegahnya.

Merupakan suatu keanehan dalam sejarah Andalusia, di abad ke-6 H itu wanita keluar tanpa hijab, sedangkan para ulama sedang sibuk-sibuknya memperbincangkan masalah-masalah furu’ dan remeh dalam agama. Fenomena ini dijelaskan ole al-Sirjani, merupakan baru terjadi dalam sejarah berdiri Andalusia.

Kencenderungan para ulama’ di zaman itu yang terlalu memusatkan fokusnya kepada masalah yang bersifat furu’ daripada membahas problema prinsipil yang dihadapi umat akhirnya berakhir dengan acuhnya para ahli ilmu terhadap kemunkaran dan cinta dunia.

Kesibukan pada hal yang remeh ini berlanjut dengan fanatisme buta terhadap madzhab. Abdul Wahid al-Marakasyi pernah menceritakan kerusakan ahli ilmu pada paruh akhir Andalusia: “…yang muncul pada waktu itu ialah keharusan membahas masalah furu’ dan sikap suka menganggap kafir orang yang menekuni ilmu kalam. Ulama-ulama ahli fikih yang dekat dengan Amir menghujat ilmu kalam, tidak menyukai ulama-ulamanya, meninggalkan sama sekali, karena dianggap sebagai bid’ah atau mengada-ada dalam agama. Akibatnya, muncul sikap antipati terhadap ilmu kalam dan ulama-ulamanya” (Abdul Wahid al-Marakasyi,Al-Mu’jab, hal. 236).

Fanatisme buta tersebut melahirkan hujatan yang keras terhadap ulama-ulama. Salah satu yang menjadi sasaran cercaan adalah Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali. Ali bin Yusuf bin Tasyfin, pernah membakar kitab-kitab karya imam al-Ghazali karena dianggap bertententangan dengan Islam.

Padahal, kita tahu Hujjatul Islam merupakan tokoh kebangkitan Ahlussunnah. Peran utama al-Ghazali adalah dalam mengokohkan kembali pilar penting peradaban dan masyarakatnya, yaitu ilmu pengetahuan serta otoritas yang mengembannya (ulama). Dalam kapasitasnya sebagai ulama, ia berusaha mengungkapkan kebenaran dan membersihkannya dari kesalahan, serta menunjukkan mana jalan yang perlu ditempuh dan mana yang perlu dihindari. Imam al-Suyuthi menulis, al-Ghazali adalah mujaddid (pembaharu) abad ke-lima.

Kemaksiatan dan berbagai bentuk kemungkaran lainnya hanya merupakan buah, bukan faktor utama robohnya peradaban Islam. Akan tetapi, faktor yang mendasarnya adalah kerusakan ulama yang diawali oleh kerusakan ilmu. Ketika suatu negeri atau daerah absen dari ulama atau terdapat ulama tetapi tidak menjalankan fungsi amar ma’ruf nahi munkar, maka bisa dikhawatirkan robohnya tatanan masyarakat Islam.

Ibnu Khaldun berpendapat, bahwa runtuhnya peradaban dikarenakan penyakit materialisme dan menurunnya pengembangan ilmu pengetahuan. Ibnu Khaldun mengatakan: “Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi hewan” (Ibnu Khaldun,Mukaddimah, hal. 289).

Hamid Fahmy Zarkasyi menyatakan bahwa dalam pandangan Ibnu Khaldun kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Hal itu bisa dilihat ketika Maroko dan Andalusia jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan baik (Hamid Fahmy Zarkasyi, Peradaban Islam Makna dan Strategi Pembangunannya, hal. 39).

Dalam sejarah, ternyata minimnya kekuatan militer dan jumlah manusia tidak menjadi faktor keruntuhan peradaban. Bangsa yang memiliki kekuatan militer tetapi lemah dalam ilmu pengetahuan akan dikalahkan oleh bangsa yang berilmu pengetahuan meski lemah kekuatan militernya.

Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan: “Telah berlaku beberapa kali dalam sejarah, bagaimana sesuatu bangsa yang kuat tenaga manusianya tetapi tidak ditunjang oleh budaya ilmu yang baik, akan menganut dan tunduk terhadap peradaban yang ditaklukannya.” (Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu, hal. 12).

Contoh ketika bangsa Mongol di bawah pimpinan Genghis Khan dan Kublai Khan menaklukkan Cina, ternyata dalam perjalanan waktu bangsa Mongol ‘dicinakan’ oleh rakyat Cina. Karena bangsa Cina berpengetahuan sedangkan bangsa Mongol hanya mengandalkan kekuatan manusia.

Dalam sejarah peradaban Islam, semua bermuara kepada ulama. Imam al-Ghazali mengatakan: “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan, dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan.” (Ihya’ Ulumuddin II hal. 381).

Jadi, peradaban masyarakat akan rusak, jika meninggalkan nahi munkar, rusak peradabannya, menjadi peradaban badlawah (primitif), tidak beretika dan beradab. Lebih ironis lagi jika diucapkan oleh seorang yang disebut ulama. Maka kata imam al-Ghazali kerusakan masyarakat dikarenakan rusaknya ulama.

Kronologi kisah jatuhnya Andalusia patutlah menjadi pelajaran. Ketika ahli agama rusak, meninggalkan tugasnya amar ma’ruf nahi munkar, maka peradaban manusia rusak. Pemimpin agama yang hubbuddunya (cinta duniawi) merupakan pemimpin yang akan merobohkan tatanan umat. Sehingga menurut imam al-Ghazali, seorang “ulama” yang fasik lebih berbahaya daripada seorang awam yang maksiat. “Ulama” yang fasik disebut dengan “ulama jahat” (ulama suu’). Cirinya, menjual ilmu dengan harta. Parameternya bukan ilmu, tapi duniawi – kedudukan (jaah), harta (maal), dan kebanggaan diri. Jika ada kemungkaran, dibiarkan – demi kepentingan sesaat.

Ulama Suu’ (ulama jahat) justru menjerumuskan negara pada kerusakan, mencerai-beraikan masyarakat, dan bangsa. Terkait dengan ini, nasihat KH. Hasyim Asy’ari cukup menarik: “Wahai para ulama yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perkara furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghina al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib” (al-Tibyan, hal. 33).

—–

Written by: Ahmad Kholili Hasib

Original link: http://inpasonline.com/new/ulama-dan-bangkit-runtuhnya-peradaban/

Studi Komparatif-Membongkar Sejarah, Andalusia Riwayatmu Kini – PART 4 (FINAL)

PART 1 : https://islamichroniclers.wordpress.com/2015/04/07/andalusia-riwayatmu-kini-1/
PART 2: https://islamichroniclers.wordpress.com/2015/04/14/andalusia-riwayatmu-kini-2/
PART 3: https://islamichroniclers.wordpress.com/2015/04/21/andalusia-riwayatmu-kini-3/

—–

Cerita singkat ini hanyalah contoh kecil dari lembaran sejarah manusia yang bersifat Normatif. APALAH ARTI SEBUAH SEJARAH? Kalimat itu ingin saya tanyakan ketika harus disandarkan dengan maraknya fenomena keagamaan di era global ini.

Bangkitnya pergerakan Islam di Asia Tenggara, kemenangan tipis kelompok Islam di Turki atas kubu sekuler dan militer, revolusi negara-negara Arab yang diawali di Tunisia tahun 2010 dan semakin menjamurnya pemeluk Islam di benua Eropa, Australia, Amerika, hingga Asia Timur pasca tragedi World Trade Center 2001. Semua telah terjadi walaupun propaganda barat dan media massa juga tidak kalah bangkit memberitakan berita negatif seputar dunia Islam; bahkan menggambarkan Islam di mata dunia sebagai agama yang ekstrim, sebagai contoh terbaru adalah kehadiran kontroversial dari ISIS di tahun 2013 yang mengatasnamakan pembela agama. Para ulama dunia sepakat kehadiran ISIS tidak mewakili umat Islam.

Ini semua menjadi akumulasi yang tidak terbantahkan perihal meluasnya cahaya Islam yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun dengan izin Allah Ta’ala, sama halnya seperti meluasnya cahaya Islam ke daratan Andalusia ratusan tahun silam, sesuai dengan beberapa firmannya:

  1. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At-Taubah: 32)
  2. Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim (7). Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (Ash Shaff: 7-8)
  3. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Israa’: 81)
  4. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7)
  5. Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shali (Al-Anbiyaa’: 105)
  6. Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik [kalimat tauhid] dan amal yang shalih dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (Faathir: 10).
  7. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (Al Maa’idah: 56)

Fakta menarik studi komparatif

Jaminan Allah ta’ala terhadap orang-orang yang menjaga budi pekerti secara utuh disertai keimanan bukan hanya berupa kejayaan dan kemenangan seperti pada ayat-ayat di atas, melainkan masih ada hadiah dan lebih dari sekadar jaminan yaitu janji-janji khusus untuk hamba-hambanya sebagai bukti kasih sayang Allah ta’ala.

Janji-janji ini telah di bingkai secara khusus di dalam surat:

1. An Nuur ayat 55 juz 18:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Beberapa janji Allah ta’ala sangat jelas, di antaranya:

  1. Menjadi pemegang kepentingan. (Stakeholders)
  2. Dikuatkan agamanya (Strong in faith)
  3. Kenyamanan hidup (Comfort in life)

Untuk mendapatkan tiga point di atas ternyata tidak terlalu sulit, hanya butuh usaha lebih, Bahkan Allah ta’ala hanya memberikan satu syarat saja setelah iman dan amal shalih yaitu: Menyembah Allah ta’ala tanpa menyekutukannya dengan hal apapun.

2. An Nakhl ayat 97 juz 14:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’’

Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki atau perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Paling tidak ada dua point penting yang bisa kita ambil dalam ayat di atas, di antaranya:

  1. Ganjaran di dunia: Berupa kehidupan yang layak
  2. Ganjaran di akhirat: Kompensasi dari Allah ta’ala berupa pahala berlipat

Pelajaran berharga yang bisa didapat, di antaranya:

  1. Diskursus para elit acap kali menjadi faktor mendasar kehancuran suatu negri.
  2. Kecerobahan intelektual, kemiskinan, perpecahan adalah tanda awal dari runtuhnya suatu kejayaan.
  3. Keimanan disertai amal shalih akumulasi dari kebahagian dunia dan akhirat.
  4. Islam yang murni mesti berlandaskan pada dasar Ilmu Pengetahuan yang valid, dan Ilmu Pengetahuan yang sejati selalu mengantarkan kepada kebenaran Islam yang universal.
  5. Ajaran Islam senantiasa menawarkan pesan kedamaian dan kasih sayang bagi semesta.
  6. Sejatinya cahaya kebenaran tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun, karena Allah ta’ala yang senantiasa menyempurnakannya.
  7. Manuver para ambisius yang bersifat tidak sehat, menghalalkan segala cara, memaksakan persepsi, cenderung berapriori terhadap lawan politiknya dapat mematikan hati nurani dan akal sehat.
  8. Kejayaan dan kemunduran suatu kaum terjadi atas izin Allah ta’ala.
  9. Seyogyanya seorang muslim sejati tidak pernah bosan dalam mencari kebenaran, apalagi dalam menyiarkannya. Karena ruang, jarak, dan dinding waktu bisa ditembus dengan kesungguhan niat yang semata-mata karena Allah ta’ala seperti masuknya cahaya kebenaran ke daratan Andalusia melalui para pejuang Islam terdahulu.
  10. Niat adalah hal terpenting dalam melakukan suatu aksi, karena dari situlah berawal segala sesuatunya.
  11. Kasih sayang Allah ta’ala terhadap orang-orang yang beriman dan beramal soleh begitu besar.
  12. Persatuan adalah hal terpenting dalam suatu Negara.
  13. Sifat fanatik yang berlebihan dan tidak mendasar adalah hal yang terbantahkan, karena akan menimbulkan perbedaan yang tidak normal.
  14. Hal tersulit daripada memperoleh kemenangan adalah mempertahankannya.
  15. Keteladan para pejuang Islam terdahulu bisa menjadi teladan dalam menghadapi segala tantangan di era globalisasi dan motivator terbaik bagi umat Islam.
  16. Sejatinya hidup adalah perjuangan tanpa henti. Karena dengan itulah hidup akan terasa lebih bermakna.
  17. Konsisten adalah karakter dari orang-orang yang berjiwa besar.
  18. Tiada keberhasilan yang berarti kecuali didapat setelah bersusah payah.
  19. Allah ta’ala sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan amal baik kita walaupun baru tersimpan di dalam hati dan terlintas di pikiran seorang muslim/muslimah.
  20. Sebagai penutup catatan ringan ini, segala sesuatunya Allah ta’ala ciptakan dengan keseimbangan:
    1. Suatu kejayaan atau kemenangan terjadi seiring dengan kesabaran dan kesungguhan.
    2. Sebuah jalan keluar terjadi seiring dengan cobaan, rintangan, gesekan, halangan, dan benda-benda mati lainnya.
    3. Kemudahan terjadi seiring dengan kesulitan.

(Catatan ringan ini didedikasikan untuk seluruh umat Islam dan para pengagum akan sejarah Islam di Andalusia)

—–

Link: http://www.dakwatuna.com/2014/10/30/59198/studi-komparatif-membongkar-sejarah-andalusia-riwayatmu-kini/

Written by: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA

Bibliography: 

  1. Al Qur’an Al Karim
  2. Sirah Nabawiyah
  3. Data kolektif via online (Tarikh El Andalus)
  4. Diktat Universitas Al-Azhar, Cairo (Milal Wa Nihal-Tarikh Bani Israil)
  5. Analisa personal.

Studi Komparatif-Membongkar Sejarah, Andalusia Riwayatmu Kini – PART 2

PART 1 : https://islamichroniclers.wordpress.com/2015/04/07/andalusia-riwayatmu-kini-1/

—–

Pada 755 Masehi, Abdurrahman, keturunan Keluarga Dinasti Umayyah (661-750 Masehi) yang lolos dari kejaran penguasa Abbasiyah, tiba di Spanyol. Perebutan kekuasaan dan persaingan tidak sehat menjadi isu sensitif kala itu karena ulah para elit dalam memperebutkan kursi panas dan puncak jabatan serta pembagian kavling kekuasaan.

Abdurrahman Ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordoba, dan menjadi penguasa tunggal di Andalusia dengan gelar Amir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan “untuk mencari kematian” (martyrdom). Namun Dinasti Umayyah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan itu.

Abdurrahman kemudian menjadikan Andalusia sebagai pusat ilmu terpenting di daratan Eropa. Pada 912, tersiar kabar bahwa khalifah Abbasiyah di Baghdad tewas dibunuh, Ia lalu menggunakan gelar khalifah dan mendirikan Universitas Cordoba dengan perpustakaan berisi ratusan ribu buku. Dalam catatan ini jika kita komparatifkan antara dinasti Umayyah dan Abbasiyyah, dinasti yang berusia paling panjang dalam sejarah Islam adalah Abbasiyyah (750-1258 Masehi).

Hal demikian dilanjutkan oleh Khalifah Hakam. Pusat-pusat studi dibanjiri ribuan pelajar, Islam maupun Kristen, dari berbagai wilayah. Ladang-ladang pertanian Andalusia tumbuh dengan subur mengadopsi kebun-kebun dari wilayah Islam lainnya. Sistem hidraulik untuk pengairan dikenalkan. Andalusia inilah yang mendorong era pencerahan atau renaissance yang berkembang di Italia dan Negara-negara di Eropa umumnya. Bahkan ilmu-ilmu modern pun bermunculan di era Andalusia ini seperti Matematika, Fisika, Astronomi, dan disiplin ilmu lainnya.

Islam dan Ilmu Pengetahuan pada hakekatnya adalah ibarat dua muka dari sebuah koin. Islam yang murni mesti berlandaskan pada dasar Ilmu Pengetahuan yang valid, dan Ilmu Pengetahuan yang sejati selalu mengantarkan kepada kebenaran Islam yang universal. Bahkan tokoh barat Dr. Maurice Bucaille menambahkan perihal kitab suci Umat Islam di dalam La Bible, le Coran et la Science (1976): Al Qur’an sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, namun bahwa Alkitab atau Bibel tidak konsisten dan penurunannya bisa diragukan.

Setelah Andalusia ada di puncak keemasan, munculah fase kemunduran dan kekacauan. Diskursus para elit menjadi salah satu faktor utama dan terjadi setelah Hakam wafat, setelah itu kendali dipegang Manshur Billah seorang ambisius yang menghabisi teman maupun lawan-lawannya dengan menghalalkan segala cara. Kebencian masyarakat, baik Islam maupun Kristen mencuat. Situasi tak terkendalikan lagi setelah Manshur Billah wafat. Pada 1013, Dewan Menteri menghapuskan jabatan khalifah. Akhrinya Andalusia terpecah-pecah menjadi sekitar 30 negara kota.

Dua kekuatan dari negeri seribu benteng Maroko sempat menyatukan kembali seluruh wilayah itu. Pertama adalah Dinasti Murabithun (1086-1143) yang berpusat di Marrakech yaitu tempat yang dijuluki si Kota Merah karena bangunan dan rumah penduduknya banyak mengenakan cat berwarna merah.

Pasukan Murabithun datang untuk membantu kalangan Islam melawan Kerajaan Castile. Mereka memutuskan untuk menguasai Andalusia setelah melihat Islam terpecah-belah. Dinasti Muwahiddun, yang menggantikan kekuasaan Murabithun di Afrika Utara, kemudian juga melanjutkan kepemimpinan Islam di Andalusia (1146-1235). Di masa ini, hidup seorang pemikir besar yang banyak menafsirkan naskah Aristoteles yaitu Ibnu Rushdi (filsafat). Ada juga ilmuan-ilmuan lainnya yang mempunyai pengaruh besar terhadap peradaban manusia seperti: al-Qurthubi, Qadhi Iyadl (Tafsir), Ibnu Abdil Barr (Hadits), Ibnu Khaldun (ilmu sosial), Ibnu Arabi (Tasawuf), Sahnun, Ibnu Hazm (Fiqh), as-Shathibi (Maqashid), dan lain-lain.

Episode akhir sejarah Islam di Andalusia

Pada 1238 Cordoba jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada 1248 dan akhirnya seluruh Spanyol. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492). Kepemimpinan Islam masih berlangsung sampai Abu Abdullah. Kemudian dia meminta bantuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Abu Abdullah sempat naik tahta setelah ayahnya terbunuh. Namun Ferdinand dan Isabella kemudian menikah dan menyatukan kedua kerajaan. Mereka kemudian menggempur kekuatan Abu Abdullah untuk mengakhiri masa kepemimpinan Islam sama sekali di bawah kekuasaan raja dan ratu Katolik tersebut.

Sejak itulah, seluruh pemeluk Islam juga Yahudi, dikejar-kejar untuk dihabisi sama sekali atau berpindah agama. Mega proyek Imperium Kristus dengan hegemoninya terhadap pemeluk Islam itu dibawa oleh pasukan Spanyol yang beberapa tahun kemudian menjelajah hingga kawasan Asia Tenggara tepatnya di Filipina. Kesultanan Islam di Manila pun mereka bumi hanguskan hingga seluruh kerabat Sultan mereka perangi.

Alhasil memasuki abad ke-16, Tanah Andalusia yang selama delapan Abad dalam naungan Islam kemudian bersih sama sekali dari keberadaan Muslimin setelah ekspansi besar-besaran para penguasa barat dengan imperium Kristusnya merebut Andalusia dengan mengakhiri cerita pada Tragedi Granada, dimana Umat Islam ketika itu dihabisi dengan kejam tanpa belas kasihan.

Cemerlangnya cerita Andalusia sebenarnya bukan hal baru, termasuk perpecahan dan kemunduran pasca kejayaan. Berkaca ribuan tahun silam kepada Bani Israil yang bisa kita jadikan contoh relevan untuk dijadikan pelajaran berharga.

—–

TO BE CONTINUED

—–

Link: http://www.dakwatuna.com/2014/10/30/59198/studi-komparatif-membongkar-sejarah-andalusia-riwayatmu-kini/

Written by: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA

Studi Komparatif-Membongkar Sejarah, Andalusia Riwayatmu Kini – PART 1

Sebenarnya ini cerita klasik yang sering terlupakan seiring dengan perkembangan zaman. Andalusia atau Spanyol saat ini lebih dikenal dengan kompetisi La Liganya, belum lagi di tahun 2010 Spanyol berhasil menjadi Juara Dunia untuk kali pertama. Spontan kisah Andalusia bisa lebih terkikis, alhasil dunia bola lebih sering dibincangkan oleh publik ketimbang keberhasilan Islam mewarnai Spanyol ratusan tahun silam.

Rasa penasaran menggiring hati ini untuk menyelami peradaban dan sejarah Islam lebih dalam, berawal dari perjalanan saya pada tahun 2010 meninggalkan ibu pertiwi menuju negeri di benua Afrika yaitu Maroko untuk melanjutkan program Master pada Studi Islam sambil mengikuti kilas balik sejarah.

Walaupun selat menjadi pemisah di antara keduanya, dari kota Tangier di Utara Maroko terlihat dengan jelas nuansa Andalusia yang terpisah sekitar 14 KM, kendati dipisahkan oleh jarak bukan menjadi penghalang untuk saya me-recover sejarah dan peradaban Islam di Andalusia yang kini menjadi warisan bersama umat Islam terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan Afrika Utara meliputi Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya dan Mauritania.

Jika kita bicara soal peradaban, jauh sebelum Andalusia, sebenarnya sudah ada yang mengisi lembaran sejarah di muka bumi. Berawal dari sejarah Peradaban Mesopotamia: 6000 SM – 1100 SM, Peradaban Mesir: 4000 SM – 343 M, Peradaban Yunani: 750 SM – 146 SM, Peradaban Romawi: 753 SM – 1453 M, kemudian Peradaban Islam: 622 M – 1924 M. Itulah rangkaian singkat dari masa-masa peradaban.

Sejarah tidak banyak mencatat perihal keakuratan fase-fase sebelum peradaban Islam, karena belum adanya sistem sanad sebagai salah satu metode menjaga keaslian sejarah agar manusia tidak berkata sesukanya. Bahkan sebelum Peradaban Islam, terjadilah masa kegelapan (The Dark Age) yang berlangsung hingga ratusan tahun sampai akhirnya diutus suri tauladan untuk menyempurnakan Akhlaq dan menjadi revolusi besar akan peradaban manusia menuju masyarakat madani (Civil Society) di bawah komando Rasulullah SAW.

Setelah itu ajaran Islam sebagai ideologi yang lurus mulai berkembang ke berbagai penjuru, di antaranya: negara-negara Arab, teluk, daratan Afrika Utara, Andalusia, dan belahan dunia lainnya. Islam menyentuh dunia termasuk Andalusia dengan bahasa perubahan yang bermakna yaitu memanusiakan manusia dengan risalahnya yang jelas berupa ajaran Tauhid dan nilai-nilai luhur budi pekerti. Di masa-masa inilah Islam pernah mengukir prestasi di daratan Eropa terhitung dari tahun 711-1492 M.

Sambil mengkaji artikel singkat ini, sejenak mari kita bayangkan fakta sejarah 13 abad silam. Bacalah secara perlahan dan di akhir tulisan kita bisa sama-sama mengambil pelajaran untuk dibandingkan dengan fakta di abad ke-21, sambil merenungkan sejenak cerita dari pejuang Islam Thariq bin Ziyad yang dengan menggeloranya beliau membakar semangat pasukan Islam. Kurang lebih sebanyak 7.000 prajurit dipimpinnya, mereka berasal dari suku Barbar (suku asli penduduk Maroko/Afrika Utara) dan Arab. Mereka telah selamat dan tiba di dataran Andalusia. Mereka telah mengarungi selat yang memisahkan tanah Maroko di Afrika Utara dengan Eropa itu. Tanpa ragu sedikit pun Thariq memerintahkan untuk membakar kapal-kapalnya. Pilihannya jelas: terus maju untuk kejayaan Islam atau mati terhormat.

Pada cerita ini ada hal yang menarik yaitu soal pembakaran perahu yang diperintahkah oleh Thariq, disini terdapat perbedaan pendapat dikalangan sejarawan. Pada cerita lain dikisahkan atau ditulis secara umum, Thariq bin Ziyad tidak mungkin membakar perahu-perahu itu, dengan berbagai alasan:

  1. Umat Muslim dilarang untuk merusak barang yang masih bagus dan berguna
  2. Thariq tidak mungkin merusak barang yang bukan miliknya. Karena perahu-perahu tersebut adalah milik tuan-nya (Musa). Apalagi pada perahu-perahu itu juga ada sumbangan dari pihak Andalusia yang tertekan dan minta bantuan.

Adapun untuk kebenaran sejarah lebih lanjut kita butuh pembahasan lebih dalam dan intensif perihal keakuratan cerita dari sejarah Islam di Andalusia ratusan tahun silam.

Peristiwa di tahun 711 Masehi itu mengawali masa-masa Islam di Andalusia. Pasukan Thariq sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki disana. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik dan sukses dalam mengemban amanatnya. Maka tak heran di Spanyol kini ada daerah bernama Tarifa sebagai salah satu bukti peninggalan peradaban Islam yang diambil dari seorang komando bernama Tharif bin Malik.

Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid dari Bani Umayah tanpa intervensi sedikitpun dari Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad ketika itu. Hal ini yang akan menjadikan prestasi tersendiri bagi dinasti Umayah dengan menguasai Andalusia.

Thariq pun mencatat sukses seperti pendahulunya Tharif. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah dengan membawa risalah keIslaman tanpa paksaan untuk berpindah agama. Sejatinya tujuan mereka berperang bukanlah untuk memaksakan penduduk Andalusia memeluk Islam, akan tetapi melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan Imperium Barat. Jika kita komparasikan maka sama halnya seperti perang antara pasukan Islam dengan pasukan Romawi yang menjadi adikuasa di zaman Rasulullah SAW.

Setelah itu Thariq maju untuk merebut kota-kota seperti Granada, Cordoba dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa.

Akhrinya Thariq sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gibraltar hingga sekarang. Musa bahkan ikut menyebrang untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia berhasil merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan.

—–

TO BE CONTINUED

—–

Link: http://www.dakwatuna.com/2014/10/30/59198/studi-komparatif-membongkar-sejarah-andalusia-riwayatmu-kini/

Written by: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA

Video: The Muslim Discovery of America

Watch as Dr. Yasir Qadhi explains how the Muslims who were actually contributed so much for Christopher Columbus “discovery” of America and the coincidental links between the fall of Al-Andalus and the discovery of the New World in 1492.

Aside from that, Dr. Yasir Qadhi also encourages the Muslims in America, wa bil khusus, to be proud of their long ancestry line since hundreds of years ago when they first came to this continent, to not shy away as most bigots ask why should they be even live in America, and most importantly – at how they should regard each Muslim as brother and sister. One true identity, one Ummah!

—–

Narrated by: Dr. Yasir Qadhi

Produced by: Yasir Qadhi