Antara Salman Rusdhie dan Ahok (via INSISTS)

Tahun 1988, dunia Islam digegerkan oleh seorang bernama Salman Rushdie.  Kisahnya berawal ketika pada 26 November 1988, Viking Penguin menerbitkan novel Salman Rushdie berjudul The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel ini segera memicu kemarahan umat Islam yang luar biasa di seluruh dunia. Memang, isi Novel ini amat sangat biadab. Rushdie menulis tentang Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim, istri-istri Nabi (ummahatul mukminin) dan juga para sahabat Nabi dengan menggunakan kata-kata kotor yang sangat menjijikkan.

Dalam novel setebal 547 halaman ini, Nabi Muhammad saw, misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai ”Mahound, most pragmatic of Prophets.”  Digambarkan sebuah lokasi pelacuran bernama The Curtain, Hijab, yang dihuni pelacur-pelacur yang tidak lain adalah istri-istri Nabi Muhammad saw. Istri Nabi yang mulia,  Aisyah r.a.,  misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai ”pelacur berusia 15 tahun.” (The fifteen-year-old whore ’Ayesha’ was the most popular with the paying public, just as her namesake was with Mahound). (hal. 381).

Banyak penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang digunakan Rushdie dalam melecehkan dan menghina Nabi Muhammad saw dan istri-istri beliau yang tidak lain adalah ummahatul mukminin.  Maka, reaksi pun tidak terhindarkan. Salman Rushdie dinilai melecehkan Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran. Semua pihak yang terlibat dalam publikasinya yang sadar akan isi novel tersebut, harus dihukum mati. Pada 26 Februari 1989, Rabithah Alam Islami dalam sidangnya di Mekkah, yang dipimpin oleh ulama terkemuka Arab Saudi, Abd Aziz bin Baz, mengeluarkan pernyataan, bahwa Rushdie adalah orang murtad dan harus diadili secara in absentia  di satu negara Islam dengan hukum Islam.

Pertemuan Menlu Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 13-16 Maret 1989 di Riyadh juga menyebut novel Rushdie sebagai bentuk penyimpangan terhadap Kebebasan Berekspresi. Prof. Alaeddin Kharufa, pakar syariah dari Muhammad Ibn Saud University,  menulis sebuah buku khusus berjudul Hukm Islam fi Jaraim Salman Rushdie. Ia mengupas panjang lebar pandangan berbagai mazhab terhadap pelaku tindak pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. Menurut Prof. Kharufa, jika Rushdie menolak bertobat, maka setiap Muslim wajib menangkapnya selama dia masih hidup.

Prof. Mohammad Hashim Kamali, dalam bukunya  Freedom of Expression in Islam, (Selangor: Ilmiah Publishers, 1998), menggambarkan cara Rushdie menggambarkan istri-istri Rasulullah saw sebagai “simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.”  (Cara penggambaran Rushdie tentang istri-istri Nabi sangat memalukan dan jauh di bawah standar nilai-nilai yang beradab).  Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan al-Quran, tulis Hashim Kamali,  “are not only blasphemous but also flippant.”  (Tindakan Salman Rushdie itu bukan hanya penghinaan, tetapi juga kurang ajar).

Setelah protes merebak di berbagai belahan dunia, Salman Rushdie akhirnya meminta maaf kepada umat Islam.  Katanya, “ As author of  ‘The Satanic Verses,’ I recognize that Muslims in many parts of the world are genuinely distressed by the publication of my novel…  I profoundly regret the distress that publication has occasioned to sincere followers of Islam.” (http://www.nytimes.com/books/99/04/18/specials/rushdie-regret.html).

Dalam ajaran Islam, pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw termasuk kategori perbuatan kriminal kelas berat. Syaikhul Islam Ibn Taymiyah menulis kitab khusus berjudul “as-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul” (Pedang yang Terhunus untuk Penghujat Rasulullah saw).  Tahun 2012,  sebuah lembaga menawarkan hadiah Rp 31,4 milyar, untuk siapa saja yang bisa membunuh Salman Rushdie.  (https://www.merdeka.com/dunia/harga-kepala-salman-rushdie-naik-menjadi-rp-314-miliar.html).

Salman Rushdie akhirnya menuai badai, karena mempermainkan ayat-ayat Allah dan melecehkan kehormatan Nabi Muhammad saw.  Bagaimana dengan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)?

*****

Pada 18 November 2014, Forum Ulama Muda Jakarta (FUMJ) yang dipimpin KH Fahmi Salim MA, mengeluarkan taushiyah (nasehat) kepada kaum muslim  Jakarta.  Isinya, mengungkap fakta tentang buruknya pemikiran dan perilaku Ahok. Karena itu, Ahok dinilai FUMJ tidak memenuhi syarat  sebagai Gubernur Jakarta, yaitu harus “bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

Sesuai dengan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta, Nomor: 07/Kpts/KPU-Prov-010/2011, bahwa bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta memiliki syarat-syarat antara lain: (1) Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) Setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pemerintah; (3) Sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari Tim Pemeriksa Kesehatan; (4) Mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya.

Penjelasan FUMJ tentang Ahok dua tahun lalu itu perlu kita renungkan, karena disampaikan dengan bijak dan penuh hikmah. Jika direnungkan, kasus Ahok dalam soal penyebutan “QS al-Maidah 51”, tak lepas dari sikap mempermainkan ayat-ayat Allah. Tindakan Ahok itu telah menyulut aksi demo jutaan umat Islam di seluruh penjuru Indonesia.  Jika ditelaah, kesembronoan Ahok dalam kasus “al-Maidah 51” itu sepertinya tak lepas dari pemikiran dan sikap-sikap Ahok sebelumnya dalam soal keagamaan.

Berikut ini fakta dan penjelasan FUMJ tentang buruknya gagasan dan perilaku Ahok tentang masalah keagamaan selama ini:

  1. Ahok mengajukan gagasan perlunya lokalisasi pelacuran. (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/02/12/19010091/Ahok.Saya.Setuju.Legalisasi.Lokalisasi.Prostitusi.tetapi.Kita.Munafik). Gagasan Ahok itu menunjukkan ia tidak memahami masalah dengan baik, dan tidak mengkajinya dengan mendalam, dari aspek keagamaan, sosial, budaya, dan kesehatan. Sementara selama ini sudah terbukti dampak buruk lokalisasi pelacuran terhadap masyarakat, sehingga Gubernur DKI Sutiyoso menutup lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak dan Walikota Surabaya Ibu Risma menutup lokalisasi Dolly. Sikap dan perilaku Ahok yang ceroboh dalam masalah yang sangat mendasar seperti ini sangat berbahaya jika dia memimpin DKI Jakarta. Itu  menunjukkan, Ahok tidak memenuhi syarat beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena mendukung lokalisasi pelacuran hanya dilihat dari kacamata ekonomi yang dibungkus seolah untuk mengontrol penyebaran virus HIV. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam yang dianut mayoritas warga DKI.
  2. Dalam menyampaikan gagasannya, Ahok juga menggunakan kata-kata yang tidak santun, menuduh orang lain munafik dan sebagainya. (lihat http://www.merdeka.com/jakarta/merasa-disebut-munafik-aktivis-muhammadiyah-polisikan-ahok.html.). Sikap dan perilaku yang kasar, terkesan angkuh, sombong dan menimbulkan kontroversi. Hal ini jika dibiarkan akan mengganggu ketentraman masyarakat beragama, khususnya umat Islam. Pada akhirnya akan berimbas mengganggu ketahanan nasional karena DKI Jakarta adalah barometer nasional Indonesia. Ucapan dan perilaku Ahok tersebut juga menunjukkan bahwa dia tidak memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat DKI Jakarta yang religius dan memiliki sensitivitas terhadap hal-hal keagamaan semacam ini.
  3. Ahok juga telah menjadikan agama sebagai bahan olok-olok. Itu disampaikan Ahok saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Rakerda I MUI DKI Jakarta 2014, di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (12/11/2014): “Bapak Ibu jangan merasa saya musuh Islam. Dari kecil saya sejak lahir, 93% di sekeliling saya ada adalah muslim. Keluarga saya banyak yang muslim. Kalau persoalan saya enggak dapat hidayah, ya tanya sama Allah.”(http://news.detik.com/read/2014/11/12/095150/2745866/10/silaturahmi-dengan-mui-ahok-ada-yang-membenturkan-saya-lawan-islam?n991104466) Kata-kata Ahok itu jelas-jelas telah menjadikan agama sebagai permainan, sebab ia melecehkan arti hidayah dengan berbangga diri dalam keadaan tidak mendapatkan hidayah, lalu meminta orang lain menanyakan hal itu kepada Tuhan. Seakan-akan Allah telah salah karena tidak memberi petunjuk kepadanya. Ini tidak etis disampaikan oleh orang yang mengaku beragama dan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
  4. Mengusahakan penghapusan kolom agama di KTP. Pernyataan Ahok tentang perlunya penghapusan kolom agama di KTP juga dinyatakan dengan sangat tegas dan kasar, bahkan cenderung melecehkan agama, khususnya agama Islam. Berita di Situs Kristen (http://reformata.com/news/view/7797/ahok-tak-perlu-kolom-agama-di-ktp), 20 Juni 2014, yang berjudul, “Ahok: Tak Perlu Kolom Agama Di KTP”, ia mengatakan: “Kenapa mesti ada kolom agama di KTP? Untuk apa? Apa gunanya saya tahu agama kamu? tanya Ahok.”  Selanjutnya, ditulis:

Indonesia mencantumkan kolom agama di KTP, kata dia, hanya karena pengaruh budaya Timur Tengah, yang penuh dengan sejarah penaklukan agama, sehingga menyebabkan memunculkan agama mayoritas dan minoritas.  Dalam konteks seperti ini identifikasi agama diperlukan.  Sama sekali berbeda dengan kondisi beragama di Indonesia. Menurut Ahok, Indonesia adalah negara berasas Pancasila dan UUD 1945. Agama mayoritas, Islam pun masuk ke Indonesia bukan melalui penaklukan agama.  Sehingga identifikasi agama, tidak dibutuhkan di sini.  Karena itu, kata dia, pelaksanaan ritual beragama di Indonesia seharusnya tergantung kepada individu masing-masing dan tidak dipengaruhi oleh pihak lain, apalagi negara.  Karena itu dia sangat mendukung calon presiden yang ingin menghapus kolom agama di KTP.”

Pernyataan Ahok tentang penghapusan kolom agama di KTP ini bukan masalah sederhana dan hanya dilemparkan dalam pernyataan yang tanpa pertimbangan yang matang. Padahal bagi umat Islam, identitas keagamaan di KTP sangat diperlukan dalam pernikahan, pengobatan, dalam pengurusan jenazah, dalam sumpah jabatan, masalah warisan dan masih banyak lagi. Ahok nampaknya tidak memahami agama mayoritas warganya yaitu Islam yang selalu melekatkan identitas agamanya, di mana saja dan untuk kepentingan apa saja. Sebab Islam bukan hanya agama privat saja, tetapi juga agama publik. Sesuai dengan pasal 29 UUD 1945, umat Islam berhak menjalankan ibadah baik secara privat maupun secara publik. Jika Ahok memaksa orang Islam agar beragama secara privat, maka dia sudah tidak toleran dengan penganut agama selain agamanya.

Untuk memperkuat pendapatnya, Ahok pun tak segan-segan melakukan kebohongan publik, dengan menyatakan, bahwa di Malaysia, kolom agama juga tidak disebutkan dalam KTP Malaysia. Padahal, pernyataan Ahok itu terbukti salah. Lihat http://dunia.news.viva.co.id/news/read/466596-ahok-salah–ktp-malaysia-masih-cantumkan-kolom-agama, juga http://www.bersamadakwah.com/2013/12/pembohongan-publik-ahok-sebut-ktp.html

Masalah keagamaan ini sudah diatur dalam UUD 1945 dan UU No 1/PNPS/1965, sehingga sebagai pemimpin wilayah, harusnya Ahok memahami hal itu, dan tidak memunculkan kontroversi yang sangat menyakitkan bagi umat Islam.  Apalagi, selama ini, secara umum, masyarakat Indonesia dan umat Islam juga tidak mengalami masalah dalam soal pencantuman kolom agama di KTP.

  1. Melarang pemotongan hewan qurban di sekolah dan melakukan kebohongan publik. Kasus pelarangan pemotongan hewan kurban di sekolah oleh Ahok jelas tertuang dalam Instruksi Gubernur DKI Jakarta nomor 67 Tahun 2014 pada point 4.a.1: “melarang kegiatan pemotongan hewan kurban dilokasi pendidikan dasar”. Tetapi, Ahok membantah dan bahkan berbohong dengan mengatakan, yang menandatangani instruksi itu adalah Jokowi bukan dirinya. Padahal, di situs resmi Pemprov DKI Jakarta, Insgub itu jelas ditandatangai oleh Ahok selaku Plt Gubernur DKI Jakarta pada 17 Juli 2014. Lihat http://beritapopuler.com/ahok-dan-kebohongan-berlapis-soal-larangan-potong-hewan-qurban/

Menelaah berbagai pemikiran, ucapan, dan perilaku Ahok tersebut, FUMJ kemudian menyimpulkan: “Pikiran-pikiran Ahok yang mengecilkan masalah agama dalam kehidupan, menunjukkan bahwa dia tidak memahami kondisi sosial-budaya masyarakat DKI Jakarta. Pemimpin seperti ini sangat berpotensi untuk menanamkan benih-benih perpecahan dan permusuhan di tengah masyarakat. Ini berarti Ahok tidak mengenal masyarakat yang dipimpinnya dan dapat dikatakan bahwa dia tidak memenuhi syarat menjadi gubernur sesuai dengan keputusan KPU Nomor: 07/Kpts/KPU-Prov-010/2011, yaitu mengenal masyarakatnya,” tulis FUMJ dalam Taushiyahnya.

Salah satu  kewajiban ulama adalah memberikan taushiyah kepada masyarakat.  Para ulama muda di Jakarta di bawah kepemimpinan KH Fahmi Salim MA, jauh-jauh hari telah mengingatkan masyarakat muslim Jakarta tentang pemikiran dan sikap Ahok.  Setelah melaksanakan tugasnya, ulama berserah diri kepada Allah SWT.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kasus  Salman Rushdie, Ahok, dan sebagainya. Jangan sekali-kali mempermainkan ayat-ayat Allah!  Apalagi, sampai memanipulasi makna ayat-ayat Allah untuk mendukung kekufuran dan kemusyrikan,  demi sejumput kekuasaan yang menggiurkan. (Depok, 7 November 2016).


Oleh: Dr. Adian Husaini (Pembina INSISTS)

Original link: https://insists.id/antara-salman-rusdhie-dan-ahok/

Advertisements

Bahaya Logika Finhashiyyah

Dahulu di zaman Nabi Muhammad ada seorang lelaki yang bernama Finhash ( فِنْحَاصٌ ). Orang ini adalah salah satu tokoh intelektual kaum Yahudi yang didengarkan ucapannya dan menjadi panutan di kalangannya.

Suatu hari, Abu Bakar menasehatinya agar masuk Islam, namun dengan kurang ajar dia menjawab dengan kata-kata yang ringkasnya kira-kira seperti ini:
“Hai Abu Bakar, Tuhanmu itu dalam Al-Qur’an itu ‘kan bilang mau pinjam uang kepada orang-orang beriman. Kalau dia pinjam uang, berarti dia miskin dong.”

Orang ini memaksudkan ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak?”

Ayat yang sebenarnya sangat jelas dalam cita rasa bahasa Arab dengan kualitas sastra tinggi bermakna anjuran berinfak dijalan Allah (ini bahasa majasi/metafor yang sudah biasa diulas sangat bagus oleh ulama-ulama tafsir) kemudian DIPUTAR BALIKKAN MAKNANYA dengan tujuan yang buruk.

Memutar balikkan kata-kata! Inilah sifat Finhash.

Kekurangajaran Finhash ini sampai diabadikan dalam Al-Qur’an:

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Aku akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Aku akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar”

Rupanya, kecenderungan menyimpang dalam dien seperti Finhash ini di zaman sekarang pelan-pelan banyak menginfeksi orang. Secara tidak sadar, mulai banyak yang terjangkiti logika finhashiyyah, dan celakanya yang terkena justru banyak kalangan yang dianggap kaum intelektual dan tokoh. Yang jadi korban selalu orang awam.

Contoh ungkapan memutar balikkan kata-kata:

  • “Tuhan tidak perlu dibela, karena Dia Maha Kuasa. Bukankah Dia Raja alam semesta?”
  • “Islam tidak perlu dibela, karena sudah mulia. Islam itu rusak karena pemeluknya”
  • “Nabi Muhammad tidak perlu dibela, beliau sudah mulia. Penghinaan tidak mengurangi keagungan beliau”
  • dan sebagainya

Sungguh, ungkapan di atas adalah pemutarbalikkan kata-kata, akrobat intelektual. Mirip seperti cara argumentasi “slengekan” ketika orang mengatakan:
“Istri orang, sebenarnya adalah istri kita juga, karena kita adalah orang”

Orang yang berpengetahuan akan mudah mengidentifikasi kebatilan ucapan tersebut, namun orang awam bisa jadi ada yang terfitnah.

Orang beriman membela Allah itu jangan dibayangkan bahwa yang dibela adalah lemah sehingga butuh perlindungan. Membela Allah adalah bahasa metafor, maknanya adalah tidak terima penghinaan terhadap Allah, dan itu adalah bukti cinta. Allah tidak menuntut kita melindungi-Nya, tetapi menuntut kita menyembah-Nya. Aksi terpenting penyembahan kepada-Nya adalah menjadikan puncak cinta hanya kepada-Nya. Adalah cinta palsu jika diam saja ketika yang dicintai dihinakan.

Membela Islam itu jangan dibayangkan Islam seperti makhluk hina yang perlu dilindungi. Membela Islam adalah bahasa metafor. Maknanya menjalankan perintah Allah sebagai bentuk ketaatan untuk meninggikan kalimat-Nya.

Membela Nabi Muhammad itu bukan karena dengan penghinaan maka keagungan beliau menjadi berkurang. Menjaga kehormatan Nabi Muhammad adalah tuntutan iman dan konsekuensi cinta kepada Allah. Dusta besar jika ada orang yang mengaku cinta Allah, tetapi tidak cinta kepada nabi Muhammad.

Bahasa majasi dalam Al-Qur’an itu banyak. Untuk memahaminya perlu bahasa Arab yang cukup, ilmu balaghoh, pengetahuan syair jahiliyyah, dan penjelasan ulama yang otoritatif.

Contoh ayat yang sering didengar:
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

Betapa rusaknya jika ayat ini dipahami bahwa Allah itu lemah sehingga perlu ditolong.Memutar balikkan kata-kata adalah sunnahnya kaum Yahudi. Itu sesuai Firman Allah dalam Al-Qur’an:
“mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya”

Maka waspada dengan Finhash-Finhash di zaman sekarang. Jika ada tokoh yang dikagumi, atau kaum intelek yang didengarkan ucapannya namun memiliki kecenderungan finhashiyyah, segera saja ditinggalkan. Gantilah panutan agar tidak salah jalan.

Wallahua’lam.


Source: Ust. Muafa Abu Haura – http://irtaqi.net/2016/11/07/finhashiyyah/ with minor edits

 

Akhirul Zaman: Solusi Menyelamatkan Diri Dan Keluarga Dari Fitnah Ad-Dajjal – PART 4

  1. Menghafal Sepuluh Ayat Awal Surah Al-Kahfi

Termasuk solusi lain yang diajarkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم agar ummat selamat menghadapi fitnah Ad-Dajjal ialah menghafalkan sepuluh ayat permulaan surah Al-Kahfi.

مَنْ حَفِظَ عشر آيَات من أول سُورَة الْكَهْف عصم من فتْنَة الدَّجَّال

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat awal dari surat Al-Kahfi, maka ia akan dijaga dari fitnah Ad-Dajjal.”
(HR Muslim – Shahih
)

Apa hikmah di balik menghafalkan kesepuluh ayat tersebut? Wallahu a’lam. Yang jelas, kalau kita tadabbur (pelajari) surah Al-Kahfi dan khususnya kisah para pemuda Kahfi penghuni gua, maka kita dapati bahwa kondisi masyarakat yang mereka hadapi memiliki kemiripan dengan kondisi masyarakat menjelang dan saat keluarnya fitnah Ad-Dajjal. Yaitu hadirnya pemimpin yang menyesatkan umat manusia dan rakyat kebanyakan yang rela mematuhinya. Para pemimpin tersebut telah dipatuhi kaumnya sedemikian rupa sehingga menempati posisi sebagai ilah-ilah selain Allah yang diagungkan bahkan disembah. Sehingga Allah mengabadikan ucapan sekaligus sikap para pemuda Kahfi terhadap kaum yang mereka hidup bersamanya:

هَؤُلاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia (Allah) sebagai ilah-ilah (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
(QS. Al-Kahfi: 15)

Dalam kondisi kemusyrikan yang merebak, maka Allah perintahkan para pemuda Kahfi melakukan uzlah (mengasingkan diri) dari kesyirikan kaumnya dengan masuk ke gua yang dirahmati Allah agar iman-tauhid mereka terpelihara bahkan bertambah. Perintah Allah tersebut diikuti do’a para pemuda Kahfi yang berbunyi:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
(QS Al-Kahfi 10)

  1. Tinggal Di Mekkah Atau Madinah

Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menjelaskan bahwa jika fitnah Ad-Dajjal keluar, maka dia akan masuk ke semua negeri untuk menyebar tipudayanya kecuali memasuki dua kota suci yaitu Mekkah dan Madinah. Para malaikat menjaga dan melindungi kedua kota itu dari masuknya Ad-Dajjal.

لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلَّا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Tidak ada suatu negeripun yang tidak akan dimasuki Ad-Dajjal kecuali Mekkah dan Madinah, karena tidak ada satu pintu masukpun dari pintu-pintu gerbangnya (kota Mekkah dan Madinah) kecuali ada para malaikat yang berbaris menjaganya.”
(HR Bukhari – Shahih)

Berarti di antara solusi ummat agar selamat menghadapi fitnah Ad-Dajjal adalah dengan menetap di Mekkah atau Madinah. Dua kota ini merupakan tempat paling terlindungi dari intervensi fitnah Ad-Dajjal.

Namun demikian, bukan soal menetap di Mekkah atau Madinah yang paling penting. Tetap perlu diingat bahwa kuatnya iman-tauhid seorang muslim-lah yang paling menjamin terlindunginya dia dari fitnah Ad-Dajjal.

Sebab Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم juga memperingatkan bahwa Ad-Dajjal ketika gagal memasuki kota Madinah dia (Ad-Dajjal) akan melakukan upaya menarik penduduk Madinah keluar untuk memenuhi panggilannya. Dan ternyata akan ada juga yang mau keluar meninggalkan Madinah demi memenuhi rayuan Ad-Dajjal. Mereka itulah kaum munafik dan kaum fasik dari penduduk Madinah. Itulah hari yang dijuluki Nabi صلى الله عليه و سلم sebagai yaumul-kholash (hari pemurnian) kota Madinah.

يوم الخلاص وما يوم الخلاص؟ يوم الخلاص وما يوم الخلاص؟ يوم خلاص وما يوم الخلاص؟ فقيل له وما يوم الخلاص؟ قال يجيء الدجال فيصعد أحدا فينظر المدينة فيقول لأصحابه: أترون هذا القصر الأبيض؟ هذا مسجد أحمد. ثم يأتي المدينة فيجد بكل نقب منها ملكا مصلتا فيأتي سبخة الجرف فيضرب رواقه ثم ترجف المدينة ثلاث رجفات فلا يبقى منافق ولا منافقة ولا فاسق ولا فاسقة إلا خرج إليه فذلك يوم الخلاص

“Hari pemurnian, apa itu hari pemurnian?” Dan ucapan seperti itu diulangi tiga kali oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Lalu ditanyakan kepada Nabi صلى الله عليه و سلم: “Apakah hari pemurnian itu?” Maka Nabi صلى الله عليه و سلم pun bersabda: “Ad-Dajjal akan muncul kemudian mendaki ke gunung Uhud. Dari situ dia menyaksikan kota Madinah. Lalu berkata kepada para pengikutnya: ‘Tidakkah kalian melihat istana putih itu?’ Itu masjid Ahmad (Muhammad/masjid Nabawy). Kemudian Ad-Dajjal mendatangi Madinah, namun mendapati di setiap jalan menuju kota ada malaikat penjaga yang menghunuskan pedangnya. Kemudian Ad-Dajjal mendatangi Sabkhah Al-Juruf (tanah tandus di lereng bukit), kemudian ia memukul serambi depannya. Kemudian kota Madinah bergetar tiga kali. Dengan itu tiada seorang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, dan tiada seorang fasik, baik laki-laki maupun perempuan, melainkan akan keluar kota (Madinah) untuk menemuinya (Ad-Dajjal) dan itulah yang disebut Yaumul Kholash (hari pemurnian).”
(HR Ahmad, Al-Hakim – Shahih)

Wallahu’alambishowaab.

 

—–

Link: http://bolehjadikiamatsudahdekat.com

Akhirul Zaman: Solusi Menyelamatkan Diri Dan Keluarga Dari Fitnah Ad-Dajjal – PART 3

Kiat-Kiat ‘Amaliyyah Dari Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, selain memastikan hadirnya iman-tauhid yang shiddiq dan istiqomah agar selamat menghadapi fitnah Ad-Dajjal, Nabi صلى الله عليه و سلم juga mengarahkan ummat dengan kiat-kiat yang bersifat ‘amaliyyah (aplikatif).

  1. Membaca Doa Di Akhir Sholat

Di akhir sholat hendaknya membaca doa memohon perlindungan Allah dari empat perkara yang salah satunya adalah dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Doa ini dibaca ketika duduk tasyahud atau tahiyyat akhir menjelang salam ke kanan dan ke kiri menutup sholat.

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Dari Abu Hurairah, dia berkata; “Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: ” Jika salah seorang di antara kalian bertasyahud, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dan berdoa “ALLAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA WAMIN ‘ADZAABIL QABRI WAMIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WAMIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAL (Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari (1) siksa jahannam dan (2) siksa kubur, dan (3) fitnah kehidupan dan kematian, serta (4) keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).”
(HR Muslim – Shahih)

  1. Menjauhi Ad-Dajjal

Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mengarahkan ummat agar menjauhi Ad-Dajjal ketika fitnah paling dahsyat itu sudah keluar di tengah umat manusia.

Bila fitnah Ad-Dajjal sudah keluar dan sedang melanglang buana menebar aneka tipu dayanya, maka hendaknya seorang mukmin tidak memelihara rasa ingin tahunya sehingga penasaran untuk mendekati Ad-Dajjal. Sebab Nabi صلى الله عليه و سلم mengkhawatirkan adanya seorang laki-laki yang benar-benar mendatangi Ad-Dajjal dan menyangka bahwa Ad-Dajjal adalah seorang yang baik, bahkan seorang mukmin, sehingga laki-laki itu mengikuti apa saja tipu daya yang ditampilkan Ad-Dajjal.

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Siapa yang mendengar (kedatangan) Dajjal hendaklah menjauhinya. Demi Allah, seorang laki-laki benar-benar akan mendatangi Ad-Dajjal dan mengira bahwa dia (Ad-Dajjal) adalah seorang mukmin, lalu ia akan mengikuti setiap syubhat yang ditebarkannya.”
(HR Abu Dawud – Shahih)

Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sampai menjelaskan bahwa di zaman Ad-Dajjal muncul kebanyakan dari pengikutnya adalah kaum wanita, sehingga seorang pria mengikat semua kaum wanita dari lingkungan keluarganya agar jangan sampai keluar sehingga menjadi pengikut Ad-Dajjal.

يَنْزِلُ الدَّجَّالُ فِي هَذِهِ السَّبَخَةِ بِمَرِّقَنَاةَ فَيَكُونُ أَكْثَرَ مَنْ يَخْرُجُ إِلَيْهِ النِّسَاءُ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَرْجِعُ إِلَى حَمِيمِهِ وَإِلَى أُمِّهِ وَابْنَتِهِ وَأُخْتِهِ وَعَمَّتِهِ فَيُوثِقُهَا رِبَاطًا مَخَافَةَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ

Dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Ad-Dajjal tinggal di tanah berair di Marriqonaah, maka kebanyakan pengikutnya itu dari kalangan kaum wanita, sehingga seorang pria pulang untuk  menemui isterinya, ibunya, anak perempuannya, saudara perempuannya dan bibinya. Kemudian dia  mengikat mereka kuat-kuat karena khawatir kalau-kalau wanita-wanita tersebut pergi mengikuti Ad-Dajjal.”
(HR Ahmad – Hasan)

—–

TO BE CONTINUED

—–

Link: http://bolehjadikiamatsudahdekat.com

Akhirul Zaman: Solusi Menyelamatkan Diri Dan Keluarga Dari Fitnah Ad-Dajjal – PART 2

Musuh utama da’wah tauhid para Nabi dan Rasul Allah ‘alaihimus-salaam adalah para thaghut di zaman dan wilayahnya masing-masing. Para thaghut itu berupa penguasa yang diajak untuk tunduk kepada aturan dan hukum Allah namun mereka berlaku sombong sehingga mengingkari ajakan da’wah tauhid para utusan Allah.

Nabiyullah Nuh ‘alaihis salam berhadapan dengan thaghut berupa pemuka kaumnya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berhadapan dengan thaghut berupa penguasa bernama Raja Namrud. Nabi Musa ‘alaihis salam berhadapan dengan thaghut fenomenal penguasa Mesir Fir’aun yang sampai berani mendeklarasikan dirinya sebagai Rabb, mirip seperti yang kelak akan dideklarasikan pula oleh Ad-Dajjal. Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam menghadapi thaghut berupa pemuka Quraisy seperti Abu Lahab dan Abu Jahal beserta kawan-kawannya.

Oleh karenanya, sebagai seorang muslim yang hidup di era penuh fitnah di akhir zaman menjelang keluarnya Ad-Dajjal, maka ber-tauhid dengan shiddiq dan istiqomah merupakan sebuah kewajiban. Dan keharusan menjadi muwahhid (ahli tauhid) yang shiddiq dan istiqomah harus dibentuk semenjak sebelum Ad-Dajjal keluar. Sebab Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam menjamin bahwa barangsiapa yang dapat selamat menghadapi rangkaian fitnah sebelum keluarnya fitnah Ad-Dajjal, maka ia akan selamat pula menghadapi fitnah Ad-Dajjal sesudahnya. Demikian pula sebaliknya, barangsiapa yang gagal menghadapi rangkaian fitnah sebelum Ad-Dajjal, niscaya dia akan gagal menghadapi fitnah Ad-Dajjal sesudahnya.

ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Ad-Dajjal disebut-sebut di dekat Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam lalu beliau bersabda: “Sungguh fitnah sebagian dari kalian lebih aku takutkan dari fitnahnya Ad-Dajjal. Dan tidak ada seseorang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Ad-Dajjal melainkan pasti selamat pula darinya (fitnah Ad-Dajjal) setelahnya. Dan tidak ada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk (menjemput) fitnah Ad-Dajjal.”
(HR Ahmad –  Shahih)

Di dalam hadits di atas Nabi shalallahu’alaihiwasallam mengatakan bahwa “Sungguh fitnah sebagian dari kalian lebih aku takutkan dari fitnahnya Ad-Dajjal”. Apakah fitnah yang lebih ditakutkan oleh Nabi shalallahu’alaihiwasallam melebihi fitnah Ad-Dajjal? Padahal jelas-jelas Nabi shalallahu’alaihiwasallam menyebut fitnah Ad-Dajjal sebagai fitnah yang paling dahsyat.

Hal ini pernah ditanyakan oleh seorang sahabat yaitu Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

لَغَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَى أُمَّتِي قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا الَّذِي غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُكَ عَلَى أُمَّتِكَ قَالَ أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

Abu Dzar berkata, “Aku berjalan bersama Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, kemudian beliau bersabda: “Selain Ad-Dajjal, ada yang lebih aku takuti atas ummatku,” Nabi shalallahu’alaihiwasallam mengucapkannya tiga kali, maka aku (Abu Dzar) bertanya, “Wahai Rasulullah, yang engkau takuti atas umatmu selain Ad-Dajjal itu apa?” Nabi shalallahu’alaihiwasallam menjawab: “Para a’immah mudhilliin (para pemimpin yang menyesatkan).”
(HR Ahmad – Shahih)

Pantas bilamana Allah sampai menggambarkan di dalam Kitab-Nya penyesalan yang begitu mendalam pada suatu kaum yang sewaktu di dunia begitu saja menyerahkan wala’ (loyalitas) dan tho’ah (kepatuhan) kepada para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan mereka. Para pemimpin dan pembesar yang tidak mengajak kepada mentaati Allah dan Rasul-Nya.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika muka mereka (ahli neraka) dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata (di dunia) kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.
(QS. Al-Ahzab: 66-68)

Sungguh di era fitnah akhir zaman menjelang keluarnya Ad-Dajjal dunia dipenuhi oleh para pemimpin menyesatkan yang seolah menjadi mukaddimah sebelum keluarnya puncak pemimpin yang paling menyesatkan ummat manusia, yaitu Ad-Dajjal. Mereka akan memimpin tanpa petunjuk Allah. Mereka mencampakkan Kitabullah dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Mereka memimpin dengan petunjuk syetan. Merekalah para thaghut. Umat yang mematuhi mereka akan celaka. Sedangkan umat yang mengingkari mereka bakal selamat. Demikian pesan Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam.

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ

Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam bersabda: “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya. Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan (dari tanggungan dosa).”
(HR Muslim  – Shahih)

Bagaimana mereka tidak disebut para pemimpin menyesatkan sedangkan mereka tidak memimpin kaumnya dengan petunjuk dan wahyu dari Allah? Mereka pada hakekatnya tidak mengikuti petunjuk sehingga umat yang mereka pimpinpun menjadi tidak mengikuti petunjuk. Mereka adalah pemimpin yang menyesatkan, sehingga umatpun menjadi sesat. Celakanya umat baru akan sadar ketika segala sesuatunya sudah terlambat. Sehingga yang ada hanyalah penyesalan yang tiada berguna. Wa na’udzubillahi min dzaalika…

وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah (rakyat kebanyakan) kepada orang-orang yang sombong (penguasa kebanyakan): “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”.
(QS Ibrahim 21)

Berarti Nabi Muhammad shalallahu’alaihiwasallam memperingatkan ummat ini agar mewaspadai para pemimpin menyesatkan yang merupakan fitnah yang lebih Nabi shalallahu’alaihiwasallam takuti menimpa ummatnya dari fitnah Ad-Dajjal. Dan fitnah tersebut akan datang sebelum atau menjelang keluarnya fitnah Ad-Dajjal.

Artinya, jika seseorang sudah gagal menghadapi fitnah a’immah mudhilliin (para pemimpin yang menyesatkan), bagaimana lagi dia akan selamat menghadapi fitnah Ad-Dajjal yang merupakan pemimpin (thaghut) yang paling dahsyat dalam menyesatkan manusia?

Wallahu’alambish-showwaab.

—–

TO BE CONTINUED

—–

Link: http://bolehjadikiamatsudahdekat.com