Walisongo Adalah Utusan Khalifah Utsmaniyah – Part 1 (via Studi Islam)

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kondisi ini tidak lepas dari peranan para ulama yang disebut sebagai Walisongo (sembilan wali). Sedikit orang yang mengetahui siapa sebenarnya Walisongo dan berasal dari manakah mereka.

Sebuah kitab bernama Kanzul Hum karya Ibnu Bathutah yang sekarang disimpan di museum Istana Turki di Istanbul menyebutkan bahwa Walisongo datang ke Indonesia atas perintah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam.

Pada tahun 1404 M (808 H) Sultan mengirim surat kepada para pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah dengan maksud untuk meminta sejumlah ulama agar diberangkatkan ke pulau Jawa. Para ulama yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kemampuan dalam segala bidang agar nantinya akan memudahkan proses penyebaran Islam.

Dengan keterangan di dalam kitab tersebut kita menjadi tahu bahwa sebenarnya Walisongo adalah para ulama yang sengaja diutus Sultan pada masa kekhalifahan Utsmani. Saat itu terdapat 6 angkatan keberangkatan yang masing-masing terdiri dari sembilan orang. Jadi jumlah sebenarnya bukan sembilan ulama tetapi jauh lebih banyak.

Angkatan satu dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim asal Turki yang berangkat pada tahun 1400an. Beliau adalah ulama yang memiliki keahlian dalam bidang politik dan sistem pengairan. Dengan berbekal keahlian tersebut maka beliau menjadi peletak dasar berdirinya kesultanan di pulau Jawa dan juga berhasil memajukan pertanian di pulau ini.

Angkatan pertama ini juga terdiri dari dua orang ulama yang berasal dari Palestina yaitu Maulana Hasanuddin dan Sultan Aliudin. Dua orang ulama ini berdakwah di Banten dan mendirikan kesultanan Banten. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Banten yang merupakan keturunan dari Sultan Hasanuddin memiliki hubungan secara biologis dengan rakyat Palestina.

Selain itu ada Syekh Ja’far Shadiq yang diberi julukan sebagai Sunan Kudus dan Syarif Hidayatullah yang disebut sebagai Sunan Gunung Jati. Kedua ulama ini juga berasal dari Palestina. Dalam proses dakwah beliau, Sunan Kudus membangun sebuah kota di Jawa Tengah yang kemudian disebut kota Kudus. Nama kota tersebut berasal dari kata Al Quds (Jerusalem).

Masyarakat Nusantara pertama kali mengenal Islam pada abad 7 Masehi atau abad 1 Hijriah. Pengaruh Islam sangat besar pada situasi politik saat itu. Dengan semakin berkembangnya ajaran Islam di Nusantara ketika itu, maka bermunculan lah berbagai kerajaan dan kesultanan Islam seperti Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang, Ternate, Tidore, Bacan (Maluku), Pontianak, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Kutai, Sambas, Banjar, Pasir, dan Sintang.

Sedangkan kesultanan yang berdiri di Jawa di antaranya adalah Demak, Pajang, Cirebon, dan Banten. Di Sulawesi, syariat Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Daerah Nusa Tenggara hukum Islam diterapkan dalam kesultanan Bima.

Perjalanan dakwah Walisongo

Sebelum tiba di tanah Jawa, pada umumnya para ulama ini singgah terlebih dahulu di Pasai. Penguasa Samudera Pasai yang hidup pada tahun 1349-1406 Masehi, Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah adalah orang yang mengantarkan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Sejak tahun 1463 Masehi semakin banyak ulama Jawa yang menggantikan ulama yang telah wafat atau berhijrah ke tempat lain. Para ulama pengganti tersebut di antaranya:

– Raden Paku (Sunan Giri)
Beliau adalah putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu yang merupakan putri dari Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan.

– Raden Said (Sunan Kalijaga)
Beliau adalah putra Bupati Tuban, Adipati Wilatikta atau disebut juga Raden Sahur. Berdasarkan sejarah masyarakat Cirebon, julukan Kalijaga berasal dari nama salah satu desa di Cirebon bernama Kalijaga. Saat Raden Said bermukim di desa tersebut, beliau sering berdiam diri dengan berendam di kali (jaga kali).

– Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Nama Bonang berasal dari nama sebuah desa di Rembang.

– Raden Qasim Dua (Sunan Drajad)
Seperti halnya Sunan Bonang, beliau juga adalah putra Sunan Ampel. Dengan demikian Sunan Drajad adalah saudara dari Sunan Bonang.

Para ulama diberi gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian dan berarti Tuanku, maka dapat disimpulkan bahwa saat itu dakwah Islam telah berjalan dengan baik dan mendapat kehormatan dari kalangan pembesar Kerajaan Majapahit.

Para ulama penyebar agama Islam di Nusantara

Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli tata negara
2. Maulana Ishaq, berasal, dari Samarkand, ahli pengobatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli tata negara
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia, ahli pengobatan
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina
9. Syekh Subakir, dari Persia, ahli ruqyah

Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Vietnam
2. Maulana Ishaq, asal Samarkand
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia

Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:

1. Sunan Ampel, asal Champa, Vietnam
2. Sunan Giri, asal Belambangan, Banyuwangi
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya
8. Sunan Derajat, asal Surabaya
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban

Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Vietnam
2. Sunan Giri, asal Belambangan, Banyuwangi
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan, Banyuwangi
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia
7. Sunan Bonang, asal Surabaya
8. Sunan Derajat, asal Surabaya
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban

Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan, Banyuwangi
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanaran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya
8. Sunan Derajat, asal Surabaya
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban

 

 


Sumber: Akun FB – Studi Islam

Advertisements

Buya Hamka, Ketika Air Tuba Dibalas Air Susu (via JIB)

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Di sepetak ruang. Di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya. Ruangan itu tak kalah gelap. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas yang menumpuk. Lembaran yang begitu rapi. Lembaran yang ia tulis, selama dua tahun 4 bulan. Di balik jeruji, di pinggiran Sukabumi. Atas tuduhan makar, kezaliman rezim tiran tak berdasar.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, karib disapa Buya Hamka. Kalam suci Ilahi, dengan tekun, ia ulang hafalannya. Mengeja ayat demi ayat. Merenungkan satu per satu maknanya, hingga khatam, seluruhnya tergenapi. Ada haru membiru. Ada tangis berlapis senyum bahagia, di sana. Allah terasa begitu dekat.

Seperti Ibnu Taimiyyah dulu kala. Berteman secarik kertas, berikut tinta dan pena. Tempat menorehkan tulisan hasil perenunangan. Berjilid-jilid karya keluar dari balik jeruji. Orang-orang berdatangan, meminta fatwa. Dari balik jeruji besi itu, dalam gelap ia menjawab. Jadilah berjilid-jilid Majmu Fatawa di sana. Tak ada rasa takut sama sekali. Bahwa penjara baginya, adalah surga.

Malam harinya diisi dengan berdiri, rukuk, sujud. Sungguh, tak ada yang terpenjara di sana. Jiwanya merdeka. Tak ada yang terkekang di sana. Tangannya lincah menulis pesan penuh makna. Alam pikirnya mengembara, merenungi KemahaanNya.
Atau seperti laiknya sahabat seperjuangan di belahan bumi lain, Mesir, Sayyid Quthb. Rezim tiran tak mampu membungkam alam pikirnya, meski jasad terpenjara. Bertemankan lembaran kertas, juga pena. Lahirlah karya monumental Tafsir Fii Dzilal Al Quran.

Buya Hamka, nyaris serupa. Tafsir Al Quran 30 Juz yang kelak dinamakan Tafsir Al Azhar ia rampungkan, ditemani dinginnya jeruji besi, di masa kepemimpinan Soekarno. Rezim berganti, orde lama berganti rezim yang dinamai orde baru. Tak disangka, Buya Hamka bisa menghirup udara bebas.

Hamka dan Soekarno

Setelah bebas dari penjara, Hamka tak tahu kabar Soekarno, penguasa yang memenjarakannya kala itu. Ingatannya melompat ke masa ke belakang. Saat ia tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…Front Nasional adalah partai Negara…” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika memajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara. Tak lama, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai temapat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

Perbedaan pandangan politik Hamka yang dikenal Islamis, dengan Soekarno yang seorang sekularis, kian menajam dengan penangkapan dan pemenjaraan rival-rival politiknya. Meski begitu, tak ada sumpah serapah yang keluar dari seorang Buya Hamka kepada sang pemimpin kala itu. Saat dijemput paksa untuk langsung dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan, Hamka hanya pasrah, bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.

Pun setelah bebas, tak ada dendam di sana. Tak ada rasa ingin membalas, menuntut, atau melakukan tindakan membela diri. Padahal, ketika itu, buku-buku karangan Buya dilarang beredar oleh pemerintah. Tak ada rasa kesal di sana. Tak ada mengeluh, atau umpatan. Semua ia serahkan kepada Allah, sebaik-baik penolong.

Justru, demikian besar keinginan Hamka untuk bersua Soekarno. Mengucap syukur, karenanya, ia bisa menyelesaikan Tafsir Al Azhar dari balik penjara. Karenanya, ia bisa begitu dekat dengan Allah. Karenanya, jalan hidupnya begitu indah, walau penuh ragam ujian.

Soekarno, dimanakah sekarang ia berada? Tak tahu..Begitu rindu, Hamka ingin bertemu dengannya. Tak ada marah dari seorang Buya. Telah lama..telah lama sekali, kalaupun Soekarno mengucap maaf, telah lama hatinya membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Bahkan, ada syukur di sana.

Tapi dimana? Di mana Soekarno sekarang? Ingin sekali Buya bertemu dengannya. Pertanyaannya terjawab, namun bukan jawaban biasa. 16 Juni 1970, Ajudan Soeharto, Mayjen Soeryo datang menemui Hamka di Kebayoran, membawa secarik kertas. Sebuah pesan — bisa dibilang pesan terakhir — dari Soekarno. Dipandangnya lamat-lamat kertas itu, lalu dibaca pelan-pelan.
“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Mata begitu bening, seperti halnya kaca membaca tulisan ini. Sebuah pesan, dari seorang mantan pucuk pimpinan negeri. Dimana? Dimana Soekarno sekarang? Begitu rindu ingin bertemu dengannya. Mayjen Soeryo berkata, “Ia..Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD. Sekarang jenazahnya telah di bawa ke Wisma Yoso.”

Mata ini semkin berkaca-kaca. Tak sempat..rindu ini berbalas. Hamka hanya dapat bertemu dengan sosok yang jasadnya sudah terbujur kaku. Ingin rasanya, air mata itu mengalir, namun dirinya harus tegar. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa, ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa, dosa orang yang memasukkannya ke penjara.

Kini, di hadapannya, terbujur jasad Soekarno. Sungguh, kematian itu begitu dekat. Dengan takbir, ia mulai memimpin shalat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno. Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.

Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya pada sang Buya,”Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”

Dengan lembut, sang Buya menjawab,” Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik.
Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Sungguh, air mata menetes mendengar penjelasan Buya. Begitu luas jiwanya, hingga permasalahan, baginya ialah setitik tinta, yang diteteskan ke luasnya samudera. Tak ada bekas di sana. Tak pernah ada rasa dendam sama sekali. Dengan senyum dan tenang, ia jalani semua lika-liku kehidupan.


Oleh : Rizki Lesus (Pegiat JIB)
[kisah ini ada dalam buku ‘Ayah’ karya Irfan Hamka. Tulisan ini Dimuat di Tabloid Alhikmah edisi 86]

Link: http://jejakislam.net/buya-hamka-ketika-air-tuba-dibalas-air-susu/

Islam dan Kerukunan Umat Beragama (via JIB)

Satu waktu, wartawan majalah Panji Masyarakat mewawancarai mantan Menteri Agama, KH. Saifuddin Zuhri, ihwal kerukunan antar umat beragama. Dalam wawancara itu, Tokoh NU ini menerangkan, kerukunan bisa terwujud apabila adanya toleransi. Toleransi, menurutnya, menenggang orang lain tanpa mengorbankan prinsip. “Saya orang Islam, ber-Tuhan kepada Allah SWT, dan Muhammad adalah Utusan Tuhan. Bila saya korbankan prinsip ini, karena kebutuhan penghormatan kepada orang lain, maka itu bukan lagi namanya toleransi, tapi kapitulasi, menyerah bulat-bulat,” tutur ayah dari Menteri Agama Lukman H. Saifuddin ini.

Lebih lanjut beliau memandang, kerukunan jangan hanya seremonial. Misal, katanya, orang Kristen datang saat hari raya Idul Fitri. Atau saat hari raya Natal, umat Islam ramai-ramai berkunjung ke rumah-rumah orang Kristen. Begitu juga, tambahnya, ada panitia orang Kristen dalam pembangunan masjid, atau sebaliknya.

“Ini bukan bentuk manifestasi dari kerukunan yang sebenarnya, sebab yang menonjol aspek show-nya. Ini kan show saja. Saya berpendapat bahwa yang penting dalam kerukunan itu adalah sikap mental karena melakukan toleransi. Bagi Indonesia sendiri, jauh hari sebelum digembor-gemborkan mengenai kerukunan ini, sudah lama kita rukun kok. Di Indonesia tidak pernah terjadi perang saudara yang bermotif keagamaan,” ungkapnya .

Karenanya, beliau memandang perlu diadakan forum diskusi terbuka, agar kerukunan berjalan intens dan saling mengenal. “Karena forumnya harus ilmiyah, maka pesertanya hendaklah dari kalangan mahasiswa perguruan tinggi. Misalnya dari Fak. Ushuluddin IAIN mengundang mahasiswa Theologi Kristen Protestan (STTh) dan sebaliknya,” ujarnya.

Ditanya soal tudingan umat Islam melawan Pancasila, beliau menepisnya. Menurutnya, tuduhan itu tidak beralasan. “Sebab coba koreksi dari segala prilaku umat Islam apakah ada yang bertentangan dengan Pancasila? Saya mau tanya. Kita coba melihat sisi kehidupan keseharian dari para Kiai di pesantren misalnya. Pancasila, sebagai istilah mungkin baru bagi mereka. Tapi esensi, isi tingkah laku mereka adalah cukup “Pancasilais”. Ke-Tuhanan? Jelas mereka beragama. Tingkat penghayatan mereka terhadap agama jauh lebih dalam daripada kita. Di mana-mana ingat pada Tuhan. Dalam keadaan duduk, berdiri, hendak istirahat, berbicara, makan, jalan, Tuhan selalu diingat. Tidak menyakiti orang. Jadi semuanya mencerminkan rasa dan kadar keberagamaannya. Nasionalisme? Apakah ada mereka yang mau menjadi warga negara Arab Saudi atau Mesir? Tidak! Ketika perang dahulu, mereka keluar dari sarangnya (pesantren) untuk berperang, membuat bambu runcing sebagai senjatanya. Seusai perang, mereka kembali lagi mengerjakan apa yang menjadi pekerjaannya sebelumnya. Tukang gunting rambut, kembali menjadi tukang gunting rambut, yang membuka warung kembali setia membuka warung, yang menjadi pendidik kembali ke pesantren memberikan ilmu seperti sedia kala.”

“Mereka bertempur itu, tanpa disuruh. Sesudah itu, mereka tidak lantas menuntut uang jasa atau pensiun atau bintang kehormatan. Dengan bukti-bukti itu apakah nasionalisme mereka perlu diragukan? Perikemanusiaan? Pak Kiai tempat mengeluh dari masarakat setempat. Pak Kiai anak saya lagi sakit. Perlu do’a dari pak. Adakah Kiai yang tutup pintu bila ada tamu yang datang ke rumahnya? Si santri yang tidak memiliki uang pun diberi. Keadilan sosial? Apakah ada Kiai yang meluncur dengan mobil mewah? Kalau Kiai bersarung, maka pengikutnya pun demikian. Jadi melihat kehidupan mereka, sama sekali tidak memberikan gambaran adanya gap (jarak –red) dengan masyarakat atau rakyat sekelilingnya.”

“Melihat kenyataan-kenyataan (realitas) seperti di atas, apa perlu menyangsikan Pancasila-nya umat Islam? Atau anti Pancasila? Dengan demikian menjadi alasan bahwa ternyata umat Islam sudah mempraktekkan Pancasila. Maka tepat sekali apa yang diucapkan oleh Pak Alamsyah (Menteri Agama saat itu –red) , bahwa ‘umat Islam telah berpancasila’. Yang Pancasilais itu kan bukan yang senang ngomong Pancasila melulu. Kalau ini menjadi kriteria, maka ingin saya bertanya lagi, bagaimana dengan penampilan tokoh-tokoh seperti Diponegoro, Tengku Umar, R.A. Kartini, atau yang lebih dekat lagi H.O.S. Tjokroaminoto, mana mereka bicara tentang Pancasila? Bung Karno malah mengatakan, bahwa Pancasila suda ribuan tahun di bumi nusantara ini. Saya hanya sekedar menggali dan merumuskannya.”

“Jadi menurut pendapat saya, bahwa yang perlu diratakan adalah pengertian. Bahwa esensi Pancasila tidak ada ngomongnya, tapi perbuatan.” (Panji Masyarakat, Kerukunan adalah Prinsip Semua Ummat Beragama, 15 Oktober 1978).

***

Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) datang memperkenalkan diri kepada DPR pada tahun 1975, seorang anggota parlemen, saudara Manuaba, menanyakan kepada Hamka yang kala itu jadi Ketua Umum MUI, mengapa di Indonesia ini tercipta kerukunan antar umat beragama? Tidak terjadi kekacauan karena agamanya beda-beda seperti Protestan dan Katolik di Ireland, atau Kristen dan Islam di Filipina?

Dengan tegas, Hamka menjawab, “Sebabnya maka terjadi kerukunan umat beragama di sini, ialah karena mayoritas dalam negara ini ialah pemeluk agama Islam.”

Hamka menguraikan, kerukunan hidup umat beragama itu adalah perintah agama Islam sendiri. Beliau mengutip surat Al-Mumtahanah yang menjelaskan Allah tidak menghalangi umat Islam bergaul dengan pemeluk agama lain.

“Allah tidak melarang kamu bergaul secara baik dan adil dengan orang-orang yang tidak memerangi agama kamu dan tidak mengusir kamu dari kampung halaman. Sesungguhnya Allah amat suka kepada orang-orang yang berlaku adil.”

Kita sebagai muslim, kata Hamka, tidak hendak mengganggu orang lain memeluk agamanya dan keyakinannya, meskipun agama dan keyakinannya itu sangat berlawanan dan bertentangan dengan paham dan keyakinan kita. Karena kita telah diberi pedoman oleh Allah: “Bagi kamu agama kamu, bagi kami agama kami.” (Panji Masyarakat, Perjuangan Islam di Mana-mana, 1 Januari 1978).

Jadi kalau belakangan ini tampak antar umat beragama tidak rukun, itu berarti ada yang intoleran. Lantas siapa gerangan yang intoleran? Apakah kita umat Islam yang demo membela agamanya? Atau orang yang masuk ke ranah agama orang lain, dengan menyampaikan ayat suci dari kitab yang tak diimaninya, dengan memberikan pemahaman yang menghina?!

Kita umat Islam tetap dan teruslah memegang erat–erat pedoman kita, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”Demi lestarinya kerukunan antar umat beragama di negeri yang kita cintai ini.


Oleh: Andi Ryansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa
Link: http://jejakislam.net/islam-dan-kerukunan-umat-beragama/

Imperialisme Modern dan Kriminalisasi Umat Islam (via Inpas Online)

“Untuk membendung kemungkinan blok persatuan Islam, CIA (Central Intelligence Agency) mendukung gerakan komunis bawah tanah, hanya karena mereka tahu gerakan itu akan menghancur-leburkan negara-negara Islam”.

Pernyataan tersebut ditulis oleh Maryam Jameelah (Margaret Marcus) — seorang adalah mantan Yahudi — dalam bukunya Islam and Modernism (Edisi Indonesia Islam dan Modernisme terj. A Jainuri dan Syafiq A Mughni). Kalimat tersebut ditulis ketika menjelaskan tentang makar kaum sosialis Sudan dan komunis Yaman beberapa waktu silam yang berakhir dengan perang saudara.

Menurutnya, uji coba CIA  dilakukan di beberapa negara Islam. Barat memakai tangan komunis untuk melemahkan kekuatan. Tentu saja, dalam frame imperialis Barat, komunis sudah bukan musuh utamanya. Kata Prof. Stanley Spector dari Washington University “Bukan komunis yang benar-benar berbahaya tetapi umat Islam konservatif dan fanatik”(HS.Shafiuddin,The Muslim World, hal2).

Dari pendapat mantan Yahudi itu dapat disimpulkan, sebenarnya tanpa kita rasakan ada gerakan bersama secara sistematis antara imperialisme modern dan komunisme. Sosialisme, komunisme, marxisme dan Lenisme dijadikan alat imperialis untuk menghadapi Islam secara terbuka. Meski komunisme adalah musuh kapitalisme Barat, tetapi secara tidak terlihat dijadikan senjata. Sebabnya, di era modern, komunisme bukan lagi musuh utama kapitalisme. Yang ditakutkan imperalis Barat adalah tersusunnya blok persatuan Islam.

Salah satu gaya imperialisme modern adalah para penjajah tidak melakukan kontak langsung dengan negara yang akan dijajah, tetapi memakai tangan kaum komunis dan marxis. Mereka berfikir, gaya komunis dan marxis yang radikal, dan militan mempercepat pelemahan umat Islam.

Taufiq Ismail, sastrawan kenamaan, mengatakan di Indonesia pelemahan umat Islam oleh komunis pada tahun 60-an dilakukan dengan cara melancarkan fitnah-fitnah kepada para ulama.

“Pada masa 60-an, kata dia, mereka berhasil memenjarakan pemimpin dan aktivis Islam seperti Buya Hamka dan Isa Anshary”, kata Taufiq dalam republikaonline 22/1/2017.

Ulama menjadi sasaran, karena gerakan ulama’-lah yang mempu membangkitkan kesadaran rakyat. Oleh sebab itu, dengan mengkriminalkan ulama, maka kesadaran rakyat akan runtuh. Demikian logikanya.

Cara pelemahan itu dengan dua cara; pertama dengan kriminalisasi secara fisik. Kedua, pelemahan pemikiran para pemimpin umat itu. Kriminalisasi fisik, telah dilakukan Belanda dan komunis. Adapun pelemahan pemikiran ini merupakan model baru. Tingkat bahayanya lebih besar daripada kriminalisasi fisik. Karena, mereka mengubah hak menjadi batil dan batil menjadi haq.

Zaman penjajahan Belanda, pelemahan pemikiran sulit dilakukan. Tetapi tetap dijalankan. Zaman itu para barisan ulama dan santri sangat solid. Basis pesantren menjadi benteng utama. Tetapi bukan berarti tidak ada upaya.

Upaya itu dilakukan dengan cara mendatangkan sarjana Belanda yang ahli keislaman dan budaya lokal seperti Snouck Hurgronje, Van Vollenhove, JH Kern, JLA Brandes NJ. Krom  dan lain-lain. Proyek politik Etis Belanda itu tujuannya melumpuhkan ulama dan pesantren. Maka, salah satu proyek tersebut dilakukan dengan membangun sekolah-sekolah bercorak Belanda.

Pakar Sejarah Indonesia, Prof. Ahmad Mansur Suryanegara menulis: “Pemerintah kolonial Belanda, tidak hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang agama Islam, tetapi juga bertujuan ‘menaklukkan’ ulama dan santrinya. Di samping itu pemerintah colonial Belanda juga mengadakan penelitian ajaran agama Hindu dan Budha. Adapun tujuan penelitian tersebut, dapat dipastikan akan digunakan sebagai media pelaksanaan devide and rule. Melalui hasil penelitian para pakar yang didanai pemerintah colonial Belanda, pola pikir pribumi Indonesia akan diubah menjadi berbalik berbudaya seperti Barat dan agama pun diperangkan” (Ahmad Mansur Suryanegara,Api Sejarah 1, hal. 286).

Menaklukkan ulama dan santri berarti menaklukkan Islam. Salah satu cara strategis dan halus untuk menalkukkan Islam itu adalah dengan mengangkat kebudayaan Hindu Buda dan menyusun kesan Islam tidak memiliki kontribusi apa pun terhadap bangsa Indonesia. Bahkan Islam dinihilkan dari gerakan kemerdekaan dan nasionalisme.

Pertama yang dilakukan para sarjana Belanda itu adalah dengan memugar candi Budha Borobudur dan candi Prambanan, yang sudah ratusan tahun tertanam di dalam tanah. Tujuan Belanda memugar candi-candi itu adalah menghidupkan kembali Hindu Budha dan menggeser pengaruh Islam serta para ulama. Target upaya ini adalah mengubah pandangan penduduk pribumi, bahwa Islam dan para ulama tidak memiliki peran apapun dalam membangun bangsa. Bahkan, ulama dan santri disebut sebuah media eropa pada masa itu sebagai kaum ekstrimis berbahaya. Inilah yang dinamakan kriminalisasi sejarah ulama dan santri.

Ahmad Mansur Suryanegara menulis: “Di sisi lain, candid an patung Hindu dan Budha sebenarnya hanya terdapat di sebagian kecil Nusantara. Penganutnya pun sebagai minoritas. Namun, penulisan sejarah Hindu-Budha dibesar-besarkan, jauh lebih besar daripada Islam. Disebutnya zaman Hindu-Budha sebagai zaman kejayaan dan keemasan. Sebaliknya, Islam yang telah menyebar ke seluruh Nusantara dan mampu melancarkan perlawanan terhadap penjajah Barat, dinilah sebagai zaman perpecahan. Tidak pula dibicarakan masalah partisipasi umat Islam dalam menegakkan kedaulatan bangsa dan negara atau yang dikenal dengan istilah ipoleksosbud hankam” (Api Sejarah, hal. 289).

Dampak menyakitkan dari Politik etis Belanda adalah ‘mematikan’ pesantren dan membangun opini bahwa pesantren sebagai faktor keterbelakangan. Sekolah-sekolah yang didirikan Belanda, seperti Europesche Lager School (ELS), Westerch Lager School (dua sekolah ini untuk orang Eropa dan pribumi dari kalangan ningkrat), Hollandsch Chinese School (HCS), sekolah untuk keturunan Cina, Ambonsche Burger School (ABS) sekolah khusus untuk suku Ambon, dan lain-lain merupakan sekolah elit dengan fasilitas mewah. Akibatnya, menumbuhkan pemahaman dari kaum bangsawan pribumi bahwa sekolah di sekolah Belanda meningkatkan status sosial, lebih terhormat daripada sekolah di pesantren.

Selain difitnah, pesantren kerap menjadi sasaran serangan serdadu penjajah. Dibakar atau dirobohkan. Beberapa pesantren mengalami kelumpuhan. Tujuannya, pesantren tidak dapat bekerja secara sistematis dengan penataan kurikulum dan strata studinya.

Namun, yang paling menyakitkan sebetulnya munculnya orang-orang pribumi yang anti pati terhadap ulama dan santri. Mereka berasal dari kaum abangan dan kebatinan produk proyek pendidikan Belanda.

Zaman telah berlalu, tetapi efek kolonialis Belanda bisa jadi masih dirasa. Buya HAMKA pernah mengatakan: “Sejarah tidaklah mengulang dirinya. Tetapi perangai manusia di segala zaman, baik dalam nama feodalisme, atau demokrasi atau diktator adalah sama saja”(HAMKA,Dari Perbendaharaan Lama, hal. 120).

Karena itu, nasihat Ibnu Athoillah patut dipegang jadi panduan: “Janganlah kamu bersahabat dengan seseorang yang keadaannya tidak membangkitkanmu untuk taat agama dan ucapannya tidak menunjukkanmu kepada jalan Allah” (kitab al-Hikam).


Penulis: Kholili Hasib
Untuk: Inpas Online

Memperkenalkan: Jadwal Kajian Islam

Assalamu’alaykum para pembaca blog kami yang dirahmati Allah SWT,

Pada kesempatan di awal tahun dan dalam rangka mengimplementasikan muhasabah diri yang segenap kaum Muslimin tengah jalankan dalam menghadapi tahun 2017, maka kami hendak memperkenalkan inisiatif yang dinamakan Jadwal Kajian Islam.

Melalui Jadwal Kajian Islam ini harapannya adalah, bagi kami secara khusus dan para pembaca yang budiman secara umum, bisa mendapatkan informasi termutakhir mengenai jadwal-jadwal kajian yang semampunya akan kami kumpulkan dari berbagai penyelenggara di tanah air. Tentunya tujuan utamanya adalah agar kita lebih termotivasi untuk menjadwalkan dan menggerakkan kaki ini menuju majelis-majelis ilmu yang bermanfaat, mendekat dengan saudara-saudara seiman yang saleh, serta berkontribusi yang kita mampu untuk ummat Islam sedunia.

Cita-cita besar memang namun in shaa Allah itu dapat tercapai dari sebuah langkah kecil menuju rumah Allah dan melingkar bersama para ulama pewaris Rasulullah SAW serta tumbuh bersama demi kecintaan kita pada dienullah ini. Bersama saudara-saudara lainnya yang berinisiatif mengajak kaum Muslimin untuk kembali gemar mengaji, mudah-mudahan langkah kami ini diridhoi Allah SWT dan bermanfaat untuk para pembaca sekalian.

Terima kasih atas kesetiaannya mengunjungi blog kami. Untuk saran dan kritik, mohon jangan sungkan untuk berbagi dengan kami.


JADWAL KAJIAN ISLAM

Facebook Page: https://www.facebook.com/jadwalkajianID/
Twitter: https://twitter.com/jdwlkajianislam
Instagram: http://instagram.com/jadwalkajianislam