The Foundations of Islamic Studies – Module 1 Part 1 (Introduction of Tawheed)

Berbicara Islam berarti mengawalinya dengan ilmu tauhid. Pada artikel-artikel ke depannya, The Islamic Chroniclers ingin berbagi summary dari buku The Foundations of Islamic Studies yang ditulis oleh Dr Bilal Philips. Tujuan penulisan summary ini selain untuk menerjemahkannya dari Bahasa Inggris, juga untuk menjadikannya lebih mudah dipelajari.

Semoga bermanfaat dan untuk kurang lebihnya kami mohonkan maaf yang sebesar-besarnya.


Secara literal, tauhid berarti “mempersatukan” dan datang dari kata “wahhada”. Ketika konteks tauhid ini dikaitkan dengan Allah SWT, maka ini berarti menyatakan keesaan Allah dalam perilaku kita baik yang langsung dan tidak langsung terhadapNya.

Ini adalah kepercayaan atas keesaan Allah dari segi rububiyah, asmaa was sifaat, dan uluhiyyah. Ketiga aspek ini membentuk dasar dari ilmu tauhid dan semuanya harus bersatu. Tidak mengamalkan salah satunya saja berarti gagal dan tidak mengamalkan ilmu tauhid secara keseluruhan. Biasanya itu adalah kasus yang berhubungan dengan kemusyrikan (shirk) serta pemujaan terhadap berhala.

Karena prinsip tauhid ini, Islam adalah agama yang unik dan digolongkan monoteistik semisal Yahudi serta Kristen. Namun bila didasarkan dari konsep tauhid, Kristen sesungguhnya adalah politeistik dan ajaran Yahudi memiliki unsur kemusyrikan di dalamnya.

Maka dari itu prinsip tauhid membutuhkan klarifikasi lebih lanjut bahkan di kalangan Muslim sendiri. Ibnu Arabi menganggap tauhid sebagai konsep bahwa semua yang ada di dunia ini adalah Allah dan Allah ada segalanya ataupun paham Mu’tazilah yang memangkas tuntas aspek asmaa was sifaat dari Allah dan  mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana serta di dalam apapun. Tentunya faham-faham ini dianggap menyimpang dan ditolak oleh ajaran Islam.

Namun mereka-mereka yang bekerja untuk menyesatkan kaum Muslim serta menghancurkan Islam akan selalu menargetkan prinsip-prinsip tauhid, karena di situlah esensi dari ajaran Islam yang disampaikan para RasulNya. Ketika konsep tauhid berhasil diruntuhkan, maka akan mudah bagi mereka untuk mengajarkan konsep-konsep kesesatan yang pada akhirnya akan mengajak manusia untuk menyembah berbagai berhala buatan manusia.

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)

Maka penting bagi kita untuk memahami betapa pentingnya tauhid seperti yang diajarkan Rasulullah SAW dan yang dimengerti oleh para sahabatnya. Bila tidak, maka kita akan mudah tergelincir dan itu sudah seperti apa yang ditetapkan Allah SWT sebagai berikut:

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Yusuf: 106)

Maka tiga kategori tauhid adalah sebagai berikut:

  1. Tauhid Rububiyah: “Menjaga keesaan Allah SWT (lit.)”, menyatakan bahwa Allah adalah satu dan tidak dipersekutukan
  2. Tauhid Asmaa was Sifat: “Menjaga kesatuan nama-nama dan atribut Allah SWT (lit.), menyatakan bahwa aspek-aspek tersebut unik dan tidak dapat diperbandingkan
  3. Tauhid al-Ibaada: Menyatakan bahwa hanya Allah SWT saja yang berhak disembah

Ketiga aspek ilmu tauhid ini bukan berasal langsung dari Rasul SAW maupun para sahabatnya, karena pada saat itu tidak dibutuhkan. Namun seiring berjalannya waktu dan Islam menyebar luas ke berbagai penjuru dunia, maka pendekatan analitis pada ilmu tauhid menjadi penting untuk dilakukan karena banyak pemeluk baru Islam yang masih membawa kepercayaan mereka yang terdahulu.

Tidak sedikit dari para pemeluk baru ini yang mulai menuliskan pendapat-pendapat filosofis mereka sendiri mengenai keesaan Allah bahkan yang diam-diam berkomplot ingin menghancurkan Islam karena tidak bisa menentang secara fisik. Tujuannya yaitu untuk merubuhkan pilar iman paling pertama dan pada akhirnya Islam.

Awalnya para penguasa Umayyah dan para gubernurnya yang masih dekat dengan Islam dapat dengan cepat menangkal gangguan faham seperti ini, namun seiring berjalannya waktu mereka semakin tidak peduli. Maka tugas ini jatuh kepada para ulama yang menangkalnya dengan cara intelektual, yang dengan sistematis melawan penyimpangan ini dengan prinsip-prinsip Qur’an dan Sunnah. Maka itulah ilmu tauhid lahir dan ketiga aspek ini memiliki pendalaman tersendiri. Sehingga secara keseluruhan menjadi fondasi dari Islam itu sendiri.


TO BE CONTINUED to MODULE 1 PART 2 (Coming soon)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s