Toleransi Minder Menteri Agama (via Islampos)

Izinkan kalimat yang hari-hari terakhir ini menyita perhatian sebagian Muslim tertampilkan lagi di kolom ini: “Warung2 tak perlu dipaksa tutup. Kita hrs hormati juga hak mrk yg tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa..”.

Konon karena ada menyudutkan, sang pengunggah ciutan tadi, Menteri Agama Lukman H. Saifuddin, perlu menyampaikan klarifikasi begini: “Tak perlu ada paksaan untuk menutup warung di bulan puasa. Bila ada yang sukarela menutup warungnya, tentu kita hormati. Tapi muslim yang baik tak memaksa org lain menutup sumber mata pencahariannya demi tuntutan hormati yg sedang puasa. Saling menghormati adalah ideal. Tapi jangan paksa satu kpd yg lain.”

Kata-kata di atas saya petik apa adanya sesuai tulisan Pak Menag di Twitter. Kata-kata yang ingin menampilkan wajah Islam yang lebih ramah, terutama kepada kalangan di luar Islam. Saya berkeyakinan, Pak Menag sama sekali tidak berniat melegitimasi kebolehan tidak berpuasa bagi Muslim yang sudah memenuhi syarat wajib. Maksud frase “mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa”, perlu ditanyakan ulang kepada beliau. Apakah frase ini merujuk pada perspektif fikih ataukah bahasa belaka. Bila fikih jadi pijakannya, frase di atas bukan sesuatu yang aneh. Ibu hamil dan/atau menyusui, orang sakit parah, pekerja keras, musafir, anak-anak, adalah sebagian dari perkecualian dari kalangan Muslim yang semestinya menjalankan puasa. Dalam kajian fikih, semua golongan ini biasa dibicarakan, tentu saja dengan nuansa keragaman pendapat antar-mazhab.

Adapun bila frase di atas dimaksudkan umum, yang berarti meliputi pemeluk di luar Islam mengingat kalangan di luar Islam memang tidak dikenai kewajiban berpuasa Ramadhan, tentu saja ini tidak tepat. Karena itu, besar kemungkinan yang dimaksudkan Pak Menag sepertinya ke perkecualian yang arah fikih. Mengapa? Ambil saja yang lahiriah, beliau anak seorang kiai besar, ditambah pula memiliki intelektualitas dan ilmu alat agama memadai.

Prasangka baik pada Pak Menag ini tentu saja tidak dimaksudkan untuk menoleransi pada pendapat beliau tersebut. Bila saja opini Pak Menag jadi kebijakan nyata di pemerintahan kali ini, tidak ada jaminan yang terjadi di lapangan sebagaimana beliau bayangkan. Orang-orang yang dikecualikan secara syariat dari kewajiban menjalankan puasa Ramadhan sejatinya tidak butuh “pembelaan” Pak Menag. Ada atau tidaknya ucapan di Twitter tersebut, mereka pasti paham adab untuk menghormati saudara seimannya yang berpuasa. Dus, pilihan mencari tempat makan sekadar sebuah persoalan privasi. Mereka bisa menyiasatinya dengan bijak.

Di balik kata-kata seruan dalam opini Pak Menag yang ingin menghadirkan wajah bijak, jelas ada ragam tafsiran lain. Satu sisi, Pak Menag ingin membela para pengusaha warung makan, dan saat yang sama meminta Muslim yang mendukung penutupan warung makan saat waktu puasa untuk bertoleransi (tak memaksa orang lain). Di sisi lain, jangan salahkan bila ada kalangan yang dibelanya justru mengartikan pembelaan Menag ini untuk lebih terbuka lagi berjualan makanan/minuman tanpa harus ada penutup. Batas menghormati pada Muslim yang menjalanan puasa menjadi relatif dan tidak lagi sakral, meskipun inilah yang sudah berlaku selama ini.

Menelusuri dan menutup paksa warung-warung makan yang buka saat waktu berpuasa, memang bukan domain ormas (Islam). Andai ormas atau kalangan yang peduli menjaga kesucian sekadar menegur dan meminta baik-baik pemilik warung makan untuk menghormati Muslim yang berpuasa, ini juga tidak bisa gegabah disebut tidak toleran. Andai si pengusaha warung makan bergeming atau bahkan melawan, sejatinya tidak ada kewajiban dari penegur untuk menggunakan “tangan”. Di sinilah ranah pemerintah untuk bijak dan matang dalam melihat persoalan toleransi tanpa mengorbankan semua pihak.

Kata-kata kicauan Pak Menag Lukman bisa dikatakan sebentuk pelarian diri dari kewajiban yang dalam Islam ada di pundaknya. Alih-alih bijak menata regulasi bagi warung makan yang berbuka di bulan puasa, Pak Menag memilih jadi pemerhati belaka. Mereka yang turun langsung menasihati warung makan yang bandel buka justru bisa dipandang lebih bijak dan islamis dalam perspektif ini ketimbang ide menolak penutupan. Tidak setiap ide ramah dan berwajah toleran selalu kompatibel dengan spirit Islam sebagai rahmat segenap alam.

Tidak ada keinginan dari Pak Menag untuk merevolusi mental kaum Muslimin di tanah sesuai janji atasannya, Paduka Mulia Joko Widodo. Tidak ada yang mengingkari bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk merevolusi tiap Muslim. Tidak perlu menolehi umat lain dulu mengingat mayoritas rakyat negeri ini seagama dengan Pak Menag. Sungguh sayang apabila potensi ratusan juta umat Islam dibiarkan untuk menjadi Islam ‘lembek’ dengan wajah ‘toleransi’ yang setengah hati. Bagaimana mau revolusi mental kalau Ramadhan saja mayoritas umat Islam diminta bertenggang rasa? Umat Islam diharapkan untuk menghargai orang yang tidak menjalankan puasa, meskipun bila yang dimaksud adalah Muslim yang mendapat keringanan jelas ini tidak perlu dibahas oleh insan sekaliber menteri dan putra seorang kiai besar.

Lantas kebaikan seperti apa yang dituju dari ide Pak Menag? Hanya kesan dari kalangan yang ingin Islam di sini diramah-ramahkan. Seolah ada ketidakramahan yang berlaku selama ini. Sehingga, semua ide yang radikal—meskipun sejatinya memadai sebagai cara merevolusi mental rakyat negeri ini—dianggap tabu dan memalukan. Padahal, mental bertoleransi model Pak Menag rentan disalahkaprahi dan lahirkan inkonsistensi. Maka, jangan salahkan kalau sebagian Muslim menuntut keadilan agar Pak Menag juga mewacanakan dan mendorong keadilan pada mayoritas yang rutin untuk bertoleransi setiap Nyepi dan Natal.

Pemeluk agama lain yang menjalankan Nyepi misalnya, menuntut umat lain untuk mendukung kekondusifan lingkungan tanpa kecuali. Bila enggan menuruti, ada sanksi dan perlawanan kuat. Penguasa bukan Islam juga ingin suasana Natal kondusif untuk jalankan bisnis, sehingga meminta karyawan yang berbeda agama dengannya pun harus mengenakan atribut ritual ini. Salahkan jika “sebagian” umat Islam mengharapkan agar kekondusifan selama Ramadhan terpelihara dan umat lain sedikit saja menghargai si mayoritas? Pilihan ide Pak Menag sudah keluar, dan beliau memilih jalan toleransi ala dirinya, yakni umat Islam tidak boleh memaksa warung makan (entah milik Muslim atau bukan) untuk tetap buka. Buka yang bagaimana, sayangnya ini jadi ruang kosong.

Wacana toleransi memang terdengar indah dan seperti amat membantu memajukan negeri ini. Sayang, kadang yang terjadi diskriminasi. Lucunya, yang pemeluknya banyak mereka dikekangi haknya, malah dituding bukan-bukan. Kasihan sekali umat Islam di sini. Menteri yang mestinya mengatur warung makan yang memilih buka kadung memilih jalan pintas dengan alibi kemaslahatan untuk tidak menutup mata pencaharian orang. Model seperti ini tidak lain semacam toleransi keminderan. Minder menjadi fundamentalnya lalu diselubungi wajah ramah dan adaptif dengan zaman dan orang lain yang menguasai.

Akarnya bisa dilacak dari penghinaan si Muslim yang di masa kolonial ditempatkan sebagai rakyat kelas paria; kalangan bukan Islam sebagai sekutu penguasa Hindia-Belanda menempati kedudukan mulia. Meski banyak, yang sedikit itu karena dekat dengan penguasa kolonial harus dihormati. Suasana ini masih terbawa dalam alam bawah sadar ditambah lingkungan akademis dan komunitas epsitemik yang mampu mengubah atau melanggengkan konstruksi berpikir seorang Muslim yang niscayanya hanya harus tunduk pada Allah.

Model toleransi yang dikembangkan dari insan yang inferior ini hanya lahirkan wajah keras pada kalangan seiman, tapi izinkan kelonggaran dan permisif pada kalangan lain. Jangan kaget bila ada Muslim yang protes karena didiskriminasi karena dianggap tidak toleran saat perayaan umat lain. Saat yang lain, jangan heran bila ada pembelaan berwajah Islam ‘rahmatan lil’alamain’ (katanya) ketika Muslimin menuntut ada kekondusifan dalam jalankan syariat. Dalam kaitan ini, rasanya tidak mudah bila ucapan Pak Menag tercinta kita termasuk bagian yang mana.

—–

Written by: Yusuf Maulana

Link: https://www.islampos.com/toleransi-minder-menteri-agama-188239/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s