Ta’awudzlah dari Kejahilan Ade (via Islampos)

Bila Diego Armando Maradona begitu menyisakan jengkel bagi pendukung kesebelasan Inggris, Ade Armando lakukan hal serupa bagi sebagian kalangan Muslim di tanah air. Pengajar senior komunikasi dari Universitas Indonesia acap membuat kata-kata yang kurang mencerminkan kualitas pribadi beradab. Mulai dari taruhan memotong leher hingga ide melantunkan Quran dengan pelbagai gaya lokal dan musik kontemporer.

Alih-alih menjernihkan, lelaki ini memilih melanjutkan ‘pertempuran’ kata-kata dengan penentangnya. Kegigihan mendukung penguasa sekarang menambah jam terbang kontroversinya dalam melawan pihak pengkritiknya. Selama ini, hanya gerundelan dan cacian yang ditujukan pada dia. Hingga seorang warga jagat maya bertindak aktif mengadukan dia ke aparat kepolisian atas tudingan pencemaran agama.

Lagi-lagi, lelaki ini bergeming, tidak mau mengakui kesalahan, atau paling tidak memaparkan maksud kata-katanya yang secara komunikasi memang tidak bermutu untuk mencerahkan awam. “Allah kan bukan orang Arab,” jelas bagi seorang yang intelektual dan indahkan moral akan memilih diksi yang santun dan lugas. Kata-kata indah boleh saja, hanya jangan sampai tinggalkan salah sangka. Niat mengedukasi publik seyogianya tidak hadirkan makna bias. Maka, jangan salahkan bila sebagian Muslim—istilah dia—‘berpikiran sempit’ mengartikan harfiah kalimat tersebut.

Dalam bahasa sehari-hari, kalimat seperti itu hadirkan pragmatik kesejajaran. Ade kan bukan orang Arab. Sudah pasti subjek (Ade) merujuk pada orang. Mau bukti? Ganti saja menjadi: Ade kan bukan hewan Arab. Pas kah? Atau bagaimana bila subjeknya diganti menjadi: Macan kan bukan orang Arab? Tepat kah? Jadi, jangan salahkan permainan bahasa yang lebih dimengerti publik bahwa Ade Armando menyejajarkan atau menyamakan subjek dan objek.

Andai saja Ade mau bersikap bersahaja dengan menjelaskan bahwa maksud kicauannya itu: Allah kan bukan hanya untuk orang Arab, pastilah banyak Muslim yang setuju. Sayang, pascasomasi dan pelaporan, lelaki ini jumawa menyalahkan pelapornya dengan tudingan berlebihan. Sikap pelapor yang merujuk pada aturan disebut ‘berlebihan’, tapi Ade sendiri sering tidak berkaca apakah kata-katanya berlebihan atauah tidak; etis ataukah tidak; perlihatkan martabat diri atau sebaliknya.

Entah mengapa, lelaki ini belakangan menapaki popularitas dengan cara—kata pepatah Arab—mengencingi air zam-zam. Niat baik dan beberapa idenya kurang perlihatkan sebagai seorang pejabat di fakultas komunikasi kampus elit di negeri ini. Sebaliknya, radikal dan teror kata-kata yang justru mencuat sebagai nuansa yang hendak dibangun. Dia mungkin tidak merasa bertindak demikian, sehingga dengan besar kepala merasa orang lain yang menyimak artikulasi bahasanya untuk mengerti dan menerima jalan berpikirnya.

Saya tidak paham detail sejak kapan lelaki berdarah Minang ini berubah drastis menjadi penentang nilai-nilai yang galib diperjuangkan para islamis. Menyebut dia masuk dalam barisan pendukung berat sekularisme dan pluralisme, tidak terlampau salah. Meski kadang masih ada jejak sebagai lelaki berdarah Minang yang peduli ada keislaman, rekam jejaknya kontras dibandingkan saat dia masih dikenal publik sebagai pemerhati media dan pejuang antipornografi. Teror yang diterimanya semasa memimpin Media Ramah Keluarga (Marka), sungguhlah layak dicatat sebagai kebaikan bagi negeri ini, tak terkecuali umat Islam.

Seorang kawan dari kampus yang sama dengan Ade menyebutkan, jebolan Florida State University ini dekat dengan kalangan aktivis mahasiswa Islam. Masa-masa dia berada di barisan redaktur Republika, semacam bulan madu kedekatannya dengan islamis. Hari ini, wajah dari orang yang sama berubah drastis. Tidak ada kabar kedekatan dengan para aktivis masjid. Tidak ada simpati pada perjuangan islamis, baik yang dengan jalan demokrasi ataupun penolaknya. Semuanya dipukul sebagai kalangan yang potensial berpikir sempit.

Keramahan dan eloknya bahasa Minang kini pudar berganti dengan wajah Ibu Kota yang penuh sangar dan beringasnya bermain kata-kata umpatan. Sekurangnya dalam sindiran dan kenyinyiran yang berbungkus menjaga kebaikan menurut versinya. Padahal, mudah sebenarnya menemukan kesemerawutan berlogika dan kesesatan berpikirnya. Apatah lagi bila mengukur worldview-nya dalam berislam.

Keyakinannya bahwa “Tentu Allah senang kalau ayat-ayatNya dibaca dg gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop…” atau di lain waktu soal azan dengan bertemankan permainan gitar; semua ini jelas lahir dari insan yang jahil, fakir ilmu, dan dhuafa kerangka berpikir. Dia dengan percaya diri melangkahi peran dan jejak ulama mumpuni yang tidak pernah utarakan ‘fatwa’ serupa. Dia bahkan melewati peran Baginda Nabi yang tebersit pun tidak membukakan ruang ijtihad selaksa itu. Kata-kata itu hadir bukan lagi dari lisan yang lemah, melainkan juga pemilik mulut yang patut dikasihani karena bangga dalam kekeliruan.

Menghadapi manusia lemah tapi luar biasa merasa hebat lagi pongah, tidak ada yang bisa dilakukan oleh kita selain menjelaskan dengan santun tapi sarat ilmu. Percuma menggunjing atau melawannya sekadar dengan kata-kata cacian. Suatu ketika di status FB, dia lontarkan kata-kata soal dipersulitnya izin mendirikan tempat beribadah bagi kalangan minoritas. Lagi-lagi, kata-katanya provokatif, sayang punya kelemahan mendasar: data. Berbekal dari data yang pernah diunggah Dr Adian Husaini soal melonjaknya pertumbuhan gereja dan statisnya penambahan masjid, saya kirimkan ke inbox Ade. Harapannya, dia mau melihat sisi lain dan dari sumber berbeda. Sebagai seorang yang disanjung kalangannya sebagai pemilik “idealisme dalam jurnalistik”, adanya data dari sumber berbeda tentu perlu dihargai.

Saya tidak tahu apakah dia berkenan menelaahnya atau justru membuangna begitu saja. Yang terang, dia masih peraya diri dengan ‘data’ yang berupa asumsi dan mitos kawan-kawannya yang acap memprotes SKB Tiga Menteri.

Saya akhirnya sadar, Ade bukan pencari kebenaran, tapi pendogma keyakinan di kepalanya. Karena itu, belakangan dia sering santai nyeleneh. Seolah menantikan cacian sesama saudara seagama demi naikkan citra diri selaku pengusung dan pembela sejati keyakinan dan ideologinya. Orang semacam ini memang propagandis yang menguntungkan rezim sekarang. Untuk apa? Agar kita fokus pada hal-hal yang dilontarkannya lalu sibuk mendebatinya secara terus-menerus. Saat yang sama, kita abai kalau ada akrobat penguasa idolanya yang tengah berbuat nista melahirkan kebijakan merugikan rakyat.

Karena itu, ketika sosok semacam ini begitu militan membela kesilapannya tanpa malu, selalulah amati apa yang tengah diperbuat atau direncanakan penguasa sekarang. Orang-orang macam ini, sayangnya, sadar menikmati dirinya menjadi alat rezim bahkan kepentingan asing untuk menjajah perekonomian, setidaknya, negeri kita. Maka, jika Ade Armando berujar kata-kata baiknya kita abaikan seraya ucapkan ta’awudz.

—–

Written by: Yusuf Maulana

Link: https://www.islampos.com/taawudzlah-dari-kejahilan-ade-185317/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s