Akhirul Zaman: Akhir Babak Keempat Dan Awal Babak Kelima? – PART 2

PART 1: http://wp.me/p3bcB5-sI

—–

Dalam kondisi seperti ini yang perlu kita lakukan adalah terus mengamati perkembangan yang terjadi. Di samping itu kita perlu mendalami tanda-tanda akhir zaman khususnya berkaitan dengan tampilnya Al-Mahdi. Sebab kita sadar bahwa situasi membingungkan karena perselisihan pendapat antar sesama mukminin, bahkan sesama muwahhidin dan mujahidin, justru menandakan sudah semakin dekatnya kedatangan Al-Mahdi. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ

وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

 “Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa.  Maka Al-Mahdi akan memenuhi bumi secara merata dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi secara merata dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR. Ahmad – para perawinya tsiqat)

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jelas sekali disebutkan adanya tiga prakondisi menjelang tampilnya pemimpin kaum beriman di akhir zaman, yakni Al-Mahdi. Pertama, perselisihan antar-manusia. Kedua, gempa-gempa dan ketiga, kezaliman telah merata di segenap penjuru bumi. Bukankah kondisi dunia hari ini telah mencakup ketiga prakondisi tersebut?

Dan coba perhatikan bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan husnudzdzon billah (sangka baik kepada Allah) serta optimisme ke dalam diri umatnya dimana ketiga prakondisi yang pada lahirnya tampak tidak baik justeru ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya diawali dengan kata-kata: “Aku kabarkan berita gembira…”    

Jadi, di balik buruknya perselisihan antar-manusia, banyaknya gempa dan meratanya kezaliman di muka bumi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita agar menanamkan keyakinan bahwa semua fenomena tersebut justeru menandakan sudah dekatnya kedatangan Al-Mahdi.  Itu semua justeru menandakan bahwa sangat boleh jadi saatnya ummat Islam beralih dari babak keempat kepemimpinan para mulkan jabriyyan menuju babak kelima kepemimpinan khalifah Al-Mahdi sudah sangat dekat.

Dalam kondisi seperti ini sangatlah penting bagi kaum muslimin untuk meyakini bahwa yang samasekali tidak boleh diragukan ialah berbai’at kepada Al-Mahdi pada saat pemimpin kaum beriman tersebut sudah jelas kehadirannya.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ

“Ketika kalian melihatnya (Al-Mahdi) maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju.” (HR. Ibnu Majah)

Oleh karenanya pada masa sekarang inilah kita wajib mengumpulkan sebanyak mungkin ilmu dan pegetahuan mengenai ciri-ciri tampilnya Al-Mahdi sesuai arahan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan lupa, musuh-musuh Islam juga mempelajari hadits-hadits terkait akhir zaman, termasuk soal figur Al-Mahdi. Maka sangat mungkin bahwa mereka telah menyiapkan Al-Mahdi palsu versi mereka untuk menyesatkan kaum muslimin.

Sadarilah bahwa pembaiatan Al-Mahdi akan berlangsung di depan Ka’bah. Pembai’atannya terjadi ketika matinya seorang khalifah atau seorang pemimpin. Gelombang pertama yang membai’atnya terdiri dari sejumlah orang yang mirip dengan jumlah pasukan perang Badar yaitu sekitar 313 orang saja. Pembai’atannya dilakukan dengan paksaan karena Al-Mahdi sendiri sebenarnya menolak untuk dibai’at.

Sesudah itu akan ada seorang penguasa zalim dari Syam mengutus pasukan untuk memerangi Al-Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Tetapi taqdir Allah mendahului mereka, pasukan tersebut dibenamkan Allah ke dalam bumi di sebuah padang pasir terbuka antara Madinah dan Mekkah. Begitu kabar pembenaman pasukan itu tersiar ke seluruh dunia, maka berdatanganlah gelombang kedua kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia untuk membai’at Al-Mahdi di depan Ka’bah. Dan secara khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan di antara mereka ialah orang-orang terbaik dari Syam dan Iraq.

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi perselisihan saat matinya khalifah, lalu seorang laki-laki (Al-Mahdi) akan keluar dari Madinah pergi menuju Makkah. Lantas beberapa orang dari penduduk Makkah mendatanginya. Mereka memaksanya keluar (dari dalam rumah) meskipun ia tidak menginginkannya. Orang-orang itu kemudian membaiatnya pada suatu tempat antara Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim).

Lalu dikirimlah sepasukan dari penduduk Syam untuk memeranginya, tetapi pasukan itu justru ditenggelamkan(Allah) di Al-Baida, tempat antara Makkah dan Madinah. Maka ketika manusia melihat hal itu, maka orang-orang shalih dari Syam dan orang-orang terbaik dari penduduk Irak membaiatnya antara rukun dan Maqam.

Lalu tampillah seorang laki-laki dari bangsa Quraisy, paman-pamannya dari suku Kalb. Ia lalu mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka (orang-orang yang berbaiat kepada Al-Mahdi) namun (Al-Mahdi dan pasukannya) dapat mengalahkan  mereka. Alangkah ruginya orang yang tidak ikut serta dalam pembagian ghanimah perang suku Kalb. Ia (Al-Mahdi) lalu membagi ghanimah, dan ber’amal di tengah manusia dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan Islam ke seluruh penduduk bumi. Ia berkuasa selama tujuh tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin menyolatkannya.”

(HR. Abu Dawud – Sanadnya Hasan)

Ketika Al-Mahdi telah dibai’at oleh gelombang kedua, maka Al-Mahdi segera memiliki pasukan bersenjata yang selanjutnya mengalahkan suatu pasukan yang dipimpin seorang Quraisy. Pemimpin Quraisy itu didukung oleh paman-pamannya dari suku Kalb yang kaya. Sesudah itu Al-Mahdi akan membebaskan negeri demi negeri. 
Al-Mahdi akan mengibarkan panji-panji Al-Jihad Fi Sabilillah untuk memerdekakan negeri-negeri yang selama ini dikuasai oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).

Al-Mahdi akan mengawali suatu proyek besar membebaskan dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata, Rabb dan Raja tunggal langit dan bumi. Al-Mahdi akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang mencerminkan kalimah thoyyibah Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah dari ujung dunia paling timur hingga ujung paling barat. Al-Mahdi akan memimpin umat Islam di akhir zaman untuk berpindah dari babak keempat kepemimpinan Mulkan Jabriyyan kepada babak kelima Khilafah ‘ala Minhaj An-Nubuwwah. Al-Mahdi dengan izin Allah akan mengisi bumi dengan keadilan sesudah bumi dipenuhi dengan kezaliman.

فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

 “Maka Al-Mahdi akan memenuhi bumi secara merata dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi secara merata dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR.Ahmad – para perawinya tsiqat)

Kembali berbicara mengenai IS, di dalam teks deklarasi tegaknya Khilafah Islamiyyah sekaligus pembubaran ISIS, juru bicara IS menyampaikan kalimat sebagai berikut:

“Maka hendaklah kalian menjaga amanah yang berat ini, dan pikullah panji ini dengan segenap kekuatan, siramilah dengan darah kalian dan angkatlah di atas serpihan-serpihan badan kalian, dan matilah di bawahnya, sampai kalian menyerahkannya in Syaa Allah kepada Isa Ibnu Maryam ‘alaihissalam.”

Kalimat diatas menunjukkan sebuah harapan penuh optimisme bahwa IS merupakan khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (kekhalifahan yang mengikuti metode kenabian).

Namun di balik optimisme itu ada pertanyaan penting yang perlu dijawab: Dimanakah Al-Mahdi?

Mengapa sebuah deklarasi tegaknya khilafah yang begitu penting di akhir zaman tidak menyebut Al-Mahdi sedikitpun?

Jika sosok Isa ibnu Maryam ‘alaihis-salam disebut-sebut, lalu mengapa sosok Al-Mahdi tidak disebut?

Bukankah pasukan bendera hitam merupakan pembuka jalan bagi munculnya pemimpin kaum beriman di akhir zaman, yaitu Al-Mahdi?

Bila dalam waktu dekat peristiwa pembai’atan Al-Mahdi berlangsung di depan Ka’bah, bagaimanakah gerangan IS akan menyikapinya?

Semoga, kita berharap kepada Allah ta’ala, IS akan segera menyerahkan panjinya kepada Al-Mahdi. Sebab demikianlah yang kami fahami selama ini, bahwa khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (kekhalifahan yang mengikuti metode kenabian) di akhir zaman pasti akan dipimpin oleh Al-Mahdi.

Dalam kondisi seperti ini sangatlah penting bagi kaum muslimin untuk meyakini bahwa yang samasekali tidak boleh diragukan ialah berbai’at kepada Al-Mahdi pada saat pemimpin kaum beriman tersebut sudah jelas kehadirannya. Dan dalam rangka mengantisipasi hal itu, maka sejak sekarang setiap orang beriman haruslah memastikan kelayakan dirinya untuk diizinkan Allah berbai’at dengan Al-Mahdi dan bergabung ke dalam thaifah manshurah (pasukan yang selalu ditolong Allah). Jika diri kita di mata Allah dipandang compatible (layak) menjadi bagian dari pasukan Al-Mahdi niscaya Allah akan mudahkan kita bergabung bersamanya. Namun demikian pula sebaliknya.

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Sesungguhnya Rasulullah bersada: “Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah.” (HR. Muslim – Shahih)

Wallahu’alam.

—–

Written by: Ustadz Ihsan Tandjung

Link: http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php/artikel-utama/370-akhir-babak-keempat-dan-awal-babak-kelima

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s