Studi Komparatif-Membongkar Sejarah, Andalusia Riwayatmu Kini – PART 3

PART 1 : https://islamichroniclers.wordpress.com/2015/04/07/andalusia-riwayatmu-kini-1/
PART 2: https://islamichroniclers.wordpress.com/2015/04/14/andalusia-riwayatmu-kini-2/

—–

Bani berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah keturunan, sedangkan Israil itu sendiri terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Ibrani (bahasa yang hampir punah) “Isra dan iel, Isra artinya hamba dan iel adalah Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan, maka jangan heran jika keturunan Isail/bani Israil bangga dengan nasabnya karena ada faktor sejarah versi keyakinan dan buku bacaan/kitab suci mereka.

Israil adalah kalimat Ibrani yang merupakan gelar yang diberikan oleh Tuhannya orang Yahudi yaitu Yahwe kepada nabi Ya’kub, karena nabi Ya’kub dapat mengalahkan Tuhan dalam pertarungan antara keduanya, setelah itu Yahwe berkata: “Setelah ini janganlah kamu dipanggil Ya’kub tapi Israil, karena kamu telah mengalahkan Tuhan.”

Adapun Yahudi itu sendiri adalah kalimat yang dinisbatkan kepada anak keempat dari nabi Ya’kub yang bernama Yahoudza, gelar ini muncul setelah runtuhnya kerajaan Yahoudza. Maksud kata Yahudi adalah kalimat yang berartikan “Sesungguhnya kami telah kembali kepada Engkau wahai Tuhan”.

Yang disebutkan sebagai keturunan Israil adalah dari keturunan nabi Ishak dan Ya’kub ‘alaihima as-salam, bukan dari nabi Ismail, orangtua daripada nabi Ishak dan Ismail ‘alaihima as-salam adalah nabi Ibrahim, hanya saja beda ibu, Ishak dari Sarah adapun Ismail dari Hajar. Akan tetapi keturunan Israil hanya berlaku dari nabi Ishak dan seterusnya, dari nabi Ishak inilah banyak menghasilkan nabi. Maka jangan heran kalau bani Israil bisa berbangga karena memang banyak leluhur mereka menjadi nabi kendati mereka sendiri membunuh para nabinya karena kedurhakaan.

Kitab suci orang Yahudi adalah Taurat dan Talmud, posisi Talmud sangat suci bagi orang Yahudi, bagi mereka Taurat dianggap sebagai roti dan Talmud sebagai lauknya, jika beriman kepada Taurat tapi tidak kepada Talmud, maka tidak sah.

Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam adalah keturunan Israil, mereka berdua sukses membawa Bani Israil kepada kegemilangan sejarah dan kemakmuran (fase keemasan). Setelah wafatnya Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam, Bani Israil yang dulu kuat dan dipuja-puja akhirnya menjadi kaum yang lemah dan mengalami perpecahan yang akhrinya dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Kerajaan selatan dengan Yerusalem sebagai ibukota di pimpin oleh Rahbaam (Rehabeam) – (913-930/31 SM).
  2. Kerajaan utara dengan Nabloes sebagai ibukota dan dipimpin oleh Yarbaam (Yerabeam) – (909/910-930/931 SM).

Mereka berdua adalah keturunan para pemimpin Bani Israil terdahulu. Rahbaam adalah putra Nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam menjadi penerus dari kepemimpin ayahnya, sedangkan Yarbaam enggan berjalan bersama dan lebih memilih menjadi oposisi ketimbang koalisi dengan Rahbaam dalam memimpin Bani Israil. Dari sinilah berawal perpecahan demi hasrat politik menuju kekuasaan dari kubu Yarbaam.

Faktor mendasar kemunduran Bani Israil

Terlena dengan kejayaan, perebutan tahta kekuasaan, maraknya kubu oposisi yang bersifat subyektif, perpecahan, hidup yang berfoya-foya, krisis moral, dan unsur duniawi lainnya; menjadi faktor paling mendasar kemunduran Bani Israil. Setelah beberapa kurun dalam fase kemunduran, estafet kepemimpinan Bani Israil diteruskan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihima as-salam dengan membawa risalah ilahi. Keduanya mampu mengeluarkan Bani Israil dari penindasan turun temurun di bawah kekuasaan sang diktator Mesir Fir’aun serta berhasil dengan taufik dari Allah Ta’ala seperti yang diceritakan di banyak ayat dalam Kitab suci Al Quran. salah satunya di Surat Al A’raaf ayat 103-137 juz 9.

Tambuk kepemimpinan Bani Israil-pun berganti seiring dengan wafatnya kedua utusan Allah tersebut. Yusha Bin Nun salah seorang murid kepercayaan Nabi Musa ‘alaihi as -salam yang akhirnya menjadi pemimpin Bani Israil membawa mereka ke tanah sakral Palestina dan menetap di sana dalam jangka waktu yang lama.

Yusha Bin Nun membagi masa kepemimpinan Bani Israil menjadi 3 bagian:

  1. Masa pemerintahan,
  2. Masa kerajaan/kejayaan,
  3. Masa perpecahan.

Di bawah kepimimpinan nabi Daud ‘alahi as-salam awal masa pemerintahan, diteruskan nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam dengan masa kejayaan. Setelah mereka berdua wafat datanglah masa perpecahan seperti yang diceritakan pada paragraf sebelumnya.

—–

TO BE CONTINUED

—–

Link: http://www.dakwatuna.com/2014/10/30/59198/studi-komparatif-membongkar-sejarah-andalusia-riwayatmu-kini/

Written by: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s