Akhirul Zaman: Akhir Babak Keempat Dan Awal Babak Kelima? – PART 1

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menguraikan ringkasan sejarah ummat Islam sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus hingga datangnya As-Sa’ah.

Uraian tersebut berisi lima babak perjalanan umat Islam dengan karakter kepemimpinan pada masing-masing babak tersebut.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِفَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Masa (1) kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa (2) Kekhalifahan mengikuti Minhaj (metode) Kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa (3) Raja-raja yang Menggigit selama beberapa masa, selanjutnya datang masa (4) Raja-raja/para penguasa yang memaksakan kehendak (diktator) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali (5) Kekhalifahan mengikuti Minhaj (metode) Kenabian. Kemudian Rasul SAW terdiam.” (HR. Ahmad Shahih)

Babak demi babak telah dilalui umat Islam dan hari ini kita hidup di babak keempat yaitu era kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Babak ini merupakan babak paling kelam di dalam keseluruhan sejarah umat Islam.

Mengapa?

Karena di babak keempat ini kepemimpinan dunia berada di tangan kaum kafir. Sedangkan di negeri-negeri berpenduduk muslim para pemimpinnya mengekor kepada kepemimpinan dunia berupa kaum yahudi dan nasrani tersebut sampai masuk ke dalam lubang biawak (baca: kehancuran).

Ini telah di-nubuwwah-kan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak lima belas abad yang lalu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ

لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, niscaya kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum yahudi dan nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka? (HR. Muslim – Shahih)

(Lihat tulisan berjudul Masuk Ke Dalam Lubang Biawak” dan “Sulitnya Keluar Dari Jebakan Lubang Biawak“)

Namun demikian, orang beriman tidak merasa sedih dan menjadi pesimis menyadari realita pahit dunia hari ini.

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Mukmin tahu dan yakin bahwa masalah kejayaan dan keruntuhan suatu umat merupakan sunnatullah yang telah digariskan Allah ta’ala. Ada gilirannya kaum kafir berjaya dan akan ada saatnya kaum kafir mengalami keruntuhan. Ada gilirannya kaum beriman merasakan derita kekalahan dan akan tiba saatnya kaum beriman meraih kemuliaan dan kejayaan.

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Ali Imran: 140)

Maka di dalam hadits di atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa sesudah babak paling kelam ini umat Islam akan berjaya kembali dengan datangnya babak kelima yaitu tegaknya khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (kekhalifahan yang mengikuti metode kenabian).

Tegaknya kekhalifahan tersebut akan ditandai dengan di-bai’atnya pemimpin kaum beriman yang bergelar Al-Mahdi (laki-laki yang mendapat petunjuk). Al-Mahdi akan di-baiat di depan Ka’bah di Mekkah. Itulah sebagian dari rangkaian peristiwa akhir zaman yang sudah di-nubuwwah-kan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berita gembira untuk orang beriman. Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk kepada berbagai tulisan dan penjelasan tentang ini.

Terbetik berita pada awal Ramadhan 1435 / akhir Juni 2014 kemarin ada sebuah kelompok yang asalnya bernama ISIS (Islamic State of Iraq and Sham) membubarkan diri untuk kemudian mendeklarasikan berdirinya Al-Khilafah Al-Islamiyyah (Kekhalifahan Islam). Untuk selanjutnya mereka mencukupkan penyebutan dirinya sebagai Daulah Islamiyah atau IS (Islamic State). Mereka telah mengangkat pemimpin mereka (mem-bai’at-nya) sebagai Khalifah (pemimpin khilafah). Berita ini telah menggemparkan dunia Islam. Bagaimanakah sepatutnya kita menyikapi fenomena ini?

Sejatinya setiap orang beriman yang peduli akan ‘izzul Islam wal-muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin) pantas menyambut dengan gembira kabar tegaknya khilafah bagi seluruh kaum muslimin, sesudah hampir satu abad sistem bermasyarakat dan bernegara yang dirintis dan dicontohkan Nabi Muhammad tersebut raib dari realitas ummat Islam. Oleh karena itu, betapapun seorang muslim belum tahu banyak bagaimana sepak-terjang sebenarnya IS tersebut, namun sudah sepantasnya ia mendahulukan husnudz-dzon kepada Allah bahwa ini merupakan sebuah perkembangan yang mengandung kebaikan. Lalu apa selanjutnya?

Di era keterbukaan informasi sudah lazim jika kita mencari tahu informasi tentang IS ini lewat media internet. Namun kita mesti menyadari bahwa era ini juga merupakan era penuh fitnah dimana media informasi merupakan salah satu sarana utama penyebarluasan berbagai informasi menyesatkan atau hoax, di samping informasi yang benar. Jika kita jujur ternyata berbagai berita yang beredar terkait dengan IS ini sangat beragam bahkan seringkali kontradiktif. Ada yang isinya mengandung gambaran positif yang membuat kita menjadi penuh harapan, optimis dan bangga akan kiprah IS. Namun sebaliknya kitapun mendapati berita-berita negatif yang membuat kita menjadi bertanya-tanya bahkan terkadang menjadi sulit memahami mengapa kiprah IS sepertinya tidak sesuai dengan aturan Islam.

Oleh karena itu kita diperintahkan Allah agar melakukan tabayyun (periksa kembali) atas informasi yang kita terima. Namun upaya melakukan tabayyun di era penuh fitnah dewasa ini ternyata tidak semudah yang dikira. Di sana-sini kita dapati kemungkinan manipulasi data dan informasi yang, disengaja maupun tidak, tetap akan men-distorsi informasi yang ada.

Di era penuh fitnah dewasa ini, ummat dibuat bingung dengan berbagai kontradiksi berita tentang situasi di negeri-negeri yang bergolak baik itu di Irak, Suriah, Afghanistan, Myanmar, Burma, Srilanka sebagian Afrika dan Palestina. Dengan perkembangan teknologi informasi, satu foto yang diambil di belahan bumi manapun dapat disebarkan ke seluruh dunia dalam waktu singkat. Dan bahkan dapat dimanipulasi dengan memberikan keterangan seolah foto tersebut diambil di tempat yang berbeda dengan sebenarnya. Foto tentang suatu peristiwa atau seseorang, dapat dimanipulasi sebagai foto peristiwa lain atau orang lain hanya dengan sedikit kutak-katik (editing) foto.

Demikian pula hebatnya fitnah dalam bentuk berbagai faham, aliran, golongan, sekte, kelompok. Tidak jarang satu sama lain saling bermusuhan, yang bahkan banyak di antara kelompok-kelompok tersebut merupakan kelompok-kelompok sempalan hasil rekayasa musuh-musuh Islam dengan berkedok sebagai kelompok islam. Fitnah semacam ini semakin menambah kerumitan kita dalam mencari informasi yang benar. Terutama upaya tabayyun menjadi semakin sulit di negeri-negeri yang sedang bergolak. Singkatnya, karena terhalang jarak dan berbagai penghalang lain, kita tak dapat melakukan tabayyun sebagaimana mestinya.

Mirisnya, segala kontradiksi informasi tersebut sampai ke derajat mengkhawatirkan. Di satu pihak sangat negatif sehingga dapat dianggap melanggar syariat Islam bahkan keluar dari Islam, dan di lain fihak sangat positif sampai kita melihat ketidak wajaran dalam pembelaan (ghuluw/berlebihan).

Dalam situasi seperti ini, kita perlu arif dalam bersikap. Hendaknya kita tidak begitu saja ikut-ikutan mendukung maupun menolak berita tentang kelompok IS ini. Setiap berita sebaiknya kita saring lagi dengan meneliti sumber-sumbernya, meneliti dalil-dalilnya, meneliti siapa yang menyebarkannya. Kita harus berusaha semaksimal mungkin menggunakan kacamata Islam dalam memberikan penilaian, sebab kita tahu di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ada orang Badui yang mengatakan mereka beriman, namun dibantah Allah. Allah katakan bahwa mereka belum beriman. Mereka baru sebatas tunduk (Islam) sebab keimanan belum masuk ke dalam hati mereka. Ini menunjukkan bahwa memang ada orang-orang yang sudah jelas beriman dengan benar dan kuat (kepada merekalah kita percaya), ada yang belum kuat, bahkan ada yang munafik. Sumber berita yang berbeda dapat membuat perbedaan yang besar dalam pengambilan kesimpulan.

Oleh karena sedikitnya informasi akurat yang dapat dipercaya, sudah sepatutnya kita mengambil sikap tawaqquf (tidak begitu saja membenarkan namun tidak sepenuhnya menolak).

Hendaknya kita tidak sepenuhnya mendukung sehingga tanpa sadar kita ikut mendukung nilai-nilai kebatilan yang boleh jadi tersusupi di dalamnya. Atau hendaknya kita tidak sepenuhnya menolak sehingga tanpa sadar kita menolak nilai-nilai kebenaran yang ada di dalamnya. Inilah konsekuensi hidup di era penuh fitnah di Akhir Zaman.

—–

TO BE CONTINUED

—–

Written by: Ustadz Ihsan Tandjung

Link: http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php/artikel-utama/370-akhir-babak-keempat-dan-awal-babak-kelima

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s