Islam Tak Butuh Multikultularisme (via Islampos)

Berbicara multikulturalisme, isu ini ternyata sudah mulai muncul sekitar tahun 2005. Di Yogyakarta saat itu pernah digelar halaqah tarjih, “Menuju Muslim berwawasan Multikultural”. Multikulturalisme dalam halaqah ini dipahami melalui tiga sudut pandang: tauhid sosial, falsafah dan syariah (buku Reinvensi Islam Multikultural, 2005, hal vi). Tak hanya itu saja, Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies (Impluse) di Sleman, Yogyakarta mengadakan Sekolah Teori Multikulturalisme (STM).

Sekolah singkat ini diadakan dengan maksud untuk untuk membangun dialog konstruktif dan mendekatkan multikulturalisme sebagai perspektif tentang kehidupan manusia. Materi yang diajarkan kepada pesertanya terdiri dari: Multikulturalisme ala Indonesia, Epistemologi Multikulturalisme, Gender dan Multikulturalisme hingga materi Negara, Kebijakan, dan Politik Multikultur (Sumber: Akun Facebook Impulse Jogja).

Multikulturalisme juga dipakai Perguruan tinggi sebagai “brand image”. Perguruan tinggi yang saya maksud contohnya Unisma Malang, UIN Malang dan Universitas Kanjuruhan Malang. Untuk Unisma sendiri belum bisa dikatakan kampus multikultural karena mayoritas mahasiswanya dari kalangan Nahdliyin saja. Berbeda dengan Universitas Kanjuruhan yang memiliki banyak mahasiswa non Muslim terutama dari Indonesia bagian timur.

Selain Universitas Kanjuruhan, Unmuh Malang bisa dikategorikan kampus Multikultural. Pasalnya di sana terdapat beragam mahasiswa dari berbagai budaya dan agama. Bahkan mahasiswa asingnya cukup banyak khususnya dari Australia.

Unmuh Malang juga salah satu perguruan tinggi di Malang yang menjalin kerja sama dengan Australia, melalui Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS). Dalam program pertukaran mahasiswa ini, setiap tahun ada saja mahasiswa Australia yang belajar di Unmuh Malang. Demikian sebaliknya, mahasiswa dan dosen Unmuh dikirim ke negeri Kanguru itu.

Lagi-lagi masih berhubungan dengan isu Multikulturalisme, seperti yang saya singgung diawal, multikulturalisme adalah wacana lama yang diangkat lagi. Pada 14 Maret 2015, saya mengikuti bedah buku Prof. Dr. Syamsul Arifin yang berjudul, Studi Islam Kontemporer: Arus Radikalisasi dan Multikulturalisme. Acara ini diselenggarakan Pusat studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana UMM bekerjasama dengan The Asia Foundation. Diikuti lebih dari 150 peserta dari mahasiswa, santri, dosen, guru dan aktivis LSM.

Buku Guru besar Sosiologi agama UMM Malang tersebut dibedah oleh Budhy Munawar Rachman dan 3 dosen UMM Malang, yakni Prof Dr Ishomuddin, Prof Dr Tobroni, dan Moh Nurhakim PhD. Budhy Munawar menilai buku karangan Syamsul Arifin masuk kategori “post-modern”. Pendekatan yang dipakai masih relevan dengan problem keagamaan seperti kaum Minoritas (agama lokal) yang menemui problem seperti kolom agama di KTP, pengurusan surat nikah dan akte lahir.

Saat membaca buku ini, saya bisa menangkap empat hal: Pertama, sosok Syamsul Arifin dapat dikategorikan orang Timur yang mengkaji Timur dengan kacamata Barat. Kedua, beliau dengan tegas mengusung Multikulturalisme untuk membendung maraknya Radikalisme dan terorisme di tengah umat Islam. Jadi, boleh dibilang Multikulturalisme merupakan obat De-radikalisasi.

Ketiga, ada yang aneh dari buku ini, Multikulturalisme hanya diulas diawal saja selebihnya Syamsul Arifin mengulas Hizbut Tahrir, Syiah (YAPI) di Bangil dan Minoritas Muslim di Australia. Kemudian bila melihat indeks buku tersebut, kata “Multikulturalisme” hanya muncul 5 kali. Sedangkan kata “Radikal” dan “Radikalisme” masing-masing muncul 14 kali dan 6 kali.

Keempat, di buku ini tidak dijelaskan bagaimana penerapan multikulturalisme minimal untuk keluarga terdekat. Saya curiga, jangan-jangan nanti gayanya seperti tokoh pengusung bolehnya nikah beda agama. Kepada orang lain, mendorong dan promosi habis-habisan, akan tetapi giliran anak kandungnya menikah dengan non Muslim, dia tidak merestui dan mikir berlarut-larut sampai stres berat.

Lantas apa yang di maksud dengan Multikulturalisme?

Saya pilihkan definisi yang mudah dipahami pembaca. Misalnya dalam buku Panduan Integrasi Nilai Multikultur dalam Pendidikan Agama Islam pada SMA dan SMK, terbitan Kementerian Agama RI, Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII), dan TIFA Foundation, dijelaskan maksud multikultural adalah “kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, gender, bahasa, ataupun agama.

Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan, multikultural memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Dengan definisi semacam ini, kata Adian Husaini PhD, multikulturalisme sedang mendorong seorang Muslim untuk melepas wawasan keimanannya. Muslim dijerat untuk berpikir, bahwa tiada beda antara tauhid dan syirik. Agama seolah menjadi diletakkan dalam ranah pribadi.

Di ranah publik, semua harus diperlakukan sama. Jangan peduli, apakah agama dan budaya itu sesat atau bejat. Yang penting agama, yang penting budaya! Kata mereka, Negara tidak berurusan dengan soal kebenaran atau kesesatan. Negara harus bersikap netral! (Adian Husaini dalam Koran Republika 19 April 2012, hal 24). Dari sinilah kita harus mewaspadai maksud sebenarnya dari paham Multikulturalisme yang digaung-gaungkan pihak tertentu khususnya di bidang pendidikan.

Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa Islam tidak butuh yang namanya Multikulturalisme.

Alasannya pertama, pada hakekatnya Multikulturalisme diusung kalangan Liberal yang ujung-ujungnya menguntungkan pihak tertentu. Kedua, Agama ini sudah lengkap ajarannya, hanya saja kita malas menggali ajarannya dan lebih menyukai ajaran dan paham di luar Islam. Bukankah sedari dulu Islam dikenal sebagai “rahmatan lil’alamin” (QS. al-Anbiya: 107).

Sekarang tinggal bagaimana kita memahami maksud rahmatan lil’alamin tersebut dan berusaha mempraktekkannya agar tercipta kedamaian bagi manusia maupun alam.

Wallahu’allam bishowwab.

—–

Written by: Fadh Ahmad Arifan, S2 Studi Islam di Pascasarjana UIN Malang dan Pendidik di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 2, Malang

Link: https://www.islampos.com/islam-tak-butuh-multikultularisme-171399/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s