Belajar Dari Para Pemimpin Masyumi – PART 2/2 (via Islampos)

Karena itu, sesudah Pemilu tahun l955, yang diselenggarakan oleh pemerintahan Burhanuddin Harahap (Masyumi), yang berlangsung sangat demokratis, maka dengan perolehan suara (56 kursi) di parlemen, selanjutnya perjuangan para pemimpin Masyumi dan Partai-Partai Islam lainnya, di parlemen (Konstituante) adalah memperjuangkan agar Islam menjadi dasar negara. Hal ini, tergambar dengan pidato-pidato para pemimpin Masyumi, yang menghendaki agar Islam menjadi dasar negara.

Pidato Natsir, Isa Anshori, Prawoto, dan lainnya di Konstituante, sangat monumental, betapa besarnya komitmen mereka untuk memperjuangan cita- cita Islam, agar menjadi dasar negara. Natsir dalam pidatonya di Konstituante, secara gamblang menegaskan, bahwa Pancasila adalah ideologi ‘la diniyah’ (sekuler), karena itu satu-satunya yang dapat menyelamatkan negara, hanya bila Islam menjadi dasar negara, tegas Natsir.

Dalam pidatonya di Konstituante di Bandung, tahun 1957, Natsir menolak Pancasila dijadikan dasar negara. Selanjutnya, menurut Natsir, bagi seorang sekuleris, soal Ketuhanan, sampai kepada soal Ketuhanan Yang Maha Esa, tak ada hubungannya dengan wahyu, baginya soal Ketuhan adalah soal ciptaan manusia yang berganti-ganti. Pemimpin Masyumi itu mengingatkan bahwa paham ‘ la diniyah’ (sekuler) seperti tercermin pada Nazisme. Katanya, faham sekulerisme ini tidak sejalan dengan jalan pikiran bangsa kita yang beragama. Natsir juga mengaskan tidak setuju dengan pendapat Soekarno, yang mengatakan bahwa Pancasila merupakan pemersatu bangsa, padahal golongan komunis tidak bisa menyetujui sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, seungguhpun mereka menyokong (mendukung) Pancasila di Konstituante.

Polemik di Konstituante itu, yang menyebabkan golongan nasionalis dan komunis, yang menyokong Pancasila, kehilangan hujjah, yang kemudian Soekarno membubarkan Konstituante melalui sebuah dekrit (tahun 1959), dan kembali ke UUD ’45. Dan, pada saat itulah telah mati sebuah demokrasi di Indonesia. Namun, semua itu tak menyurutkan perjuangan para pemimpin Masyumi, menghadapi Soekarno, yang mulai bertindak diktator.

Tentu, yang menarik sumbangan para pemimpin Masyumi terhadap negara dan bangsa, mereka semua terlibat dalam pengelolaan negara secara intens. Tanpa harus bersikp permisif. Bahkan, semenjak Indonesia merdeka, di mana pemerintahan pertama dibentuk telah duduk tokoh-tokoh Masyumi.

Sukiman, Natsir, Buhanuddin Harahap, pernah menjabat sebagai perdana menteri. Sementeri itu, Syafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, dan Mohamad Roem, menjadi wakil perdana menteri. Sejumlah tokoh Masyumi lainnya, juga duduk dalam pemerintahan. Umumnya, tokoh-tokoh yang memiliki keahlian, yang sangat tinggi dan memadai dalam pengelolaan negara. Bahkan, diawal kemerdekaan mereka terlibat beragai perundingan dengan penjajah Belanda.

Terbentuknya negara kesatuan republik Indonesia, juga berkat jasa Mohamad Natsir, melalui mosi ‘integral’.

Masyumi, akhirnya dibubarkan oleh Soekarno, karena mereka memiliki prinsip yang sangat teguh dalam mempertahankan cita-cita politiknya, dan tidak mau mengkompromikan dengan keinginan penguasa (Soekarno), dan akhirnya mengantarkan para pemimpin Masyumi, sebagian besar di penjarakan. Sebuah perjalanan yang indah, dan perlu diingat kembali bagi generasi berikutnya, karakter dan sikap yang dimiliki para pemimpin Masyumi. Wallahu a’lam.

—–

Source: Majalah SAKSI, Jakarta

Taken from: https://www.islampos.com/belajar-dari-pemimpin-masyumi-159309/2/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s