Meniru Keteladanan Umar bin Abdul Aziz (via Islampos)

Suatu hari seorang memberikan hadiah kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menolak hadiah ituj, namun kemudian ada seorang mengatakan bahwa Rasulullah saw pun menerima hadiah. Lalu Umar berkata, “Bagi Rasulullah itu memang hadiah, tetapi bagi kita adalah risywah (suap).”

Kisah tersebut menggambarkan betapa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai pemimpin ingin menjalankan tugas kepemimpinan dengan seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya. Kehati-hatinya dalam menjalankan tugas begitu fenomenal, sampai-sampai beliau menganggap hadiah bagi dirinya maupun keluarganya sebagai suap.

Ada dua kemungkinan yang menjadi alasan Khalifah Umar bin Abdul Aziz menganggap hadiah sebagai suap. Pertama, bagi nabi hadiah tidak akan mempengaruhi kebijakan sedikitpun sebagai nabi maupun sebagai kepala negara. Sebab beliau adalah orang yang paling bertaqwa dan dijaga Allah (ma’shum).

Sedangkan bagi Umar bin Abdul Aziz hadiah itu bisa mempengaruhi kebijakan sebagai pemimpin, karena beliau sadar bahwa dirinya manusia biasa yang sangat mudah tergoda. Kedua orang memberi hadiah kepada Nabi Muhammad dengan tulus, tidak ada tujuan duniawi di balik itu. Tapi kebanyakan orang memberi hadiah kepada atasannya termasuk kepada Umar bin Abdul Aziz sebagai khilafah, terdapat tujuan-tujuan duniawi.

Pengaruh kepemimpinan tak pelak memang sangat besar bagi rakyatnya. Jika pemimpin suka menerima hadiah maka kemungkinan ada dua fitnah yang bisa timbul: Pertama akan muncul tuduhan sang pemimpin tengah memanfaatkan kepemimpinnnya untuk memupuk kekayaan melalui hadiah-hadiah. Kedua, kesukaan pemimpin yang menerima hadiah itu akan ditiru rakyatnya hingga praktek peniruannya bisa lebih jauh. Sampai-sampai tidak bisa dibedakan antara hadiah dan suap.

Demikian adil dan bijak Umar bin Abdul Aziz sehingga rakyat merasakan keadilannya dan hidup makmur. Keadilan dan kebijakannya sangat transparan sehingga bisa dpertanggungjawabkan kepada siapa saja. Keadilan dan kebijakan beliau patut diteladani, khususnya oleh para pemimpin bangsa kita sekarang ini.

Apalagi kita tengah menderita multikrisis yang tiada tahu kapan akan berakhir, ditambah bencana alam dimana-mana. Akan sangat menyakitkan bila para pemimpin masih juga curang terlibat dan melindungi KKN dengan cara elegan dan merampas dan mengambil yang bukan haknya.

Maka bila ingin menyelamatkan bangsa ini dari kepailitan dan ingin mendapat kepercayaan dari masyarakat, maka hendaknya berlaku adil dan jujur mungkin serta transparan mungkin seperti yang dicontohkan Umar bin Abdul Aziz.

—–

Edited by: @pokamamil

Written by: Tahidin Bahasin S.Pt, Mantan Pengurus Forum Kajian Islam Rabbani Masjid Nurul Ilmi, Universitas Andalas.

Taken from: http://www.islampos.com/meniru-umar-154396/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s