Masyarakat Tauhid Sebagai Masyarakat Alternatif – PART 2/2 (via Islampos)

Continued from PART 1

—–

Tauhid berfungsi antara lain mentransformasikan setiap individu yang meyakininya menjadi manusia yang memiliki sifat-sifat mulia yang membebaskan dirinya dari setiap hegemoni sosial, politik, ekonomi dan budaya. Hegemoni-hegemoni yang memasungnya ke dalam situasi yang nista, yang tidak manusiawi. Di antara berbagai atribut manusia tauhid adalah:

Pertama, ia memiliki komitmen utuh pada Tuhannya. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan pesan dan perintah Allah sesuai dengan kadar kemampuan yang ada.

Kedua, ia menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah. Dalam konteks masyarakat manusia, penolakannya itu berarti emansipasi dan restorasi kebebasan esensialnya dari seluruh hegemoni buatan manusia, supaya komitmennya pada Allah menjadi utuh dan kokoh.

Ketiga, ia bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, adat-istiadatnya, tradisi dan faham hidupnya. Bila dalam penilainnya ternyata terdapat unsur-unsur syirik, maka ia selalu bersedia untuk mengubah hal-hal itu agar sesuai dengan pesan-pesan ilahi. Manusia tauhid adalah progresif karena ia tidak pernah menolak setiap perubahan yang positif.

Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Ibadahnya, kerja kerasnya, hidup dan matinya hanyalah untuk Allah semata (lillahi rabbil ‘alamin). Ia tidak pernah terjerat ke dalam nilai-nilai palsu atau hal-hal yang tanpa nilai (disvalues). Sehingga tidak pernah mengejar kekayaan, kekuasaan, dan kesenangan hidup sebagai tujuan. Sebaliknya hal-hal tersebut terakhir ini adalah sarana belaka untuk mencapai keridhaan Allah.

Kelima, manusia tauhid memiliki visi yang jelas tentang kehidupan yang harus dibangunnya bersama-sama manusia lain. Suatu kehidupan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya, dengan lingkungan hidupnya, dengan sesama manusia dan dengan dirinya sendiri. Pada gilirannya, visi tersebut mendorongnya untuk mengubah dan membangun dunia dan masyarakat sekelilingnya. Sehingga kewajiban untuk menjebol masyarakat yang jumud dan membangun masyarakat baru dipandang sebagai misi utama sepanjang hidupnya.

Sikap hidup di atas merupakan sikap hidup yang sangat positif dalam melihat dan menghadapi dunia. Bila sejumlah individu memiliki komitmen tersebut dan menerima dengan ikhlas misi untuk selalu mengubah dan membangun masyarakat serta dunia, maka sejumlah individu itu kemudian membentuk suatu ummah. Tugas Nabi Muhammad SAW sendiri, bila kita perhatikan, adalah membangun umat melalui proses tauhid dalam rangka membangun dunia. Masyarakat Muslim atau umat oleh karenanya menjadi suatu gerakan yang dinamis yang dinamisnya itu berjalan sesuai dengan perubahan-perubahan dan tantangan zaman. Sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an, pusat perhatian dari usaha dan gerakan umat tidak terbatas pada suatu masyarakat atau bangsa tertentu, akan tetapi meluas pada seluruh kemanusiaan (Al-Baqarah: 143 dan Ali Imran: 111).

Dari terbentuknya individu atau manusia-manusia tauhid inilah maka akan lahir sekelompok manusia yang dikatakan masyarakat dalam pendapat Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, yaitu lahir dari pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan. Yang dengannya, masyarakat tauhid ini akan membentuk umat yang menggantikan realitas buruk pada tatanan masyarakat saat ini.

Sebagaimana sejak semula umat dibentuk oleh Nabi SAW untuk mengganti tatanan masyarakat jahiliah yang berdasarkan tribalisme (sukuisme), suatu masyarakat yang terperosok ke dalam ashobiyah qibaliyah (semacam fanatisme picik yang melahirkan chauvinisme, jingoism, xenophobisme, emosionalisme, irasionalisme dan ketidakadilan sosial).

Al-Qur’an menyebut fanatisme picik yang bertentangan dengan kemanusian itu sebagai hamiyah jahiliyah (Al-Fath: 26). Eksploitasi antarmanusia dan antarsuku, perbudakan dan kebanggaan-kebanggaan palsu yang tanpa dasar merupakan penyakit-penyakit sosial zaman jahiliyah yang diberantas oleh konsepsi umat. Akan tetapi jangan dilupakan bahwa penyaki-penyakit lama itu masih tetap hadir di zaman modern secara lebih canggih dan dalam beberapa hal, lebih intensif.

Setelah mengutuk fragmentasi sosial akibat hamiyah jahiliyah itu, konsepsi umat mendorong para individu sebagai anak-anak atau anggota umat untuk berkreasi dan bekeraja keras membangun dunia dan masayarakat sesuai preskripsi-preskripsi ilahi. Islam menggarisbawahi bahwa tidak ada tangggung jawab kolektif yang dapat membela individu di hadapan Allah, karena Islam hanya mengakui inisiatif dan tanggung jawab pribadinya. Dengan demikian “individualism” yang ditoleransi Islam dalam arti di atas tidak perlu bertabrakan dengan universalisme umat yang mewadahi aneka ragam ras, bangsa dan masyarakat.

Umat yang merupakan kumpulan orang yang memiliki persepsi lebih kurang sama tentang hakikat dunia, tentang cita-cita dan perjuangannya, tentang tugas dan tanggung jawabnya serta tentang komitmennya pada Tuhan, pada masyarakat dan masa depan. Karenanya, umat itu harus menjadi ummatan wahidatan, umat yang satu dan padu. Bila anggota-anggota umat itu masih bercerai-berai dan bagian-bagian umat juga masih berserakan, maka yang kita temukan adalah umat yang semu. Wallahu’alam.

—–

Written by: Muhammad Syihabulhaq, Pegiat Masyarakat Persaudaraan Muslim Indonesia (MPMI) dan Anggota PD KAMMI Sumedang

Taken from: https://www.islampos.com/masyarakat-tauhid-sebagai-masyarakat-alternatif-2-habis-155706/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s