Merindukan Peradaban Madani (via Islampos)

Kemajuan peradaban seringkali diidentikkan dengan kemajuan fisik, seolah mesti dibuktikan dengan menjulangnya bangunan-bangunan sebuah negeri. Padahal, peradaban sejatinya tidak hanya diukur dari segi fisik, namun juga dari nilai-nilai yang terwarisi dengan baik dari generasi ke generasi. Bukan sekadar mempertahankan bentuk bangunan yang bersejarah, melainkan juga mepertahankan nilai-nilai yang menyejarah, yang akan menjadi ujung tombak dalam membangun peradaban berikutnya. Nilai-nilai inilah yang terangkum dalam agama Muhammad saw, yakni Islam.

Islam yang diturunkan sebagai diin sejatinya telah memiliki konsep nilai yang menyeluruh sebagai peradaban. Sebab kata “diin” itu sendiri telah membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang menaati hukum dan mencari pemerintah yang adil. Artinya, dalam istilah “diin” itu tersembunyi suatu sistem kehidupan yang berdasarkan hukum dan keadilan. Oleh sebab itu, ketika diin (agama) Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat yang sebelumnya bernama Yatsrib itu pun berubah menjadi Madinah. Dari “Madinah” dibentuk kata baru, “maddana”, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan, dan memartabatkan.

Dari akar kata “maddana” lahir kata benda “tamaddun” yang secara literal berarti peradaban (civilization), yang berarti juga kota yang berlandaskan kebudayaan (culture-based city) atau kebudayaan kota (culture of the city).­­ Melahirkan generasi madani adalah solusi terbaik untuk membangun perdaban madani. Peradaban madani adalah kondisi dan situasi dimana nilai-nilai yang terkandung dalam Islam mampu terejawantahkan dengan baik dalam berbagai aspek kehidupan.

Kehancuran peradaban sebelumnya

Sejarah mencatat, berbagai kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi.

Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar mengambil pelajaran (hikmah ) dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. “ Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS. An-Nahl: 36)

Sebagai misal, Kaum ‘Aad telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata:

“Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (QS. Fusshhilaat: 15)

Begitu juga kehancuran yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Di masa Rasuullah saw, kaum Muslim yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain (QS. At-Taubah: 25).

Sejarah juga memperlihatkan bagaimana Peradaban Islam di Spanyol yang sangat agung dan sudah bertahan selama 800 tahun (711-1492) dapat dihancurkan dan akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi Spanyol. S.M. Imamuddin menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran peradaban Islam di Spanyol. Faktor terpentingnya adalah adanya perpecahan dan kecemburuan antar suku. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma’mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristen untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.

Sejarah jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin. Kaum Yahudi yang minoritas dari segi jumlah ternyata dapat mengalahkan kaum Muslim yang sangat besar.

Kehancuran dan kejatuhan berbagai kaum, negeri, bangsa, dan peradaban, inilah yang sepatutnya direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kaum Muslimin, khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim di wilayah Peradaban Melayu. Jatuh-bangunnya suatu peradaban pada dasarnya tergantung pada kondisi manusia-manusia dalam peradaban itu sendiri. Kekalahan dan kehancuran suatu peradaban adalah disebabkan oleh tindakan mereka sendiri.

Al-Qur’an sumber peradaban Madani

Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang menyeluruh. Al-Qur’an mengandung berbagai macam nilai-nilai sebagai substansi dari sebuah peradaban yang agung. Surat pertama dalam Al-Qur’an mengajak manusia untuk senantiasa menimba ilmu.

Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah . Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaran Qalam (QS. Al-‘Alaq : 1-4)

Al-Qur’an menegaskan derajat orang-orang yang berilmu di hadapan Allah. Meski demikian, Al-Qur’an tidak hanya membahas mengenai ilmu dan fadhilah-nya saja, tapi juga objek ilmu yakni alam dan subjek ilmu yakni manusia itu sendiri. Perintah membaca dalam Al-Qur’an tidak hanya membaca sesuatu yang tertulis namun juga membaca dan men-tadabbur-i fenomena alam, penciptaan langit dan bumi, perubahan musim, perubahan siang dan malam, dan sebagainya. Asas ilmu dan peradaban Islam itu adalah konsep seminal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Konsep-konsep itu kemudian ditafsirkan, dijelaskan dan dikembangkan menjadi berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam. Dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an adalah sumber peradaban Islam atau madani. Jadi, peradaban Islam bukanlah peradaban bangunan, melainkan peradaban ilmu.

Membangun peradaban madani tentunya membutuhkan tangan-tangan dari generasi madani. Generasi madani adalah generasi yang kelak mewujudkan peradaban yang sesuai dengan kaidah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karakteristik peradaban madani menurut Ibnu Khaldun dapat ditandai dengan tiga elemen:
(1) kemampuan manusia untuk berpikir yang menghasilkan sains dan teknologi,
(2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, dan
(3) kesanggupan berjuang untuk hidup. Elemen tentang kemampuan berfikir berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan merupakan salah satu faktor terpenting lahirnya peradaban. Generasi madani adalah generasi yang tak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi namun juga menyandarkan setiap perkembangan dan kemajuan kepada Sang Pencipta. Merindukan peradaban madani dibuktikan dengan menciptakan generasi madani, generasi yang mencintai Allah, generasi yang mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Merindukan peradaban madani berarti merindukan peradaban agung dimana Islam mampu mewarnai berbagai aspek kehidupan.

—–

Written by: Dina Fauziah, Sekolah Pemikiran Islam

Taken from: http://www.islampos.com/merindukan-peradaban-madani-141277/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s