Perayaan Natal dan Tahun Baru, Ini Sikap MIUMI Aceh – PART 2/2 (via Islampos)

Continued from PART 1

—–

3. Rasulullah SAW melarang umat Islam untuk mengikuti/ meniru hari raya dan ritual agama selain Islam, sebagaimana sabda Rasul SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut,” (HR. Abu Daud).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Bukanlah golongan kita orang yang menyerupai diri dengan selain kita. Janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani. Sesungguhnya salam orang Yahudi adalah mengisyaratkan dengan jari dan salam orang Nasrani dengan melambaikan telapak tangan,” (HR. At-Tirimizi).

4. Memperingati/ merayakan natal dan tahun baru merupakan perbuatan bid’ah yang dilarang dalam agama Islam. Rasulullah SAW mengancam amalan pelaku bid’ah ditolak. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam kami ini, sesuatu yang tidak ada dasar daripadanya, maka amalannya tertolak,” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan berasal dari petunjuk kami maka amalannya tertolak,” (HR. Muslim).

Bahkan Rasulullah SAW mengancam perbuatan bid’ah sebagai bentuk kesesatan. Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah erat sunnah tersebut. Gigit dengan gigi geraham. Dan hendaklah kalian menjauhi hal-hal baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap hal baru itu bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan,” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan At-Tirmizi). Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan itu adalah kitab Allah (al-Quran). Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara (dalam agama) adalah perkara yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan,” (HR. Muslim).

Ketiga: Meminta kepada umat Islam untuk tidak membuat acara atau kegiatan keagamaan seperti yasinan, pengajian, zikir akbar dan sejenisnya pada malam/ hari natal dan tahun baru Masehi. Meskipun amalan-amalan tersebut kebaikan, namun perlu dihindari pada saat itu agar tidak terkesan perbuatan tersebut merayakan natal dan tahun baru Masehi. Hal ini sesuai dengan pengamalan kaidah Fiqh,“Dar ul mafaasid muqaddam min jalbi al-mashaalih” (meninggalkan keburukan/ kebatilan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan). Selain itu juga agar tidak terkesan mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan yang dilarang dalam Islam (Baca: surat Al-Baqarah: 42).

Keempat: Meminta kepada seluruh pengusaha/ pemilik muslim untuk tidak mengadakan pesta dan acara lain yang bertentangan dengan Islam termasuk perayaan natal dan tahun baru Masehi.

Kelima: Meminta kepada orang-orang non muslim untuk menjaga prinsip toleransi beragama dengan menghormati akidah umat Islam. Yang melarang untuk mengikuti/ meniru hari raya dan ritual non muslim. Dalam akidah Islam, agama yang benar itu hanya Islam. Toleransi beragama bukan berarti boleh berbaur akidah Islam dengan akidah non Islam atau akidah yang berbeda. Namun toleransi yang benar itu harus dipahami sebagai sikap untuk harus saling menghargai, menjaga dan menghormati akidah agama yang berbeda sesuai dengan keyakinan/ ajarannya masing-masing. Maka sikap umat Islam untuk tidak merayakan natal dan tahun baru itu sudah sejalan dan sesuai dengan prinsip toleransi yang dijamin dalam hukum dan aturan NKRI.

Keenam: Meminta kepada semua pihak perusahaan/ lembaga non muslim untuk tidak memaksakan para karyawan/ pekerjanya yang muslim untuk memakai atribut natal dan tahun baru Masehi. Karena hal tersebut melanggar prinsip toleransi beragama dan hukum serta undang-undang negara Republik Indonesia yang telah menjamin kebebasan umat beragama untuk melaksanakan ajaran/ keyakinan agamanya masing-masing.

Ketujuh: Meminta pemerintah untuk melarang umat Islam untuk ikut merayakan natal dan tahun baru masehi. Dan bertindak tegas terhadap tindakan pihak-pihak yang sengaja mengajak atau membujuk atau memaksa umat Islam untuk memakai atribut natal ini dan mengikuti natal.

Demikian sikap MIUMI Aceh terhadap fenomena perayaan natal dan tahun baru yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam setiap tahunnya. Dan penjelasan MIUMI Aceh mengenai hukum perayaan tersebut dalam tinjauan syariat Islam. Semoga kita selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT dan dijaga oleh Allah SWT dari segala bentuk kesesatan dan kebatilan. []

Banda Aceh, 23 Desember 2014

Tertanda

Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA., Ketua MIUMI Aceh/anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara

—–

Taken from: http://www.islampos.com/perayaan-natal-dan-tahun-baru-ini-sikap-miumi-aceh-2-habis-154032/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s