Siapa Sebenarnya Santa Claus? (via Islampos)

Menjelang dan saat perayaan natal bagi kaum Kristen, sosok Sinterklas atau Santa Klaus sudah menjadi maskot natal. Sosok kakek berjanggut putih dan berbaju merah putih ini kerap digambarkan sebagai orang yang baik hati, karena suka memberi hadiah kepada anak-anak.

Lalu, siapakan sebenarnya Santa Claus Ini? Apakah dia nyata atau hanya fiktif belaka? Ini perlu kita ketahui agar tidak termakan hasutan media, bahwa Santa Claus benar-benar ada. Menurut Ahmad Sarwat, Lc dari rumahfiqih.com, berdasarkan beberapa literatur sesungguhnya tokoh Sinterklas atau Santa Claus ini adalah dua tokoh yang berbeda.

Namun keduanya sama-sama tokoh rekaan yang wujud aslinya tidak pernah ada. Ada begitu banyak versi yang saling tumpang tindih. Salah satunya menyebutkan bahwa keduanya adalah tokoh yang diciptakan orang dengan mengambil inspirasi dari sosok seorang pendeta yang bernama Santo Nicolas.

1. Sosok Asli : Santo Nicolas
Sosok yang konon disebut sebagai sosok aslinya adalah seorang pendeta nasrani bernama Santo Nicolas. Konon lahir sekitar tahun 280M di Turki dari ayah seorang Arab. Sumber lain menyebutkan namanya Santo Nikoas dari Myra yang hidup pada abad ke-4 Masehi.

Sosok Santo Nicolas inilah yang banyak disebut-sebut merupakan inspirasi utama figur orang kristen tentang Sinterklas atau Santa Claus. Konon Nicolas adalah seorang uskup yang sangat terkenal akan kebaikannya memberi hadiah untuk orang miskin. Dia digambarkan berjanggut dengan jubah resmi sebagai uskup, lengkap dengan tongkatnya.

Namun kisahnya kurang valid sehingga menimbkan banyak sekali versi sosok yang berbeda-beda. Tiap negeri punya cara penggambaran yang saling berbeda dengan negeri lainnya. Jangan kaget kalau sosok ini muncul di berbagai negara dengan versi yang berbeda-beda.

Pada cerita rakyat Belanda, Santo Nicolas alias Sinterklas ini dibantu oleh seorang budak Afrika yang disebut Zwarte Piet (di sini dikenal sebagai Piet Hitam). Beberapa cerita melukiskan bahwa Piet Hitam akan memukul anak nakal dengan tongkat dan memasukkannya ke dalam karung.

Karena kedekatan histori antara Indonesia dan Belanda, maka dapat dimaklumi bahwa cerita rakyat Belanda inilah yang lebih tersohor di Indonesia. Padahal selain berdasarkan cerita rakyat Belanda, masih ada beberapa versi cerita Sinterklas, walau sumber inspirasinya tetap sama: Santo Nicolas.

2. Santa Claus: Iklan Coca Cola
Walau Santa Claus adalah juga terinspirasi oleh Sinterklas, banyak kalangan yang meyakini bahwa Santa Claus bukanlah Sinterklas. Santa Claus yang sosoknya banyak bermunculan di musim natal di Indonesia sering diyakini sebagai hasil kreasi sebuah perusahaan mninuman bersoda Coca-Cola.

Karakter ini digambar dan disain oleh seorang ahli lukis bernama Haddon Sundblom atas pemintaan Coca-Cola untuk promo peningkatan penjualan di musim liburan. Maka lahirlah tokoh Santa Claus, yang digambarkan sebagai kakek berjubah merah berjanggut putih naik kereta yang ditarik rusa dari kutub utara. Tentu saja ini 100% cerita kartun alias dongeng sejati.

Namun dari sisi marketing, nampaknya pihak Coca cola berhasil. Sebab karakter ciptaannya menjadi “icon” natal di seluruh dunia. Di pusat-pusat perbelanjaan di bulan Desember, banyak perusahaan yang biasanya menggunakan badut lucu, kemudian untuk selama Desember menggantinya dengan karakter Santa Claus ini.

Tidak terkecuali di negeri kita. Beberapa perusahaan retail dan pengelola mal juga latah ikut-ikutan menampilkan sosok ini. Parahnya, ada saja bos yang mewajibkan karyawannya yang nota bene Muslim untuk mengenakan pakaian khas badut ini, setidaknya topi merah panjangnya.

3. Sikap Vatikan

Walaupun Sinterklas merupakan gambaran dari seorang uskup gereja Katolik, Paus tidak yakin akan kebenarannya karena pada kenyataannya lebih banyak dongeng atau khayalan yang dibuat mengenai Sinterklas, bahkan juga tercampur dengan berbagai kepercayaan dan budaya.

Pada 1970 Vatikan menghapus dan mencoret nama Sinterklas dari daftar orang-orang suci, tetapi karena banyaknya protes yang berdatangan, akhirnya Vatikan memberikan kelonggaran dan kebebasan untuk memilih apakah Sinterklas termasuk orang suci atau bukan diserahkan kepada diri masing-masing, tetapi secara resmi Sinterklas bukan termasuk orang yang dianggap suci lagi.

4. Kepercayaan Pagan

Bagi sebagian kaum Kristen – terutama Kristen Ortodoks – natal bukanlah tanggal 25 Desember, melainkan 7 Januari. Menurut salah satu sumber, perayaan Natal di bulan Desember telah dikenal sejak zaman Romawi kuno, sebagai hari raya kaum penyembah dewa. Adapun sosok Santa Claus saat Ini adalah gambaran dari dewa Saturnus yang merupakan dewa pertanian sekaligus dewa yang paling jahat dalam kepercayaan kaum pagan. Namun, entah kenapa di zaman modern ini, natal justru seolah-olah menjadi hari perayaaan dewa Saturnus yang dikenal suka meminta korban anak-anak.

—–

Taken from:
http://www.islampos.com/siapa-sebenarnya-santa-klaus-1-153659/
http://www.islampos.com/siapa-sebenarnya-santa-klaus-2-153860/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s