Khalifah Abdul Hamid II & Teater Drama ‘Muhammad & Kemunafikan’ (via Islampos)

Di antara tanda kecintaan kita kepada Rasulullah adalah sikap marah, benci dan sikap pembelaan ketika beliau direndahkan. Seperti misalnya ketika beliau dianggap kejam, penipu, hidung belang, pedofilia, keranjingan seks, dan menyetujui pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, sebagaimana yang dipropagandakan dalam film Innocence Muslims, yang dibuat oleh seorang pria keturunan Israel-Amerika, Sam Bacile, dan didukung oleh pastor Terry Jones, pastur yang 2 tahun lalu merencanakan pembakaran al Qur’an.

Sungguh sangat aneh sikap yang melarang umat Islam marah, padahal jika orang tuanya saja yang dilecehkan sedemikian rupa tentunya mereka akan marah. Terlebih lagi marah karena Allah juga merupakan tanda kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Nabi saw:

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.”
(HR. Abu Dawud dari Abu Umamah dengan sanad sahih)

Jika kita bisa marah kepada siapa pun yang menghina bapak-ibu kita, sudah sepatutnya kita lebih marah terhadap penghina Rasulullah saw yang lebih kita cintai.

Dalam pandangan Islam, sanksi yang dijatuhkan kepada penghina dan penghujat Rasulullah saw dan juga Nabi yang lain adalah hukuman mati. Jika ia muslim maka statusnya adalah murtad. Imam al-Khattabiy berkata, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat mengenai wajibnya hukuman mati bagi seorang Muslim yang menghina Rasulullah SAW. ” 

Adapun jika ia non muslim ahludz dzimmah maka ada perbedaan pendapat yang menurut Imam as Syafi’iy, mereka wajib dibunuh, dan dzimmahnya dicabut. Abu Hanifah menyatakan tidak wajib dibunuh (hukumannya diserahkan kepada kepala negara/ta’zir), sedangkan Imam Malik berpendapat, mereka wajib dibunuh kecuali jika mau masuk Islam.

Pelecehan dan penghinaan terhadap Rasulullah saw dan hal yang disucikan Islam ini bukan yang pertama kalinya, dulu ada Salman Rushdi dengan buku The Satanic Verses atau Tatyana Suskin (26) dengan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad.

Pertanyaan penting yang patut diajukan, mengapa penistaan, penghinaan, dan pelecehan terus dilakukan kaum kafir Barat sekalipun selalu menuai protes dan kecaman dari dunia Islam? Penyebabnya, karena mereka belum pernah mendapatkan ‘pelajaran’ yang setimpal dengan perbuatannya. Tidak ada lagi khilafah yang memerankan dirinya sebagai penjaga Islam.

Saat Khilafah memudar sekalipun, Khalifah Abdul Hamid II masih bisa menghentikan rencana pementasan teater yang menghina Rasulullah dan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy, bukan di dalam negeri, melainkan diluar negeri, yakni di Perancis dan Inggris.

Ketika itu Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk“Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Begitu mengetahui berita pementasan itu, Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Perancis melalui dutanya di Paris supaya memberhentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika ia meneruskan pementasan itu.

Perancis dengan serta merta membatalkannya. Kumpulan teater itu datang ke Inggris untuk merancang melakukan pementasan yang serupa dan sekali lagi Abdul Hamid memberi perintah kepada Inggris. Inggris menolak perintah itu dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan drama itu adalah bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Perwakilan Uthmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis.

Setelah mendengar jawapan itu, Abdul Hamid sekali lagi memberi perintah:

Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).”

Inggris dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan.

Di sinilah pentingnya sebuah negara yang menerapkan, mendakwahkan dan menjaga Islam. Tidak heran jika hujjatul Islam, Imam Al Ghazali dalam Al Iqtishad fil I’tiqad menuliskan:

Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar. Agama adalah asasnya dan kekuasaan adalah penjaganya, apa saja yang tidak memiliki asas maka akan hilang dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hancur.

—–

Edited by: @pokamamil

Taken from: http://www.islampos.com/khalifah-abdul-hamid-ii-teater-drama-muhammad-kemunafikan-16647/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s