Keutamaan Seorang Umar bin Khattab – PART 2/2

PART 2: https://islamichroniclers.wordpress.com/2014/11/19/keutamaan-seorang-umar-bin-khattab-1

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Wahai Ibnul Khattab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.”

Kekhilafahan dan keadilan ‘Umar ra.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari AbduLlah bin ’Umar dan Abu Hurairah keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Tatkala saya tidur, saya bermimpi diriku berada di pinggir sebuah sumur yang di atasnya ada sebuah timba. Kemudian saya menimba dari sumur itu beberapa kali timbaan sesuai yang dikehendaki Allah, kemudian Abu Bakar mengambilnya, kemudian dia mengambil air darinya beberapa timba atau dua timba dan salah satu tarikan timba itu berisi separuh saja. Allah mengampuninya. Kemudian setelah itu datang ’Umar bin Khattab, dia menimba air itu dan dia menggunakan timba yang besar. Dan saya tidak melihat seorang pun yang melakukan pekerjaan seperti apa yang dia kerjakan hingga semua manusia sama-sama puas meminum airnya.”

Imam Nawawi dalam Tahdzib nya berkata: Para ulama menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan masa khilafah Abu Bakar dan ’Umar, banyaknya pembukaan kota-kota serta munculnya Islam di masa pemerintahan ’Umar.

Az-Zuhri berkata: “’Umar menjadi khalifah di hari meninggalnya Abu Bakar. Yakni pada hari Selasa tanggal 22 Jumadil Akhir (HR. Al-Hakim). Terjadi pada tahun 13H. Pada masanya terjadi banyak pembukaan wilayah-wilayah, seperti Damaskus (dengan damai), tahun 14H, Yordania (dengan perang), tahun 15H, kecuali wilayah Thabariyyah. Pada tahun 16H, Sa’ad melakukan Shalat Jumat di Istana Kisra Persia. Pada tahun 16H, ’Umar safar untuk membuka Baitul Maqdis, dan lain-lain.”

Pada jaman ’Umar ra. ditetapkan juga penanggalan tahun Hijriyah atas usulan ’Ali bin Abi Thalib ra. Lalu pada tahun 17H, Masjid Nabawi diperluas. Namun pada tahun ini juga terjadi ’Tahun Paceklik’, hingga diriwayatkan bahwa perut beliau ra. berbunyi karena lapar dan seringnya ’Umar ra. makan minyak. Lalu ’Umar memohon hujan dengan melalui perantaraan ’Abbas ra., paman Rasulullah saw.

Malik mentakhrij dari Sa’id bin Musayyib, bahwa ada orang Muslim dan Yahudi yang bertengkar, lalu keduanya mengadu kepada ’Umar bin Khattab. Setelah memeriksa masalahnya, ’Umar berpendapat bahwa yang lebih berhak atas kasus di antara mereka berdua adalah orang Yahudi.

’Umar ra. adalah orang yang pertama kali membangun Baitul Mal, memerintahkan Shalat Tarawih berjama’ah, memerintahkan hukuman bagi orang yang menghujat, membangun kantor-kantor administrasi, mengangkat para hakim di kota-kota dan lain-lain. ’Umar ra. juga mengatur tentara untuk pulang tiap 3-4 bulan sekali untuk dapat memenuhi hak2 para isteri, dan lain sebagainya.

Aslam berkata: ’Umar berdoa: ”Yaa Allah, karuniailah hamba gugur di Jalan Mu sebagai syahid dan jadikanlah kematian hamba di negara utusan Mu (Madinah).” (HR. Bukhari), dan Allah Swt. berkenan mengabulkannya. Beliau ra. syahid dibunuh oleh seorang bernama Abu Lu’lu’ah (diriwayatkan bahwa dia seorang majusi), saat mengimami Shalat Subuh di Masjid Nabawi, Madinah.

Sebelum meninggalnya beliau ra. meminta agar pemilihan khalifah berikutnya dimusyawarahkan oleh 6 orang, yaitu: ’Utsman bin ’Affan, ’Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, ’Abdurrahman bin ’Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan kemudian mengkerucut menjadi tiga.

Beberapa karamah ‘Umar r.a

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Abu Nu’aim, Al-Lalaka’i, dari Ibnu ’Umar, dia berkata: ’Umar mengirim satu pasukan yang dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Sariyyah, tatkala ’Umar sedang khuthbah di atas mimbar dia memanggil, ”Wahai Sariyyah, ke gunung! Ke gunung! Ke gunung!” Kemudian setelah itu datanglah utusan pasukan Islam menemui ’Umar. ’Umar lalu menanyakan kondisi pasukan dan utusan itu berkata, ”Wahai Amirul Mu’minin, kami telah terdesak kalah. Namun tatkala kami berada dalam kondisi demikian, kami mendengar teriakan yang memerintahkan, ”Wahai Sariyyah, ke gunung!” Ucapan itu kami dengar sebanyak tiga kali. Oleh sebab itulah kami menyandarkan punggung kami ke gunung. Lalu Allah hancurkan musuh kami.”

Abu Syaikh berkata dalam kitab al-‘Azhamah: “Telah berkata kepada kami Abu Thayyib, telah berkata kepada kami Abdullah bin Shalih, telah berkata kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Qais bin al-Hajjaj dari orang yang mengatakan kepadanya dia berkata: ‘Tatkala Mesir dibuka oleh kaum muslimin, penduduk Mesir datang menemui ‘Amr bin al-‘Ash ra. pada saat sudah masuk salah satu bulan yang dianggap sakral oleh penduduk setempat. Orang-orang Mesir itu berkata, “Wahai gubernur, sesungguhnya Nil ini (maksudnya sungai Nil) memiliki kebiasaan di mana dia tidak akan mengalir kecuali dengan sebuah tradisi.” ‘Amr bin al-‘Ash ra. berkata, “Tradisi apakah itu?” “Jika masuk tanggal sebelas bulan ini, kami akan mencari perawan ke rumah orang tua mereka. Lalu kami minta kedua orangtuanya untuk memberikan perawan itu kepada kami dengan suka rela. Kami hiasi perawan itu dengan baju dan hiasan yang paling indah, kemudian kami lemparkan dia ke sungai Nil ini,” jawab penduduk. “Ini tidak mungkin dilakukan di dalam Islam. Karena sesungguhnya Islam menghapus tradisi lama,” kata ‘Amr bin al-‘Ash ra.'”

Lalu mereka melaksanakan apa yang dikatakan oleh ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata sungai Nil itu kering dan tidak mengalirkan air sedikit pun. Hingga kebanyakan penduduk berencana untuk melakukan hijrah. Tatkala melihat kondisi demikian, ‘Amr bin al-‘Ash ra. menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khattab ra. Dalam surat itu dia menerangkan bahwa mereka ditimpa musibah akibat yang ‘Amr bin al-‘Ash ra. katakan, di mana beliau ra. mengatakan bahwa Islam telah menghapus tradisi lama (yang berlaku pada masyarakat di sekitar sungai Nil tersebut).

‘Umar ra. menulis kepada ‘Amr bin al-‘Ash ra. yang di dalamnya ada sebuah nota kecil. Dalam surat itu ‘Umar menulis: “Sesungguhnya saya telah mengirim kepadamu dalam suratku satu nota kecil, maka lemparlah nota kecil itu ke sungai Nil.” Tatkala surat ‘Umar ra. sampai di tangan ‘Amr bin al-‘Ash ra., dia mengambil nota kecil itu dan membukanya. Ternyata di dalamnya berisi tulisan sebagai berikut:

“Dari Hamba Allah, Amirul Mukminin, ‘Umar bin al’-Khattab. Amma ba’du.

Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka janganlah engkau mengalir. Namun jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, maka mintalah kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk mengalirkanmu kembali.”

‘Amr bin al-‘Ash ra. kemudian melemparkan nota kecil itu ke sungai Nil. Allah Swt. mengalirkan air sungai Nil dengan kadar enambelas dzira’ dalam satu malam. Dengan peristiwa itu, Allah Swt. telah menghancurkan tradisi jahiliyyah dari penduduk Mesir tersebut hingga sekarang.

’Umar bin Khattab ra. pernah berkata: “Akan ada dari keturunanku seorang anak yang di wajahnya ada bekas luka. Dia memenuhi dunia dengan keadilan.” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi). Saat ’Umar bin ’Abdul ’Azis (beliau masih keturunan ’Umar bin Khattab ra. dari jalur ibu) masih kanak-kanak, wajahnya pernah ditendang binatang. Pada saat menghapus darahnya, ayahnya berkata: ”Jika kamu adalah orang yang terluka di kepalanya dari kalangan Umayyah, maka engkau akan menjadi orang yang bahagia.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir)

Zuhud ‘Umar ra.

Dikatakan: ’Umar membawa geriba di atas pundaknya, lalu demikian itu dia ditegur, dia menjawab: ”Sesungguhnya jiwaku merasa hebat terhadapku, maka aku bermaksud hendak menghinakannya.”

Dari Al-Miswar bin Makhramah, dia berkata: ”’Umar menerima sejumlah harta yang diletakkan di masjid. Kemudian dia keluar menuju masjid untuk melihat dan memeriksanya. Seketika itu pula kedua mata ’Umar meneteskan air mata.” ”Apa yang membuat kamu menangis, wahai Amirul Mukminin?” tanya ’AbdurRahman bin ’Auf, ”Demi Allah, sesungguhnya yang demikian ini termasuk hal yang perlu disyukuri.” ’Umar berkata: ”Demi Allah, yang demikian ini tidak diberikan kepada suatu kaum melainkan justru dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Dari Yahya bin Jad’ah, dia berkata, bahwa ’Umar pernah berkata: ”Kalau bukan karena tiga hal, tentu aku lebih suka bersua Allah ’Azza wa Jalla, yaitu: Sekiranya aku tidak dapat meletakkan keningku karena Allah, duduk di berbagai majelis yang di sana dipilih perkataan yang baik sebagaimana buah-buahan yang dipilihi, dan keluar di Jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Dari ’AbduLlah bin Isa, dia berkata: ”Pada wajah ’Umar bin Khattab ada dua garis kehitam-hitaman karena bekas tangisan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

—–

Edited by: @pokamamil

Dikutip dan diringkas oleh PIP PKS ANZ wil. NSW dari:

  • Tarikh Khulafa (Imam Suyuthi)
  • 10 Sahabat yang Dijanjikan Masuk Surga (’Abdul Hamid Kisyik)
  • Keutamaan Para Sahabat Nabi Saw. (Mustafa Al-’Adawi)
  • Zuhud (Imam Ahmad)

Source: http://nulisnulisnulis.wordpress.com/2010/12/05/keutamaan-umar-bin-khattab/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s