Excerpts: Mukhtashar Minhajul Qashidin – PART 1

Minhajul Qashidin

Ilmu adalah penentu dari kualitas seseorang. Mengenai ini Imam Bukhari khusus berujar, “Senantiasa ilmu harus mengawali amalan. Sebab bila berdasarkan ilmu maka amalan akan mantap dan tidak menyimpang”. Inilah esensi bagian awal dari kitab “Mukhtashar Minhajul Qashidin” karya Al-Imam Ibnu Qudamah dan untuk paruh pertama ini dijelaskan secara ringkas oleh Ustadz Farid Ahmad Okbah.

Allah SWT berfirman di Surah Muhammad ayat 19 yang berisi mengenai tauhid. Sebagai sebuah bagian penting dari agama Islam, maka seseorang harus memperkuat kadar tauhidnya terlebih dahulu dan tentu itu tidak bisa dilangsungkan tanpa dasar ilmu yang baik. Ibnul Qayyim dalam buku Miftahus Saadah membandingkan mengenai ilmu dunia dan ilmu akhirat. Menurut beliau, kebanyakan yang dikejar oleh orang adalah ilmu dunia dengan alasan agar sukses di dunia, namun banyak dari mereka yang berfokus pada pencarian ilmu yang membutuhkan investasi yang tidak sedikit ini tetap tidak terjamin untuk kehidupan akhiratnya kelak.

Justru sebaliknya untuk ilmu diin yang malah terbukti bisa mengantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibnul Qayyim mencatat 300 kelebihan ilmu diin daripada ilmu dunia dalam bukunya ini dimana salah satunya adalah bahwa begitu pentingnya ilmu diin agar manusia dapat mantap dalam bersikap, dalam beramal, dan lain sebagainya.

Di dunia modern ini, kebanyakan dari kita dari kecilnya hingga dewasa lebih berfokus untuk belajar mengenai ilmu dunia serta tidak jarang juga banyak yang terjerumus ke ilmu yang salah. Maka inilah pentingnya mengapa kita harus belajar ilmu diin sejak dini yang dimulai dengan ilmu tauhid.

Ada lima macam ilmu dalam Islam seperti yang disebut Ibnul Qayyim dalam bukunya:

  1. Ilmu ruh atau ilmu tauhid
    Ini adalah ilmu paling mulia karena terkait langsung dengan Allah SWT. Kita harus mengetahui siapa Allah SWT sebenarnya dan apa keinginanNya sehingga kita bisa mengerti berbagai kehendaknya. Dari dahulu hingga sekarang manusia selalu tejerumus dalam pencarian mengenai eksistensi Tuhan dan malah mencarinya dengan ilmu filsafat yang terlampau mengagungkan logika, padahal sejatinya logikapun memiliki banyak keterbatasan. Dengan memaksakan ilmu filsafat ini maka malah menjurus ke arah terjadinya penyimpangan, apalagi ketika berusaha menafsirkan ilmu tauhid. Dengan demikian kita harus mengerti perbedaan dua ilmu ini dan baiknya tetap berada dalam jalur ilmu tauhid Islam saja.
  2. Ilmu mengenai kehidupan agama atau memahami kandungan Al Quran dan Sunnah
  3. Ilmu mengenai obatnya agama atau fatwa atas kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan manusia.
    Biasanya ilmu dan kewenangan mengenai ini berada di tangan para Mufti.
  4. Ilmu mengenai penyakit agama atau bid’ah serta aliran sesat.
    Dewasa ini di di Timur Tengah sudah ada program kedoktoran di berbagai universitas, khusus untuk meneliti dan menyikapi fenomena ini.
  5. Ilmu kehancuran agama atau sihir dan perdukunan.
    Hal-hal ini dipelajari dan dilawan dengan ilmu ruqyah.

Mengapa ilmu begitu penting manusia? Tiada lain adalah fakta bahwa suatu ketika harta akan habis, jabatan akan hilang, namun ilmu akan selalu ada. Maka dari itu bekal dari para nabi dan rasul adalah ilmu, bukanlah senjata ataupun harta. Nabi SAW bersabda, “Apa yang para nabi tinggalkan bukanlah harta karena semuanya akan diberikan. Namun ilmulah yang kami wariskan”. Ilmu inilah yang nantinya akan mengangkat derajat manusia. Sehingga bagi anak, kita jangan memanjakannya dengan materi semata namun kita harus memberikan ilmu pada mereka. Peradaban manusia tidak akan mungkin terbangun kecuali karena ilmu.

Maka pertanyaannya adalah darimanakah sumber ilmu tersebut? Ayat pertama yang diturunkan adalah perintah untuk membaca. Dari sini sendiri kita sudah dapat menyimpulkannya.

Selain itu, Ibnu Abbas berkata bahwa orang berilmu atau ulama nilanya 700 kali di atas mukmin biasa yang terbiasa mengamalkan ilmu untuk dirinya sendiri. Maka amalkanlah ilmu dengan berbagi sehingga apabila kebaikan tersebut dilaksanakan orang lain maka kita akan mendapat pahalanya.

Berikut adalah tiga kategori orang yang berilmu:

  1. Orang yang paham tentang Allah SWT dan berilmu tentang hukum-hukumNya.
  2. Orang yang paham tentang Allah SWT tapi tidak paham dengan hukum-hukumNya.
  3. Paham tentang hukum-hukum Allah SWT tapi tidak mengenalNya.

Sementara itu, penuntut ilmu juga terdiri dari tiga macam:

  1. Orang yang belajar tapi tidak ada perubahan dalam dirinya.
  2. Orang yang belajar tapi ia berubah menjadi lebih bertakwa, namun Sunnah masih diabaikan dan makruh masih dijalankan.
  3. Orang yang belajar dan ia menjalankan semuanya lebih baik lagi.

Maka konon ada kutipan bahwa orang yang berilmu lebih ditakuti syaithan daripada 1,000 orang yang beribadah. Terlebih bila kita mencontoh seorang Umar bin Khattab ra. yang mulia ilmu dan keberaniannya sehingga syaithan-pun takut dan tidak ingin bersinggungan dengannya.

Namun konsekuensi dari keinginan manusia untuk memperoleh ilmu mengacu pada Surah Al Ahzab ayat 72 dimana disebutkan bahwa alam semesta tidak ingin mengemban tanggung jawab dari ilmu, namun sebaliknya manusia menyanggupi untuk mewariskan risalah. Bagi alam, ini dikarenakan mereka tidak ingin pertanggungjawaban di akhirat nanti, namun manusia sombong dan merasa mampu.

Maka dari itu sebagai pertanggungjawabannya, menurut Imam Ahmad, kita harus berilmu agar menghilangkan kebodohan dalam dirinya. Selebihnya tentu agar kita dapat berbahagia di dunia dan akhirat.

Allah SWT menyebutkan golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk:

  1. Para nabi.
  2. Orang yang jujur. Jujur secara ucapan, perilaku, hingga isyarat tubuh.
  3. Orang yang syahid.
  4. Orang saleh.

Namun kebalikannya terdapat dua kelompok yang tersesat:

  1. Berilmu tapi tidak diamalkan, yaitu seperti kaum Yahudi.
  2. Beramal tanpa ilmu, yaitu seperti kaum Nasrani.

Sekarang begitu banyak umat Islam yang mengikuti perilaku umat-umat ini dan seperti sudah digambarkan Rasulullah SAW dalam hadis mengenai lubang biawak, sehingga kita banyak terjerumus dalam masalah.

Misalkan untuk kaum Yahudi yang mengetahui ilmu dari Allah tapi mereka memilih untuk tidak mengikutinya dan berbuat sebaliknya. Atau kebiasaan-kebiasaan orang Nasrani seperti perayaan ulang tahun, standing party (sehingga kita makan sambil berdiri), dan hal-hal lain tanpa ilmu yang jelas. Namun banyak orang Muslim yang cenderung tidak peduli dan sedikit demi sedikit mencontohi mereka.

Maka apabila kita mendapat kesulitan-kesulitan yang diakibatkan karena perilaku seperti ini maka kita harus mengeluh dulu kepada Allah dan jangan kepada manusia dahulu dan senantiasa menggali ilmu Islam agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentu tidak lupa, kita juga wajib untuk membagi ilmu itu tersebut dengan sekeliling kita, demi Allah dan demi kebahagiaan hidup dunia serta akhirat.

—–

TO BE CONTINUED

Untuk kajian-kajian berikutnya mengenai kitab ini akan segera disimpulkan dan ditayangkan di blog ini segera setelah Ustadz Farid Ahmad Okbah melangsungkan kembali halaqa-nya di waktu mendatang.

—–

Based on halaqa by Ustadz Farid Ahmad Okbah, with some additions

Summarized by: Rian Farisa – @pokamamil

Source: “Mukhtashar Minhajul Qashidin” by Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi

Advertisements

One thought on “Excerpts: Mukhtashar Minhajul Qashidin – PART 1

  1. Pingback: Excerpts: Mukhtashar Minhajul Qashidin – PART 2 | The Masjid Chroniclers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s