Kisah Perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi – PART 2/2 (via Daulah Islam)

salahuddin al-ayyubi poster
—–
Kisah Salahuddin Al-Ayyubi sudah terkenal sejak dahulu kala. Kekaguman kaum muslimin maupun non-muslimin kepada beliau tidak diragukan lagi. Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang Kurdi biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada seorangpun yang menyangka sebelum ia menguasai Mesir dan menentang tentera Salib bahwa anak Kurdi ini suatu hari nanti akan merebut kembali Palestina dan menjadi pembela akidah Islamiah yang hebat. Dan tiada siapapun yang menyangka pencapaiannya demikian hebat sehingga menjadi contoh dalam memerangi kekufuran hingga ke hari ini.
—–
Perang Salib Ketiga
salahuddin-ayubi_b

Seperti yang telah kita ketahui, Perang Salib Pertama mengakibatkan kejatuhan Palestina akibat serbuan orang-orang Kristen pada tahun 1099 (490H), lalu Perang Salib Kedua akhirnya dimenangkan Salahuddin dalam Pertempuran Hattin pada tahun 583H (1187M) dan beberapa hari kemudian beliau merebut Baitul Muqaddis tanpa perlawanan. Kekalahan tentara Kristen ini telah menggegerkan seluruh dunia Kristen sehingga tidak lama, Eropa mempersiapkan kembali untuk perang selanjutnya.

Hampir semua raja dan panglima perang dari dunia Kristen seperti Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lionheart raja Inggris, Philip Augustus raja Perancis, Leopold dari Austria, Duke of Burgundy dan Count of Flanders telah bersekutu menyerang Salahuddin yang hanya dibantu oleh beberapa pembesarnya, saudara serta tentaranya untuk mempertahankan kehormatan Islam. Berkat pertolongan Allah mereka tidak dapat dikalahkan oleh tentara sekutu ini.

Peperangan ini berlanjut selama lima tahun hingga menyebabkan kedua belah pihak menjadi lesu dan jemu. Akhirnya kedua belah pihak setuju untuk memuat perjanjian di Ramallah pada tahun 588 H. Perjanjian ini mengakui Salahuddin adalah penguasa Palestina seluruhnya kecuali Kota Acre yang masih berada di bawah pemerintahan Kristen. Maka berakhirlah peperangan Salib Ketiga.

Lane-Poole telah mencatatkan perjanjian ini sebagai berakhirnya Perang Suci selama 5 tahun. Sebelum kemenangan besar Hattin pada bulan Juli, 1187 M, tiada satu inci pun tanah Palestina di dalam tangan orang-orang Islam. Selepas Perjanjian Ramallah pada bulan September, 1192 M, keseluruhannya menjadi milik mereka kecuali satu jalur kecil dari Tyre ke Jaffa. Salahuddin tidak keberatan sama sekali dengan perjanjian ini walaupun sebagian kecil tanah Palestina masih berada di tangan orang-orang Kristian.

Atas seruan Paus maka seluruh dunia Kristien mengangkat senjata. Raja Inggris, Perancis, Sicily dan Austria serta Duke of Burgundy, Count of Flanders dan beratus-ratus lagi pembesar-pembesar telah bersekutu membantu Raja dan Putra Mahkota Jerusalem untuk mengembalikan kerajaan Jerusalem kepada pemerintahan Kristen. Walau bagaimanapun juga usaha mereka, Tanah Suci itu masih di dalam tangan Salahuddin.

Selanjutnya Lane-Poole mencatat bahwa seluruh kekuatan dunia Kristen yang telah bergabung dalam peperangan Salib ketiga tidak mengoyahkan kekuatan Salahuddin. Tentaranya mungkin lelah dengan peperangan yang sulit ini tetapi mereka tidak pernah mundur apabila diseru untuk menjual jiwa raga mereka di jalan Allah. Tentaranya yang berada jauh di lembah Tigris di Iraq mengeluh dengan tugas yang tidak henti-henti, tetapi ketaatan mereka yang tetap tidak tergoyahkan.

Bahkan dalam peperangan Arsuf, tentaranya dari Mosul telah menunjukkan ketangkasan yang hebat. Dalam peperangan ini, Salahuddin memang memberikan kepercayaan kepada pasukannya dari Mesir, Mesopotamia, Syria, Kurdi, Turki, tanah Arab dan bahkan orang-orang Islam dari berbagai penjuru. Walaupun mereka berlainan bangsa dan kaum tetapi Salahuddin telah dapat menyatukan mereka di atas jalan Allah sejak awal peperangan pada tahun 1187 sampai berakhirnya pada tahun 1192.

Lane-Poole juga menuliskan dalam peperangan ini Salahuddin senantiasa bermusyawarah (syura). Ia mempunyai majelis syura (musyawarah) yang membuat keputusan-keputusan militer penting. Kadang-kadang majelis ini bahkan membatalkan keputusan Salahuddin sendiri. Dalam majelis ini tidak satupun memiliki hak mempengaruhi pikiran Salahuddin karena semuanya berada dalam posisi sejajar. Dalam majelis itu terdapat adiknya, anak-anaknya, anak saudaranya, sahabat-sahabat lamanya, pembesar-pembesar tentara, qadhi, bendahara dan usahawan. Semuanya mempunyai sumbangan yang sama banyak dalam membuat keputusan berdasarkan kemampuan masing-masing. Walau apa pun perbincangan dan perdebatan dalam majelis itu, mereka tetap taat kepada Salahuddin.

Wafatnya Salahuddin

Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, berpulanglah Salahuddin ke rahmatullah selepas mengembalikan tanah suci ke pangkuan Islam di usia 57 tahun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27 Safar, 12 hari selepas ia jatuh sakit, ia telah menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Ja’afar seorang yang wara’ telah diminta menemani Salahuddin di Istana supaya jika ia sakaratul maut, bacaan Qur’an dan syahadah untuk dituntunkan kepadanya.

Memang pada malam itu telah nampak tanda-tanda kematian Salahuddin. Syeikh Abu Jaafar telah duduk di tepi peraduannya semenjak 3 hari membacakan Qur’an. Dalam masa ini Salahuddin selalu pingsan dan sadar sebentar. Ketika Syeikh Au Jaafar membacakan ayat, “Dialah Allah, tiada tuhan melainkan Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata” (Al-Hasyr: 22), Salahuddin lalu membuka matanya sambil senyum, mukanya berseri dan dengan nada yang gembira ia berkata, “Memang benar”. Selepas ia mengucapkan kata-kata itu ruhnya pun kembali ke rahmatullah. Masa ini ialah sebelum subuh, pada tanggal 27 Safar.

Seterusnya Bahauddin menceritakan Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah, kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup untuk upah pemakaman. Keluarganya terpaksa meminjam uang untuk menanggung upah memakamkan ini, bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang menterinya.

Salahuddin, hamba yang wara’ 

Bahauddin bin Shaddad telah mencatatkan mengenai ke-wara’-an seorang Salahuddin. Satu hari ia berkata bahwa ia telah lama tidak pergi shalat berjamaah. Ia memang suka shalat berjamaah, bahkan ketika sakitnya ia akan memaksa dirinya berdiri di belakang imam. Disebabkan shalat berjamaah adalah ibadah utama yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW, ia senantiasa mengerjakan shalat Tahajjud. Jika disebabkan hal tertentu ia tidak dapat Tahajjud, ia akan menunaikannya ketika hampir subuh. Bahauddin melihatnya senantiasa shalat di belakang imam ketika sakitnya, kecuali tiga terakhir di mana ia telah sangat lemah dan selalu pingsan.

Ia tidak pernah membayar zakat harta karena ia tidak mempunyai harta yang cukup nisab. Ia sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin dan kepada yang memerlukan sampai ketika wafatnya ia hanya memiliki 47 dirham uang perak dan satu dinar uang emas ketika wafatnya. Ia tidak meninggalkan harta lain selain itu.

Bahauddin juga mencatatkan bahwa Salahuddin tidak pernah meninggalkan puasa Ramadhan kecuali hanya sekali apabila dinasihatkan oleh qadhi Fadhil. Ketika sakitnya pun ia berpuasa sampai tabib menasihatinya dengan keras supaya berbuka. Lalu ia berbuka dengan hati yang berat sambil berkata, “Aku tak tahu bila ajal akan menemuiku”, maka segera ia membayar fidyah.

Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan Allah. Ia biasa meletakkan segala harapannya kepada Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada satu ketika ia berada di Jerusalem yang pada masa itu seolah-olah tidak dapat bertahan lagi daripada kepungan tentara bersekutu Kristen. Walaupun keadaan sangat terdesak ia enggan untuk meninggalkan kota suci itu. Malam itu adalah malam Jum’at musim dingin. Bahaauddin mencatatkan, “Hanya aku dan Salahuddin saja yang terjaga pada saat itu. Ia menghabiskan masa malam itu dengan shalat dan bermunajat.”

“Pada tengah malam saya memintanya agar ia beristirahat tetapi beliau menjawab, “Aku pikir kau mengantuk. Pergilah tidur sejenak”. Ketika hampir subuh, akupun bangun dan pergi mencarinya. Aku mendapati beliau sedang membasuh tangannya dan berkata, “Aku tidak tidur semalam” . Selepas shalat subuh aku berkata kepadanya, “Apakah kau bermunajat kepada Allah memohon pertolongan-Nya?”. Lalu ia balik bertanya, “Apa lagi yang bisa kulakukan?”

Aku menjawab, “Hari ini adalah hari Jum’at. Pergilah mandi sebelum ke Masjidil Aqsa. Keluarkanlah infaq dengan diam-diam. Apabila kau tiba di masjid, shalatlah dua rakaat selepas azan di tempat Rasulullah SAW pernah lakukan sebelum mi’raj dahulu. Aku pernah membaca hadis bahwa do’a yang dibuat di tempat itu adalah mustajab. Oleh karena itu bermunajadlah kepada Allah dengan ucapan “Ya Tuhanku, aku telah menghabiskan segala cara, kini kumohon pertolongan-Mu. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu dan aku yakin hanya Engkau saja yang boleh menolongku dalam keadaan yang genting ini”

Aku mengatakan kepadanya, “Aku sangat berharap Allah akan mengkabulkan doamu”. Lalu Salahuddin melakukan apa yang kuusulkan. Aku berada di sebelahnya ketika dahinya sujud di bumi sambil menangis hingga air matanya mambasahi janggutnya dan menitik ke tempat shalatnya. Aku tidak tahu apa yang dido’akannya tetapi aku melihat tanda-tanda doanya dikabulkan sebelum hari itu berakhir. Perubahan terjadi di dalam kemah musuh-musuh yang menantikan berita baik bagi kami beberapa hari kemudian. Akhirnya mereka membuka kemah-kemah mereka dan berangkat ke Ramallah pada hari senin pagi”

“Aku meminta kekuatan dan Allah memberikanku kesulitan untuk membuatku semakin kuat, Aku meminta kebijaksanaan dan Allah memberikanku permasalahan untuk kuselesaikan, Aku meminta keberanian dan Allah memberikanku rintangan untuk kuatasi, Aku meminta cinta dan Allah memberikanku seseorang untuk kutolong, Aku meminta sesuatu dan Allah memberikanku kesempatan, Mungkin aku tidak selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi aku selalu mendapatkan apa yang aku butuhkan”  

– Salahuddin Al-Ayyubi

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://daulahislam.com/unique/sejarah-unique/kisah-salahuddin-al-ayyubi.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s