—–

Dr. Yasir Qadhi, seorang penggiat dakwah dari Memphis – Tennessee, Amerika Serikat kali ini berbagi fakta mengenai langkah demi langkah terjadinya Perang Dunia I atau The Great War sekitar 100 tahun silam yang akhirnya berakibat pada kejatuhan Khilafah Islam Utsmaniyyah dan jatuhnya Jerusalem ke tangan para Zionis.

Pada video ini, beliau memaparkan fakta-fakta mencengangkan mengenai betapa sistematisnya kejatuhan Daulah Utsmaniyyah yang konon pada saat itu sudah digerogoti oleh berbagai kekurangan dan kelemahan. Seperti yang telah kita ketahui, Khilafah Utsmaniyyah telah melemah pasca wafatnya Khalifah Sulaiman Qanuni di abad ke 16. Kejayaan dari kekhalifahan ini telah membuat para pemimpinnya lengah dan cinta dunia sehingga ketika kekuatan Eropa telah melampauinya, maka yang dilakukan para petinggi Utsmaniyyah adalah mencontoh caranya serta meninggalkan ketaatan kepada hukum Islam.

Walhasil berbagai investasi Eropa masuk ke tanah Utsmaniyyah dan melemahkan fondasi ekonominya. Ditambah lagi Reformasi Tanzimat semakin membawa Daulah ini menuju ke arah sekulerisme. Produk-produknya pada masa menjelang Perang Dunia I telah menguasai level tertinggi pemerintahan dan saat itu dipimpin oleh para penggiat The Young Turks yang progresif. Kekuatan khalifah sayangnya pada level ini menjadi bersifat simbolik dan tidak lagi absolut seperti masa-masa terdahulu ketika Utsmaniyyah menjadi kekuatan yang tidak pernah terkalahkan di hadapan berbagai kerajaan Eropa.

Sisa wilayah Utsmaniyyah sebelum PD I

Sisa wilayah Utsmaniyyah sebelum PD I

Dengan kondisi yang sedemikian lemah tersebut dan reputasi yang semakin dihinakan oleh tetangga-tetangganya, dedengkot dari The Young Turks yang dipimpin Enver Pasha ini mencari momen untuk ‘merestorasi’ kembali kehormatan negaranya dan ketika Perang Dunia I terjadi maka itulah momentum yang dirasa paling tepat olehnya. Awalnya Perang Dunia I tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia Islam, namun dikarenakan kedekatan Kekaisaran Prussia dengan Utsmaniyyah, maka hal ini langsung dieksploitasi oleh Enver Pasha dengan mengadakan perjanjian rahasia dengan Kaizer Wilhelm II tanpa sepengetahuan sang Sultan. Maka apa daya, sang Sultan akhirnya mengumumkan perintah Jihad untuk terakhir kalinya dalam sejarah umat masa kini.

Dimulainya perang dan pengkhianatan bangsa Arab

Dengan dideklarasikannya perang terhadap sekutu oleh Utsmaniyyah maka Inggris dan Perancis kini memiliki legitimasi untuk menyerang secara langsung. Meskipun pada awalnya Daulah Utsmaniyyah memperoleh kemenangan monumental di Semenanjung Gallipoli, namun di berbagai front lain khususnya di Timur Tengah, ternyata Inggris dan Perancis dengan mudah memporakporandakan pasukan Utsmaniyyah. Tidak hanya Baghdad dan Damascus berhasil mereka kuasai, namun mata mereka juga tertuju pada tanah Palestina. Untuk ini, Perdana Menteri Inggris saat itu menginstruksikan Jendral Allenby untuk merebut Jerusalem sebelum Natal tiba.

Sharif Hussein & Sir Henry McMahon

Sharif Hussein & Sir Henry McMahon

Jendral Allenby yang dikenal cekatan itu dipaksa memutar otak untuk merebut Jerusalem dengan efisien. Sehingga dikirimlah T.E. Lawrence, yang kita kenal sebagai Lawrence of Arabia, untuk mendekati bangsa Arab yang selama ini mendengki dengan kepemimpinan Turki Utsmaniyyah.

Korespondensi antara McMahon dan Sharif Hussein

Korespondensi antara McMahon dan Sharif Hussein

Meskipun sesama saudara Muslim, Sharif Hussein dari Makkah yang sudah turun-temurun menjaga kota ini adalah satu-satunya tokoh yang memiliki otoritas untuk mengklaim tahta kekhalifahan dan kedengkiannya sudah tertuang sejak lama, terlihat dari korespondensinya dengan Inggris jauh sebelum Perang Dunia I dimulai. T.E. Lawrence dikirim menjadi agen ganda dan ditugaskan berkoordinasi dengan pasukan Arab untuk memukul mundur pasukan Turki dari Hijaz.

Berdasarkan dari korespondensi resmi antara Sharif Hussein dan Sir Henry McMahon yang merupakan Komisioner Tinggi Inggris di Mesir, maka disepakati bahwa pasca perang nanti Sharif Hussein akan dianugerahi tanah seluas wilayah Hijaz, Trans Jordania, dan juga Irak untuk mendirikan kekhilafahan barunya.

Pengkhianatan Inggris dan sekutunya

Namun tanpa diketahui oleh siapapun, ternyata tiga kekuatan sekutu yaitu Inggris, Perancis, dan Russia membicarakan secara eksklusif mengenai pembagian kekuasaan pasca perang dan tentu tiada lain adalah wilayah-wilayah yang dimiliki oleh Utsmaniyyah. Pembicaraan ini diprakarsai oleh Francois Georges-Picot dan Sir Mark Sykes yang kelak perjanjiannya akan dikenal sebagai Sykes-Picot Agreement. Dr Yasir Qadhi menggambarkan dalam videonya bahwa perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat kotor dimana mereka merahasiakan ini dari dunia, mengkhianati korespondensi Sharif dan McMahon, serta tanpa pertimbangan banyak, dengan mudahnya mereka membagi-bagi wilayah Muslim menjadi berbagai kepingan sekehendak mereka.

Dari perjanjian ini disepakati bahwa pasca perang nanti Inggris menginginkan wilayah Palestina, Yordania, serta Irak; Perancis menginginkan Suriah dan Libanon; dan Russia menginginkan wilayah timur Utsmaniyyah yang berbatasan dengan Armenia. Ternyata terkuak juga rahasia ini dikarenakan pemerintahan Komunis Bolshevik yang baru saja menjatuhkan Kekaisaran Russia memutuskan untuk membeberkan segala rahasia negara untuk meyakinkan dunia akan kebobrokan pemerintahan para Tsar ini.

Perjanjian Sykes-Picot yang membagi-bagi kekuasaan antara Inggris (merah dan Palestina), Perancis (biru), dan Russia (hijau)

Perjanjian Sykes-Picot yang membagi-bagi kekuasaan Inggris (merah), Perancis (biru), dan Russia (hijau)

Pada saat itu jelas bangsa Arab merasa tertipu dengan perjanjian rahasia ini namun entah bagaimana pemerintah Inggris berhasil meyakinkan bangsa Arab untuk terus memperjuangkan perangnya dan mungkin dikarenakan buta oleh hasrat kekuasaan, pasukan Arab memutuskan untuk terus membantu Inggris dan mencapai cita-cita ‘khilafah’nya.

Sementara itu akhirnya pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Inggris dan sekutunya sehingga berhasillah usaha Jendral Allenby untuk menghadiahkan Jerusalem pada Perdana Menterinya sekaligus mempermalukan umat Islam yang kala itu bobrok dan tidak bersatu sama sekali. Pada momen itu jatuhlah pula kota suci yang telah dipertahankan selama beratus-ratus tahun dan direbut oleh Salahuddin yang mulia dengan darah dan keringat. Kesemuanya adalah karena takdir dari Allah SWT yang menghukum kaum Muslimin karena telah menjauhi agamanya serta tidak bersatu lagi untuk kepentingan umat.

Tanpa disangka ternyata jatuhnya Jerusalem membawa berkah bagi kelompok ekstremis Zionis yang sudah berniat sejak lama untuk kembali ke Palestina. Sehingga di luar semua perjanjian yang ada, kelompok ini melobi pemerintah Inggris dengan cara dahsyat dan sistematis untuk kelak mendirikan negara Israel. Kesemuanya akan kita bahas kembali di episode berikutnya.

—–

Summarized by: @pokamamil

Video by: Dr. Yasir Qadhi

Images are taken from various sources

Advertisements

Da’wah Summary: 1914 – The Shaping of the Modern Muslim World – PART 1/2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s