Siapapun Yang Memimpin, Kami Tidak Pernah Risau (via Muslim Bersatu Muallaf Berseru)

Kami tidak pernah risau dan kebingungan, meskipun kelak kami dipimpin sosok yang tidak amanah dan dzolim. Meskipun ruang lingkupnya adalah para kaum kuffar, munafikin, fasikin, pengekor hawa nafsu dan mereka berkuasa di negeri ini.

Karena apa pun yang Allah Ta’ala kehendaki pasti akan terjadi, dan apa pun yang tidak Allah kehendaki maka tidak akan terjadi.

Allah Ta’ala telah berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Sekali-kali TIDAK AKAN MENIMPA KAMI MELAINKAN APA YANG TELAH DITETAPKAN OLEH ALLAH BAGI KAMI. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”
(At-Taubah: 51)

Kalaupun mereka musuh Islam dan ketika Muslimin berkuasa di negeri ini lalu membuat makar terhadap kami, maka tidak ada yang perlu kami takuti. Justru ini merupakan peluang jihad di negeri sendiri.

Mereka yang kemarin mencoblos dan mereka yang tidak mencoblos, itu bukanlah solusi atas hal tersebut

Pertama
Mencoblos atau tidak, itu termasuk perkara ijtihadiyah. Ada ulama dan ustadz yang melarang secara mutlak, ada juga ulama dan ustadz yang membolehkan. Kenapa harus bingung dan mempermasalahkan?

Kedua
Ingin mendapatkan pemimpin yang baik, tentu COBLOS maupun GOLPUT bukan solusi. Sekedar memilih yang dianggap paling sedikit mudharatnya juga bukan solusi. Khilafah juga tidak akan terwujud hanya dengan sosialisasi belaka.

Khilafah hanya akan terwujud jika mayoritas masyarakat di suatu negeri beriman dengan keimanan yang benar dan beramal dengan amalan shalih (ikhlas dan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Mengajak manusia agar mengenal agama ini secara benar sesuai Al-Qur’an & As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman dan pengamalan para Salafush Shalih harus juga berjalan, DALAM KEADAAN BAGAIMANAPUN JUGA.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم ولما كان الصدر

“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka.

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka.

Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka.

Namun, jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zhalim.

Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka.

Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya.

Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat.

Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkan hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya.

Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak.

Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita.

Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.”
(Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)

Selama kita masih suka berbuat maksiat, masih suka berbuat zhalim baik kepada diri sendiri maupun orang lain, Allah Ta’ala tidak akan memberikan kepada kita pemimpin yang baik, karena Allah Ta’ala telah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al-An’aam: 129)

Fakhruddin Ar-Razi berkata:

“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zhalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezhaliman yang mereka lakukan.” [Tafsir At Tahrir wat Tanwir, karya Ibnu Asyur (8/74)]

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’du: 11)

—–

Source: Muslim Bersatu Muallaf Berseru FB Fanpage

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s