Air Mata Saad Bin Abi Waqqash dalam Perang Qadisiyyah (via Islampos)

Penolakan Kaisar Persia untuk menerima Islam membuat air mata Saad bin Abi Waqqash bercucuran. Berat baginya melakukan peperangan yang harus mengorbankan banyak nyawa kaum Muslim dan bukan Muslim. Kepahlawanan Saad bin Abi Waqqash tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan tentara Parsi di Qadisiyyah, yang mana merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Bersama 3,000 pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Selain itu ada juga 700 orang putra para sahabat dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan. Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah yang berhampiran dengan Hira.

Pasukan musuh yang datang untuk menentang pasukan tentera Muslimin berjumlah 120,000 ribu orang dibawah panglima perang kebanggaan mereka, Rustum. Sebelum memulai peperangan, Umar bin Khattab yang menjadi khalifah saat itu, mengarahkan Saad untuk menulis surat kepada Kaisar Persia, Yazdegerd serta jendralnya Rustum. Isi surat itu intinya mengajak mereka untuk masuk Islam.

Delegasi Muslim yang pertama berangkat menemui Yazdegerd adalah Nu’man bin Muqarrin yang kemudian mendapat penghinaan dan menjadi bahan ejekan sang raja. Untuk mengirim surat kepada Rustum, Saad mengirimkan delegasi yang dipimpin Rubiy bin Aamir. Rustum menawarkan segala kemewahan duniawi kepada Rubiy bin Aamir sebagai pembalasan dan penghinaan. Namun ia tidak berpaling dari Islam dan menyatakan bahawa Allah SWT menjanjikan kemewahan lebih baik yaitu surga.

Para delegasi Muslim kembali setelah kedua pemimpin itu menolak tawaran masuk Islam. Melihat hal tersebut, air mata Saad bercucuran kerana ia terpaksa harus berperang. Setelah itu, untuk beberapa hari dia terbaring sakit kerana tidak kuat menanggung kepedihan jika perang harus terjadi. Saad tahu bahwa peperangan ini akan menjadi peperangan yang sangat keras yang akan menumpahkan darah dan mengorbankan banyak nyawa.

Ketika tengah berpikir, Saad akhirnya mendapati bahawa dia tetap harus berjuang. Karena itu, meskipun terbaring sakit, Saad segera bangkit dan menghadapi pasukannya.

Di depan pasukan Muslim, Saad membaca QS Al-Anbiya: 105 tentang bumi yang akan dipusakai oleh orang-orang soleh seperti yang tertulis dalam kitab Zabur. Setelah itu, Saad menukar pakaian kemudian menunaikan Shalat Zhuhur bersama pasukannya. Setelah itu dengan membaca takbir, Saad bersama pasukan Muslim memulai peperangan.

Selama empat hari, peperangan berlangsung tanpa henti dan menimbulkan korban dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Persia. Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah dunia dan pasukan Muslim memenangkan pertempuran itu.

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://www.islampos.com/air-mata-saad-bin-abi-waqqash-dalam-perang-qadisiyyah-123109/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s