The Dangers of Democracy Series: Tiga Tipe Ummat dalam Menghadapi Arus Pilpres & Gelombang Besar Demokrasi (via VOA Islam)

Kaum muslimin Shahabat Voa Islam yang dimuliakan Alloh,

Nampaknya dalam termin waktu beberapa bulan sejak Januari 2014 hingga nanti jelang September 2014, ummat Islam bangsa Indonesia- suatu istilah khas dari Imam Gerakan NII/DI- TII, SM Kartosuwiryo – sedang berada pada arus yang memungkinkan adanya perubahan. Dimana bisa jadi perubahan itu bisa menyentuh aspek fungsi dan posisi kaum muslimin atau malah juga sedikit banyaknya menohok eksistensinya.

Perubahan terkadang berjalan tanpa keinginan dan kesadaran yang lahir secara natural. Perubahan juga pada suatu waktu lebih merupakan respon dari sebuah keterpaksaan dari sebuah keadaan ketersudutan.

Perubahan dengan kesadaran adalah perubahan ideal yang memungkinkan para pelakunya mengklaim akan hak atas natijah (hasil) dari perubahan itu sendiri. Perubahan tipe ini pun meniscayakan kesiapan fisik dan batin untuk menanggung resiko dan menantang kesempatan dari segala kronik dinamikanya.

Perubahan tipe kedua adalah perubahan instingtif (naluri) yang lahir dari gerak reflek atas ancaman maupun peluang yang seketika wujud di sekitarnya. Ini pun rahmat Alloh yang patut mewujudkan kesyukuran dalam diri setiap hamba.

Artinya setiap perubahan yang direncanakan atau perubahan karena keterpaksaan sesungguhnya sebuah keadaan dimana Iradah dan Hukum Alloh Azza wa Jalla tetap berlaku didalamnya. Sehingga seorang hamba tidak boleh mengkhianati nikmat keimanan atau keislaman yang telah dikaruniakanNya.

Kaum muslimin, Shahabat Voa Islam yang dimuliakan Alloh,

Sungguh bukan kami ingin sok tahu karena sejatinya banyak hal yang tidak kami ketahui. Akan tetapi dalam tulisan ini, kami sekedar ingin memberi inspirasi tentang bagaimana seharusnya sebagai ummat yang telah dikayakan Alloh Jalla wa Alaa dengan nikmat Iman dan Islam, justru mampu menempatkan diri dalam arus Pilpres pada hantaman gelombang besar Demokrasi.

Demokrasi sendiri secara sadar kita tidak mengakuinya sebagai tuntunan agama apalagi bagian dari ajaran Islam. Sebagian kita mengakuinya sebagai ajaran asing yang datang dari peradaban kuffar bahkan secara kasat mata menghadirkan kesyirikan akbar dalam perspektif Rubbubiyatulloh. Karena sistem ini melahirkan Rabb-rabb selain Alloh dalam menetapkan aturan, hukum dan perundang-undangan. Paling kita hanya berselisih, apakah ini syirk akbar dhohiroh atau khofiyah.

Sedangkan sebagian kaum muslimin yang malah menjadi penggiat demokrasi biasanya mengajukan ta’wil dari kondisi ketiadaan dominasi Islam. Atau memakai kaedah fiqh memilih mudharat yang lebih ringan. Padahal mudaharat apa yang lebih besar selain kesyirikan itu?

Kaum muslimin, Shahabat Voa Islam yang dimuliakan Alloh,

Penulis sebagai peminat perubahan mencoba memetakan model-model kaum muslimin dalam kondisi ini dalam 3 (tiga) kelompok, yakni:

  1. Kelompok Kebanyakan, baik kalangan awam maupun ‘alim yang sudah gamang dalam mempertahankan ideology dan semangat kejuangannya. Kelompok inilah yang coba terbiasa hidup hina dan kehilangan martabat dibawah ajaran dan system yang diterapkan musuh-musuh alaminya dari kalangan kuffar dan munafiq.

Persis sebagamana yang digambarkan nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits beliau, bahwa akan ada suatu masa dimana ummat Islam yang mayoritas namun dikuasai musuh-musuhnya seperti orang-orang lapar yang berebut makanan dalam sebuah pinggan. Mereka mampu dikuasai musuhnya dan dijerat dengan nilai serta sistem yang dibuat para musuh alaminya itu, Karena penyakit hubbud dunia wa karohiyatul qital telah bersemayam dalam sanubarinya. Na’udzubillahi min dzalik!

Bolehlah kita menyebutnya sebagaimana sebutan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sebagai tipe Busa yang ada di sungai. Suatu benda yang tidak memiliki bobot apalagi arus yang bebas dan mandiri. Hidup mengalir, menganut falsafah bahwa hidup seperti sungai (life likes a river). Mereka adalah golongan yang bercita-cita untuk hidup ceria di masa balita, selalu bersuka cita saat muda, berlimpah harta di hari tua dan kemaruk angan-angan akan bisa masuk syurga setelah matinya. Bull sheet!

  1. Kelompok Petualang yang sebenarnya merupakan kalangan sedikit dari orang-orang kebanyakan pada kelompok pertama diatas. Kelompok tipe ini adalah mereka yang berupaya hidup di 2 (dua) alam atau amphibi. Terkadang mencoba bergulat meraih kemuliaan namun tidak jarang juga akhirnya bertahan dalam kehinaan.

Tipe ini persis seperti para peselancar yang gemar menantang arus bahkan menikmati gelombang di pantai-pantai. Mereka selalu gembira dalam hantaman gelombang, the wave maniac, bahkan gemar berpetualang mencari pantai-pantai yang banyak gelombangnya. Mereka juga akan dengan bangga unjuk ilmu dan kebolehannya dengan menari-nari diatas gelombang ombak kemudian berlabuh di pantai dengan penuh kepuasan. Yah, mereka mampu menari diatas gelombang tidak seperti kaum kebanyakan yang sibuk hanya bertahan dengan kadang muncul dan kadang tenggelam dalam gelombang secara gelagapan.

Tipe ini setinggi-tinggi prestasinya hanyalah untuk mendapatkan banyak piala bukan beroleh pahala dari sisi Rabb-nya. Kita berlindung kepada Alloh Azza wa Jalla agar tidak menjadi kelompok model ini.

Mungkin tipe istimewa dari kelompok inilah yang digambarkan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah yang sebenarnya menjadi pelaku amal yang terbaik dalam Islam namun terjerat penyakit syirk kecil yakni Riya’ dan Sum’ah. Akhirnya sebagaimana diterangkan dalam hadits nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, mereka diseret ke neraka pada saat pertamakali api neraka dinyalakan. Na’udzubillahi min dzalik!

  1. Terakhir, adalah tipe kelompok yang kami beri nama The Salmon Code. Sedangkan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam memuliakan kelompok ini dengan nama Thoifah Al Manshuroh. Sebuah elit kelompok dari Ummat nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam yang mendapat keampunan (maghfiroh) dan kasih sayang (rahmah) dimana dengan kedua karunia Alloh itu mereka dimasukkan kedalam syurgaNya.

Sebuah nikmat dari Alloh Azza wa Jalla bahwa elit kelompok ini senantiasa ada pada setiap zaman yang dilalui ummat Islam, Alhamdulillah. Sebagaimana juga diterangkan Alloh dalam al Qur-an bahwa pada waktu bersamaan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani serta kaum Musyrikin tidak akan pernah berhenti memerangi kaum muslimin. Alloh Azza wa Jalla menakdirkan wujudnya kelompok elit kaum muslimin untuk mengimbangi bahkan memenangkan pertarungan dengan sebutan at Thoifah al Manshuroh, Allohu akbar, semoga Alloh mengarunia kita nikmat yang agung ini dan memasukkan kita kedalam kelompok ini, amiin!

Mengapa penulis menyebutnya sebagai the Salmon Code?

Saudara terkasih dalam Islam, sebagaimana kita ketahui, ikan Salmon adalah makhluq Alloh yang berukuran kecil dibanding makhluq-makhluq Alloh lainnya. Namun makhluq kecil ini memiliki satu gambaran cita kemuliaan, ikan Salmon sanggup mengarungi berbagai wahana kehidupannya, dari siklus air laut yang asin hingga memasuki sungai yang berisi air tawar, begitu sebaliknya. Ikan Salmon juga sanggup menempuh arah dan derasnya arus air sungai yang berlawanan bahkan terkadang melompat tinggi melewati aral dan ketinggian di hadapannya. Hingga mereka mendapatkan kembali siklus asli kelahiran mereka dahulu untuk menelurkan bibit generasi masa depan yang akan melanjutkan garis keturunan mereka. Kemudian mati secara mulia selesai menunai tugas akhir dan utamanya itu, duhai indahnya.

Bedanya, ikan salmon berbuat hal demikian adalah karunia instingtif yang Alloh berikan kepada mereka. Akan tetapi kita, manusia, hanya bisa melakukan kemuliaan dengan taufik dan hidayah Alloh yang berpadu tumbuhnya keinginan serta azzam yang kuat dari dalam benak sanubari kita sendiri.

Kaum muslimin, shahabat Voa Islam yang dimuliakan Alloh,

Dalam pseudo pertarungan yang dihadapkan kepada kita beberapa bulan ini, mari kita memilih sikap secara sadar berdasarkan petunjuk Alloh dan RasulNya. Penulis secara global telah memaparkan 3 (tiga) tipe kaum muslimin diatas. Mana yang akan kita pilih, semua akan mendapat balasan dari sisi Alloh Azza wa Jalla dan IA Maha Mengetahui Segalanya.

Jadilah pelopor bukan pengekor. Jadilah penyelamat ummat bukan malah menjadi kaum yang selalu tersengat, apalagi tersengat berkali-kali di lubang sama, nau’dzubillahi min dzalik!

Wallohu Ta’ala a’lamu bis showwab!

—–

Written by: Abu Fatih Abdurrahman S, Peminat PerubahanKontributor Voa Islam Daerah Solo dan sekitarnya

Source: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/06/14/30890/3-tipe-ummat-dalam-menghadapi-arus-pilpres-gelombang-besar-demokrasi/#sthash.CwtCe0a4.dpuf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s