Ketika India Takluk di Tangan Kesatria Yang Belum Genap Usia 20 Tahun (via HTI)

India – sebelum dipecah menjadi India, Pakistan, Kashmir dan Bangladesh merupakan satu wilayah besar. Perhatian tehadap negeri ini sudah diberikan oleh para Khulafa’ Rasyidin. Hanya saja, misi pembebasan yang benar-benar berhasil dimulai dari Sindh, daerah yang terletak di sebelah barat daya Semenanjung India di sebelah tenggara Persia. Penaklukan wilayah ini dilakukan serentak dengan penaklukan wilayah Wara’ Nahr (Asia Tengah).

Penaklukan ini dimulai tahun 89 H/708 M, atau dua tahun setelah Qutaibah bin Muslim membebaskan Asia Tengah, yang terjadi di era Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan. Pembebasan Sindh adalah atas inisiatif Panglima al-Hajjaj bin Yusuf at-Tsaqafi dan dialah yang mengutus Muhammad bin Qasim,yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri, untuk memimpin pasukan pembebasan tersebut.

Yang menarik, saat itu usia Muhammad bin Qasim belum genap 20 tahun. Muhammad bin Qasim ditugaskan untuk membebaskan wilayah ini, setelah wilayah ini menjadi berbatasan dengan batas timur negara Islam. Setelah wilayah ini berhasil dibebaskan, Muhammad bin Qasim, yang belia itu, diangkat menjadi amir untuk wilayah tersebut.

Setelah wilayah ini berhasil dibebaskan, Muhammad bin Qasim melanjutkan misinya ke Mukran. Mukran ini berbatasan dengan Kirman di sebelah barat, dan India di sebelah timur, Sajtan di sebelah utara, sedangkan sebelah selatannya berbatasan dengan laut. Dari sana, Muhammad bin Qasim bergerak ke Daibul, menyusuri pantai Laut India, dan membebaskan wilayah tersebut.

Sesampainya di sana, Muhammad bin Qasim mengepung wilayah tersebut selama tiga hari, dan berhasil menguasainya setelah penguasa wilayah tersebut, Dahir, melarikan diri. Di sini, Muhammad bin Qasim merancang kota dan menempatkan 4.000 tentara Muslim. Wilayah ini kemudian disulap menjadi pangkalan laut bagi Khilafah Islam.

Pembebasan wilayah ini mempunyai dampak yang besar terhadap situasi domestik, baik kota maupun kampung yang berdekatan. Akhirnya, penduduk-penduduk di sekitarnya berbondong-bondong menyatakan perjanjian damai dengan kaum Muslim. Setelah misi ini berhasil, Muhammad bin Qasim mengarahkan pasukannya ke Birun, yang terletak di tepi barat sungai Sind, yang terkenal dengan nama Mahran. Penduduknya pun segera menyatakan damai, yang diikuti dengan penduduk Sarbidus, Sahban dan Sadusan. Kota-kota ini terletak di tepi timur sungai Sind.

Di kota Mahran ini, Muhammad bin Qasim bertemu lagi dengan Dahir. Panglima belia ini pun berhasil mengalahkannya dan membunuhnya. Setelah itu praktis kaum Muslim berhasil menguasai seluruh daerah Sindh. Tentara dikerahkan ke timur laut hingga sampai ke kota Brahmanabad. Tentara Dahir yang dipimpin oleh anaknya Jaisink, melarikan diri ke sana. Di kota ini, mereka diperangi oleh pasukan Muhammad bin Qasim hingga kalah. Setelah itu, Muhammad bin Qasim dengan pasukannya pun berhasil membebaskan kota tersebut.

Jaisink akhirnya melarikan diri ke utara dan membuat benteng di Rur, ibukota Sindh. Muhammad bin Qasim dan pasukannya mengepung kota ini selama empat bulan sebelum akhirnya kota ini takluk.

Setelah wilayah ini dikuasai oleh kaum Muslim, maka Muhammad bin Qasim, yang usianya telah memasuki 20 tahun lebih sedikit, mengatur urusan wilayah-wilayah yang ditaklukkan tersebut. Dia adalah wali di wilayah-wilayah tersebut. Setelah pengaturan dan sistemnya berhasil diterapkan dengan baik, dia pun siap melanjutkannya misinya yang lain.

—–

Source: www.hizbut-tahrir.or.id/2014/06/24/ketika-india-takluk-di-tangan-kesatria-yang-belum-genap-usia-20-tahun/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s