Ibnu Battuta, Sang Pengembara Dunia yang Belum Tertandingi

Ibnu Battuta adalah tokoh Muslim asal Maroko yang lahir pada tahun 1304 M dan pengembara ke berbagai penjuru dunia. Hingga kini beliau dianggap sebagai pelopor penjelajah pada abad 14 yang belum tertandingi. Sekalipun ada Marco Polo yang juga melakukan penjelajahan dunia, namun masih tidak sebanding dengan Ibnu Battuta terutama dalam kuantitas perjalanan. Karenanya beliau dijuluki dengan sebutan “Pengembara Muslim”. Ibnu Battuta konon memiliki hobi mengunjungi berbagai negeri untuk saling takruf (mengenal) manusia dengan berbagai latar belakang dan budaya.

Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Battuta mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14. Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Battuta datang dari dirinya sendiri. Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak bisa tahu kebenaran dari cerita tersebut.

Lahir di Tangier, Maroko, Ibnu Battuta pada usia sekitar dua puluh tahun telah berangkat berziarah ke Mekkah untuk naik haji. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer di sepanjang dunia Muslim (dengan luas sekitar 44 negara modern saat ini).

Perjalanannya dimulai ke Mekkah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk yang relatif aman. Jalur yang umum digunakan menuju Mekkah ada tiga dan Ibnu Battuta memilih jalur yang paling jarang ditempuh pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di ‘Aydhad. Namun ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.

Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua yaitu menuju ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan/ anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama bahwasanya ia hanya akan sampai di Mekkah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut seperti Hebron, Jerusalem, dan Betlehem. Penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan jalur para peziarah.

Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Rasulullah SAW. Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekkah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji dan berbagai perenungan, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah negeri Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran).

Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi Najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat yakni Ali bin Abu Thalib. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah lalu ke Isfahan, yang hanya beberapa dekade sebelumnya dihancurkan oleh Timurleng. Kemudian ke Shiraz dan Baghdad (kota yang belum lama diserang besar-besaran oleh Hulagu Khan).

Di sana ia bertemu Abu Sa’id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Battuta untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju negeri Cina Mongol yang merupakan pusat perdagangan penting.

Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekkah untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Hindia. Akan tetapi sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.

Menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombassa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekkah lagi dan setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di Kesultanan Delhi. Lalu ia beranjak ke Anatolia yang tengah di bawah kendali Turki Saljuk dan berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.

Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa yang berlokasi di Semenanjung Crimea dan memasuki negeri Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

Beliau mengakhiri catatan perjalanannya dengan sebuah kalimat, ”Akhirnya aku sampai juga di kota Fez (Maroko).” Di situ beliau menuliskan hasil pengembaraannya dan meninggal dunia di Maroko pada pada tahun 1377 M.

—–

Source: http://www.islampos.com/sang-pengembara-dunia-yang-belum-tertandingi-110760/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s