The Dangers of Democracy Series: Era Lawakan Kebablasan (via Islampos)

stand up comedy Era Lawakan Kebablasan

Jika saat ini kita diminta untuk menunjukkan atau menyebutkan acara-acara hiburan yang bersifat komedi atau lawak dengan tanpa melibatkan unsur mencela, agaknya sulit untuk didapatkan. Seiring dengan derasnya trend komedi yang mengandung unsur celaan, merendahkan atau bahkan mengejek, masyarakat kita pun membawa trend itu dalam kehidupan sehari-hari.

Lihatlah sebagian generasi muda kita yang begitu terbiasa dengan percakapan penuh olok-olok antar sesamanya. Bahkan yang berkembang saat ini, generasi muda kita terjebak dalam prasangka bahwa stand up comedy adalah komedi yang cerdas. Padahal kenyatannya stand up comedy hanya sekedar menjadi ajang olok-olok dengan bungkus bahasa intelek.

Jika fenomena semacam ini luput dari perhatian kita dan cenderung dibiarkan, maka sejatinya kita tengah menyiapkan generasi masa depan yang sulit untuk menghargai apapun. Mereka yang terbiasa mengolok-olok akan menjadikannya sebagai alat apologi atas ketidakpuasannya terhadap sesuatu.

Contoh sederhana yang berkembang saat ini hasil dari bentukan budaya mengolok olok adalah cyber bullying, dimana para pelaku aksi bully ini sering beranggapan bahwa yang mereka lakukan hanyalah sekedar aksi lucu-lucuan saja. Sementara sang korban, tidak alang kepalang rasa malu dan beban mental yang ia derita.

Lawakan yang luar biasa kelewatan

Jika komedi dengan latar olok-olok, menghina, mengejek dan seterusnya masih bisa diterima karena objeknya adalah manusia atau realitas kehidupan sehari-hari. Maka mari kita lihat fakta yang jauh lebih memprihatinkan lagi.

Kita semua sepakat bahwa nilai-nilia sakral ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai seorang Muslim kita menghargai betul setiap komponen dalam ajaran Islam, baik dari yang furu sampai dengan yang ushul. Sejenak mari kita layangkan pandang ke belahan dunia bagian Barat.

Di Barat, walau Kristen dengan berbagai macam sekte dan alirannya memiliki jumlah yang cukup besar, tak lantas Kristen mendapatkan penghormatan yang layak. Bisa dikatakan bahwa sudah tidak terhitung jumlah dan bentuknya berbagai sarana media yang digunakan untuk menjadikan Kristen sebagai bahan candaan dengan cara mengolok-olok.

Yesus, sebagai figure sentral ajaran Kristen betul-betul menjadi bahan bulan-bulanan disana. Dengan dalih just joking alias sekedar bercanda dan kebebasan berekspresi, dapat kita temui berbagai macam bentuk pelecehan terhadap sosok Yesus. Pun demikian keadaannya, Vatikan sebagai salah satu otoritas terkuat dalam dunia Kristen pun tidak mampu berbuat banyak.

Tidak puas mengolok-olok Yesus, dengan dalih yang sama mereka mencoba menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai bahan olok-olokan pula. Tentu masih segar dalam ingatan kita berbagai macam karikartur, film, novel dan berbagai saran media lainnya yang dengan gamblang melakukan penghinaan terhadap Rasulullah SAW.

Kegemaran melakukan olok-olok dengan dalih humor terhadap hal yang sakral tidak hanya terjadi Barat. Bagi anda penggemar komik Jepang alias manga cepat atau lambat akan menemukan sebuah komik nyeleneh berjudul ”Saint Young Men” atau Seinto Oniisan.

Walau mungkin tidak terkesan sevulgar olok-olokan dari Barat. Komik nyeleneh yang bercerita tentang figure sentral dua agama besar, Buddha dan Yesus,yang tinggal bersama di sebuah apartement di Tokyo untuk menikmati kehidupan duniawi ini memberi kita gambaran nyata, bahwa desakralisasi atas nama humor dan kebebasan berekspresi sudah mengepung kita.

Rusaknya konsep nilai sebagai akar permasalahan

Arus liberalisme tidak hanya mengalir lewat lisan para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) atau antek-anteknya saja. Konsep-konsep liberalisme memiliki jalur masuk yang beraneka ragam dan dapat datang dari mana saja. Kita mungkin sudah cukup waspada dengan pengaruh media massa seperti koran, televisi, film dan lain-lain, tapi kita sering kurang waspada jika pengaruh itu muncul dari lingkungan sekitar kita.

Dalam konsep liberal yang berkembang di era postmodern ini, konsepsi tentang nilai dihancur leburkan. Kesakralan dihapuskan dan yang profane diangkat tinggi-tinggi. Sejatinya ini adalah bentukan atas rasa kecewa dan frustasi historis Barat terhadap Kristen.

Sebagai Agama, Kristen gagal menyatukan tiga elemen penting yang berfungsi menyokong sebuah cara berfikir yang utuh. Tiga elemen tersebut adalah konsepsi, ilmu dan aktualisasi. Secara konsepsi Kristen memiliki masalah fatal terkait dosa turunan dan dinamika trinitas. Secara ilmu, Kristen mengedapankan pendekatan dogmatis sehingga banyak ilmuwan zaman pertengahan memberontak pada gereja, dan gereja memberi mereka stempel heretic alias sesat.

Saat konsep dasar dan ilmunya bermasalah, maka jangan tanya bagaimana aktualisasinya. Perang Salib dan Inkuisisi adalah wujud aktualisasi dunia Kristen yang sangat mengecewakan orang Barat sendiri. Kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk inilah yang kurang lebih membuat Barat sebagaimana ia yang sekarang. Anti otoritas, bebas, dan tidak terikat dengan nilai-nilai karena mereka beranggapan bahwa konsep nilai sakral adalah tirani atas kebebasan yang mereka miliki.

Apa jadinya jika kebebasan macam ini meracuni otak generasi muda kita?

Menambah ilmu, menjaga diri

Ada kata-kata menarik yang perlu kita renungkan dari Mohamed Ghilan dalam salah satu artikel di web nya yang menjelaskan tentang  mockery.

All that is mockery, being sourced from a satanic origin, stands in stark contrast to all that is Sacred. This is evident in the main subjects of mockery, most of which are revered within religious discourse. To make it palatable, the likes of the late Christopher Hitchens say that, “Mockery of religion is one of the most essential things… one of the beginnings of human emancipation is the ability to laugh at authority.” If anything is truly deserving of mockery, it’s this statement and those like it, which fallaciously link human freedom with mockery of the Sacred. Statements such as this one are nothing but a reverberation of the first one of their nature that Satan made to Adam and Eve peace be upon them when he said to them, “Your Lord only forbade you this tree to prevent you becoming angels or immortals.” [Quran 7:20]”

Mohamed Ghilan dengan gamblang menyatakan bahwa sumber asal dari tradisi mengolok-olok berasal dari Iblis, belum lagi dengan banyaknya bukti bahwa tradisi mengolok-olok ini banyak menggunakan subjek yang suci seperti agama. Mengolok-olok sesuatu yang suci seperti agama, menurut Ghilan adalah sama dengan godaan Iblis yang mengajak Adam dan Hawa agar meremehkan larangan Allah untuk mendekati pohon terlarang. Karena hakikat dari olok-olok itu sendiri menjadikan objek yang diolok-olok lebih rendah daripada pelaku yang mengolok-olok.

Kita sering abai, karena kerap kali hal-hal seperti ini kita anggap sebagai hal yang biasa. Padahal dalam setiap fenomena ada latar ideologi didalamnya. Jangan biarkan keterbatasan pengetahuan kita menjadi alasan kita untuk menerima hal-hal yang bertentangan dengan konsep Islam yang kita miliki. Di era yang penuh tantangan dan pergulatan ini selalu sempatkan diri kita untuk belajar lebih dekat dengan Islam, sebab hidup yang sementara ini akan sia-sia jika kita justru terseret arus dan tak mampu membedakan mana yang memiliki manfaat mana yang berpotensi mendatangkan madhlarat.

—-

Written by: Azeza Ibrahim Rizki – Pengamat Budaya Komunikasi 

Edited by: @pokamamil

Source: http://www.islampos.com/era-lawakan-kebablasan-94699/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s