The Dangers of Democracy Series: Tweet Series – Kaum Liberal dan Pentingnya Khilafah by @felixsiauw (2012.06.01)

Kaum Liberal dan Pentingnya Khilafah

01. Mengapa ramai hashtag #IndonesiaTanpaJIL? Semua itu wajar mengingat mudharat besar yg dihasilkan kelompok ‘kaki-tangan’ barat ini.

02. Mulai dari membolehkan homoseksual, penolakan terhadap syariat Islam dan pembenaran untuk mengumbar aurat mereka dakwahkan.

03. Sampai ke penghalalan nikah beda agama, penghinaan terhadap kerasulan Muhammad saw, gugatan atas keaslian Al-Qur’an mereka gencarkan.

04. Maka wajar ummat Islam menolak liberalisme, bagaikan menggunting dalam lipatan, mereka menamakan diri Islam dan mempropagandakan barat.

05. Ditilik dari segi sejarah, kemunculan kaum liberal (JIL) di indonesia sangat terkait dengan gerakan liberal di dunia Islam umumnya.

06. Pada abad ke 17, saat Khilafah Utsmani sudah melemah, misionaris kristen mulai melaksanakan aksi mereka di Beirut Libanon lwt pendidikan.

07. Tugas mereka jelas, membuat kaum Muslim ragu dengan agamanya sendiri dan mempertanyakan keabsahan agama mereka.

08. Pada abad 18-19, seiring kebangkitan dunia barat karena meninggalkan Kristen sebagai agama, masalah liberalisme kaum Muslim juga dimulai.

09. Beberapa tokoh barat bersepakat bahwa masuknya Napoleon ke Mesir pada 1798 adl inisiasi awal dari pemikiran liberal di dunia Muslim.

10. Saat itu, ummat shock menyaksikan kebangkitan barat dan bersamaan dengannya melemahnya Khilafah Islam, dan mulai bertanya-tanya.

11. “Apa yang membuat Barat bangkit?” dan “Yang membuat Islam lemah?”, begitulah yang dipikirkan ilmuwan2 Islam saat saksikan majunya Barat.

12. “Apakah kita lemah dan Barat kuat karena cara pikir Barat lebih baik dari cara pikir kita?” begitulah syaitan menyusup lewat akal.

13. Maka saat itu pemikir2 Islam banyak merapat ke barat, membuka dialog, mengapa “Barat maju sementara Islam melemah”.

14. Tanpa kaum Muslim sadari, melemahnya Khilafah saat itu sesungguhnya karena melemahnya pemikiran Islam, bukan karena pemikiran Islam itu sendiri.

15. Saat itu bahasa Arab telah melemah penggunaannya, filsafat persia dan yunani pun merusak pemikiran, belum lagi ijtihad yg tak dilakukan.

16. Namun sebagaimana jebakan Barat, kaum Muslim mulai diperkenalkan dengan cara pikir Barat yg Liberalis, derivatif dari Sekulerisme.

17. “Memisahkan antara agama dan negara”, “Menolak otorisasi kelompok tertentu menafsirkan dalil” itu kampanye Barat pada Islam.

18. Barat via Prancis, Inggris dan Amerika berusaha mengenakan paham yg membangkitkan mereka pada kaum Muslim, yaitu “meninggalkan agama”.

19. Barat sangat sadar, adanya Khilafah menutup jalan bagi mereka untuk menguasai Muslim, karena itu liberalisasi agama jadi jawaban.

20. Maka melalui upaya liberalisasi agama, Barat berusaha menanamkan bahwa modernisasi adalah meninggalkan agama sebagai dasar pikir.

21. Liberalisasi agama ini mendapatkan sambutan, khususnya dari misionaris kristen dan cendekiawan Islam yang disekolahkan keluar negeri.

22. Generasi awal (1830-1870) liberalis tmsk Rifa’ah Rafi Al-Tahtawi, menimba liberalisme di Prancis dan membawa pendidikan sekuler ke Mesir.

23. Pula tokoh kristen Butrus al-Bustani yg menyebarkan pemikiran cabang liberalisme yaitu nasionalisme arab, utk memisahkan dr Khilafah.

24. Generasi kedua (1870 – 1900) dari mereka lebih berani, kali ini kaum liberal menggugat bahwa Al-Qur’an dan Islam adl agama bias gender.

25. Maka muncullah perusak Islam lainnya, liberalis generasi kedua yaitu Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani guru-murid pengusung liberal.

26. Banyak ummat Muslim menyangka mereka adalah ulama pembaharu Islam, pada hakikatnya mereka ini adalah pengkhianat yg menjual Islam.

27. Khusus Jamaluddin ini, Khalifah Abdul Hamid II dlm catatan hariannya pernah mengatakan dia layaknya “pelawak” kaki tangan Inggris.

28. Setelah Pan-Arabisme (nasionalisme Arab) yg diusung Jamaluddin gagal, ia malah meminta lindungan pada tentara kafir, begitulah “pelawak”.

29. Gerakan liberalisme generasi kedua ini tampil lebih vulgar, mulai mengusung pemakzulan Khilafah, sebagaimana diinginkan majikan baratnya.

30. Ide liberalisasi agama dalam bentuk penolakan terhadap syariat dalam bingkai Khilafah ini mengkristalisasi pada generasi liberalis ketiga.

31. Generasi ketiga ini merentang 1900 – 1939, dengan tokohnya spt Muhammad Rasyid Ridha, Ali Abdur Raziq dan Thaha Husain.

32. Gugatan mereka terhadap Khilafah, juga dibarengi dengan meniupkan benih nasionalisme pada pemuda Arab, Turki, dan lainnya.

33. Nasionalisme inilah kelak memberi ruh pada gerakan Revolusi Arab dan gerakan Turki Muda, yang berujung pada runtuhnya Khilafah di 1924.

34. Nah, generasi liberal ketiga inilah yang banyak direspons oleh dunia Islam, termasuk Indonesia yang terpengaruh dengan pemiran liberal.

35. Da’i liberal semacam Muhammad Arkoun, Nashr Hamid Abu Zaid, Rasyid Ridha dll, mulai mewarnai pemikir-pemikir Indonesia.

36. Adalah Muhammad Tahir Djalaluddin, murid Muhammad Abduh yg ‘berjasa’ menyebarkan liberalisme di Nusantara dan ranah Melayu.

37. Sesampai dari mesir, ia menyebarkan pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani tentang liberalisme di majalah al-Imam.

38. Tema sentral majalah al-Imam ini adalah feminisme, kebebasan berpendapat (walau tak sesuai syariat) dan tema liberal yg lain.

39. Pada 1970-an, gerakan liberal ini menemukan relungnya di indonesia lewat Nurcholish Majid, sesepuh liberal di Indonesia.

40. Nurcholish Majid mewarisi liberalisme dari Fazlur Rahman, dosennya di Chicago yg mengusung tafsir ‘kontekstual’ bukan ‘tekstual.

41. Tafsir kontekstual ini menyatakan bahwa dalil Qur’an bukan dilihat secara teks kata2, tapi maknanya (konteks) saja sudah cukup.

42. Misal, menutup aurat maknanya adl menjaga kehormatan & melindungi diri, jadi bila sudah terhormat dan terlindung, tak perlu tutup aurat.

43. Nurcholish misalnya menyatakan “Tiada tuhan (t kecil) kecuali Tuhan (T besar)” dan mengajarkan bahwa semua agama itu benar.

44. Menjelang 1970-an, gerbong liberalisme bertambah panjang dengan daftar nama Harun Nasution, Abdurrahman Wahid dan Munawir Sjadzali.

45. Mereka miliki kesamaan, yaitu kekaguman atas Muhammad Abduh, Ali Abdur Raziq, Rasyid Ridha dan pemikir liberal lainnya.

46. Saat itu, tak ayal lagi, pemikiran liberal mulai menyusup pada cendekiawan NU dan Muhammadiyah, khususnya para santri muda mereka.

47. Maka pada 2001, digalang Ulil Abshar, Gonawan Moehammad dibentuklah JIL untuk satukan seluruh organisasi bernafas liberal di Indonesia.

48. Dalam situs islamlib.com dinyatakan, lahirnya JIL sebagai respons atas bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama di Indonesia.

49. Intinya gerakan JIL adl membuat ummat berpaling dari Islam memanfaatkan isu “ekstremisme”, “fundamentalisme” n “radikalisme”.

50. Mereka menggugat Al-Qur’an dan Rasul, menyalahkan ahli tafsir dan ulama terdahulu, serta menafsirkan ayat sebatas batok kepala mereka.

51. Ulil Abshar Abdalla misalnya menyatakan “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.”

52. Sumanto al-Qurthuby menulis “hakekat Al-Qur’an bukanlah ‘teks verbal’ yg 6666 ayat bikinan Utsman itu melainkan gumpalan2 gagasan.”

53. Luthfi Assyaukani “Jilbab itu kan dipake khusus buat shalat/pengajian. Kalau di tempat umum ya mesti dibuka. Bego aja kebalik-balik,”

54. Begitulah kerjaan mereka, selain itu mereka juga aktif mengadakan acara2 pemurtadan secara pemikiran, dan disokong dana barat.

55. JIL juga merilis FLA (fikih lintas agama) yang membolehkan nikah beda agama, penghapusan nisbah warisan dan masa iddah ada pada laki2.

56. Mereka mengkampanyekan sekulerisme, pluralisme dan liberalisme (sepilis) sebagai tandingan syariat Islam dan Khilafah Islam.

57. Walau MUI telah mengharamkan sepilis kaum liberal ini, namun masyarakat tetap dijejali dengan ide ini, khususnya kaum awam.

58. Termasuk menyebar derivatif sepilis seperti demokrasi yg mengambil hak Allah sebagai penentu halal dan haram dan serahkan pd suara mayoritas.

59. Liberalis membeli acara2 TV dan lapak2 di koran dengan uang dari Barat dan memaksa ide liberal bercokol di kepala generasi Muslim.

60. Tak hanya tulisan dan radio, mereka juga merambah sinetron, dan film2 bioskop, seminar2 di kampus dan partai2 politik.

61. Org liberal merasa mereka keren ketika bisa kutip pendapat2 barat, tanpa sadar mereka cuma tugasnya membeo majikannya saja.

62. Lebih parah lagi, mereka kira dengan menjilat n ngibas-ngibasin ekor mereka bisa senangkan majikan, padahal nunggu dipotong juga.

63. Menjual agama atas dalil modernisasi, kebablasan, itulah kaum liberal, yang terkadang juga gak konsisten sama pendapatnya sendiri.

64. Bilang semua agama sama2 benar, tapi disuruh pindah agama keluar Islam gak mau, gak konsisten toh?

65. Bilangnya semua agama sama, tapi mati masi mau dikainin kafan, kalo berani ya dibakar aja trus dibuang ke Kalimalang.

66. Betul ketika Hudzaifah meriwayatkan hadits Nabi bahwa akan ada “da’i-da’i yang menyeru pada neraka jahannam, yg ikut mrk akan masuk neraka”.

67. Nabi jelaskan bahwa da’i penyeru neraka ini “dari kaum yg kulitnya sama seperti kamu, dan berbicara dengan bahasa kami”.

68. Begitulah JIL, berkulit Islam dan berbahasa Al-Qur’an, namun yang diserukannya adalah menuju pintu neraka jahannam.. Innalillahi..

69. Konsisten sekuler, web mereka jelaskan dasar JIL poin f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

70. Singkat cerita, sama seperti pendahulu2nya, sepertinya majikannya juga masih sama, JIL ingin menggagalkan penerapan syariat Islam.

71. Karena itulah kaum liberal dan JIL paling sewot bila ada kelompok yg menginginkan formalisasi syariat dalam negara dlm bentuk Khilafah.

72. Bila generasi liberal lalu memakzulkan Khilafah, maka peliharaan barat generasi baru ini menghalang-halangi kembalinya Khilafah Islam.

73. Subhanallah, terkadang Allah menguji kaum Muslim dengan musuh bersama, yang kita bersatu karenanya, menyadari pentingnya ukhuwah Islam.

74. Oleh karena itu, #IndonesiaTanpaJIL perlu digemakan, dan kita lanjutkan dengan Indonesia Dengan Syariah dan Khilafah”

—–

Kultwit cukup panjang dari Ustadz Felix Siauw ini kembali kami utarakan melalui blog ini dalam rangka mengingatkan kita selalu bahwasanya ancaman faham sepilis (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) ini masih tetap ada dan akan selalu ada. Sebagaimana Ustadz Felix jelaskan bahwa generasi sepilis sekarang tetap berfokus untuk menghalang-halangi kembalinya Khilafah, sebuah sistem sejati yang terbukti memakmurkan serta membawa keadilan bagi segenap umat manusia.

Terlepas apakah kita berjuang secara individu, partai politik, ormas, maupun HTI (dalam hal ini adalah sang Ustadz sendiri), Khilafah adalah tujuan yang harus dicapai secara mutlak karena dengannya Syariah Islam akan tegak berdiri.

Sehingga yang patut kita segarkan kembali dalam hati kita adalah beberapa poin sebagai berikut:

1. Apakah benar tokoh-tokoh JIL ini tetap bertahan dengan organisasi ini? Sangat mungkin kini mereka memiliki wadah-wadah baru sehingga hashtag #IndonesiaTanpaJIL seharusnya berubah menjadi #IndonesiaTanpaLiberal, atau bahkan #IslamTanpaLiberal. Terjebak pada JIL berarti terjebak pada hal yang mungkin sudah kadaluarsa sama sekali atau sektoral belaka.

2. Dengan demikian penentangan segenap ummat Muslim sejati yang merindukan Khilafah akan semakin bersatu melawan kejahatan semacam ini, terlepas dari kelompok mana mereka berasal. Kedepankan ukhuwwah dan satukan kekuatan, karena terbukti di masa lalu Islam menjadi jaya karena persatuan.

3. Sekaligus ini menjadi refleksi bagi mereka yang berada di jalur politik demokrasi saat ini. Apakah dengan dua poin ini bisa meresapi sekiranya Demokrasi itu jalur dimana semestinya kita berjuang? Karena Islam akan senantiasa dipermalukan bila berjuang dengan jalur yang penuh tipu daya ini, sebagaimana Allah SWT telah membukakan beberapa aib dari parpol yang konon memperjuangkan Islam.

4. Maka mungkin kita harus mempertimbangkan kembali ke jalur dakwah, mulai dari akar, mulai dari keluarga sendiri hingga kehidupan bermasyarakat, karena bahwasanya berjuang melalui jalur demokrasi akan selalu membawa kita berkompromi dengan pihak-pihak yang tidak tertarik memperjuangkan Islam serta pragmatis, bahkan boleh jadi memiliki niat buruk sejak awal.

5. Tanpa maksud untuk saling menyindir atau menjatuhkan, mari kita kedepankan ukhuwwah sesama Muslim dalam rangka memperjuangkan berdirinya Islam kembali demi rahmat bagi alam semesta, bukan hanya semata-mata untuk kita sendiri saja atau kaum tertentu.

Wallahu a’lam.

—–

Edited by: @pokamamil

Postface by: @pokamamil

Source: http://felixsiauw.com/home/kaum-liberal-dan-pentingnya-khilafah/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s