Umar Bin Abdul Aziz, Kehebatannya Didoakan Umar Bin Khattab (via Islampos)

sahara desert Umar Bin Abdul Azis, Kehebatannya Didoakan Umar Bin Khattab

Umar bin Abdul-Aziz (682 M – 720 M), yang bergelar Umar II, adalah khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 hingga akhir hayatnya selama kurang lebih tiga tahun. Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, beliau bukanlah keturunan langsung dari khalifah sebelumnya namun ditunjuk langsung oleh Sulaiman, sepupunya sekaligus khalifah sebelumnya.

Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar II adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, yang mana umat Muslim begitu menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat.

Kisah Umar bin Khattab berkaitan dengan kelahiran Umar II

Menurut banyak referensi, silsilah keturunan Umar II dari Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Khulafaur Rasyidin yang kedua ini.

Konon, Khalifah Umar bin Khattab adalah seorang khalifah yang terbiasa berkeliling ronda pada malam hari dan suatu waktu beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Kata ibunya, “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”. Anaknya menjawab, “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”.

Si ibu masih mendesak, “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”. Balas si anak, “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhannya Amirul Mukminin tahu.”

Umar yang mendengar kemudian menangis karena betapa mulianya hati anak gadis itu, sehingga ketika pulang ke rumah, beliau menyuruh anak lelakinya Asim untuk menikahi gadis itu.

Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam.”

Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.

Perjalanan karir Umar II

Umar II dibesarkan di kota Madinah di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya dan kemudian dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik untuk menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian wafat dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I.

Tidak seperti sebagaian besar penguasa pada saat itu, Umar II membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar II. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar II dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar II sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.

Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area di sekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar II membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata.

Berkatalah Said Al Musayyib: “Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana.”

Umar II lalu tetap tinggal di Madinah selama sisa masa pemerintahan al-Walid I yang kemudian dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Khalifah baru yang juga merupakan sepupu Umar II ini selalu mengagumi karakter beliau dan menolak untuk menunjuk saudara kandung atau anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dengan menunjuk Umar II sebagai penggantinya.

Kedekatan Umar dengan Sulaiman

Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, kekuasaan Bani Umayyah menjadi sangat kukuh dan stabil.

Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah. Sulaiman bertanya kepada Umar “Apakah yang kau lihat wahai Umar bin Abdul-Aziz?” dengan niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.

Namun jawab Umar, “Aku sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu dengan yang lain, dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyakan oleh Allah mengenainya”.

Khalifah Sulaiman berkata lagi “Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita ini?”

Balas Umar lagi, “Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia kemudian condong kepada dunia”.

Jika Khalifah Sulaiman adalah pemimpin biasa, sudah barang tentu akan marah dengan kata-kata Umar bin Abdul-Aziz, namun beliau menerima dengan hati terbuka bahkan kagum dengan kata-kata itu.

——

Edited by: @pokamamil

Source: http://www.islampos.com/umar-bin-abdul-azis-kehebatannya-didoakan-umar-bin-khattab-64268/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s