Fakta di Balik Perayaan Tahun Baru Masehi: Sikap Muslim Menghadapinya – PART 2/2 (via Daulah Islam)

Continued from Fakta di Balik Perayaan Tahun Baru Masehi: Sejarah dan Permulaannya (Part 1 of 2)

—–

sejarah-perayaan-tahun-baru

Bagaimana sikap kita sebagai umat Islam?

Setelah kita mengetahui bahwa tradisi perayaan 1 Januari merupakan perayaan yang terkait dengan ritual keagamaan dan budaya dari kaum kuffar dan adanya larangan dari Rasulullah SWT untuk tidak menyerupai kaum di luar Islam, maka jelas kita tidak perlu ikut serta merayakannya apalagi meniru-nirunya.

Semoga kita semua senantiasa ingat Firman Allah ini:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain itu, banyak hadîts juga yang melarang menyepakati perayaan kaum kuffar. Diantaranya adalah :

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال: قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم –: (إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما، يوم الأضحى، ويوم الفطر)

Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’anhu, beliau berkata:
“Rasūlullâh Shallâllâhu ’alahi wa Sallam tiba di Madînah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ‘Dua hari apa ini?’. Mereka menjawab, ‘Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah’.
RasūlullâhShallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan: ”Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul Adha dan Idul Fitri.”
[HR Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î dan al-Hâkim]

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

فوجه الدلالة أن اليومين الجاهليين لم يقرهما رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ولا تركهم يلعبون فيهما على العادة، بل قال إن الله قد أبدلكم بهما يومين آخرين، والإبدال من الشيء يقتضي ترك المبدل منه، إذ لا يجمع بين البدل والمبدل منه.

“Sisi pendalilan hadîts di atas adalah, bahwa dua hari raya jahiliyah tersebut tidak disetujui oleh Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam dan Rasūlullâh tidak meninggalkan (memperbolehkan) mereka bermain-main di dalamnya sebagaimana biasanya. Namun beliau menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu dengan dua hari raya lainnya. Penggantian suatu hal mengharuskan untuk meninggalkan sesuatu yang diganti, karena suatu yang mengganti dan yang diganti tidak akan bisa bersatu.”

Adapun âtsar sahabat dan ulama salaf dalam masalah ini juga sangatlah banyak. Diantaranya adalah ucapan ’Umar radhiyallâhu ’anhu, beliau berkata :

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

Jauhilah hari-hari perayaan musuh-musuh Allah.”
[Sunan al-Baihaqî IX/234]

’Abdullâh bin ’Amr radhiyallâhu ’anhumâ berkata :

من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة

”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”
[Sunan al-Baihaqî IX/234]

Imâm Muhammad bin Sîrîn berkata :

أُتي على -رضي الله عنه- بهدية النيروز. فقال : ما هذا ؟ قالوا : يا أمير المؤمنين هذا يوم النيروز . قال : فاصنعوا كل يوم فيروزاً . قال أسامة : كره أن يقول : نيروز

’’Alî radhiyallâhu ’anhu diberi hadiah peringatan Nairuz (Tahun Baru), lantas beliau berkata : ”Apa ini?”. Mereka menjawab, ”Wahai Amîrul Mu’minîn, sekarang adalah hari raya Nairuz”. Alî menjawab, ”Jadikanlah setiap hari kalian Fairuz”. Usâmah berkata: “Beliau (’Alî mengatakan Fairuz karena) membenci mengatakan ”Nairuz”.
[Sunan al-Baihaqî IX/234]

Imâm Baihaqî memberikan komentar :

وفي هذا الكراهة لتخصيص يوم بذلك لم يجعله الشرع مخصوصاً به

”Ucapan (’Alî) ini menunjukkan bahwa beliau membenci mengkhususkan hari itu sebagai hari raya karena tidak ada syariat yang mengkhususkannya.”

Apabila yang demikian ini adalah sikap manusia-manusia terbaik Islam, lantas mengapa kita lebih menerima pendapat dan ucapan orang-orang yang jâhil dan mengikuti budaya kaum kuffâr daripada ucapan para sahabat yang mulia ini.

Wallahu A’lam Bishshawab.

—–

Edited by: @pokamamil

Bibliography: Wikipedia, muslim-menjawab.com, etc

Source: http://daulahislam.com/unique/sejarah-unique/fakta-dan-sejarah-dibalik-perayaan-tahun-baru-masehi.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s