Excerpts: Haramnya Ghibah dan Namimah – PART 2/2

Continued from Haramnya Ghibah dan Namimah (Part 1 of 2)

—–

Definisi namimah

Namimah adalah perkataan seseorang yang bertujuan untuk mengadu domba atau menghasut antara satu dengan yang lainnya untuk kepentingan pribadi maupun golongannya. Memberikan informasi yang buruk, menjelek-jelekkan, dan merendahkan dengan ucapan-ucapan yang tidak baik adalah termasuk namimah juga. Padahal sejatinya mereka yang suka mengadu domba tidaklah mengetahui kebenarannya, hanya saja mereka mengikuti hasutan dan omongan orang banyak sehingga menyesatkannya dari jalan yang benar.

17:36

‘Janganlah kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati setiap orang kelak di akhirat akan dimintai tanggung jawabnya’ (QS Al Isra’: 36)

Dari sekian banyak hadist yang berisi nasihat Rasulullah SAW, khusus mengenai perkara ghibah dan namimah, beliau bersabda melalui Abu Hurairah RA:

‘Janganlah kalian saling menghasut, janganlah kalian saling mengintai, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah diantara kalian membeli barang yang sudah ditawar orang lain.

Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak berbuat zalim, tidak mencela, tidak mengejek, dan merendahkannya.

Ketaqwaan itu letaknya di sini (beliau mengisyaratkan ke arah dadanya tiga kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya. Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram baginya darah, harta, dan kehormatannya.’ (HR Ahmad)

Bahaya bagi para pelaku ghibah dan namimah

Pelaku ghibah dan namimah, sadar maupun tidak, telah melakukan kejahilan yang dapat menghasilkan dosa besar berakibat penjerumusan diri mereka ke dalam neraka. Demi memuaskan rasa cemburu dan dengki, terkadang mereka tidak peduli dengan apa yang akan menimpa mereka nantinya.

Berikut adalah petunjuk Rasulullah SAW yang mengecam para pelaku ghibah dan namimah:

Dari Abu Hurairah RA, beliau bersabda,

“‘Apakah kalian mengetahui orang yang bangkrut?’

Para sahabat berkata, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki harta maupun mata pencaharian’.

Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakatnya namun pada saat yang sama ia menghina (mengejek) ini dan menuduh (memfitnah) itu, memakan harta ini dan menumpahkan darah itu, serta memukul ini (seseorang).

Maka habislah pahala kebaikannya. Segala kebaikannya diberikan kepada orang yang di-ghibah-nya sehingga apabila pahala kebaikannya telah habis sedangkan kesalahannya belum habis, maka kesalahan orang yang di-ghibah akan dilimpahkan kepadanya hingga dia dilemparkan ke dalam neraka!'” (HR Tirmidzi) 

Bertaubat dari ghibah dan namimah

Maka jelas sudah bahwa perilaku ghibah dan namimah adalah perbuatan yang mendatangkan bahaya di dunia maupun di akhirat, namun bersyukurlah bagi manusia karena Allah SWT senantiasa membukakan pintu taubat-nya.

Sebagai refresh mengenai esensi dari pertaubatan maka syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.:

  1. Meninggalkan maksiat (dengan segera).

  2. Menyesal atas perbuatan maksiat yang dilakukannya (sambil beristighfar / memohon ampun kepada Allah agar dosa-dosanya diampuni).

  3. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada maksiat yang telah dikerjakannya.

Taubat sendiri merupakan perintah dari Allah SWT dan merupakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Digambarkan pula secara jelas dalam berbagai hadis bahwa ampunan serta rahmat Allah SWT begitu luasnya sehingga kita harus senantiasa mengingat padaNya dan memohon ampunanNya setiap saat, serta tentunya yang terpenting adalah mengikuti ketiga langkah yang telah disebutkan di atas.

Sehingga pertanyaannya kembali kepada kita, apakah kita tetap senang bergunjing, menikmati gunjingan orang lain, atau bahkan menjadi pelaku yang senang mengadu domba?

Di saat seperti ini dimana ummat Islam tengah berusaha untuk bersatu kembali, maka ghibah dan namimah-lah yang justru menghalanginya. Semoga kelak ummat kita dapat semakin menyadari bahayanya, bertaubat, dan bekerja bersama demi persatuan serta mengokohkan ukhuwah Islamiyah!

——

Summarized by: @pokamamil

Postface by: @pokamamil

Source: “Ukhuwah Islamiyah: Persaudaraan Dalam Islam” by Ustadz Abu Muhammad Jibriel AR

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s